Di sebuah apartemen, seorang wanita bersembunyi dalam gelap. Ia duduk termenung menatap jendela tanpa kelambu. Tangannya memeluk erat kedua lututnya, tenggelam dalam kesendirian, keputusasaan, dan kesedihan. Namun cahaya bulan merengkuhnya, berusaha menghiburnya dengan sinarnya yang hangat dan lembut.
Sangat disayangkan, manusia tetaplah manusia. Mereka sengaja lupa dan tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Tak peduli pada benda mati, begitu pula pada benda hidup, yang mereka pedulikan hanyalah diri sendiri, termasuk wanita itu. Sinar bulan belum sanggup menyadarkan lamunan wanita itu, namun bulan tak menyerah begitu saja. Bulan masih berusaha merangkulnya dengan cahaya yang begitu murni. Sorotan cahaya bulan, membuat warna rambut pirang wanita itu berkilauan. Namun tidak pada wajahnya, sorot matanya seakan telah mati, ada lebam tepat di bawah kedua matanya.
Bulan merasa lega, ketika wanita itu menatapnya dengan senyuman. Walau bulan tahu, bahwa senyumnya hanya kepalsuan, bulan berharap, pelukannya dapat menjadi secercah harapan agar wanita itu tak hanyut diseret sepi dan lalu mati. Kesedihan, penderitaan, keputusasaan yang disebabkan oleh cinta, memang kerap terjadi. Begitu pula dengan apa yang dialami wanita itu. Wanita itu menjadi suram, sehabis ia mengetahui bahwa kekasihnya melakukan praktik gelap dalam percintaan, yakni perselingkuhan.
Di meja kecilnya terdapat sebuah ponsel, sebuah cutter, seutas tali tambang, dan beberapa pil. Mungkin, wanita itu sedang mencari cara terindah untuk lari dari kesedihan dan keputusasaannya. Ponsel yang tiba-tiba berdering, belum cukup untuk membuatnya terkejut. Matanya hanya mengintip layar ponselnya, nama sahabatnya tertera di sana, namun ia tak langsung mengangkatnya.
Mungkin sahabatnya khawatir jika ia bunuh diri. Sahabatnya menelepon setelah melihat sebuah foto berupa cutter, seutas tali tambang, dan pil-pil di atas meja kecilnya. Lalu terdapat sebuah tulisan berupa pertanyaan, “kematian seperti apa yang menurutmu indah?” Tak berselang lama, ia mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya dan terjadilah sebuah percakapan. Percakapan di mana ia menceritakan keluh kesah tentang apa yang sedang ia rasakan.
Sahabatnya meyakinkan bahwa masih banyak pria yang lebih baik dari kekasihnya. Dan mengatakan bahwa ini yang terbaik, menyuruhnya untuk menerima kenyataan dan jangan lari dari masalah yang kini ia hadapi. Daripada berlarut dalam patah hati, sahabatnya menyarankannya untuk rekreasi ke Pantai Selatan, Indonesia. Kebetulan wanita itu menyukai pantai. Dan seketika itu, terbesit di kepalanya bahwa cara terindah untuk mati adalah saat rekreasi.
*
Di pesawat, ia duduk di barisan paling belakang. Penumpang lain sudah duduk tepat di sebelah kursinya. Penumpang itu adalah seorang pria tua, mengenakan jas lab berwarna putih dengan kacamata tebal yang terparkir di kepalanya. Duduk menyilangkan kaki, pahanya menyangga sebuah tablet dan jari keriputnya sedang menggeser-geser layar tabletnya. Wanita itu menyapa dengan sopan lalu duduk di sebelahnya.
“Kemana tujuanmu?” tanya pria tua itu tanpa menatapnya.
“Aku ingin rekreasi ke Pantai Selatan,” membalas dengan mata yang hampir tak sanggup lagi menahan kelopak matanya sendiri.
“Berbicara tentang Pantai Selatan terdapat topik yang menarik.”
“Topik tentang?”
“Tentang Dewi Kwan Im, Dewi Tara dan Nyi Roro Kidul.”
“Sesuatu hal yang mistis?”
“Ya, kau tak percaya hal-hal yang berbau mistis?”
“Tidak sama sekali.”
“Kau percaya mitos?”
“Tidak.”
“Kau percaya alien?”
“Aku juga tak percaya itu.”
“Kau percaya pada hukum newton tentang gaya gravitasi di bumi? Atau tentang tak adanya gravitasi di luar angkasa?”
“Ya tentu.”
“Maka kau sudah percaya pada hal mistis, karena sebetulnya sains dan mistis saling berkaitan erat. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai ada teori dan suatu persamaan matematis yang memecahkan atau merasionalkan hal mistis itu. Sama halnya dengan persamaan dan teori Einstein tentang relativitas waktu. Dan satu lagi, warna baju apa yang sedang kau kenakan hari ini?”
“Hijau.”
“Sebaiknya kau ganti warna lain.”
“Tidak akan. Mengapa dengan warna hijau?”
“Bacalah artikel milik Roy E. Jordan tentang Nyi Roro Kidul dan Dewi Tara,” pria tua itu melemparkan pandangan mata dari layar tabletnya ke arah wanita itu namun wanita itu sudah terlelap. Saat wanita itu terbangun ia sudah sampai di bandara. Tak ada lagi pria tua di sampingnya. Ia turun dari pesawat, kemudian ia segera menuju ke Pantai Selatan dan ke kamar penginapan di sekitar pantai yang telah ia pesan.
*
Hari ini pantai itu begitu sesak. Di pintu loket, banyak pengunjung yang berbaris menunggu giliran untuk masuk. Antrean itu tak ada habisnya. Cahaya matahari yang begitu menyengat, tak membuat para pengunjung itu menyerah. Mereka menunggu giliran tanpa mengeluh.
Sampai pada akhirnya, barisan yang semula rapi mulai berantakan. Seorang wanita di barisan paling depan berteriak keras. Membentak dan mengomeli penjaga pintu loket, tak terima karena ia dilarang masuk. Permasalahan yang sepele, terutama bagi turis sepertinya. Ya, hanya karena masalah warna baju yang ia kenakan, ia tak boleh memasuki area pantai. Tentu hal seperti itu membuat wanita dengan rambut pirang geram.
Otot Corrugator Supercilli[1] pada mimik mukanya mulai bekerja, wajahnya memerah. Ia berteriak sambil menunjuk-nunjuk muka penjaga. Mulutnya menjadi tak terkendali. Kata-kata liar terus terlontar dari mulutnya. Penjaga pintu loket menjelaskan alasan mengapa ia melarangnya masuk, namun turis wanita itu tak bisa menerimanya. Baginya, apa yang diucapkan penjaga itu sangat tak masuk akal. Wanita itu pergi setelah puas memaki si penjaga, mengakhirinya dengan lidah yang berdecak. Wanita itu bernama Sarah Jekinson.
Sesampainya di penginapan, ia melangkahkan kakinya menuju kamar. Melewati sebuah koridor, dan tepat di ujung koridor yang ia lewati terdapat sebuah asap putih berseliweran. Asap dari sebuah dupa yang dimakan api itu, memiliki aroma yang menyengat. Aromanya cukup untuk menusuk hidungnya. Ia masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya bernuansa tradisional dan kuno. Alunan musik gendingan[2] dari speaker yang tergantung di dinding koridor, memperkuat suasana mistis di kamar itu. Terlebih lagi, secara kebetulan kamarnya terletak di posisi paling ujung, bersebelahan dengan dupa yang terbakar. Ia meraih laptop dalam ranselnya.
Mencari tahu tentang fenomena baju hijau di Pantai Selatan. Apa yang ia lihat membuatnya mengernyitkan dahi. Banyak artikel maupun forum, baik lokal maupun internasional mengatakan bahwa apa yang dikatakan penjaga pintu loket benar-benar pernah terjadi. Ia menjadi semakin penasaran, ketika nama Nyi Roro Kidul muncul di kanal pencarian laptopnya. Ia pun teringat dengan ucapan pria tua yang duduk di sampingnya saat berada di pesawat tadi. Secepat kilat saraf pada otaknya terpicu untuk mengingat nama lain, yakni Tara dan Roy E. Jordaan.
Jentik jemarinya mengetikkan kedua nama itu, lalu ia menemukan sebuah artikel tulisan Roy E. Jordaan yang berjudul, Tara and Nyai Lara Kidul:Images of The Divine Feminine in Java[3]. Artikel itu membahas keterkaitan Nyi Roro Kidul dengan Dewi Tara. Di sisi lain, juga banyak artikel atau forum yang menyebutkan bahwa Dewi Tara memiliki keterkaitan dengan Dewi Kwan Im. Otaknya dipaksa mencerna kumpulan informasi itu, namun baginya mitos tetaplah mitos. Menurutnya hal itu adalah sesuatu yang tak logis. Benar-benar tak masuk akal.
