Mengejar Cinta Paris

"Sorry, sorry" ngak sengaja Paris menubruk Lian, gadis tomboy sedikit menahan marah. "Loe ngak punya mata?! Main tubruk aja!" sembari mengambil topi kupluknya terjatuh dihadapan Paris malahan masih perhatikan jalan didepan sudah sepi. "Loe dari Indonesia?" sempatnya Paris bertanya, tapi ngak ada basa-basi minta maaf. "Apa urusan loe gua dari Indonesia!" sahut Lian berjalan meninggalkan Paris masih bingung seperti ada seseorang sedang dicarinya.

"Pantesan tuh cewek ngamuk" baru sadar Paris berbalik mengejar Lian. "Maaf, tadi gua ngak sengaja nubruk loe. Gua Paris" berdiri Paris di belakang Lian berbalik masih sinis. "Baru nyadar loe udah nubruk gua dan baru minta maaf. Iya gua maaf'in. Gua Lian" jawab Lian langsung berbalik tinggalkan Paris masih berdiri perhatiin Lian makin jauh berjalan di telan sepinya malam kota Paris.

Kota Paris makin terasa sepi terbalut dinginnya malam, kerlap-kerlip indahnya lampu menara Eiffel menjulang tinggi. Langkahnya Paris terhenti terasa lemas bercampur merasa bersalah. "Ngak semestinya gua nyakitin perasaan Rosy" terduduk sendiri Paris di kursi taman, terbentang indah menara Eiffel di hadapan Paris.

"Loe masih di sini?" tanya Lian rada nyindir duduk di samping Paris risih. "Udeh tenang aja kali loe. Loe takut sama cewek loe, kalau ketahuan duduk sama gua?" ledek Lian akan beranjak bangun tidak jadi, saat tangan kanan Paris menarik duduk lagi. "Udeh loe duduk aja di sini" tersenyum Paris melirik Lian mulai tersenyum juga. Mereka berdua duduk di hadapan menara Eiffel, malam itu langit kota Paris bersinar rembulan setengah dengan pijaran berjuta sinar bintang.

Lampu kecil menerangi setiap sudut jalan kawasan perumahan Le Marais, kota tua Paris. Pastinya akan membuat kagum ketika melihatnya, tampak bangunannya berarsistektur dari masa pra-revolusi. Motor vespa antik berhenti di depan pintu salah satu rumah. "Udeh, loe ngak usah turun. Semoga aja loe ketemu sama cewek loe itu" kata Lian turun dari motor vespa milik Paris. Paris cuman tersenyum, padahal dirinya mau turun.

"Paris?" pintu terbuka terkejut Paris saat Rosy tunjuk dirinya masih duduk di atas jok motor vespa. "Ros, Rosy tunggu!" cepat turun Paris dari motor vespa mengejar Rosy sedih berlari ketengah kawasan kota Le Marais.

Rosy berdiri sedih di bawah lampu tiang bercahaya terang pijar. "Aku ngerti kamu kecewa denganku, Ros. Saat ini aku sudah buktikan janji cintaku padamu, aku sudah ada di sini, Ros. Maaf, waktuku ada di Jakarta, bukanku ngak mau terima telponmu. Karena Ayahku telah tiada, jadiku harap kamu mengerti" sedih pasrah Paris. Rosy langsung memeluk sedih Paris membalas dengan memeluk erat. "Aku tahu Paris, sebegitu egoisnya aku. Karena aku takut kamu tidak akan tepati janji cintamu" sedih Rosy saat pipi cantiknya di seka tangan halus Paris.

Dari kejauhan Lian sedikit menahan sedih dan cemburu, jika Paris yang baru di kenalnya adalah pacarnya Rosy, adiknya. "Gua ngak mungkin nyakitin Rosy, adik gua sendiri. Walau baru saja gua ngerasain jatuh cinta dengan Paris, lelaki yang baru gua kenal" guman sedih dalam hati Lian perhatikan Paris dan Rosy tertawa bahagia bergandengan tangan. "Gua ngak akan nyakitin janji cinta gua sama Rosy, biarlah Rosy bahagia dengan Paris" makin sedih bercampur bahagia Lian perhatikan kebahagian Paris dan Rosy.

1 disukai 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction