Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Alma hidup dalam keteraturan mutlak. Segala hal—dari target karier kuartalan hingga rencana hidupnya—tersusun rapi dalam spreadsheet digital yang tidak memberi ruang bagi kesalahan maupun kejutan. Bagi Alma, waktu adalah detik-detik yang harus dikendalikan agar tidak terbuang sia-sia.
Sebaliknya, Aldo memandang dunia sebagai kanvas luas yang berjalan tanpa aturan baku. Seniman berjiwa bebas itu hidup mengalir mengikuti angin, menolak segala bentuk kekangan, dan percaya bahwa hidup harus dinikmati apa adanya.
Ketika takdir mempertemukan kedua kepribadian yang bertolak belakang ini di sebuah kedai kopi lokal, benturan hebat pun tak terhindarkan. Pertengkaran demi pertengkaran lahir dari perbedaan prinsip yang kaku, menyeret mereka ke dalam jurang kelelahan mental, ekspektasi keluarga yang mencekik, hingga perpisahan lintas benua yang menyakitkan.
Namun, jarak dan badai kehidupan perlahan meruntuhkan ego keduanya. Alma belajar merelakan kontrol mutlak dan membiarkan hidup mengalir, sementara Aldo memahami arti sebuah komitmen dan batasan yang sehat. Di antara cangkir teh hangat dan biskuit yang tercelup perlahan, keduanya menemukan satu kebenaran sederhana: kesempurnaan cinta bukan tentang menyamakan ritme, melainkan keberanian untuk saling melengkapi di atas kanvas waktu yang terus berjalan.
Sebaliknya, Aldo memandang dunia sebagai kanvas luas yang berjalan tanpa aturan baku. Seniman berjiwa bebas itu hidup mengalir mengikuti angin, menolak segala bentuk kekangan, dan percaya bahwa hidup harus dinikmati apa adanya.
Ketika takdir mempertemukan kedua kepribadian yang bertolak belakang ini di sebuah kedai kopi lokal, benturan hebat pun tak terhindarkan. Pertengkaran demi pertengkaran lahir dari perbedaan prinsip yang kaku, menyeret mereka ke dalam jurang kelelahan mental, ekspektasi keluarga yang mencekik, hingga perpisahan lintas benua yang menyakitkan.
Namun, jarak dan badai kehidupan perlahan meruntuhkan ego keduanya. Alma belajar merelakan kontrol mutlak dan membiarkan hidup mengalir, sementara Aldo memahami arti sebuah komitmen dan batasan yang sehat. Di antara cangkir teh hangat dan biskuit yang tercelup perlahan, keduanya menemukan satu kebenaran sederhana: kesempurnaan cinta bukan tentang menyamakan ritme, melainkan keberanian untuk saling melengkapi di atas kanvas waktu yang terus berjalan.
Tokoh Utama
Aldo
Alma
#1
Detik yang Dihitung Mati
#2
Aroma Cat Minyak
#3
Tabrakan Dua Garis Waktu
#4
Tumpahan Kopi dan Dokumen Berharga
#5
Percikan Pertama di Meja Nomor Empat
#6
Rutinitas yang Tak Diundang
#7
Cangkir Teh Hijau dan Gangguan Kecil
#8
Ritual "Celap Celup" yang Mengusik Iman
#9
Metafora Biskuit dan Kerapuhan Kendali
#10
Gengsi, Teh Hangat, dan Jejak Pertanyaan
#11
Retakan Pertama pada Tembok Jadwal
#12
Warna Baru di Tengah Penatnya Angka
#13
Invasi Damai ke Studio Berantakan
#14
Idealisme yang Diselamatkan Struktur
#15
Cangkir Teh, Biskuit, dan Tumbuhnya Benih Rahasia
#16
Toko Kelontong Warisan dan Kuas yang Terbengkalai
#17
Rapat Direksi dan Topeng Kesempurnaan Aisyah
#18
Meja Bundar Empat Orang dan Cangkir
#19
Cermin Eksternal dan Ketakutan yang Bernyawa
#20
Persiapan Menuju Badai Besar
#21
Runtuhnya Garis Waktu di Layar Monitor
#22
Ketukan Pintu dan Undangan Paksa Keluarga
#23
Surat Teguran di Sudut Studio
#24
Kunjungan Tamu Tak Diundang
#25
Dua Cangkir Teh yang Kehilangan Rasa Manisnya
#26
Strategi Agresif di Bawah Tekanan
#27
Teguran Keras di Ruang Rapat Eksekutif
#28
Tekanan Tanpa Celah dari Meja Makan Keluarga
#29
Penolakan Mentah terhadap Ruang Jeda
#30
Titik Nadir Burnout dan Keheningan yang Mencekam
#31
Kolaps di Meja Nomor Empat
#32
Penculikan Nekat Tanpa Agenda
#33
Amarah yang Padam oleh Kelelahan Pesisir
#34
Pagi Tanpa Alarm dan Hamparan Pasir Putih
#35
Belajar Bernapas di Antara Detik yang Mengalir
#36
Ketukan Kenyataan di Beranda Pesisir
#37
Ledakan Frustrasi dan Tuduhan Tanpa Rem
#38
Luka yang Tersayat dan Rasa Terkekang
#39
Bayang-Bayang Masa Lalu dan Ketakutan
#40
Egosentrisme dan Renggangnya Garis Waktu
#41
Di Ambang Runtuhnya Jembatan Rasa
#42
Menyerah pada Jalur Kontrol Keluarga
#43
Pintu Studio yang Tertutup Rapat
#44
Kanvas Gelap Gulita dan Jeritan Tanpa Suara
#45
Jarak Emosional yang Membentang Tanpa Batas
#46
Malam Pameran dan Tabrakan Dua Ekspektasi
#47
Puncak Kesalahpahaman di Sudut Galeri
#48
Chapter tanpa judul #48
#49
Koper yang Dikemas Tergesa dan Waktu
#50
Detik-Detik yang Membeku di Tenggorokan Aldo
#51
Keheningan Panjang di Meja Nomor Empat
#52
Penerbangan Malam dan Titik Tolak Perpisahan
#53
Hari Pertama di Negeri Orang dan Layar Komputer yang Sepi
#54
Ruangan Kosong dan Gema Kesepian di Studio
#55
Garis Waktu yang Berjalan Sendiri-Sendiri
#56
Benturan Budaya dan Runtuhnya Zona Nyaman
#57
Proyek yang Melenceng dan Krisis
#58
Titik Balik Kesadaran di Balkon Apartemen
#59
Melepaskan Beban Grafik dan Jadwal
#60
Menghitung Waktu Berdasarkan Kedamaian Jiwa
#61
Pameran Tunggal dan Puncak Sorotan Lampu Sorot
#62
Hampa di Antara Tepuk Tangan dan Kanvas Gelap
#63
Topeng Kebebasan dan Ketakutan
#64
Kenangan Cangkir Teh dan Metafora Biskuit
#65
Tekad Baru di Balik Kanvas yang Tenang
#66
Metamorfosis Batin dan Cermin di Dua Kota
#67
Menyaksikan Kemenangan Kecil Sahabat
#68
Keputusan Alma Menolak Perpanjangan Kontrak
#69
Menolak Dunia demi Membangun Akar di Rumah
#70
Menyongsong Pertemuan di Garis Waktu yang Utuh
#71
Kepulangan Tanpa Jadwal Ketat
#72
Galeri Tetap dan Panggilan Batin di Tengah Kota
#73
Takdir yang Merajut Kembali Benang Waktu
#74
Meja Nomor Empat dan Cangkir yang Menanti
#75
Detik yang Berhenti dan Pengakuan Diam-Diam
#76
Es yang Mencair di Meja Nomor Empat
#77
Teh Hangat, Biskuit Rumahan, dan Cerita Baru
#78
Bukti Komitmen di Atas Lembaran Kertas
#79
Tawa Lepas di Balik Biskuit yang Patah
#80
Syukur atas Jeda yang Menempa Jiwa
#81
Restu yang Tumbuh di Atas Kedewasaan Batin
#82
Pengakuan Keluarga dan Galeri yang Berdiri
#83
Muara Bahagia di Lingkaran Sahabat
#84
Lamaran di Antara Goresan Kuas dan Cangkir Teh
#85
Peta Perjalanan di Atas Kanvas Waktu
#86
Pernikahan di Atas Rumput Hijau dan Kanvas Alam
#87
Janji di Celah Perbedaan yang Saling Mengisi
#88
Secangkir Teh, Biskuit, dan Lembaran Abadi
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
dua karakter yang jauh berbeda, seperti Utara dan selatan. Bumi dan langit. Tapi mereka berkelindan kisah sehingga tarik ukur diselingi perbedaan kisah, kadang manis kadang nyebelin dan seterusnya. novel ini sangat menggemaskan. ditunggu kelanjutannya. Bravo!
Disukai
2
Dibaca
569
Tentang Penulis
Amrullah Ibrahim
Seorang yang suka berpikir imajiner dan suka membaca cerita fiksis
Bergabung sejak 2026-07-30
Telah diikuti oleh 23 pengguna
Sudah memublikasikan 70 karya
Menulis lebih dari 3,651,470 kata pada novel
Rekomendasi dari
Rekomendasi
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Novel
Penyamaran Bara
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Titik Nadir dan Gunung Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Kejernihan yang Kita Jaga
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Deru Bara di Dada Gita
Amrullah Ibrahim
Flash
Pelempar Pasir Misterius di Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Flash
Sentuhan di Mushola Teluk Betung
Amrullah Ibrahim
Novel
Denyut Nadi di Rumah Kita
Amrullah Ibrahim
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Flash
Tawa Misterius di Tepi Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Novel
Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf
Amrullah Ibrahim
Novel
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Novel
Asam Garam Kehidupan
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Flash
Raksasa Penunggu Beringin di Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim