Panen

Di ruangan yang sedikit cahaya. Dia berada di depanku sambil membawa catatan untuk kuterima. Aku mendapatkan tugas baru yang kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Dia menyuruhku untuk mengurangi populasi manusia. Ini berarti harus ada kematian dalam jumlah yang besar. Tentu saja untuk tugas yang satu ini, aku tidak bisa sendirian melaksanakannya. Aku butuh bantuan yang memiliki kemampuan sepertiku. Dia membantuku menemukan ‘dia’ yang aku butuhkan. Ya, ‘dia’ sesuatu yang lain sepertiku. Tanpa perlu waktu lama, aku segera menemuinya.

Tidak butuh waktu lama, aku segera mengetahui lokasi keberadaannya. Setelah menemuinya, aku segera menceritakan maksud kedatanganku. Ternyata ‘dia’ sudah mengetahui semuanya. Alasan tugas itu harus dilaksanakan. Tanpa perlu ku menjelaskan lagi, aku segera menjelaskan rencanaku.

“Menurutku cara yang paling efektif adalah menggunakan virus,” saranku kepadanya.

“Baiklah, dimana kau akan menyebarkannya?” tanyanya padaku.

“Tentu saja semua harus dimulai di lokasi yang banyak penduduknya. Dimana penduduk wilayah itu harus sangat mobile. Tentu penyebarannya akan semakin cepat,” jawabku meyakinkan.

“Aku tahu lokasi yang tepat untuk itu. Lalu bagaimana kalau manusia menemukan penangkalnya?”

“Tenang saja, virus ini akan cepat bermutasi. Karena itu, untuk menghindari antivirus atau vaksin lebih cepat daripada mutasi, aku juga harus menyerang lokasi yang dianggap super power. Dengan begitu manusia akan sedikit merasakan depresi karenanya. Kau tentu tahu kelanjutannya,” ucapku sedikit menjelaskan.

Dia menganggukkan kepalanya, “Kekacauan... Aku sudah mempersiapkan mereka yang akan mengeksekusi rencanamu. Kau tinggal memberikan instruksi kepada mereka.”

Aku tidak tahu kenapa ‘dia’ dipilih untuk membantuku kali ini. Apakah ada alasan khusus di baliknya?

“Mengapa kau mau membantuku? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” tanyaku penasaran.

Dia diam sejenak lalu bergerak membelakangiku, “Aku sudah tidak peduli dengan manusia. Terlalu banyak manusia membawa kepentingan. Lagipula alam meminta bantuanku untuk ini. Sudah waktunya melakukan reset ulang. Tidak. Minimal mengurangi jumlah mereka yang eksistensinya tidak dibutuhkan. Lagipula kau mendapatkan kuota dari mereka yang eksistensinya menghilang bukan?”

Aku terdiam sejenak. Apa yang dikatakan olehnya memang benar. Aku mendapatkan sesuatu dari mereka yang mati. Sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.

“Kapan waktunya kita panen?” tanyanya.

“Tahun depan...” jawabku.

215 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction