Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
8
Terkurung
Misteri

‎Arnold tidak pernah diizinkan keluar rumah. Sejak lahir, ia dilarang menginjakkan satu kaki pun ke luar. Pintu depan selalu tertutup rapat, jendela kamarnya disegel, tirai tebal menggantung tanpa pernah dibuka.

Ibunya setiap hari menjahit pakaian, Arnold tidak pernah tahu untuk siapa baju-baju itu dibuat. Ayahnya selalu duduk sendirian di meja, memainkan kartu. Di rumah itu tinggal dua kakaknya, laki-laki dan perempuan, namun ayah dan ibunya selalu berkata Arnold hanya punya saudara, tak memiliki saudari.

‎Arnold tidak pernah mempertanyakannya setiap kali Arnold mendekati pintu, ayahnya langsung berdiri.

‎“Jangan.”

‎Suatu hari, Arnold menyentuh gagang pintu, suara tembakan pun terdengar, sebuah lubang kecil muncul di kayu pintu, cahaya biru tipis terlihat dari celah itu sang ibu menatap lubang itu wajahnya berubah. Ia menghukum sang ayah lewat cara yang membuat rumah dipenuhi ketakutan yang amat kelam dan pahit. Semua karena satu lubang kecil.

“Sekarang dia bisa melihat keluar,” katanya dingin.

‎Arnold juga dihukum, ia dikurung di kamarnya, pintu dan jendela disegel, ibunya berkata ia akan terkunci di sana selamanya. Malam itu, Jane, datang.

Kakaknya yang selalu diabaikan keluarga.

‎“Kau pernah dikurung seperti ini?” tanya Arnold.

‎Jane mengangguk.

“Dan aku bisa keluar.”

‎“Kemana?”

‎“Ke tempat yang penuh kenikmatan.”

‎Saat Arnold hendak bertanya lagi, Jane perlahan menghilang dengan senyum merekah

‎Arnold mulai mencoba keluar, ia merusak pintu kamarnya sedikit demi sedikit, diam diam, hati hati, setiap malam ia berhasil menembus pintu pertama, lalu pintu tengah, lalu pintu keluar. Ia selalu harus kembali sebelum ketahuan

‎S

elama lima belas tahun.

Suatu hari, kakak laki-lakinya menjatuhkan kunci, Arnold mengambilnya, sang ayah murka, Arnold mendengar jeritan kakaknya dari gudang, suara tubuh sang kakak yang diseret dan dirinya yang menjerit-jerit, terdengar perintah ibunya dari kejauhan, Arnold gemetar di ranjangnya, ia hampir menyerah.

‎Jane muncul.

‎“Bersabarlah sampai jam tiga sore.”

‎Arnold mencari maknanya, ia menemukan buku-buku tua di perpustakaan kecil, ia membaca tentang angka tiga, tentang trinitas, tentang jam tiga sore, tentang Tuhan, tentang pengorbanan, ia mulai menyadari sesuatu tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang rumah yang ia anggap kurungan tersebut, ia teringat masa kecilnya.

‎Pagi itu, ia hampir membuka pintu keluar, namun ayahnya mencekiknya, ibunya memukul kepalanya, kakak laki-lakinya memukul perutnya berkali-kali. Arnold hampir kehilangan nyawa, untungnya ia lolos.

‎Ia berlari ke ruang tengah, mengambil senapan laras panjang milik ayahnya, ia menembakkan isi peluru ke mereka bertiga,

‎Satu satu.

‎Mereka bertiga rubuh.

‎Ia membuka pintu, di balik pintu tidak ada jalan, tidak ada langit, tidak ada bumi, hanya ruang kosmos tak berbatas, cahaya biru dan warna warna lain.

‎Arnold menyadari segalanya, ia adalah Tuhan semesta alam, keluarganya adalah iblis dan pengikutnya, Jane adalah malaikat agung yang hawa keberadaannya ia susupkan ke dalam rumah. Selama ini dirinya dikurung dalam penjara berbentuk rumah oleh iblis.

‎Dalam ruang kosmos tanpa batas, Arnold disambut oleh Jane sebagai pemimpin malaikat, dan malaikat malaikat lainnya.

Setelah Arnold berhasil keluar dari rumah, iblis dan para pengikutnya pun dikalahkan dalam sekejap.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi