Laras selalu saja sibuk dengan selebgram yang menyebalkan itu. Aku cuma bisa menggerutu, karena setiap kali di protes Laras selalu menjawabnya, jika hatinya cuma milik Davian, selebgram itu tak lebih dari hubungan fans dan idolanya.
Tapi aku tetap saja tak percaya, dan hatiku terbakar cemburu jika melihat mereka duduk berdekatan, dan Laras tertawa-tawa seolah aku tak ada di dekatnya.
Lalu datanglah gadis blasteran Korea dan Sunda itu. Gadis cantik, dengan rambut Sleek Straight Hair yang membuatnya terlihat shiny-berkilau. Dan, ia kelihatannya selalu ingin ada di dekatku. Nah lho.!
***
Namanya Dinda Ayunda.
Beberapa hari setelah hadirnya, aku mulai terbiasa pulang nggak sendirian lagi.
Kami pertama kali ketemu di kampus, nggak sengaja duduk satu baris waktu kelas kosong. Dia tipe yang banyak tanya, banyak cerita, dan entah kenapa selalu menemukan alasan buat duduk di dekatku.
“Dav, kamu pulang lewat mana?” tanyanya suatu sore.
“Lewat depan komplek,” jawabku singkat.
“Oh, sama dong!” katanya cepat. “Bareng ya?”
Aku mengangguk. Nggak ada alasan buat nolak. Toh jalan sendirian juga membosankan.
Dan sejak hari itu, aku jadi sering pulang bersamanya.
“Rumah kamu yang itu?” tanyaku, menunjuk rumah cat putih di ujung.
“Iya,” jawab Dinda sambil tersenyum. “Depannya rumah Laras temanmu, kan?”
Aku mengangguk pelan.
Aneh juga.
Dunia ini ternyata sempit banget, ya.
Sejak itu, langkahku jadi punya pola baru, kampus, jalan pulang, ngobrol ringan, lalu berhenti di depan rumah Dinda, yang berarti, tepat di depan rumah Laras.
Semuanya normal dan biasa aja.
Sampai suatu sore, aku melihat tirai jendela rumah Laras bergerak sedikit.
“Dav, kamu capek ya?” suara Dinda membuyarkan pikiranku.
“Hm? Nggak kok.”
“Kamu kalau lagi diem gitu kayak lagi mikirin seseorang.”
Aku tersenyum tipis. “Sok tahu.”
“Bukan sok tahu,” katanya santai. “Cuma keliatan aja.”
Aku nggak jawab.
Karena memang ada yang kupikirkan, tapi itu sama sekali bukan Dinda, tapi Laras.!
***
Hari berikutnya, hujan turun lagi.
Refleks, aku berhenti di depan rumah Laras.
Sudah kebiasaan sih.
Padahal nggak ada janjian.
Nggak ada pesan.
Nggak ada apa-apa.
“Dav, kenapa berhenti?” tanya Dinda, ikut meneduh di sampingku.
Aku baru sadar, aku berdiri di sini tanpa alasan yang jelas, atau mungkin malah terlalu jelas.
Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Laras keluar, dengan payungnya seperti biasa. Tapi kali ini, langkahnya berhenti saat melihat kami.
Aku, dan Dinda.
Berdiri berdua.
Dekat.
Terlalu dekat untuk sekadar “kebetulan”.
“Tumben,” katanya pelan, tapi nadanya beda, nggak ringan seperti biasanya. “Nggak kehujanan ya, Dev?”
Aku belum sempat jawab.
Dinda lebih dulu tersenyum ramah. “Aku bawa payung kok, jadi Dav aman.”
Laras mengangguk kecil.
“Bagus,” katanya singkat.
Lalu matanya beralih ke aku, bukan tatapan jahil atau tatapan menggoda. Tapi sesuatu yang lebih tajam, bombastic side eye. Ekspresi wajahnya disertai dengan sudut mata menyipit.
“Estetika hidup kamu nambah ya sekarang.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Udah nggak cukup satu payung ya?”
Kata-katanya biasa saja, tapi kedengarannya seperti sengatan listrik bervoltase tinggi.
Aku baru sadar.
Oh.
Jadi ini rasanya.
Tapi aku tak berani menggodanya. "Kamu cemburu Lar?" kata-kata itu hanya tersimpan rapat di dalam hati.
“Laras” panggilku.
Tapi dia sudah membuka payungnya.
Kali ini dengan langkah cepat, tapi dia nggak memiringkannya ke arahku, malah berlalu begitu saja.
“Lagi sibuk, ya Dav,” katanya singkat.
“Jangan hujan-hujanan.”
Lalu dia pergi, ninggalin aku, di bawah hujan. Tanpa payung.
Untuk pertama kalinya Dinda menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan apa maksudnya.
“Aku harus pergi juga ya Dav?”
Aku menggeleng pelan. "Kenapa?"
“Nggak apa-apa.”
Tapi sebenarnya, ada yang nggak baik-baik saja, karena baru kali ini payung Laras itu nggak terbuka untukku.
Entah kenapa hujannya jadi terasa lebih deras dari biasanya.
***
Besoknya, Laras berubah.
Pesannya lebih singkat, tawanya hilang setengah, dan yang paling aneh, dia tetap bawa payung.
Tapi nggak pernah lagi mendekatkannya ke arahku.
Sampai suatu sore, aku akhirnya nggak tahan.
“Laras,” panggilku.
Dia menoleh, datar. “Apa?”
Aku menarik napas. “Kamu kenapa sih?”
Dia tertawa kecil, tapi rasanya hambar.
“Aku?” katanya pelan. “Aku nggak kenapa-kenapa.”
“Bohong.”
"Cemburu?"
"Ish apaan sih, siapa juga yang cemburu."
Tapi setelahnya dia diam beberapa detik, lalu akhirnya berkata, lirih
“Cuma lagi belajar aja.”
“Belajar apa?”
Dia mengangkat payungnya, menatapnya sebentar, sebelum kembali menatapku.
“Belajar, bahwa ternyata nggak semua orang harus aku lindungi terus.”
Aku terpaku bingung.
Kini giliran Aku yang nggak tahu harus jawab apa.
"Laraaaas!"
"Katanya nggak cemburu?"
Gadis itu berlalu pergi dengan wajah jutek dilengkapi bomabastic side eye-nya.