Alquran Buat Maya

Terik matahari sangat menyengat siang itu, makin menambah haus dahaga makin terasa. Gerobak rongsok di tarik kedua tangan Marwan, pemulung jujur melirik kebelakang, Maya terus mendorong gerobak dengan setengah tenaganya mulai terasa kecapekan.

"May kita istirahat dulu di sana saja" ajak Marwan menarik dua gagang gerobak terus di dorong Maya kepinggiran jalan. Mereka berdua duduk di depan rumah mewah.

"Sudah Ayah saja yang minum" Maya menolak saat di berikan botol air tersisa sedikit dalam botol. Marwan haru perhatikan Maya terduduk mulutnya seperti menghapal untain Ayat Suci Alquran. "Nanti kalau Ayah sudah ada uang, pasti Ayah belikan kamu Alquran yang bagus, May?" tutur Marwan tidak tega meneguk botolair minum lalu di berikan pada Maya meminumnya.

"Ayah itu apa?" tanya Maya berdiri melirik tong sampah, teronggok tas wanita. "Ini tas siapa?" bingung Marwan melihat sekitar dan berbalik perhatikan rumah mewah, saat Maya mengintip celah pintu. "Pasti pemilik tas ini, rumah itu barangkali, Yah?" berapa kali Maya ketuk pintu besi.

Pintu tidak terbuka walau berapa kali di ketuk Maya. "Sudah kita simpan saja tas ini, nanti jika ada pemilik tas ini mencarinya, ya kita berikan saja" kata Marwan lempar tas kedalam gerobak. Saat gerobak berjalan di dorong Maya, mobil sedan warna hitam melintas membelok akan masuk rumah.

"Itu tas? Itu'kan tas gua" Alona buka pintu mobil dan turun. "Heii tunggu!" panggil kencang Alona menghampiri Maya tersenyum perhatikan setelan piyama modern warna toska dengan kaca mata hitam di kenakan Alona. "Ini'kan tas gua?! Pasti loe habis mencurinya dari rumah gua?" tuding Alona jeguk kepala Maya mundur.

"Maaf Mbak, anak saya tidak mencuri tas ini" bantah Marwan ambil tas dari dalam gerobak di berikan pada Alona menggerutu kesal. "Hahh! Kenapa tas gua bisa sama kalian? Kalau kalian tidak mencurinya dan masuk kerumah gua!" tuding lagi Alona makin kesal mendorong jatuh Maya terbentur sisi gerobak. "May, Maya bangun" panik Marwan cepat naikan Maya kedalam gerobak dan di tariknya dua gagang gerobak oleh Marwan. Alona hanya tersenyum tidak peduli dengan Maya yang jatuh pingsan karena terbentur keras gerobak.

"Uhhh kenapa si gua jadi pikunan gini! Ini'kan tas udah gua buang! Hahh kesal deh gua! Amnesia gua kenapa ngak sembuh-sembuh si!" baru sadar Alona menahan kesal menyalahi dirinya. "Bapak...tunggu..." teriak Alona kesal melempar tas ketong sampah.

Alona berlari mengejar gerobak terus di tarik Marwan, terjatuh berapa kali Alona mulai sedih merasa bersalah karena perbuatannya pada Maya. "Duh kenapa gua jadi celakain anak itu. Padahal anak itu ngak salah" guman sedih Alona terhenti makin sedih berdiri di hadapan gubuk reot.

"Ayah jangan sedih, aku tidak apa-apa kok" Maya terbaring sedih, saat kepala belakang mengeluarkan darah banyak sekali. "Ayah, nanti belikan aku Alquran yang bagus, agar aku bisa belajar mengaji. Masa aku terus menghapal saja tanpa membaca Alquran" tersenyum Maya dan seketika menghembuskan napas terakhirnya, setelah permintaan terakhirnya terucapkan. "May, Maya..." teriak sedih Marwan meratapi kepergian Maya selamanya.

"Alquran ini buat kamu, Maya" Alona sedih duduk berdeku di hadapan makam Maya masih basah penuh taburan bunga. Marwan tidak dendam dan marah pada Alona makin sedih menyesali perbuatannya hanya karena Amnesianya.

466 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction