Disukai
0
Dilihat
32
The Last Quarantine
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aryo menatap langit lebih lama dari biasanya. Ia perhatikan sekitarnya sekali lagi sebelum kembali ke ruangannya. Aryo membuka pintu ruangannya, kemudian menutupnya lagi. Ia memutuskan untuk berkeliling sekali lagi, ia memastikan tidak ada yang terlewat.

​Tanpa sadar Aryo menangis. Ia menatap lorong yang gelap dan sunyi. Tempat ini ramai, banyak orang. Tapi Aryo merasa hampa.

​Ia memegang dadanya.

Sesak itu kembali—gejala sialan yang kini mulai menggerogoti dadanya sendiri. Ia bergegas ke ruangannya, mencari obat untuk sekadar menyambung napasnya. Banyak bekas obat kosong di lacinya. Aryo duduk di meja kerjanya, berusaha keras mengatur napasnya.

​Di mejanya tergeletak selembar kertas. Ia berencana menulis surat. "Apa cukup satu lembar?" batinnya. Sembari ia mulai menulis, ingatannya kembali ke suatu masa. Masa di mana tempat ini betul-betul ramai. Masa di mana ia tidak perlu merasa sepi.

​Suara tertawa anak-anak terdengar. Aryo menatap cermin, ia lihat dirinya 10 tahun lebih muda dari yang terakhir kali ia ingat.

Seperti biasa. Pagi itu, Aryo bersiap bekerja. Sebagai pegawai di pemerintahan, ia terbiasa membekali dirinya dengan berita-berita terkini. Jadilah pagi itu ia menyantap sarapannya sambil melihat berita di televisi.

​Ia menghentikan makannya, saat pembaca berita mengabarkan bahwa virus yang tidak diketahui telah menyebar di sejumlah daerah. Virus tersebut menyebar lewat udara dan semakin parah jika terpapar matahari langsung juga angin.

​Mendengar itu, Aryo berlari ke masjid terdekat mengabarkan apa yang baru saja ia dengar melalui pengeras suara. Ia juga memerintahkan semua orang untuk tetap di dalam rumah sampai pemberitahuan selanjutnya.

​Aryo satu-satunya orang yang bekerja langsung dengan pemerintahan, warga akan percaya dengan apa pun informasi yang keluar dari Aryo.

​Aryo juga berpengalaman menangani Covid-19. Saat itu hanya wilayahnya yang memiliki paling sedikit korban. Tidak ada warga meninggal akibat Covid-19. Karena itu juga warga sangat percaya pada Aryo.

Aryo terus memantau berita lewat televisi dan juga sosial media. Ia mencoba menghubungi sumber-sumber terpercaya yang bisa memberikan penjelasan lebih mengenai virus ini.

​Aryo juga mulai membuat beberapa ruang obrolan dengan warga di daerahnya, tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipersiapkan.

Ruang obrolan pertama, ia kumpulkan orang-orang dengan keahlian khusus, seperti dokter, perawat, staff minimarket, orang yang belajar bercocok tanam serta orang-orang yang memiliki hewan ternak. Aryo namai ini Tim Logistik.

Pusat Informasi. Ruang obrolan kedua, ia kumpulkan ibu-ibu dari masing-masing keluarga untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi sebanyak mungkin dari sebanyak mungkin sumber.

Berikutnya ia membuat ruang obrolan, khusus bapak-bapak dari setiap keluarga, kelompok ini Aryo butuhkan tenaganya, membantunya menggerakan roda dari apa yang akan mereka bangun bersama-sama, dan diberi nama Operasional.

Ia juga menghubungi beberapa anggota organisasi masyarakat yang tinggal di daerahnya, untuk membantunya mengamankan lingkungan. Mencatat dan mengawasi siapa saja yang keluar dan masuk lingkungannya. Aryo mengumpulkan mereka dalam ruang obrolan Keamanan.

“Kepada seluruh warga, dimohon untuk tidak panik. Kita sudah melewati Covid-19 dengan sangat baik, kita juga pasti akan mampu melewati ini juga. Jika ada saran mengenai langkah apa yang bisa kita lakukan silahkan kita diskusikan dengan cara musyawarah.”

Begitu isi pesan pertama Aryo yang dikirimkan kepada seluruh ruang obrolan. Responnya tidak semua baik, terutama di pusat informasi. Aryo perlu memilih berita mana yang asli dan palsu, karena banyaknya sumber berita yang tidak dapat divalidasi keasliannya.

Tim logistik mulai membuat rencana pembagian bahan makanan. Mereka mengumpulkan makanan mulai dari yang cepat rusak hingga tahan lama. Mereka menyiapkan skenario terburuk, jika listrik tidak ada dan jalur komunikasi di dalam maupun keluar wilayah juga terputus.

Mereka memutuskan lebih baik jika mengawetkan makanan segar seperti daging, ikan, unggas dengan cara tradisional yang tidak membutuhkan listrik. Mereka juga akan menyiapkan dapur umum dengan perlengkapan yang tersedia. Mereka mengumpulkan dan menghitung sumber daya yang bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Setelah perhitungan itu selesai, mereka kirim itu ke bagian operasional. Mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya malam ini. Kami setuju untuk menghindari matahari, dan bekerja setelah matahari tenggelam.

Lama mereka menunggu bantuan, entah bantuan apa dan dari siapa, namun sejak awal, tidak pernah ada bantuan yang datang. Mereka mengisolasi wilayah mereka dan menjalankan semuanya secara mandiri.

​Darah menetes di atas kertas, cukup menyadarkan Aryo yang dari tadi tenggelam dalam suratnya. “Pemerintah sialan!” Ia menggerutu mengingat kesulitan yang ia lewati bersama para warganya yang tidak pernah mendapatkan bantuan.

​Ia membersihkan darah yang menetes dari hidungnya. Aryo mencoba menenangkan dirinya. Bertahan agar mampu menyelesaikan suratnya, entah siapa yang akan membacanya kelak.

​Saking sunyinya, ia mampu mendengar suara angin malam yang menyapu telinganya. Membuatnya kembali ke masa kemenangan. Kemenangan akan new normal yang lagi-lagi harus mereka hadapi.

***

​Dunia kami telah terbalik. Sejak hari itu, matahari bukan lagi lambang kehidupan, melainkan ancaman kematian yang mutlak. Kami terpaksa mengubah total cara kami bertahan hidup. Saat matahari terbit, seluruh aktivitas dihentikan; kami mengunci diri, menutup rapat tirai, dan tidur di dalam ruangan yang temaram.

Kompleks ini menjelma menjadi makam yang sunyi sepanjang siang.

​Kehidupan kami baru benar-benar dimulai saat matahari tenggelam. Begitu kegelapan malam mengambil alih, kompleks kami berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Di bawah bayang-bayang malam, bapak-bapak bergerak lincah merawat tanaman di kebun darurat dan mengumpulkan hasil ternak di bawah temaram lampu minyak.

Tim logistik dan ibu-ibu mulai menyalakan tungku dapur umum, memasak, dan membagikan jatah makanan secara mandiri. Bahkan lorong-lorong kelas kembali bergema oleh suara anak-anak yang belajar di sekolah malam—sebuah pemandangan ganjil yang kini menjadi kewajaran.

​Kami butuh waktu dua tahun penuh air mata dan keringat untuk terbiasa dengan rutinitas nokturnal ini. Namun, aku dan seluruh warga tidak punya waktu untuk mengeluh. Kami hanya ingin hidup. Bertahan selama yang kami bisa adalah satu-satunya tujuan yang tersisa.

Dua tahun usaha kami, sia sia begitu saja. Susah payah para ibu yang mengajarkan anak mereka untuk tidur di siang hari dan bangun di malam hari. Saat kami mulai terbiasa, tiba-tiba listrik padam total. Malam hari kami berubah menjadi mencekam. Yang sebelumnya ramai dan indah oleh pendar lampu. Sekarang gelap gulita dan kami tidak bisa beraktivitas apa-apa.

Kami harus belajar lagi beraktivitas saat matahari terbit. Kami dipaksa kembali berteman dengan matahari, si pembunuh nomor satu. Karena dialah satu-satunya cahaya yang tersisa.

Tim Operasional langsung membagi tugas. Sebagian bergerak cepat mengais sisa lilin untuk penerangan sementara, sementara sebagian lagi membongkar gudang perkebunan milik salah satu warga demi mengumpulkan gulungan paranet hitam. Berkejaran dengan waktu sebelum matahari benar-benar bangun dan membakar kulit, bapak-bapak mulai memanjat, membentangkan jaring-jaring hitam itu dari atap ke pagar halaman.

Lingkungan sekolah mereka kini tampak seperti sarang laba-laba raksasa yang kelam. Jaring-jaring itu menyaring cahaya matahari agar tidak terlalu menyengat tapi cukup terang untuk membuat kami bisa melihat wajah satu sama lain dan memasak di dapur umum, tapi cukup teduh untuk melindungi kulit kami dari sengatan langsung yang mematikan. Kami hidup di bawah langit buatan yang mendung selamanya.

Beberapa hari setelah listrik padam total, jalur komunikasi menyusul, terputus.

​Sebelum hari sial itu tiba, internet memang sudah lama mati. Namun, kami setidaknya masih memiliki sisa-sisa harapan; kami masih bisa saling mengirim pesan singkat lewat ponsel jadul atau mengandalkan telepon kabel di ruang kepala sekolah untuk mendengar suara-suara dari luar. Kami masih tahu kalau di luar sana, manusia lain juga sedang berjuang.

​Tapi sekarang, semua itu lenyap. Telepon kabel itu mati total, menyisakan suara dengung kosong yang dingin setiap kali gagangnya diangkat. Sinyal di sudut layar ponsel berubah menjadi tanda silang.

​Kami resmi terputus dari dunia. Sejak detik itu, kami tidak lagi tahu apa yang terjadi di luar batas pagar kompleks kami. Apakah kota ini sudah runtuh sepenuhnya? Apakah ada orang lain yang selamat seperti kami? Atau, apakah kami adalah manusia-manusia terakhir yang tersisa di muka bumi? Tidak ada yang tahu. Sunyi yang sesungguhnya baru saja dimulai.

***

Aryo terbatuk-batuk. Setiap batuk terasa seperti serutan kaca yang menyiksa tenggorokan dan dadanya yang kian menyempit. Ia meraba-raba laci mejanya dengan panik, membalikkan wadah-wadah plastik, berharap ada satu atau dua butir obat pereda napas yang terselip.

​Kosong. Tidak ada yang tersisa selain botol-botol tak berguna.

​Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Aryo mencengkram pinggiran meja, memaksa tubuhnya yang gemetar untuk berdiri. Ruangan ini terasa terlalu sempit, seolah dinding-dindingnya perlahan bergerak maju untuk menjepitnya hidup-hidup. Ia memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya, mencoba mencari udara segar.

​“Udara segar?” Aryo bergumam sinis, tawanya kering dan parau. Sudah lama sekali ia tidak mendengar atau memikirkan frasa itu. Di tempat ini, tidak ada yang segar. Yang ada hanya aroma debu, keputusasaan, dan bau apak dari sebuah peradaban kecil yang sedang membusuk pelan-pelan.

Aryo melangkah terseok-seok menuju jalur evakuasi di ujung koridor. Setiap pijakan kakinya di lantai semen bergaung tipis di antara dinding beton yang bisu. Jalur ini dulu adalah saksi bisu baginya, tempat ia mengerahkan seluruh jiwa dan raganya demi menyelamatkan orang-orang kompleks. Tempat ia bertaruh nyawa agar mereka semua tetap hidup.

​Kini, di dekat pintu darurat menuju tangga evakuasi, pandangannya tertumbuk pada sebuah trolley besi. Di atasnya, nampan-nampan aluminium tertumpuk rapi dan bersih. Tidak ada sisa makanan, tidak ada aroma dapur umum. Kerapian yang mengerikan. Itu adalah tanda paling nyata bahwa sudah lama sekali tidak ada lagi kehidupan di tempat ini.

​Aryo berjalan mendekati celah pembatas, lalu melayangkan pandangannya ke bawah, menembus paranet yang mulai lapuk ke arah halaman sekolah. Lapangan yang dulu riuh oleh bapak-bapak yang mengurus ternak atau anak-anak yang belajar di bawah malam, kini mati.

​Kosong. Di bawah sana, ia hanya melihat helai-helai daun kering yang terlepas dari ranting, bergulir pasrah ditiup angin malam.

Angin malam yang sama membawa ingatannya melompat kembali ke tahun keenam. Hari di mana awal kekacauan ini dimulai. Saat itu, Aryo tengah mengumpulkan anak-anak remaja itu di aula sekolah yang pengap.

​“Kalian sadar akibat dari perbuatan kalian? Ini bukan kali pertama pihak keamanan menangkap basah kalian!” Suara Aryo meninggi, menggema di langit-langit aula, walau jauh di lubuk hatinya, ia tahu betul anak-anak ini hanya penasaran.

​Mereka masih terlalu kecil saat wabah pertama kali pecah. Kini mereka tumbuh menjadi remaja yang terpenjara, menyimpan jutaan pertanyaan tentang dunia luar. Dan jawaban-jawaban penuh larangan dari orang dewasa tidak pernah cukup memuaskan rasa ingin tahu mereka.

​Anak-anak itu tertunduk. Mereka diam, tahu bahwa mereka telah melanggar batas suci komunitas.

​Aryo baru saja hendak melanjutkan amarahnya, sampai matanya menangkap sebuah gerakan kecil. Di barisan depan, salah seorang anak mulai menggaruk punggung tangannya dengan intens. Kuku-kukunya mencakar kulit hingga memerah.

​Sial! Aryo mengutuk dalam hati. Jantungnya berdegup liar; ia paham betul apa arti garukan itu. Tanpa membuang waktu, Aryo langsung menggiring mereka semua keluar dari aula, menjauh dari kerumunan warga, dan memindahkan mereka ke ruang kelas yang kelak menjadi ruang isolasi darurat di lantai dua.

​Di bawah temaram lampu ruang kelas, Aryo menatap mereka satu per satu dengan napas memburu. “Jujur sama saya,” bisik Aryo, suaranya bergetar menahan panik. “Kalian ke mana saja sebelum tertangkap tadi?”

​Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara gesekan kuku dari anak yang terus menggaruk punggung tangannya. Sampai akhirnya, salah satu dari mereka memberanikan diri mendongak dengan mata berkaca-kaca.

​“Kami... kami cuma mau lihat danau, Om,” bisiknya lirih. “Danau yang di sebelah lapangan bola. Kami cuma kangen main bola di sana.”

​Aryo mematung. Lapangan bola itu terletak ratusan meter di luar pagar pembatas.

​“Terus kami sempat mampir ke minimarket depan, Om. Cuma mau cari minuman dingin,” anak yang lain menimpali, suaranya gemetar ketakutan. “Sebelum akhirnya ketahuan pos keamanan pas kami mau balik lewat celah pagar belakang..."

​"Aku udah bilang Om untuk gak keluar. Tapi mereka maksa." Anak yang sedari tadi menggaruk punggungnya menyela lirih.

​Anak itu—yang kelak menjadi korban pertama di lingkungan kami.

​Kalimat itu menggantung di udara. Kepala Aryo berdenyut hebat saat otaknya mulai menghitung mundur waktu. Celah pagar. Mereka menerobos perimeter yang selama ini ia jaga mati-matian. Dan yang lebih mengerikan adalah linimasa kepergian mereka.

​Pos keamanan baru menangkap mereka malam ini, sementara mereka menyelinap keluar sejak kemarin siang.

​Dua puluh empat jam. Mereka berada di luar selama dua puluh empat jam penuh. Artinya, anak-anak ini tidak hanya menghirup udara luar yang terkontaminasi, tapi kulit mereka telah meminum langsung sinar matahari siang kemarin tanpa perlindungan apa pun.

​Aryo melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu kelas. Pandangannya perlahan turun, menatap punggung tangan anak di depannya yang kini mulai memerah dan melepuh kecil.

​Masa inkubasi telah selesai. Level satu sedang berjalan, dan waktu mereka tidak banyak lagi.

“Sementara, kalian diam disini. Tidak boleh keluar, kemanapun. Kalian bisa gunakan toilet di ujung lorong ini. Saya akan siapkan makanan, minuman serta pakaian bersih untuk kalian” perintah Aryo.

Suaranya terdengar datar dan dingin, jenis suara yang tidak menerima bantahan, walau di dalam dadanya ada badai yang siap meruntuhkan akal sehatnya.

​Anak-anak itu tidak memprotes. Ketakutan telah merenggut keberanian yang sempat mereka miliki kemarin siang. Mereka hanya mengangguk pasrah saat Aryo melangkah mundur keluar ruangan.

​Begitu pintu kelas tertutup, Aryo memutar kunci dari luar. Bunyi klik besi yang beradu terdengar begitu nyaring dan final di koridor lantai satu yang sunyi. Tangannya yang memegang kunci mendadak basah oleh keringat dingin.

​Pakaian bersih tidak akan menyelamatkan mereka. Aryo tahu betul hal itu. Itu hanya ritual penenang yang biasa ia lakukan saat pandemi sepuluh tahun lalu—sebuah protokol psikologis agar pasien tidak panik sebelum ajal menjemput. Namun sekarang, musuh yang mereka hadapi tidak bisa diusir dengan sabun antiseptik atau baju baru yang higienis.

​Aryo tidak langsung pergi. Ia melangkah kembali turun ke aula di lantai satu. Di sana, suasana masih tegang. Beberapa warga dan anggota tim keamanan yang tadi ikut menangkap dan mengamankan anak-anak itu masih berkerumun dengan wajah cemas. Aryo menatap mereka dengan tatapan tajam yang menuntut kepatuhan penuh.

​“Semua yang tadi menyentuh, memegang, atau berjarak dekat dengan anak-anak itu saat penangkapan, ikut saya sekarang,” suara Aryo memotong bisik-bisik di dalam ruangan.

​Tanpa memberi ruang untuk protes, Aryo menggiring kelompok saksi yang dicurigai terpapar itu naik ke lantai dua. Ia memasukkan mereka ke ruang kelas lain, terpisah dari ruangan anak-anak tadi untuk mencegah kontaminasi silang.

​“Kalian akan tinggal disini selama dua puluh empat jam ke depan,” kata Aryo tegas sebelum mengunci selot pintu dari luar. “Kita perlu melihat bagaimana respons tubuh kalian. Jika besok malam tidak ada gejala, kalian boleh kembali ke kompleks.”

​Setelah memastikan seluruh perimeter karantina di lantai dua terkunci rapat, Aryo melangkah keluar dari gedung sekolah melalui jalur tangga evakuasi luar. Ia membelah kegelapan malam, berjalan cepat menuju kompleks perumahan warga yang berjarak beberapa ratus meter. Tugas terberatnya baru saja dimulai: mengetuk pintu-pintu rumah dan menghancurkan ketenangan mereka.

​Aryo mendatangi rumah anak-anak itu satu per satu. Di ambang pintu yang terbuka sedikit, di bawah temaram lampu teras yang redup, ia berhadapan dengan wajah-wajah orang tua yang semula lega karena anak mereka akhirnya pulang, namun instan berubah pias begitu melihat raut wajah Aryo.

​“Anak-anak sudah kembali,” kata Aryo, suaranya pelan namun terdengar begitu mutlak di keheningan malam. “Tapi mereka membawa virus. Mereka menerobos perimeter kemarin siang.”

​Kalimat itu layaknya vonis mati yang tak kasat mata. Sebelum kepanikan atau tangis histeris sempat pecah dari mulut para orang tua, Aryo langsung memotong dengan ketegasan seorang pemimpin.

​“Saat ini mereka sudah saya isolasi di gedung sekolah. Tidak boleh ada yang menjenguk, kemanapun,” lanjutnya, menatap lurus mata bapak dari anak tersebut. “Isolasi ini wajib sampai saya dan tim medis mengetahui cara untuk menghentikan atau setidaknya menghambat penyebaran virus ini—baik ke dalam tubuh mereka sendiri, maupun agar tidak melompat ke orang lain di kompleks ini. Tetap di rumah dan tunggu instruksi saya selanjutnya.”

​Tanpa menunggu ratapan atau pertanyaan lanjutan yang tidak bisa dijawab, Aryo membalikkan badan, melanjutkan langkahnya ke rumah berikutnya. Di belakangnya, pintu-pintu tertutup dengan suara pelan yang terdengar merana. Malam itu, di bawah langit buatan yang mendung selamanya, Aryo tahu kedamaian lima tahun ini telah resmi berakhir.

***

Rasa nyeri yang hebat di dada mendadak menarik paksa kesadaran Aryo kembali ke masa kini. Ia terhuyung, mencengkeram pembatas pagar koridor lantai tiga sekuat tenaga sewaktu paru-parunya menolak mengirimkan oksigen. Mengabaikan daun-daun kering di halaman bawah, ia melangkah terseok-seok, berjalan kembali ke ruang kerjanya yang sunyi.

​Di meja kayu itu, lembaran kertas suratnya masih menunggu. Aryo duduk dengan tubuh gemetar. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang kian menipis, ia kembali menggoreskan pena, bertekad untuk menceritakan sebanyak mungkin sejarah yang ia bisa sebelum jemarinya benar-benar kaku.

​Ujung penanya sempat tertahan. Tangannya gemetar hebat, bukan hanya karena fisiknya yang semakin lemah, melainkan karena ingatannya kembali dipaksa merayapi hari-hari kelam setelah malam jahanam itu.

​Beruntung, ketakutan terburuknya tidak terjadi pada semua orang. Setelah dua puluh empat jam penuh kecemasan diisolasi di lantai dua gedung sekolah, para saksi dan anggota pihak keamanan tidak menunjukkan gejala telah terkena virus. Kulit mereka bersih, tidak ada gatal, tidak ada ruam merah. Aryo akhirnya bisa bernapas lega sedikit dan memutuskan mereka boleh dipulangkan kembali ke kompleks perumahan.

​Namun, kelegaan itu tidak berlaku untuk ruangan kelas di sebelahnya. Ruangan tempat anak-anak remaja itu dikunci.

Berbeda dengan para saksi yang melangkah keluar dari gedung sekolah dengan napas lega, bagi anak-anak itu, pintu kelas di lantai dua tetap terkunci rapat. Aryo tidak punya pilihan lain. Namun, ia juga bukan monster. Di tengah dinginnya protokol medis, ia menyisakan sedikit ruang untuk kemanusiaan yang rapuh: para orang tua diizinkan menjenguk, namun hanya boleh berdiri di balik pintu yang tertutup.

​Dari balik celah kaca kecil atau kayu pintu yang tebal, interaksi itu terjadi. Tanpa sentuhan. Tanpa pelukan. Hanya ada suara-suara yang meratap, teredam oleh dinding pembatas, bersahutan dengan isak tangis yang tertahan dari luar. Para orang tua hanya bisa menempelkan telapak tangan mereka di permukaan pintu, seolah-olah bisa menembus kayu padat itu untuk menenangkan anak-anak mereka yang mulai ketakutan di dalam sana.

​Dari balik pintu yang tertutup itu pula, tanda-tanda awal mulai terdengar nyata. Suara garukan kuku pada kulit yang intens, rintihan perih saat lepuhan kecil di tubuh anak-anak itu mulai pecah, dan ketakutan yang menjalar perlahan. Aryo hanya bisa berdiri di ujung koridor lantai dua, menyaksikan pemandangan memilukan itu dengan wajah tanpa ekspresi, meski di dalam hatinya, ia tahu waktu mereka sedang berjalan mundur.

Di tengah isak tangis para orang tua yang menempel di pintu-pintu kayu, aku dan tim medis yang tersisa mulai bergerak secara taktis. Kami tidak memiliki laboratorium canggih, tidak juga memiliki alat pemindai darah. Yang kami miliki saat itu hanyalah logika dan kertas.

​Kami menyusun selembar kuesioner. Sebuah daftar pertanyaan mendasar yang kami selipkan lewat celah bawah pintu setiap beberapa jam sekali.

​Pertanyaan-pertanyaan itu dirancang seringkas mungkin, namun setiap barisnya adalah detektor kematian yang dingin:

​Apakah rasa gatal mulai berpindah dari permukaan kulit ke bagian dalam tenggorokan?

​Apakah sendi-sendi jari tangan terasa kaku saat ditekuk?

Saat lepuhan itu pecah, apakah cairan yang keluar berwarna bening atau mulai keruh kecoklatan?

Apakah detak jantungmu terasa seperti sedang berlari, meski kamu hanya terduduk diam di pojok kelas?

​Anak-anak di dalam sana harus menjawabnya menggunakan pensil, lalu menyelipkannya kembali ke luar pintu koridor. Tim medis yang mengenakan kain pelindung berlapis akan mengambil kertas-kertas itu dengan pinset besi, menyemprotnya dengan alkohol buatan, sebelum membacanya di bawah temaram lampu minyak.

​Lewat lembar-lembar kertas yang kembali dengan tulisan tangan anak-anak yang makin lama makin gemetar dan tidak beraturan itulah, kami perlahan-lahan memetakan monster yang sedang tumbuh di dalam tubuh mereka. Kami mengumpulkan data, mencoba mencari pola, berharap ada satu saja dari lima anak itu yang memiliki respons tubuh yang berbeda. Sebuah anomali yang bisa menjadi kunci obat penawar.

​Tapi virus ini tidak memberi kami ruang untuk berharap.

Lewat lembar-lembar kertas yang mereka selipkan kembali ke luar pintu, anak-anak itu menjawab dengan jujur. Ketakutan membuat mereka tidak berani menyembunyikan apa pun. Dan kejujuran itulah yang menghantam kami seperti gada besi.

​Beberapa dari mereka mulai menuliskan gejala yang melompat jauh dari sekadar gatal di permukaan kulit. Napas mulai pendek. Dada rasanya seperti ditekan batu hangat. Ada sensasi terbakar setiap kali menelan ludah.

​Membaca lembar-lembar itu, aku dan tim medis tahu waktu kami sudah habis. Virus itu sudah mulai menggerogoti organ dalam mereka. Mereka sedang bertransisi dari Level Satu menuju Level Dua.

​Untuk merawat mereka di lantai bawah, tim medis tidak bisa lagi hanya mengandalkan masker kain berlapis dan baju seadanya. Kami butuh perlindungan nyata jika tidak ingin seluruh fasilitas karantina ini roboh dari dalam.

​Malam itu juga, sebuah keputusan nekat diambil.

​Satu-satunya tempat yang menyimpan peralatan medis layak adalah gudang logistik rumah sakit besar yang terletak sedikit di luar pagar perimeter kompleks. Area tak bertuan yang sudah lima tahun kami hindari.

***

Aku mengumpulkan beberapa relawan dari tim keamanan. Di bawah bayang-bayang malam yang pekat, kami membawa linggis, senter yang cahayanya ditutupi kain merah agar tidak terlalu terang, dan senjata tajam seadanya. Kami mengendap-endap keluar melewati celah pagar belakang, menuju bangunan beton besar yang tampak seperti monster mati di kegelapan.

​Misi kami malam itu hanya satu: membongkar paksa gudang rumah sakit tersebut dan menjarah sisa-sisa pakaian APD (Alat Pelindung Diri) yang mungkin masih utuh di sana. Kami bertaruh nyawa dengan dunia luar demi membawa pulang baju pelindung bagi para medis dan relawan kami di sekolah.

Penjarahan itu adalah kali pertama kaki kami menginjak tanah di luar perimeter setelah lima tahun terkurung.

​Angin malam di luar kompleks terasa berbeda—lebih dingin, membawa aroma beton basah dan sisa-sisa peradaban yang membusuk tanpa suara. Di hadapan kami, gedung rumah sakit besar itu berdiri kokoh layaknya rongsokan raksasa yang angker. Kaca-kaca jendelanya yang pecah tampak seperti mata hitam yang mengawasi pergerakan kami dari kegelapan.

​“Tetap rapat dan matikan senter sampai kita di dalam,” bisikku pada tiga orang relawan keamanan di belakangku. Suaraku tertahan di balik masker kain berlapis, namun debar jantungku berdegup jauh lebih kencang daripada saat menghadapi amarah warga di kompleks.

​Kami bergerak mengendap-endap menuju bagian belakang gedung, tempat pintu besi gudang logistik berada. Rantai besar yang mengunci pintu itu sudah berkarat. Dua orang relawan maju, menahan napas seraya menumpu linggis besi dengan sekuat tenaga.

​KRIEK… BRAK!

​Suara besi patah itu terdengar begitu nyaring di keheningan malam, membuat kami seketika membeku selama beberapa detik, bersiap jika ada sesuatu yang terbangun akibat kebisingan tersebut. Namun, sunyi tetap bergeming.

​Saat pintu ditarik terbuka, aroma pengap langsung menyengat indra penciuman kami—campuran bau antiseptik yang kedaluwarsa, debu tebal, dan kertas-kertas lembab. Kami menyalakan senter berbuntut kain merah, membiarkan seberkas cahaya temaram menuntun langkah kami di antara rak-rak besi yang sebagian besar sudah roboh.

