Di sebuah kota kecil di Italia, Parma, hidup seorang anak laki-laki bernama Matteo bersama ayahnya, Rafael, yang tidak dapat berbicara. Mereka hidup sederhana, nyaris tak memiliki apapun, kecuali keluarga. Suatu hari, Matteo mendengar kabar bahwa ayahnya dibawa oleh pihak berwenang.
Ia dituduh terlibat dalam sebuah kejadian di tengah kekacauan ekonomi yang sedang melanda kota. Di saat yang sama, ibu Matteo sedang terbaring sakit keras di rumah.
Alih alih mendapat pertolongan, rumah mereka justru didatangi tiga orang yang mengaku sebagai petugas. Matteo diminta ikut bersama mereka karena namanya disebut dalam sebuah penyelidikan. Dikatakan bahwa Matteo mengetahui rencana yang melibatkan ayah dan kakaknya, Fabrio, yang saat itu menghilang. Dua orang saksi dihadirkan.
Mereka mengaku mendengar dan melihat niat jahat. Namun ayah Matteo tidak dapat memberikan penjelasan apa pun, karena keterbatasannya. Matteo akhirnya dibawa pergi.
Ia meninggalkan ibunya yang sakit, dijaga oleh adiknya yang masih sangat kecil, ditemani seseorang yang tidak mengerti cara merawat orang sakit. Beberapa hari kemudian, salah satu saksi diam-diam mendekati Matteo.
Ia mengaku bahwa yang ia lihat sebenarnya bukanlah Matteo, ayah, maupun kakaknya. Namun ia terlanjur mengatakan hal yang salah dan tak berani bilang itu kesaksian palsu, karena takut kehilangan satu-satunya sumber penghidupan keluarganya. Matteo, dengan hati yang masih polos, memilih menanggung akibat itu. Ia rela menjalani waktu singkat di penjara bersama ayahnya, dengan satu syarat, saksi tersebut harus menjaga ibunya.
Waktu pun berlalu. Ketika Matteo dan Rafael akhirnya keluar dari penjara setelah dibui berminggu-minggu, mereka menemukan kenyataan yang menyayat hati. Ibu Matteo telah pergi, adik Matteo duduk lemas di sampingnya, tak terurus selama berhari-hari.
Tak lama setelah itu, kabar lain datang. Fabrio, kakak Matteo, ditemukan telah kehilangan nyawanya dalam sebuah kejadian tragis. Sedikit demi sedikit, Matteo mulai menyadari bahwa semua penderitaan ini berawal dari satu kebohongan. Dengan tekad dan amarah yang bercampur nestapa, Matteo dan ayahnya memulai perjalanan panjang menuju Roma, mencari orang yang telah menyeret hidup mereka ke jurang kesedihan.
Mereka menjual rumah tua mereka demi bertahan hidup di perjalanan. Uang itu habis di tengah jalan karena dijual terlalu murah setelah tertipu, namun justru dalam perjalanan itulah Matteo mulai melihat ayahnya dengan cara yang berbeda.
Seorang ayah yang tak bisa berbicara, namun selalu berusaha melindungi anaknya. Bahkan saat Matteo dituduh melakukan sesuatu yang tak ia lakukan, ayahnya mencoba membela, meski tak mampu mengeluarkan suara.
Sesampainya di Roma, Matteo menemukan hal yang tak ia duga. Orang yang mereka cari kini hidup dalam penyesalan yang mendalam, terperangkap dalam rasa bersalahnya sendiri. Melihat itu, Matteo dan Rafael memilih melepaskan dendam, mereka memutuskan pulang.
Namun mereka tak punya apa-apa lagi, tak ada yang mau menerima mereka, ayahnya karena keterbatasan, Matteo karena usianya yang masih terlalu muda. Mereka bertahan dengan pekerjaan ilegal yang tak menjanjikan apapun.
Hingga suatu hari, semua yang mereka kumpulkan raib karena kecurangan bos mafia setempat, mereka benar-benar tak memiliki apa pun. Hanya tersisa sepotong roti. Matteo memandang roti itu lama, lalu ia memberikannya kepada sang ayah, karena ia percaya, ayahnya masih punya harapan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan meski bisu.
Tak lama setelah itu, sebuah kabar baik datang, seseorang baik hati menawarkan pekerjaan. Bahkan memberi mereka tumpangan untuk kembali ke Parma. Untuk pertama kalinya, Matteo dan ayahnya tersenyum dengan penuh harapan, namun di tengah perjalanan pulang, Rafael melihat seorang anak kecil sendirian di pinggir jalan.
Ia menoleh sejenak.
Dan dalam sekejap, Kendaraan mereka menabrak batu besar di pinggir jalan, Rafael menghantam trotoar, sedang Matteo hanya terpelanting sedikit dari motor walau cukup keras, Rafael tewas seketika, sedangkan Matteo kesakitan.
Matteo mendekati Rafael, menangis di samping jasad ayahnya. Tak ada kerumunan, tak ada yang memperhatikan, sibuk dengan kehidupan mereka masing masing.