Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
18
Loden Pajamas
Romantis

Kadang, karya paling indah lahir bukan dari sorak-sorai, melainkan dari perasaan yang dipendam terlalu lama. Sebuah lagu tiba-tiba menjadi perbincangan, padahal selama hampir lima puluh tahun ia terkubur dalam debu waktu.

Clark Websters, penyiar radio dengan suara hangat dan jam siar larut malam, menemukan sebuah piringan hitam tua di lemari kayu usang. Jarumnya menyentuh permukaan vinyl, dan sebuah lagu mengalun—ceria, ringan, tapi anehnya melukai dada.

‎Judulnya... Loden Pajamas.‎

Clark memutar lagu itu di radionya, mengabaikan daftar lagu populer hari itu. Manajemen menegur, pendengar bertanya-tanya, tapi Clark terus memutarnya—lagi dan lagi.

‎Telepon pun masuk, seorang perempuan bernama Naya Robbinson berkata lirih, lagu itu adalah karya ayahnya. Seorang penulis lagu R’n’B yang tak pernah dikenal dunia, Paul Robbinson, hidupnya habis di balik bayangan orang lain, karyanya tak pernah dipilih, namanya tak pernah dipanggil. Ketika lagu itu mulai dicintai banyak orang, cerita lama pun terbuka.

Dalam kilasan masa lalu, sebuah penginapan kecil bernama Loden Pajamas, tempat Paul, James, dan Sindy tinggal selama dua minggu. Sindy si aktris berbakat, cahaya di setiap ruangan, James, penyanyi utama, kekasih Sindy, dan Paul, selalu di samping mereka, ‎menyimpan perasaan yang tak pernah berani diucapkan. Setiap hari, Paul melihat Sindy dan James tertawa, saling menggenggam tangan. Ia bahagia untuk mereka, namun hatinya retak perlahan.

‎Malam terakhir, mereka berpesta kecil merayakan rekaman vokal James, musik mengalun, tubuh menari, dan di tengah keramaian itu, Paul menemukan lagunya, ia menulis sendirian di kamar, tangannya gemetar, matanya basah. Lirik tentang seorang pria yang tetap mendukung perempuan yang dicintainya meski perempuan itu memilih orang lain.

Lagu tersebut dinyanyikan oleh Jordan Marbes, penyanyi muda dengan suara jujur dan polos. Empat kali rekaman, dan lagu itu selesai, utuh, hidupPaul mengisi seluruh aransemen sendirian, tak banyak yang mau membantunya. Seorang produser akhirnya setuju memasukkan lagu itu, namun hanya sebagai lagu terakhir, tersembunyi di ujung sisi B.

Tak lama kemudian, Paul jatuh sakit, tubuhnya menyerah sebelum dunia sempat mendengarkan. Ia pergi di usia 33 tahun, tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, cerita pun kembali ke masa kini,

Loden Pajamas kini diputar di mana-mana, orang-orang menyebutnya hangat, jujur, lagu yang terasa seperti akhir pekan dan cinta yang sederhana. ‎Clark pulang ke rumah, ia memutar lagu itu sekali lagi, istrinya tersenyum, anak-anaknya tertawa, berlarian di ruang tamu. Di antara canda dan pelukan, lagu yang dulu dilupakan akhirnya menemukan tempatnya, bukan di tangga lagu...

Melainkan di kehidupan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi