Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
27
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Badai harus datang sebelum mengubah segala kekacauan menjadi kedamaian. Namun, badai-badai kecil akan terus terbangun dari tidur-tidur ringkasnya sebab setiap manusia harus mengarungi perputaran kehidupan.

Dari setiap waktu yang berbulir, dunia tak perlu berhenti untuk kita yang terus melaju. Angin justru berombak mesra dengan rerintik yang semakin deras. sebuah pusaran melingkar serupa piringan yang berserabut di tengah Jalan Mulawarman.

"Apakah kau yakin Lentera?"

"Kita sudah menjadi badai! Di ujung pusaran itu, aku melihat taman bunga, ia tak selalu ditemani kupu-kupu, kadang juga lebah-lebah madu yang memoncongkan sengatannya!"

Mobil yang kita kendarai malam itu, terus memantulkan rintik ke kilatan cahaya, menjadikan kumpulannya sebagai cermin yang mencipta pecahan masa, yang asing, yang barangkali sudah terlalu lama tak kita sapa.

Pantulan dari bertitik-titik air di udara mengubah pusaran di Jalan Mulawarman itu tertawa, menyambut kita yang sebelumnya ragu menampung datangnya. Pelan-pelan, moncong mobil yang kita kendarai telah berkecupan dengannya, menyambut tawa dengan kediaman, keseganan, dan kaca-kacanya terbelalak, serupa mata-mata manusia yang enggan tertutup ketika kembang api meletup, menyambut tahun-tahun baru, atau hari-hari raya.

Sejentik kemudian, seluruh mobil kita telah masuk ke dalamnya, menyalin warnanya yang kelabu menjadi merah jambu. Entah, sesekali ia pun menjadi biru laut yang berombak. Percikan-percikan cahaya yang memantul di tubuhnya menyerabutkan angka-angka waktu menjadi peristiwa.

Kita pun terperanjak, segera membuka pintu mobil, ketika jalan-jalan raya yang kita lihat memantul-mantul, serupa ombak. Kehidupan seperti diisi oleh kutu-kutu loncat, tidak ada manusia yang diserang ketakutan, meski tidak ada kepastian keamanan dari jalannya yang bergelombang.

"Lihat, Kelana! apakah kau melihat sesuatu yang pernah sebelumnya?"

"Pu...Lau!? GU...BA...GU? Gubagu?"

Kita sama-sama sadar bahwa nama pulau itu tak pernah ada di dunia yang lama. Seorang anak lelaki membawa tongkat aluminium, menjulang setinggi sekitar 3 meter. Di ujung teratas tongkat itu, sebuah bendera berkibar. Merah, Kuning, Hijau, Kuning, dan bintang-bintang yang bertebar melingkari huruf V yang dipertebal--tepat di tengah-tengah bendera itu.

Ia begitu ceria dengan gumaman senandung yang membuat mulutnya terus bergetar. Kita mengikutinya, untuk melihat dua anak lain yang tak terlampau jauh usianya. Ketiganya kini bermain pada seluncuran basah yang siap melempar mereka dua lompatan pemain basket profesional, hingga akhirnya mereka akan tercebur pada kolam renang utama, yang berwarna jingga. Tak ada satupun ketakutan dari tatapan mereka, atau sebenarnya mereka mengarungi ketakutan itu dengan tawa.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi