Disukai
0
Dilihat
20
Narasi Hujan
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

[ ALKA ]

Pada akhirnya, aku hanya akan terus menebak-nebak bagaimana sebenarnya isi hati Rikas jika tidak mempertanyakannya secara langsung. Ini sedikit berisiko—tidak, tapi sangat berisiko. Aku tidak pernah paham bagaimana cara seorang lelaki berpikir dan itu cukup membuatku clueless soal semuanya; bagaimana harus kutata kalimat-kalimat tanyaku, bagaimana responsnya, dan apakah lelaki itu sama tak pahamnya dengan jalan pikiran seorang perempuan.

Jadi semalaman tadi, aku hanya sibuk berguling-guling di atas kasur dengan pikiran kosong. Baru kusadari kemudian bahwa banyak hal di dunia ini, terutama di dalam kehidupan kami, yang tampak seperti paradoks.

Lalu keesokan paginya, aku bangun kesiangan dan semua rutinitasku berantakan. Tidak ada sarapan tepat waktu, pun terlambat berangkat ke sekolah padahal jaraknya hanya tiga ratus meter dari tempat aku tinggal.

Jadi aku harus bagaimana?

Bahkan hingga siang harinya ketika aku berdiri di depan pintu kamar indekos Rikas dengan dua wadah styrofoam dalam paperbag yang kusandarkan ke dinding—atau tepatnya saat ini—pikiranku sama kosongnya dengan semalam. Pertanyaan itu menggantung di dalam benakku, membiark...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp5.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)