Di Kolong Ranjang

Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Anak-anak bersorak. Hepp, anak berusia 10 tahun yang pemurung melewati anak-anak lainnya dengan langkah tergesa, seolah tak ingin terlihat. Ia tidak suka menunggu seperti anak lainnya karena ia tahu tak akan ada yang menjemputnya. Ibunya meninggal setahun yang lalu dan ayahnya sibuk bekerja. Lagipula, jarak sekolah dan rumahnya tak terlalu jauh.

Tak terasa Hepp tiba di depan rumahnya. Ia menggeser pintu pagar yang tinggi menjulang dengan bahu kanannya, lalu masuk dan menutupnya kembali.

Hepp melepas jaket tebalnya lalu meletakkannya dengan rapi di atas sofa. Tak ada siapa-siapa di rumah. Ia tahu ayahnya selalu pulang larut malam saat ia tertidur dan berangkat saat ia masih belepotan kantuk. Mungkin karena itulah ia jadi mandiri meski juga merasa kesepian.

Hepp mendadak teringat tugas dari gurunya sebelum pelajaran berakhir tadi. Ia iri dengan teman sekelasnya yang setiap hari bisa bertemu ayah dan ibunya, lalu menanyakan pada mereka tentang benda yang sering mereka pakai sehari-hari. Karena itu ia memberanikan diri memasuki kamar ayahnya. Kebetulan hari itu ayahnya lupa menguncinya. Kamar itu besar namun terasa asing. Hepp agak takut. Namun, hanya dengan cara inilah ia bisa menyelesaikan tugas sekolahnya.

Hepp tak dapat menemukan benda apapun di kamar itu selain ranjang, lemari, serta sebuah cermin besar. Perlahan ia membuka lemari. Penuh dengan kemeja dan pakaian lainnya yang tersusun rapi. Kemudian, Hepp mengintip ke kolong ranjang. Ia menemukan sebuah kotak kardus besar dan panjang. Hepp yang penasaran menariknya keluar. Lalu, ia duduk bersila di depan kotak itu dan membukanya. Hepp terkejut melihat isinya. Sebuah boneka cantik seukuran wanita dewasa terbaring kaku di sana. Kemudian, Hepp menutup kembali kotak itu dan mengembalikannya ke tempat semula.

***

Teman sebangku Hepp maju ke depan kelas lalu bercerita sambil melihat buku catatannya.

"Benda yang sering dipakai ayahku setiap hari adalah parfum. Ayah menggunakannya setiap akan berangkat kerja atau saat bepergian bersamaku. Cara pakainya adalah dengan menekan bagian atasnya dan menyemprotkannya ke tubuh. Dengan memakai parfum kita jadi lebih wangi. Terima kasih."

Ibu guru memberi tepuk tangan diikuti semua anak. Teman sebangku Hepp kembali ke kursinya.

Sekarang giliran Hepp. Ia maju sambil memeluk buku catatannya dan bersiap membacakannya di depan kelas.

9 disukai 6 komentar 1.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@rainzanov : Bayangin aja dulu.. 🤣🤣
Endingnya gimana ni😂🤣
@buayadayat : Kita do'akan saja Hepp bisa melakukannya bang 😅
Hahaha.. penggantungan ending yang ciamik, menimbulkan berbagai cerita di kepala.. :p
Semoga dia tak tahu kegunaannya dan cara pakainya.. 😅
Semoga Hepp bercerita apa adanya...
Saran Flash Fiction