Penyelidikan itu dimulai setelah ditemukannya seorang penyusup yang diduga bukan manusia di sebuah pesta mewah yang dihadiri banyak orang, beberapa ratus meter dari Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah.
Kisah ini disampaikan seperti sebuah dokumentasi, mengikuti para ahli dan orang-orang biasa yang membahas keberadaan satu orang tak diundang di sebuah pesta kecil anak-anak muda.
Cerita bermula dari buku tamu yang mencatat 50 nama orang yang hadir. Tuan rumah, Agus, berinisiatif mencatat nama-nama itu agar semua orang saling mengenal dan untuk mencegah adanya penyusup.
Masalah baru muncul setelah kakaknya, Wisma, menyarankan untuk menghitung apakah jumlah orang di foto kenang-kenangan sama dengan daftar kehadiran. Hasilnya mengejutkan, jumlah orang di foto selalu satu lebih banyak.
Awalnya, Agus dan Wisma mengira mereka salah menghitung. Mereka menghitung lagi dan lagi, dan hasilnya selalu sama: satu orang lebih banyak. Mula-mula mereka pikir mungkin itu hanya ilusi di foto. Namun akhirnya, bulu kuduk mereka berdiri ketika menyadari bahwa jumlah total orang yang terlihat di semua foto yang dicetak memang 51. Mereka tetap menghitung 51 orang. Artinya, ada sosok gaib yang berbaur di antara anak-anak muda di pesta itu, ikut berpesta dan mungkin bahkan berinteraksi dengan banyak dari mereka.
Salim mengatakan bahwa orang yang mencatat daftar tamu memang sengaja melakukannya di akhir pesta agar jika ada penyusup bisa segera diketahui, karena pesta itu sendiri sangat mahal. Makanan dan minumannya kelas satu, dan para tamu bahkan diberi hadiah sebuah jam tangan senilai lima juta rupiah. Agus menyatakan bahwa tidak masalah menghabiskan uang sebanyak itu karena yang datang adalah teman-teman dekatnya dan kerabat mereka, pacar mereka, atau sahabat mereka. Ia bahkan siap jika lebih dari 100 orang datang.
Menurut kesaksian Salim, para tamu yang masih berada di pesta di akhir acara diminta untuk berbaris, lalu ia mencatat nama mereka satu per satu sambil meminta mereka menunjukkan kartu identitas. Hasilnya tetap 50 orang. Salim sangat yakin hitungannya tidak salah, karena setiap orang yang sudah dicatat wajib keluar dari rumah pesta itu sendirian, dan hanya mereka yang sudah tercatat yang boleh keluar.
Setiono dan Darsono, para pengawal yang menjaga tempat itu, bersaksi bahwa mereka benar-benar memperhatikan setiap orang yang keluar dan masuk. Darsono yakin tidak ada jalan keluar lain, karena pintu belakang dijaga oleh tiga pengawal senior. Ia sangat yakin akan profesionalisme mereka. Hal ini dikuatkan oleh Setiono, yang menyaksikan sendiri seorang pengawal senior bernama Rudi yang rumahnya dekat lokasi pesta melarang anak perempuannya dan pacar anak perempuannya untuk masuk lewat pintu belakang. Setiono juga mengaku bahwa ia berjaga di pintu depan, dan ia pasti tahu jika ada orang yang masuk, karena siapa pun yang masuk pasti lewat pintu yang ia jaga.
Bagian yang paling meresahkan terjadi ketika foto-foto pesta itu diperlihatkan dalam waktu lama. Wajah-wajah para tamu diamati satu per satu, sementara para ahli dan psikolog mencoba menjelaskan apa yang tampak di dalamnya. Anak-anak muda di pesta itu, keluarga, teman dekat, dan para pacar diundang untuk memberi kesaksian.
Banyak keluarga tidak tahu siapa orang yang dibawa oleh anak mereka. Banyak anak muda mengaku bahwa mereka baru mengenal orang yang mereka bawa ke pesta itu hanya beberapa jam sebelumnya. Beberapa teman dekat atau pacar juga menyatakan bahwa mereka bertemu orang lain di jalan dan mengajaknya ke pesta.
Dalam kesaksian para saksi, terutama para ahli ilmu gaib, informasi yang muncul semakin mengerikan. Ada keluarga yang bersaksi bahwa anak mereka berbaur dengan jin, atau bahwa pacar anak mereka baru saja meninggal, dan hal itu tidak dibantah oleh orang yang bersangkutan. Analisis para ahli juga membuat merinding, membahas dimensi lain, apa itu hantu, perbedaannya dengan setan, serta sejarah kawasan sekitar Lawang Sewu yang terkenal angker.
Kisah ini ditutup dengan penampilan foto-foto pesta satu per satu, diiringi suasana yang nyaris hening, muram, dan menghantui.