Tubuhku berguncang—entah masih patutkah kusebut seluruh bagian dariku kini sebagai tubuh—ketika mataku bertemu pandang dengan perempuan Kaili itu. Dalam balutan gaun kusam dengan warna ungu yang pudar, dia berdiri tanpa teman di tepi Anjungan Pantai Talise yang porak poranda. Mimiknya yang hambar membuatku merasa terkhianati; tidak tahukah dia bahwa aku mengkhawatirkannya sampai setengah mati. Tapi dua manik matanya yang sewarna tanah tak pernah bisa mendustai rasa rindu.
Desir ombak dan embus angin darat menjadi sesak di antara para relawan yang mulai mengevakuasi seorang gadis tak bernyawa di pesisir Talise. Seorang mayat gadis bergaun ungu yang pudar. Sementara, aku hanya bisa bergeming meresapi bagaimana bisa pertemuan kami setelah terpisah jauh harus diawali oleh sebuah bencana.
Pada akhirnya tak ada yang bisa kutahan; renjana, kerisauan, takut, kehilangan, dan bahagia. Tak kusangka, buncahan itu mampu mendorongku terbang untuk merengkuh tubuh ringkihnya. Kupeluk dia erat, deras air mataku mengalir menjadi ...