Terrorist

Malam ini aku mengunjungi area kompleks kuburan. Suara burung hantu menghilangkan kesunyian malam di sana. Kulihat sosok wanita berpakaian hitam, mondar - mandir di sekitar kuburan tersebut. Aku masih memperhatikannya sambil memperhatikan buku catatanku.

Wanita bercadar itu seperti orang kebingungan tak tentu arah. Aku tergerak untuk membantunya. Kudatangi dia yang masih mondar – mandir di kuburan.

“Ada yang bisa kubantu, kak?” tanyaku dengan nada halus.

“Ini dimana? Kenapa aku bisa berada di kuburan ini?” balasnya sambil tetap memperhatikan sekitar.

“Hm... apa kakak tidak ingat apa yang barusan terjadi hari ini?”

Dia mencoba mengingat – ingat kejadian yang baru saja ia alami. Matanya terpejam seperti sedang berpikir keras. Aku ingin membantunya mengingat masa lalunya.

“Bagaimana, kak? Sudah bisa mengingat?” tanyaku kembali,

“Tidak. Aku tidak bisa mengingatnya,” jawabnya.

Terpaksa aku harus mengingatkan dia apa yang baru saja ia lakukan hari ini. Aku menepuk pundaknya.

“Kakak baru saja mati hari ini. Apa kakak tidak ingat?”

Dia kembali mencoba mengingat kejadian hari ini hingga akhirnya di teringat bahwa baru saja ia mati tertembak polisi.

“Akhirnya kakak mengingatnya. Di situlah tempat kakak dikuburkan,” ucapku sambil menunjuk salah satu nisan yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

Wanita itu berlari mendekati nisan yang kutunjuk. Dia memperhatikan nama di nisan tersebut. Dan benar! Itu adalah nama miliknya.

“Tidak mungkin! Ini bukan kuburan untuk keyakinanku.”

Aku tertawa mendengarnya, “Apa kakak tidak ingat mengapa kakak di tembak oleh polisi?”

“Aku melakukan apa yang aku yakini! Tidak ada yang salah dengan itu!” jawabnya tegas dengan nada yang menantang.

“Sayangnya, mayatmu tidak diterima oleh mereka yang juga memegang keyakinanmu. Beruntunglah masih ada pihak yang memegang keyakinan lain, yang mau menerimamu. Meskipun sebenarnya kau seharusnya juga tidak diterima di sini,” balasku sambil membentangkan tangan. Menunjukkan bahwa ini adalah kuburan pemegang keyakinan lain.

Wanita itu menangis menyesali apa yang telah ia lakukan hari ini. Aku tidak mau menghakimi wanita itu, karena itu bukanlah urusanku. Aku mendekati wanita itu. Kudekatkan mulutku sambil berbisik ke telinganya, “Selamat datang di dunia hampa.”

Teriakan putus asa wanita itu mengiringi bisikan suaraku di telinganya. Aku pergi meninggalkan wanita yang masih bersedih itu. Kulihat di catatanku, nama wanita itu sudah terhapus dari lembar.

2 disukai 767 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction