Nyanyian Anophilia

Setiap malam Anophilia memimpikan tepukan tangan. Ya, karena ia digadang-gadang sebagai penyanyi andal. Ibunya tak pernah lepas memuji, betapa luwes jangkauan nadanya, betapa tinggi oktaf yang dimilikinya, begitu merdu lantunan suaranya. Selama ini ia belum berani tampil, karena usianya yang kecil, dan kepercayaan dirinya yang tipis.

Ibu Anophilia bilang, mereka adalah penyanyi istimewa. Hanya menyanyi di malam hari, bagi manusia yang tertidur sangat nyenyak. Kakak Anophilia juga penyanyi hebat. Setiap malam ia mendapat tepukan tangan dahsyat, mengalahkan ibu mereka semasa muda dahulu. Ibunda Anophilia memang sudah pensiun dari dunia tarik suara, tetapi sang ibu pelatih vokal jempolan. Betapa tak sabar Anophilia meniru kehebatan ibunya, yang adalah idola dan panutannya senantiasa.

“Ayahmu paling suka mendengungkan lagu cinta. Ibumu ini jatuh hati seketika. Dengungan cinta ayahmu cocok, maka ibumu pun tertarik mendekatinya.” Ibunya bercerita dengan sorot mata terkagum.

“Lalu aku dan Kakak terlahir di dunia, Bu? Wah, romantis sekali, ya? Ayah ibuku rupanya penyanyi nomor satu di dunia ini.” Anophilia berseri-seri, serasa terbang tinggi membayangkan percintaan ayah ibunya yang mahir bernyanyi.

Malam ini Anophilia diminta bernyanyi oleh ibunya. Pentas solo pertamanya, setelah sebelumnya ia cuma menyanyi di hadapan ibu dan kakaknya. Anophilia mendua antara gugup dan senang tak kepalang. Setiap detik ia melatih nyanyiannya yang dijuduli “Nyanyian Anophilia”. Jelas ia berharap tepukan tangan untuknya bakal gempar, mengalahkan tepukan untuk sang kakak yang kawakan.

“Kamu siap, Dik? Lihat, penontonmu tidur lelap. Itulah kesempatanmu, Dik.” Kakak Anophilia membisiki adiknya yang gamang di balik tirai merah. Ibu mereka berdiri di belakang, tak ingin mencampuri persiapan kedua putrinya.

“Jadi aku tampil duluan, Kak? Aku belum yakin dengan suaraku, Kak. Takut fals.” Anophilia merentakkan kakinya, kaki-kaki lentik yang tegang bukan kepalang, sekaligus mencari kecocokan dengan harmoni dengung yang dilatihnya. Duh, semakin dilatih, rasa tegangnya malah makin menjadi. Anophilia tak sabar untuk terbang secepatnya ke tengah pentas.

Alhasil, Anophilia serasa melayang saat melangkah ke pentas. Serasa tak menjejak lantai, ia menyanyi lantang, mengalahkan dengkur penontonnya yang tertidur. Si bidadari penyanyi mengepakkan sayap keemasannya. Nyanyiannya kian mantap, merdu, dan membius. Juga merecoki mimpi si penonton yang terlelap. Tepukan keras menerpa Anophilia, sebanyak tiga kali berturutan. Kontan Anophilia terhempas, menghilang untuk sesaat.

“Adikmu, mana adikmu, Adisti? Kenapa ia tak kelihatan di pentas?” Ibunda Anophilia mendekat ke balik tirai merah, panik menggamit tubuh putri sulungnya.

“Aku akan mencari Anophilia, Bu, jangan cemas.” Lekas Adisti beranjak untuk melacak keberadaan adiknya. Tepukan keras kembali terdengar sebanyak tiga kali.

Beberapa saat kemudian, Adisti membopong tubuh adiknya yang pingsan. Sayapnya mengepak-ngepak, menimbulkan dengungan yang bernada resah. Ibu mereka histeris dan menangisi putri bungsunya yang tergolek diam. “Anophilia. Maafkan Ibu, Nak. Ini gara-gara Ibu yang menyuruhmu tampil solo. Maafkan...”

"Ibu. Ibu... apakah penampilanku hebat, Bu?” Perlahan Anophilia tersadar, menatap ibunya dari 100 matanya yang kecil-kecil. Sementara ibunya memastikan enam kaki milik Anophilia tidak cacat dan 47 giginya tidak berkurang.

“Kamu hebat, Dik. Tepukan tangan buatmu amat keras, sampai-sampai kamu pingsan terhempas.” Adisti berdengung bangga.

Ya, mereka adalah nyamuk rumahan, berkerabat dengan ras Anopheles dan Aedes aegypti. Tentu saja mereka hebat dan ditakuti oleh manusia.

6 disukai 1 komentar 3.5K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Bakat menyanyi yang hebat. Namun aku lebih suka mereka diam.
Saran Flash Fiction