Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
8
Mengapa?
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Pak Alif datang ke rumah sakit pagi itu dengan langkah pelan, usianya hampir enam puluh, rambutnya mulai menipis, dan dadanya sering terasa berat sejak lama.

Setelah hutang BPJS-nya akhirnya bisa dilunasi, dari pinjaman tetangga yang tak banyak bicara, ia memberanikan diri memeriksakan jantungnya yang sudah lama bermasalah. Selain itu, Pak Alif membawa satu penyakit lain yang tak tercatat di map medis mana pun yaitu kecemasan yang terus hidup bersamanya sejak ia menikah.

Ruang tunggu rumah sakit terasa pengap, kursi plastik berderet, suara batuk saling bersahutan, dan televisi tua di sudut ruangan menyala tanpa benar-benar ditonton.

Pak Alif duduk sambil menekan dadanya pelan, kadang sakit itu datang seperti sengatan, kadang hanya berupa rasa tidak tenang yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia mengantri, menunggu nomor dipanggil, sambil terus was-was, tak tahu apa yang lebih dulu akan menyerangnya, rasa sakit atau rasa takut.

Televisi menyiarkan berita tentang dana rumah sakit yang diselewengkan oleh banyak pejabat, angkanya besar, kalimatnya berbelit, dokter lewat tanpa menoleh, perawat sibuk dengan berkas, pasien lain terus berbincang soal antrean dan jam makan siang.

Tak ada yang benar-benar mendengar, termasuk Pak Alif, baginya, yang penting hanya satu, hari ini ia harus bertahan.

‎Waktu berjalan lambat, pagi bergeser ke siang, siang merambat ke sore, Pak Alif sempat berbincang dengan beberapa pasien lain, tentang cuaca, tentang antrean, tentang sakit yang rasanya mirip-mirip.

‎Saat namanya tak kunjung dipanggil, ia berdiri dan berjalan menuju mesin pengambilan tiket, ia ingin duduk sebentar, menenangkan diri, tangannya merogoh saku, menggenggam sebatang rokok, kebiasaan lama yang selalu memberi jeda padanya.

Seorang suster menegurnya halus, Pak Alif mengangguk, rokok itu tetap di tangannya, ia duduk, dadanya kembali terasa sesak, kali ini lebih berat, napasnya pendek, dunia seolah menyempit di sekeliling kursi plastik itu.

Tak lama kemudian, Pak Alif untuk selamanya terdiam.

Rokok yang belum sempat dinyalakan jatuh ke lantai, seekor kucing dari kolong kursi mendorongnya pelan hingga menggelinding.

Di kejauhan, sekelompok orang bersiap melakukan senam sore, lagu Mengapa? dari Koes Plus mengalun dari pengeras suara, lagu cinta yang terdengar seperti pertanyaan panjang, tentang janji-janji yang tak pernah benar-benar ditepati, dan rumah sakit itu tetap berjalan seperti biasa.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi