Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
1
Lintah Dayat
Komedi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Dayat bukan lintah darat biasa. Jika lintah normal menghisap darah, Dayat—spesies amfibi darat yang hobi nongkrong di pinggiran got kalau lagi dikejar warga—sukanya menghisap harapan hidup warga Kampung Bakekok.

 

Di buku daftar utang warga, namanya tercatat sebagai "Dayat Vampir". Prinsip hidupnya sederhana: "Ada bunga, ada cinta. Gak bayar bunga? Nyawa melayang lewat jalur doa buruk."

 

Suatu pagi, Dayat duduk di bale pos ronda sambil mengusap-usap kalkulator bututnya yang tombol angkanya sudah botak dan layarnya buram, seburam matanya kalau melihat manusia antik alias nenek-nenek atau kakek-kakek yang lewat di depannya, namun beda cerita kalau ia melihat segepok uang dan cewek cantik, mata buramnya kembali normal seketika.

 

Saat itu tiba-tiba matanya menyipit melihat Bu Ucit lewat membawa keresek isi oncom dan teri jengki yang baunya menantang maut. "Bu Ucit! Utang tiga ratus lima puluh rebu, bunganya udah beranak jadi cucu, sekarang lagi otw punya cicit! Mau bayar atau kompor gasnya saya pensiunkan dini?" teriak Dayat tengil, memamerkan giginya yang kuning kunyit—hasil: jarang gosok gigi, dekorasi kerak kopi dan nikotin.

 

“Eh, Bang Dayat. Aye kira wayang golek lagi duduk, abisnya kaku bener duduk sendirian. Belom ada duitnya, Bang!” sahut Bu Ucit, wajahnya sedatar aspal jalan tol.

 

“Aaargh! Sudah kuduga! Susah emang urusan sama warga kismin. Maunya ngutang, giliran ditagih malah akting jadi amnesia. Kalo gak mau bayar, si Isabella anak lu gue jadiin bini ya!”

 

“Lah, gak bisa! Anak aye udah punya calon. Cakep, baek, dan yang penting... kagak hobi meres keringat warga kayak situ!” balas Bu Ucit sambil ngeloyor pergi.

 

“Sontoloyo! Emak-emak kalau ditagih malah jadi sniper, nembak mulu alasannya!” Gerutu Dayat dengan wajah nyolot.

 

Tiba-tiba, radar "cewek cakep" Dayat bergetar 10 knot. Di ujung jalan, muncul Siti Soledad. Gadis yang katanya punya darah campuran Betawi, Arab, dan Spanyol, yang wajahnya secerah iklan sabun muka yang filternya mentok kanan.

 

Dayat langsung melompat dari bale pos ronda. Ia menyisir rambutnya pakai ludah biar klimis instan. "Eh, Neng Siti! Perlu dikawal atau perlu pinjaman modal tanpa bunga? Khusus Eneng, nih. Bunganya cuma senyuman aja kok, dan nomor WhatsApp," goda Dayat sok keren di depan pagar kontrakan reyot Siti.

 

Di sana, terlihat seorang Aki-aki berbaju lusuh lagi nyuci motor butut dan seorang ibu bule dasteran lagi ngejemur keset yang bulunya sudah rontok.

"Heh, Pak Tua! Minggir! Jangan halangi pemandangan masa depan gue!" bentak Dayat kasar. "Eh, Nyonya Bule, jemur keset jangan di situ! Bau apeknya mengganggu kedaulatan calon istri saya!"

 

Siti Soledad menatap Dayat dengan tatapan ngeri. "Bang, jangan kasar gitu. Mereka orang tua saya."

 

"Lho, Neng, orang susah begini jangan dimanja. Harus dikerasin biar tau diri. Kalo Neng butuh istana, rumah Abang luas, isinya cuma Abang sama tumpukan sertifikat tanah warga yang Abang sita," sombong Dayat sambil tertawa ngik-ngik-ngik mirip suara tikus kejepit perangkap.

 

“Broom!” Tiba-tiba sebuah mobil Alpred hitam mengkilap berhenti depan gang. Dua pria gagah berjas hitam turun dan langsung membungkuk 90 derajat di depan si Aki dan Ibu bule dasteran tadi.

 

"Tuan Besar, Nyonya, mobil sudah siap. Tim audit sudah menunggu di kantor pusat untuk proses akuisisi seluruh lahan di kampung ini," ucap si jas hitam tegas.

 

Dayat melongo. Kalkulator di tangannya jatuh tepat mengenai jempol kakinya. "Aduh! A-apa? Tuan Besar? Tuan Besar apanya, itu kan Aki-aki tukang cuci motor!"

 

Siti Soledad mendesah cantik. "Bang Dayat, kenalin, ini Papa saya, pemilik Bank Sumber Harta Jaya. Kami di sini cuma lagi social experiment buat konten YouTube judulnya 'Menyamar jadi orang susah tapi malah ketemu sama orang susah beneran. Bener-bener susah'. Kebetulan, Papa saya lagi cari daftar rentenir ilegal buat dijadiin bahan laporan polisi."

 

Si Aki yang tadi dibentak tersenyum penuh kemenangan. "Oh, jadi kamu yang namanya Dayat? Yang bunganya 50 persen itu? Kebetulan, saya pemilik lahan pos ronda itu. Sore ini posnya mau saya bongkar buat jadi kandang bebek. Kamu mau sekalian saya kandangin di sana?!"

Dayat mendadak pucat. Tubuhnya lemas, lebih lemas dari sayur kangkung yang direbus kelamaan. Hari itu, si Lintah Dayat sadar, setinggi-tingginya lintah melompat, kalau kena taburan garam kenyataan, bakal mengerut juga.

SELESAI

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi