Langit Jakarta sore itu tidak sedang ramah. Di atas bentangan cakrawala ibu kota yang dipadati menara-menara baja dan beton, matahari perlahan tergelincir ke barat, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di permukaannya yang pekat. Asap knalpot, deru mesin kendaraan yang berdesakan, serta klakson yang bersahutan menciptakan simfoni bising khas jam kepulangan kantor. Namun, di dalam kabin sebuah mobil sedan hitam bermerek Eropa yang terparkir anggun di pelataran gedung pencakar langit megah di kawasan Sudirman, dunia seolah berjalan dalam keheningan yang berbeda.
Arman mematikan mesin. Jarum penunjuk bahan bakar menunjukkan angka yang aman, sementara pendingin ruangan berdengung halus, menjaga suhu di dalam kabin tetap sejuk di tengah gerahnya udara luar. Arman menarik napas panjang, meresapi aroma parfum vanila lembut yang tertinggal di jok belakang—aroma yang selalu menandai kehadiran pemilik kendaraan ini.
Sebagai seorang sopir pribadi, Arman selalu memastikan pekerjaannya berjalan sempurna. Kemeja putihnya yang disetrika rapi tanpa kerutan sedikit pun, celana bahan hitam yang klimis, serta sepatu pantofel yang disemir mengkilap mencerminkan betapa ia menghargai profesinya. Tidak ada cela dalam setiap tugas yang ia emban. Ia tahu persis bagaimana membuka pintu mobil dengan sudut yang pas, bagaimana menjaga kemudi agar tidak ada guncangan yang mengusik kenyamanan penumpangnya, dan bagaimana mengatur spion tengah agar ia bisa memantau keadaan tanpa terkesan lancang.
Namun, di balik sikap profesional, kaku, dan terkontrol itu, tersimpan rahasia besar yang tidak seorang pun di dunia ini tahu—bahkan mungkin tidak ingin dibayangkan oleh siapa pu...