Burung-Burung Baiduri

Ibuku seorang penjahit dan pendongeng yang hebat. Bunda, begitu aku menyapa ibuku. Bunda menjahit helaian kain seindah ia menenun kata-kata yang menawan. Aku sempat berpikir, seorang penjahit tentunya mahir bercerita, seperti ibuku yang sangat cantik parasnya.

Ketika bisnis ayah berjalan lancar, ibuku begitu cantik. Pakaiannya bagus-bagus, tubuhnya pun harum berhias selendang sutera. Saat bisnis ayah surut, ibuku masih cukup cantik, tetapi parasnya lelah dan busananya berganti daster-daster sederhana. Namun, ibu tetap pintar bercerita, juga semakin sering menjahit baju-baju elok.

Sembari menjahit, ibu menceritakan dongeng kesayanganku, kisah burung-burung baiduri yang mulia hatinya. Baiduri adalah permata yang berwarna dan banyak macamnya. Sejatinya, burung-burung baiduri bercorak indah, bak permata paling gemilang di bumi. Sejak ditetaskan, mereka ditakdirkan mencari semak-semak berduri untuk menunaikan misi suci yang luar biasa.

Burung baiduri yang menemukan semak berduri akan menyelinap, terbang di antara duri-duri paling tajam. Sembari bersenandung, tubuh mungilnya dicucukkan pada duri-duri, hingga terluka dan sekarat. Dalam keadaan luka parah, nyanyian burung baiduri demikian indah, membuat seisi bumi terhenyak dan senyap.

“Nak, burung baiduri yang cantik akan bernyanyi dengan indah, untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupnya. Orang-orang yang bersedih hati akan terhibur, menemukan sinar hidupnya, berkat lagu senandung burung baiduri yang merdu. Setelah tiada, burung-burung itu menjelma burung malaikat yang bercahaya. Tuhan pun tersenyum padanya di surga.”

“Tapi, Bunda, kenapa mereka harus mati? Kenapa justru saat sekarat, nyanyian burung baiduri paling cantik? Tidak bisakah Tuhan membiarkan mereka hidup, agar lebih banyak orang yang terhibur?” Aku bertanya dengan sedih.

“Karena pengorbanan paling menyakitkan akan berbuah manis, Nak. Burung baiduri yang merelakan nyawanya demi kebahagiaan orang lain tentulah dikasihi Tuhan. Di surga, mereka bersukacita sebagai burung penyanyi kesayangan Sang Maha Pencipta.” Ibuku menjawab sendu.

Agaknya ibuku mengisahkan cerita hidupnya sendiri. Bundaku adalah seekor burung baiduri. Suara mesin jahit ibu adalah senandung paling merdu di hatiku. Setiap kali mesin jahit ibu bergerak, hatiku terhibur oleh deru suaranya yang kasar dan bising. Ibuku bekerja demi mengasihi kami sekeluarga. Tanpa suara mesin jahit ibu, kami akan merasa hening dan dingin.

Mulai malam ini, dan malam-malam selanjutnya, kami tidak lagi mendapati suara merdu di rumah kami. Mesin jahit ibu teronggok tak bertuan, karena sang pemilik sudah menghadap Sang Khalik di surga. Ibuku berpulang akibat radang paru-paru akut dan kelelahan kronis yang diidapnya. Aku didera kehilangan yang hampa. Burung baiduri yang cantik tidak lagi berkicau di rumah ini.

Suatu malam, aku mendengar merdunya bunyi mesin jahit yang bekerja. Suaranya terdengar seret akibat sisa-sisa benang maupun serat kain yang tersangkut di dalam mesin. Kazha-kazha kletek-kletek, tetapi ritmis dan melodius bak irama lagu yang menghibur. Ibu tak pernah memberitahu seperti apa gerangan kicauan burung baiduri. Namun, seketika aku paham, itulah suara yang paling kusukai di dunia ini.

“Bunda, hatiku tidak lagi merasa sedih. Itukah kicauan burung baiduri kesayangan Tuhan?” Aku bertanya lugu.

Ibuku tidak menjawab. Tentulah karena ibu menjelma burung baiduri, sang penyanyi termolek, juga merdu suara kicaunya di surga.

2 disukai 896 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction