Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Blurb: Penyamaran Bara
Hidup bergelimang harta, serba ada, dan serba mudah justru membuat Bara merasa hampa. Sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis konglomerat, ia penat dengan kepalsuan dunia metropolitan dan memilih kabur untuk mencari arti hidup yang sesungguhnya.
Menyamar sebagai buruh tani biasa, Bara melebur di perkebunan gambir ratusan hektar milik Pak Abidin. Di bawah terik matahari dan kerasnya kerja fisik, ia menemukan kedamaian yang tak pernah ia rasakan di kota besar. Hingga takdir mempertemukannya dengan Varisha, putri Pak Abidin yang anggun, cerdas, dan taat agama.
Pesona ketulusan dan bentuk tubuh atletis Bara yang bekerja dalam senyap berhasil memikat hati Varisha. Namun, di tengah gejolak cinta yang tumbuh subur, keduanya memilih untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Berlandaskan nilai-nilai Islam, mereka merajut hubungan suci yang bersih dari noda, membuktikan bahwa cinta sejati tidak diukur dari kemewahan dunia, melainkan dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
Ketika identitas aslinya akhirnya terungkap, akankah cinta mereka bertahan di tengah perbedaan status sosial? Dan mampukah Bara menemukan kebahagiaan sejati dalam pelukan iman, keluarga, dan kesederhanaan?
Hidup bergelimang harta, serba ada, dan serba mudah justru membuat Bara merasa hampa. Sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis konglomerat, ia penat dengan kepalsuan dunia metropolitan dan memilih kabur untuk mencari arti hidup yang sesungguhnya.
Menyamar sebagai buruh tani biasa, Bara melebur di perkebunan gambir ratusan hektar milik Pak Abidin. Di bawah terik matahari dan kerasnya kerja fisik, ia menemukan kedamaian yang tak pernah ia rasakan di kota besar. Hingga takdir mempertemukannya dengan Varisha, putri Pak Abidin yang anggun, cerdas, dan taat agama.
Pesona ketulusan dan bentuk tubuh atletis Bara yang bekerja dalam senyap berhasil memikat hati Varisha. Namun, di tengah gejolak cinta yang tumbuh subur, keduanya memilih untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Berlandaskan nilai-nilai Islam, mereka merajut hubungan suci yang bersih dari noda, membuktikan bahwa cinta sejati tidak diukur dari kemewahan dunia, melainkan dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
Ketika identitas aslinya akhirnya terungkap, akankah cinta mereka bertahan di tengah perbedaan status sosial? Dan mampukah Bara menemukan kebahagiaan sejati dalam pelukan iman, keluarga, dan kesederhanaan?
Tokoh Utama
Bara
Varisha
#1
Warisan Tanpa Jiwa
#2
Rutinitas kaku keluarga konglomerat
#3
Pertemuan di Bawah Tekanan
#4
Bara Membulatkan Tekad
#5
Perjalanan Panjang Bara
#6
Tanah Liat dan Awan Rendah
#7
Bara mencari pekerjaan serabutan
#8
Bayang-Bayang Daun Gambir
#9
Pak Abidin
#10
Buruh Tani Gambir
#11
Parut di Telapak Tangan
#12
Transformasi fisik Bara
#13
Cangkir Kopi Pahit
#14
Pengamatan Sang Pembuat Perahu
#15
Suasana Malam di Pedesaan
#16
Emas Cokelat dari Lembah
#17
Tantangan cuaca ekstrem di perkebunan
#18
Senyum Tanpa Pamrih
#19
Cahaya di Surau Desa
#20
Pak Abidin Mulai Melibatkan Bara
#21
Embun di Atas Daun Kopi
#22
Kenangan masa lalu sesekali menghampiri
#23
Ujian Tanah Timur
#24
Apresiasi Sang Master
#25
Panen Raya Gambir
#26
Kepulangan Sang Santri
#27
Karakter Varisha yang cerdas, anggun, santun
#28
Pertemuan di Sela Wangi
#29
Pesona di Balik Serbuk Kayu
#30
Pertemuan Singkat dengan Varisha
#31
Gema Suara di Batas Senja
#32
Varisha sering tak sengaja memperhatikan Bara
#33
Benang Merah Arsitektur
#34
Diskusi di Bawah Langit Senja
#35
Benih-Benih Cinta
#36
Cahaya di Ujung Tasbih
#37
Bara menjaga pandangan (ghadhul bashar)
#38
Bayangan di Balik Daun Gambir
#39
Meniti Jembatan Hati
#40
Bakti Sosial Desa
#41
Kekaguman Varisha
#42
Pengakuan terselubung dalam doa malam
#43
Merajut Hati di Naungan Ridha-Nya
#44
Bahasa Hening di Tepian Senja
#45
Bara Meminta Restu
#46
Ujian di Serambi Surau
#47
Varisha meyakinkan hatinya
#48
Bisik-Bisik di Sela Daun Gambir
#49
Menanam Integritas di Atas Pasir
#50
Salam dalam Kesantunan Islami
#51
Dukungan Moral dari Sesama Pekerja
#52
Pembersihan niat: Bara dan Varisha sepakat
#53
Petunjuk di Sepertiga Malam Terakhir
#54
Akar dan Bayangan
#55
Kejujuran di Hadapan Pak Abidin
#56
Kejujuran di Bawah Langit Dusun
#57
Reaksi Terkejut Pak Abidin
#58
Buah Kejujuran di Naungan Senja
#59
Pertemuan Dua Dunia di Balik Senja
#60
Kejutan Orang Tua Bara
#61
Jembatan Dua Dunia
#62
Orang tua Bara terkagum-kagum
#63
Penyatuan Dua Dunia
#64
Simfoni Kayu dan Sajadah
#65
Hari Pernikahan Bara dan Varisha
#66
Ikatan Suci di Bumi Cibalik
#67
Resepsi pernikahan yang hangat
#68
Aroma Daun Gambir
#69
Arsitektur Cinta di Atas Sajadah
#70
Mengelola Perkebunan Gambir
#71
Kelahiran Anak Pertama
#72
Kehadiran anak-anak berikutnya
#73
Antara Sujud dan Lembar Kontrak
#74
Jejak yang Ditinggalkan
#75
Warisan Bisnis Gambir
#76
Jalan Pulang ke Titik Nol
#77
Keluarga Kecil Bara dan Varisha
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
905
Tentang Penulis
Amrullah Ibrahim
Seorang yang suka berpikir imajiner dan suka membaca cerita fiksis
Bergabung sejak 2026-07-30
Telah diikuti oleh 23 pengguna
Sudah memublikasikan 70 karya
Menulis lebih dari 3,651,470 kata pada novel
Rekomendasi dari
Rekomendasi
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Novel
Penyamaran Bara
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Titik Nadir dan Gunung Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Kejernihan yang Kita Jaga
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Deru Bara di Dada Gita
Amrullah Ibrahim
Flash
Pelempar Pasir Misterius di Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Flash
Sentuhan di Mushola Teluk Betung
Amrullah Ibrahim
Novel
Denyut Nadi di Rumah Kita
Amrullah Ibrahim
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Flash
Tawa Misterius di Tepi Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Novel
Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf
Amrullah Ibrahim
Novel
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Novel
Asam Garam Kehidupan
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Flash
Raksasa Penunggu Beringin di Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim