Flash Fiction
Disukai
3
Dilihat
25
Sang Komedian Runtuh
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Ia dulu adalah ikon komedi satu generasi, nama pria itu Miles Carter bintang sitkom paling populer di tahun 90-an, wajahnya menghiasi poster, kaus, dan mug di seluruh negeri. Tiap malam, orang-orang menunggunya muncul di layar seperti menunggu teman lama pulang, semua runtuh karena satu malam stand-up, di sebuah klub kecil.

‎Dalam upaya comeback yang kikuk, Miles melontarkan guyonan yang dianggap rasis, ia tak berniat jahat, katanya, ia hanya salah memilih kata, salah membaca situasi zaman. Video itu viral. Sponsor mundur, studio memutus kontrak, namanya berubah dari “legenda komedi” menjadi “komedian bermasalah”.

‎Suatu hari, seorang pria muda menemuinya seorang sutradara pemula , penggemar berat sitkom lamanya.

‎“Aku mau bikin film tentang hidupmu,” katanya.

‎“Rekonstruksi sebelum, saat, dan setelah skandal itu."

‎"Mockumentary, komedi receh, tapi jujur.”

‎Miles tertawa pahit.

‎“Buat apa? Biar orang makin benci aku?”

‎Tapi justru itu yang membuatnya tertarik, ia setuju.

‎Miles diminta menulis kisahnya sendiri, awalnya ia ingin membersihkan citranya., menghapus bagian memalukan, membuat dirinya tampak lebih simpatik, tapi lalu ia berubah pikiran. Ia mulai menulis semua keburukan dirinya yang tak diketahui publik, sifat kasarnya, egonya, rasa iri pada komedian muda, dendamnya pada dunia yang tak mau memaafkan.

‎“Biar sekalian,” Batin Miles.

‎“Kalau orang mau benci aku, sekalian sepenuhnya.”

‎Masalahnya Miles sudah lama tak menulis komedi, ia memaksakan dirinya stres, kurang tidur, menyiksa pikiran, berharap jadi cukup kacau untuk menemukan ide. Ia bahkan berharap terkena gangguan mental, demi bisa menulis sesuatu yang “tidak normal”. Tentu saja itu hanya fiksi dari dalam kepalanya sendiri, yang ia dapat justru kelelahan dan kehampaan.

‎Film itu akhirnya jadi, isinya dialog murahan, humor canggung, filosofi berat, sarkasme pada diri Miles sendiri. Miles dan sang sutradara yakin, ini jujur, ini penebusan, film itu rilis, dan tak laku.

‎Bioskop sepi, ulasan kasar, orang-orang bilang filmnya malu-maluin.

‎Suatu hari, Miles dan sang sutradara mendengar curhat seseorang di kafe, pria itu tak hafal wajah Miles juga sang sutradara muda.

‎“Keponakan aku ngamuk abis nonton film si Miles,” katanya.

‎“Katanya komedinya kayak ngolok kesalahan si Miles sendiri wa."

‎"Engga lucu."

‎"Ngga tulus.”

‎Miles terdiam, untuk pertama kalinya,

‎ia sadar, ia bukan sedang menebus kesalahannya, ia sedang menyarkas dirinya sendiri.

‎Da malamnya, Miles memutuskan sesuatu yang tak pernah ia rencanakan, ia mulai meminta maaf, bukan di layar, bukan di panggung, ia datang dari rumah ke rumah orang-orang yang dulu pernah ia singgung. Tanpa kamera, tanpa publikasi konten. Hanya kalimat,

‎“Aku salah. Aku minta maaf.”

‎Perlahan, orang-orang memaafkannya, memang tak semua, tapi cukup banyak, bertahun-tahun kemudian, orang-orang justru meminta satu hal,

‎“Bikin film lagi."

‎"Tapi jangan sarkas ke diri sendiri,"

‎"Cerita yang jujur.”

‎Miles dan sutradara itu berkolaborasi lagi, film kedua rilis, dan kali ini…

‎Laris.

‎Miles Carter tak pernah jadi legenda seperti dulu, tapi untuk pertama kalinya, ia berdiri kembali di atas panggung tanpa rasa takut. Dan dunia, akhirnya, memberinya tempat kembali.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi