Aryo ngebut dengan motor bututnya, ia begitu ketakutan, tubuhnya gemetar dan basah, basah bukan hanya karena hujan, namun basah karena ancaman yang baginya amat mengerikan dan bisa menentukan masa depannya.
Ia melajukan motor dengan kencang, ia tak mau peristiwa tempo hari terulang, dimana rasa ngilunya masih ia rasa, bahkan sekarang ia memegangi bagian yang sakit tersebut, tapi hatinya yang dag dig dug lebih terasa ngilunya ketimbang luka fisik yang ia rasakan.
Wajah Aryo makin tegang ketika jarak sampai ke tempat tujuan tinggal beberapa ratus meter, secara refleks ia memelankan motornya, wajar secara psikologis, karena tak mau cepat-cepat mendapatkan nasib buruk yang sama seperti kemarin.
Akhirnya Aryo pun sampai, sosok mengerikan itu sudah menunggu di depan gerbang. Aryo begitu gelagapan sampai sampai berkali-kali ia salah untuk menstandarkan motornya, setelah selesai Aryo menghampiri dengan amat ketakutan dan menunduk, keringat dinginnya semakin deras.
"Teledor mulu, mana kunci kamar depan, bisa bisanya kebawa, kebiasaan." bentak sosok yang Aryo takuti yang ternyata adalah istrinya.