Waktu

Aku sedang berjalan di pasar yang ramai pengunjung. Seperti biasa aku membawa buku catatanku. Aku hendak mendatangi toko jam yang tampaknya sepi pengunjung. Tidak heran. Saat ini jam sudah tergantikan oleh smartwatch. Pemilik toko yang sudah tua itu tampak melamun sambil sesekali memandang pengunjung pasar yang berlalu lalang. Aku telah berada di depan tokonya saat ini.

“Ada yang bisa di bantu, mas?” tanya penjaga toko itu.

“Bisa minta tolong perbaiki jam tangan saya?” jawabku sambil menyodorkan jam tanganku.

Dia memperhatikan jam tanganku yang tampak aneh. Tampaknya dia kebingungan cara memperbaiki jam tersebut. Pernak pernik yang tidak seperti jam tangan normal semakin membuatnya penasaran dengan jam tangan itu. Tapi setelah memperhatikan dengan jelas, dia mengetahui bahwa jam tangan yang dipegangnya saat ini adalah jam tangan murah. Dia kemudian meremehkan jamku.

“Mas, daripada diperbaiki, lebih baik mas beli jam baru. Harganya lebih murah daripada memperbaiki jam ini,” sarannya kepadaku.

Aku tidak membantah pendapatnya.

Karena tidak membalas perkataannya, tukang jam itu melanjutkan kalimatnya, “Jam tangan kenangan ya?”

Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya.

“Mas, kok diam saja. Jadi gimana? Beli baru atau diperbaiki?”

Aku mulai bertanya, “Bapak sudah berapa lama menjadi tukang jam?”

“Sudah lama, mas. Entah sudah berapa puluh tahun.”

Aku menganggukkan kepalaku, “Bapak tahu? Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia?”

Bapak itu kebingungan mendengar pertanyaanku. Dia tampak melongo

“Waktu,” lanjutku sambil meninggalkan tukang jam itu.

Terdengar teriakan panik pengunjung dari toko jam itu. Tukang jam itu tidak bergerak sedari tadi. Tukang jam itu telah kehabisan waktu hidupnya. Aku melihat catatanku dimana nama bapak itu telah terhapus dari lembaran.

Arwah tukang jam itu masih melongo melihat ke arahku.

1 disukai 931 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction