Ragu Semesta

Denting piano masih mengalun merdu ditelingaku, masih kukenakan baju serba hitamku. Air mataku enggan untuk berhenti mengalir, selalu saja tanpa permisi mengalir membasahi pipiku. Kupandangi buku diary milikku yang kemarin tertinggal dirumahnya. Alunan piano mulai memasuki reff dari lagu Ragu Semesta milik Isyana Sarasvati yang dimainkan oleh Raga tepat ketika ia akan pergi lagi pulang ke kota.

“Dulu, entah kenapa aku bisa bertemu dengannya?” pikiranku kacau. “Kenapa pula, waktu itu kau menaruh hati untuknya selama 8 tahun, jika akhirnya ia pergi lagi, bahkan sekarang...” Aku memandangi buku diaryku kembali, “untuk selamanya...” Aku menangis, aku marah dan mengadu pada udara yang berada dikamar tidurku, mengadu pada alunan piano yang masih setia mengalun. Aku mulai mengatur nafasku kembali. Memejamkan mataku untuk mencari titik terang dalam rasa buram yang kurasakan saat ini.

Samar-samar ingatanku kembali lagi pada kejadian pagi tadi. Raga mengajakku melihat matahari terbit dipagi hari, padahal keadaannya masih sangat lemah.

“Buku Diarymu, Lembar ke-3 dari belakang. Setelah kau pulang ke rumah, bacalah.”  Raga mengatakannya, dan perlahan menyandarkan kepalanya dibahuku, sebelum ia berbicara kembali

“Mulai sore itu, aku menyukai lagu milik Isyana Sarasvati yang berjudul Ragu Semesta. Kau bisa menyanyikannya untuku kembali?”

Waktu itu aku menahan air mataku, kupandangi saja sayup-sayup matahari menggoreskan sinarnya kepada langit yang berubah dari abu-abu kebiruan berubah menjadi orange kemerahan. Aku mulai bernyanyi. Selepasnya, aku menemukan Raga tertidur dan enggan untuk bangun kembali.

Langsung saja kubuka di lembar ke 3 dari belakang buku. Aku membatin, Raga pasti menulis sesuatu disana. Dan ternyata benar. Tulisan tangan Raga tertuang disana.

Aura..

Aku manusia yang bodoh karena tidak pernah jujur dengan perasaanku, aku mengabaikanmu, berpura-pura tak menerima suratmu selama 8 tahun ini, sedangkan kau menungguku dan menyukaiku dalam penantian yang panjang.

Hei... jangan bersedih, kisah kita tertuang dalam alunan lagu Ragu Semesta.

Maafkan aku, karena aku sempat berjanji padamu, namun aku pergi dan aku mengingkarinya. Selama 8 tahun ini, kau selalu menganggapku ada, kau menungguku. Sedangkan aku, aku tak kuasa melihatmu terperangkap dalam kisah tak bermakna ini, kisah yang aku pun tak tahu apakah ini tentang kebahagiaan atau kesedihan, namun yang kutahu, kisah ini membuatku bimbang dan membuatku berfikir untuk mengharuskah ku untuk memulai melepaskanmu...

Pada akhirnya aku tak berani bersamamu dan aku tak berani mengucapkannya selama ini jika aku juga mencintaimu, Aura.

Maafkan aku, mari jadikan penutup balasan suratku selama 8 tahun yang kau kirimkan untukku dengan lirik terakhir dari lagu yang kau sukai Aura..

Harapanku bersamamu biarlah menjauh..

Mungkin kita 'kan bertemu lain waktu di alam yang baru..

Kakak Pangeran,

Raga.

 

Alunan piano yang Raga rekam berhenti. Bersamaan dengan ku yang selesai membaca surat terakhir dari Raga. ada perasaan lega yang kurasakan saat ini. Ya. Akhirnya Raga juga mencintaiku.Selama ini ia menyembunyikannya, aku akhirnya tahu semua itu.

Kukerahkan kedua tanganku untuk menghapus air mataku. Menatap luaran jendelaku. Raga membalas suratku dan menutup suratnya dengan lirik lagu terakhir dari Ragu Semesta. Jadi kalau begitu aku juga akan menyakininya jika mungkin kita akan bertemu lain waktu di alam yang baru.

“Aku selalu merindukanmu, Raga.” 

selesai

10 disukai 2 komentar 5.9K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Sedihnya...
Siapa yang naruh bawang disini? 😭
Saran Flash Fiction