Baginya, hal-hal mistis dan mitos seperti itu bukan sesuatu yang nyata. Semua itu hasil karangan manusia, hasil imajinasi manusia. Baik itu Zeus, Poseidon, Nyi Roro Kidul, Dewi Kwan Im, ataupun Dewi Tara. Mereka tak nyata. Begitu juga perihal mitos baju hijau di Pantai Selatan. Ia bukan seseorang yang religius namun bukan berarti ia tak mempercayai Tuhan.
Dalam kepalanya timbul banyak pertanyaan. Apa hubungan para dewa dengan Tuhan? Apakah para dewa meyakini bahwa Tuhan itu esa? Apakah Tuhan beranak-pinak? Mengapa jika mengenakan baju hijau di Pantai Selatan akan celaka? Apa yang mendasari mitos itu?
Pemikirannya yang seperti itu disebabkan oleh pengaruh orang tuanya yang berprofesi sebagai ilmuwan. Kedua orang tuanya menitikberatkan pemikiran logis sebagai dasar cara berpikir dan perilakunya. Sarah dididik seperti itu sedari kecil. Maka tak heran bila ia lebih percaya pada Einstein, Newton, Nikola Tesla daripada dewa-dewa atau iblis-iblis.
Otaknya masih berusaha mencerna apa yang ada dalam kepalanya, sampai pada akhirnya otaknya menciut. Ia menutup laptopnya, lalu menghantamkan tubuh langsingnya di kasur.
“Persetan dengan semua itu, toh aku ingin mati saat rekreasi,” gumamnya. Ia menarik napas panjang yang begitu dalam, diiringi suara ombak yang menghantam batu. Ia perlahan menutup mata, luluh dirayu suasana.
Matahari bersembunyi, waktunya bulan menampilkan diri. Suara ombak semakin keras seakan memberontak melumat sepi. Sarah terbangun dari tidur, matanya disambut oleh langit-langit kamarnya. Cahaya bulan melenggok masuk melalui sela-sela jendela, menerangi wajahnya.
Ia terbangun, duduk sejenak. Kemudian beranjak dari kasurnya, memasukkan laptopnya ke dalam ransel, mengenakan kemeja hitam, dan juga jaket hitam. Ia mencuci mukanya, bergegas keluar menuju pantai. Ia mengamati situasi dari kejauhan, matanya bergerak kesana kemari. Memastikan kembali jika situasi saat ini aman dan sepi. Ia menarik napas, lalu berjalan menuju pintu loket.
Pintu loket dan gerbang masuk Pantai Selatan telah terkunci. Kedua bola matanya bergerak-gerak mengamati. Lalu terbesit dua cara untuk melewati gerbang itu dalam kepalanya. Opsi pertama, memanjat lalu meloncat. Atau opsi kedua memaksakan tubuhnya masuk melewati celah celah gerbang itu. Gerbang itu menjulang tinggi dan terbuat dari besi yang memiliki motif berlubang. Ia memilih opsi pertama.
Setelah dengan susah payah memanjat dan melompat, ia melepaskan jaket dan kemejanya. Tinggal tersisa kaos berwarna hijau yang membungkus tubuhnya. Ia melanjutkan langkah kakinya setapak demi setapak, menyusuri tepian pantai. Langkah kakinya semakin cepat, tak sadar ia berlari. Terkadang sesekali memutar tubuhnya, diiringi dering suara ombak. Ia berlari sambil menari.
Sekejap ia mematung, saat melihat seorang pria duduk bersila dengan telanjang. Kedua tangan pria itu mengatup tepat di depan dada. Pertanyaan demi pertanyaan diam-diam menggerayangi kepalanya. Pria itu berdiri, kakinya melangkah setapak demi setapak menuju ke tengah laut. Ombak semakin besar dari sebelumnya. Pria itu terlihat semakin jauh. Ia terhenti di tengah laut.
Lalu tiba-tiba terlihat sosok yang menghampiri pria telanjang itu. Sosok wanita yang mengenakan kebaya berwarna hijau, dengan selendang menggantung di lehernya. Ia berjalan di atas permukaan air, menghampiri pria itu dengan anggun.
Mata Sarah semakin terpaku sampai ia lupa cara berkedip. Memandangi sosok wanita itu. Terus memandanginya sampai sosok wanita itu membalasnya dengan melirik dan tersenyum. Lagi-lagi tanpa ia sadari, kakinya perlahan melangkah menuju ke arah sosok wanita itu.
Ia menuju ke sana dengan tatapan yang kosong. Ia terkesiap saat kakinya menyentuh air laut. Lalu pundaknya ditepuk dari belakang. Ia menoleh, dan secara ajaib sudah ada nenek-nenek tua di belakangnya.
Nenek tua itu mengenakan kebaya, namun kebaya itu sedikit berbeda dari yang dikenakan sosok wanita misterius. Sarah linglung beberapa saat, lalu kepalanya kembali menoleh ke arah sosok wanita misterius yang berada di tengah laut, namun hanya laut yang ia dapati. Sosok wanita misterius itu hilang seakan ditelan laut, begitu juga dengan pria telanjang.
Matanya mencari dan terus mencari tetapi ombak besar berhasil menyeretnya terlebih dahulu. Ia diseret ke tengah laut. Dengan tergopoh-gopoh ia mencari nenek tua yang menepuk pundaknya di tepian pantai, namun yang ia dapati adalah sosok wanita misterius berpakaian serba hijau. Penglihatannya perlahan kabur, ia kehilangan kesadarannya.
*
Sarah membuka matanya secara perlahan, ia mendapati dirinya berada di dasar laut, namun anehnya ia dapat bernafas secara normal. Seperti berada di dimensi yang lain. Ia perlahan bangun, melihat sekelilingnya.
Ia mendapati dirinya berada di dalam sebuah Istana yang megah, di sekelilingnya juga terdapat beberapa prajurit. Dan alangkah terkejutnya saat ia menoleh ke samping, pria telanjang yang tadi ia lihat sudah menatapnya dalam-dalam. Tak lama, ia membuang muka lalu bersujud saat suara langkah kaki memasuki ruang istana. Suaranya tak cukup kencang namun membuat prajurit dan pria itu bersujud menyambut kedatangannya. Perasaan takut yang berkecamuk begitu kuat, memaksa bulu kuduknya berdiri.
Lalu sampailah sosok wanita itu, ia duduk di kursi singgasana lalu menatap Sarah tajam. Pria telanjang di sebelahnya menyenggol pahanya, mengisyaratkan untuk bersujud. Ia pun menjadi linglung. Kebingungannya sekejap menghilang saat pria telanjang itu berbisik dengan suara lirih.
“Kamu ingin mati?” tanya pria itu dengan bahasa inggris yang begitu berantakan. Sarah meraba-raba bisikan pria telanjang untuk dapat menangkap maksudnya.
“Tidak apa, biarkan saja wanita asing itu. Jadi, kita ke inti pembicaraan. Apa lagi yang kau inginkan Supeno? Kau sudah memiliki kekayaan, bebas dari kelaparan, penderitaan. Apalagi yang kau inginkan?” suaranya lembut namun tetap menekankan ketegasan.
Mendengar hal itu, badan Supeno bergetar hebat. Sambil bersujud ia tiba-tiba meneteskan air mata, sedangkan Sarah hanya bisa plonga-plongo tak mengerti tentang percakapan mereka dalam bahasa jawa itu.
Nyi roro kidul menyadarinya, ia menatap Sarah, mengayunkan tangan lalu menunjuk ke arah Sarah dan tersenyum. Kecemasan mulai menempel di pikiran Sarah.
“Supeno, apa yang kau inginkan? Mengapa kau menangis Supeno?”
“Maafkan saya Kanjeng Nyai Ratu, maafkan keegoisan saya ini. Saya ingin anak saya kembali. Saya mohon Nyai. Saya telah sadar bahwa apa yang saya inginkan bukan kekayaan ataupun kemewahan, kembalikan anak saya Nyai” bibirnya bergetar. Suaranya tak beraturan sambil menahan tangis. Kesedihan melebur dengan ketakutan.
“Kau siap menderita dan kembali menjadi miskin?”
“Siap Nyai”
Sarah mulai memahami percakapan mereka, setelah apa yang dilakukan Nyi Roro Kidul kepadanya. Pemikirannya yang logis seketika runtuh. Seperti sulap, begitu cepat. Namun ia hanya diam termangu.
“Tak cukup. Tak setara. Kau harus menumbalkan sesuatu. Dan terlebih, kau tak dapat membeli waktumu yang hilang. Mungkin jika kau memenuhi persyaratan atau berhasil menyediakan tumbal, anakmu akan kembali kepadamu, namun kalian akan mendapatkan ganjaran lain. Ganjaran dari apa yang telah kau perbuat. Ganjaran dari persekutuanmu denganku. Kau siap menerima semua hal itu?” Nyi Roro Kidul melanjutkan.
“Siap Nyai”
“Kau siap membunuh seseorang untuk mengambil lagi anakmu?”
Supeno hanya terdiam, bibirnya bergetar.
“Tumbalkan saja aku,” saut Sarah. Suara Sarah memberi Supeno secercah harapan. Seketika Supeno yang mendengarnya hendak memeluknya, namun Sarah memberikan tatapan intimidasi, siap siaga menerkam sesuatu yang terletak di antara paha Supeno. Supeno mengurungkan niatnya lalu memegang burungnya erat-erat.
Nyi Roro Kidul mengisyaratkan salah satu pengawalnya membawa anak Supeno. Tak berselang lama, pengawal itu kembali bersama anak Supeno. Gadis kecil itu kemudian berlari ke arah Supeno. Memeluknya dengan erat sembari menangis. Supeno menggendong anaknya bersamaan dengan air matanya yang tak dapat dibendung. Keduanya menangis bahagia.
Sarah pun ikut menangis, walau tanpa suara. anak Supeno meminta turun dari gendongan. Ia berlari ke arah Sarah lalu memeluk kaki Sarah. Sarah merunduk, membalas dengan pelukan hangat.
“Terima Kasih,” ucap anak Supeno. Sarah terenyuh, mengecup kening kepalanya, lalu menyuruhnya kembali ke Supeno. Supeno menggenggam tangan mungil anaknya. Lalu Supeno dan anaknya diantar salah satu prajurit menuju sebuah pintu. Pintu itu memancarkan cahaya.
“Mengapa kau rela menggantikan Supeno sebagai tumbal? Mengorbankan kehidupanmu demi seorang pecundang yang bahkan tak kau kenal?”
Sarah membalasnya dengan senyuman.
“Bahkan setelah kau tahu ia menumbalkan anaknya demi kekayaan? Lari dari penderitaan dan kelaparan?” Nyi Roro Kidul meneruskan.
“Sebelum aku bertemu Supeno dan kau, aku tak percaya dengan mitos dan hal-hal mistis. Aku sengaja tetap memakai baju hijau, membuktikan kebenaran tentang mitos dari kalangan masyarakat di negara ini. Juga, saat melihat Supeno, aku pun tersadar bahwa aku tak berbeda darinya. Aku juga pecundang, yang ingin lari dari kenyataan. Toh niatku sejak awal memang ingin mati. Mati dengan cara terindah, rekreasi. Lalu apa yang kau lakukan pada tumbalmu? Membunuhnya? Memangsa jiwanya? Mengambil tubuhnya?”
Nyi Roro Kidul tak menjawab, lagi-lagi ia tersenyum
“Dan satu lagi apa hubunganmu dengan dewi Tara?” imbuh Sarah.
Nyi roro kidul tertawa lalu menghampiri Sarah secepat kilat, memeluknya lalu mendekatkan bibir ke telinganya seraya berbisik, “Kau percaya Tuhan? Kau percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian?”
*
Beberapa hari telah berlalu. Di penginapan tempat Sarah menginap, terlihat seorang petugas penginapan sedang menuju kamar Sarah. Sesampainya di sana, beberapa kali ia mengetuk pintu namun tak kunjung ada jawaban. Ia berinisiatif masuk menggunakan kunci cadangan. Matanya hanya mendapati sebuah ponsel, cutter, tali tambang, dan pil yang tergeletak di atas meja, juga sebuah tas ransel yang berada di atas kasur. Ia dikejutkan dengan suara getaran, yang mana suara itu berasal dari ponsel milik Sarah. Ia memeriksanya lalu melihat sebuah pesan masuk. Ia tak dapat menahan rasa penasarannya, membaca pesan itu dan yang dilihatnya adalah sebuah pesan tanpa nomor pengirim yang berisi, “Mati bukan berarti menghilang, menghilang belum berarti mati.”
[1] Nama otot yang berfungsi menggerakkan kulit dahi dan alis ke arah pangkal hidung.
[2] Sebutan masyarakat Jawa pada komposisi musik dalam seni karawitan yang menghadirkan harmoni antara seni suara instrumental dan vokal.
[3] Sebuah artikel karya Roy E. Jordaan pada tahun 1997 yang diterbitkan oleh Asian Folklore Studies, Japan.