​“Yo, sebelah sini!” panggil salah satu relawan dengan suara berbisik yang mendesak.

​Di pojok ruangan, di dalam sebuah peti kayu yang setengah hancur, tumpukan plastik tebal berwarna putih dan kuning terlihat memantulkan cahaya senter. Baju hazmat. Pakaian APD lengkap dengan pelindung wajah dan sepatu boot karet yang masih tersegel rapi dalam plastik kedap udara.

​Tanganku bergetar saat merobek salah satu segelnya. Plastik itu mengeluarkan desis udara yang telah terperangkap selama bertahun-tahun. Perlengkapan ini adalah dinding pertahanan baru kami. Dengan baju-baju pelindung ini, tim medis akhirnya bisa turun ke lantai satu tanpa harus bertaruh nyawa menghadapi napas pendek dan lepuhan beracun dari anak-anak yang mulai memasuki Level Dua.

​Kami memasukkan sebanyak mungkin APD ke dalam karung kain yang kami bawa. Namun, tepat ketika kami hendak berbalik menuju jalan keluar, telingaku menangkap suara lain.

​Sebuah ketukan pelan dari balik dinding lorong rumah sakit yang lebih dalam.

Ketukan itu ternyata hanyalah gumpalan kertas semen yang jatuh ditiup angin lorong, namun debar ketakutan yang ditinggalkannya menyadarkan kami akan satu hal: tempat ini adalah kunci keselamatan kami.

​Malam itu, kami pulang dengan karung-karung penuh pakaian APD. Namun, misi nekat tersebut tidak berhenti di sana. Keberhasilan membongkar gudang logistik malam itu membuka mata kami bahwa di luar pagar pembatas, di dalam perut bangunan beton yang mati itu, tersimpan semua jawaban yang kami butuhkan untuk memperpanjang napas anak-anak kami.

​Sejak malam jahanam itu, sebuah operasi senyap yang rutin resmi berjalan.

​Di bawah komando, Tim Operasional bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Secara bergantian, seminggu beberapa kali setelah matahari tenggelam, mereka kembali menembus kegelapan menuju rumah sakit besar itu. Mereka menjarah apa saja yang bisa diselamatkan sebelum membusuk dimakan waktu: stok obat-obatan antiseptik, antibiotik, tabung-tabung oksigen yang tersisa di ruang perawatan, hingga alat-alat medis portabel yang masih berfungsi.

​Setiap tabung oksigen yang berhasil dibawa pulang melewati celah pagar belakang adalah tambahan waktu beberapa hari bagi paru-paru anak-anak di lantai bawah. Rumah sakit itu menjadi napas buatan bagi komunitas kami, sebuah tempat terkutuk yang sekaligus menjadi tempat kami menggantungkan seluruh nyawa warga kompleks.

​Berbekal APD dan obat-obatan hasil jarahan pertama itulah, keesokan harinya, aku dan tim medis siap melangkah turun ke lantai satu. Menghadapi apa yang selama ini paling kami takuti.

Pakaian APD dan obat-obatan dari rumah sakit luar memang memberi kami waktu, tapi tidak dengan keajaiban. Manusia memiliki batasnya. Operasi senyap yang dilakukan terus-menerus di malam hari, merawat pasien tanpa henti, dan kecemasan yang konstan mulai memakan korban.

​Beberapa relawan keamanan dan tim medis kami mulai terpapar. Kelelahan fisik yang ekstrem membuat imunitas mereka terjun bebas, bertindak layaknya karpet merah yang mempercepat penyebaran virus di dalam tubuh mereka sendiri. Tak butuh waktu lama, penularan mulai melompat ke warga di dalam kompleks perumahan.

​Sekolah malam yang dulunya riuh oleh tawa anak-anak, kini bertransisi sepenuhnya menjadi rumah sakit darurat yang mencekam.

​Sisi kanan lantai satu—deretan ruang kelas yang kami siapkan—mulai terisi penuh oleh Pasien Level Dua. Di sana, bunyinya seragam: deru napas yang pendek dan tersendat, serta suara tabung oksigen besi yang digeret tergesa-gesa di koridor.

​Namun, neraka yang sesungguhnya berada di sisi kiri. Ruang aula besar yang awalnya kosong melompong.

​Aula itu terpaksa kami buka untuk menampung Pasien Level Tiga. Mereka adalah orang-orang yang tubuhnya telah kalah. Akibat kerusakan paru-paru parah di Level Dua yang berlangsung terlalu lama, otak mereka mengalami kekurangan pasokan oksigen yang kronis. Satu per satu dari mereka mulai kehilangan fungsi kognitif.

​Aula itu tidak lagi bising oleh keluhan sesak napas, melainkan dipenuhi pemandangan yang mematikan nalar: orang-orang yang mengigau hebat dengan mata kosong, tubuh yang mendadak kejang di atas tempat tidur seadanya, hingga mayoritas dari mereka yang akhirnya jatuh ke dalam koma yang dalam. Mereka berbaring kaku, bernapas tipis secara otomatis, sementara otak mereka perlahan mati di dalam tempurung kepala.

​Di aula itulah, bau kematian terasa begitu pekat. Kami hanya bisa memasangkan masker oksigen yang tersisa pada wajah-wajah pucat yang tak lagi merespons dunia, mengetahui bahwa di bawah langit buatan ini, mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk dijemput kepunahan.

***

Suara ketukan pada kaca jendela mendadak membuyarkan guratan pena Aryo. Ia tersentak dari suratnya, menoleh cepat dengan jantung yang berdegup liar. Namun, di luar sana tidak ada siapa-siapa. Itu hanya ranting pohon kering yang bergoyang ditiup angin malam, bergesekan dengan kaca berdebu yang mulai retak.

​Aryo meletakkan penanya. Dadanya terasa kian menyempit, memaksanya untuk bangkit dan kembali berjalan mengelilingi gedung sekolah yang mati ini. Ia perlu bergerak, meraba sisa-sisa dinding beton demi mengingat kembali masa-masa tak terlupakan dalam hidupnya, sebelum seluruh memorinya padam bersama napasnya yang kian pendek.

​Sembari terbatuk-batuk kecil, Aryo menyusuri lorong di lantai dua. Sepatu botnya yang usang bergaung di koridor, melintasi deretan ruang kelas yang kini kosong melompong. Kelas-kelas yang dulu menjadi saksi bisu coretan pensil anak-anak di atas lembar kuesioner, kini hanya menyisakan meja kursi berdebu dan keheningan yang dingin.

Langkah kakinya yang kian berat membawanya turun ke lantai satu. Ia berjalan lambat melewati ruang kelas di sisi kanan—bekas wilayah Pasien Level Dua yang dulu bising oleh deru tabung oksigen. Kemudian, ia berbelok ke arah kiri, melangkah masuk ke dalam aula besar.

​Aryo berhenti di ambang pintu aula. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan yang luas itu.

​Mereka masih ada di sana. Berbaring rapi dalam barisan yang kaku, membentang dari ujung ke ujung ruangan, semuanya terlelap di bawah hamparan kain pelindung putih yang kini telah diselimuti debu tebal bertahun-tahun. Tidak ada bau busuk—virus ini tampaknya ikut mengawetkan atau mengeringkan apa yang tersisa dari mereka—yang ada hanya aroma udara mati dan keputusasaan yang membeku.

​Aryo menatap barisan kain putih itu satu per satu. Matanya terpaku lama pada beberapa baris paling depan, tempat anak-anak remaja itu melepaskan napas terakhir mereka tiga tahun lalu. Di sinilah monumen dari seluruh keputusan dinginnya berdiri.

​Perlahan, dengan dada yang bergemuruh menahan batuk dan sisa napas yang menyiksa, Aryo menurunkan pandangannya. Ia melipat kedua tangannya di depan tubuh, lalu membungkukkan badannya dalam-dalam ke arah ratusan jasad di hadapannya.

​Lama sekali ia bertahan dalam posisi itu. Sebuah permohonan maaf yang tak bersuara, sekaligus penghormatan terakhir dari seorang pemimpin yang tangannya harus berlumuran darah demi menghentikan neraka. Setelah tubuhnya tak lagi kuat menahan posisi itu, Aryo menegakkan diri, berbalik tanpa suara, dan melangkah kembali ke ruang kerjanya di lantai tiga untuk melanjutkan suratnya.

​Kutulis bagian ini dengan sisa kesadaran yang terus mengabur. Aku ingin kalian tahu, titik di mana kami akhirnya berhenti menjadi manusia, dan mulai bertindak sebagai malaikat maut.

​Saat itu, kami sudah memasuki tahun ketujuh. Dua tahun penuh yang kami lalui seperti neraka yang berjalan di atas bumi. Pakaian APD dari rumah sakit sudah mulai menipis dan robek di sana-sini. Tabung oksigen kian langka. Dan di dalam aula lantai satu, korban pertama dari tragedi anak-anak remaja itu masih berbaring tak sadarkan diri.

​Sudah satu tahun penuh kondisinya seperti itu. Otaknya mati, dadanya kembung-kempis hanya karena sisa pasokan oksigen yang kami pasang di wajahnya. Tragisnya, virus ini menghancurkan keluarganya berkeping-keping tanpa ampun. Ibunya kini terbaring di deretan kelas sebelah kanan, berjuang di antara Pasien Level Dua dengan paru-paru yang kian menyusut. Sementara ayahnya, dengan tubuh yang kurus kering dan mata yang kehilangan binar, masih setia bertahan di sampingku, membantu Tim Operasional mengangkut sisa logistik yang tersisa.

​Melihat pemandangan itu setiap hari, aku tahu kami sudah kalah. Kami hanya memperpanjang siksaan mereka atas nama kemanusiaan yang egois.

​Malam itu, aku mengumpulkan sisa tim medis yang masih bertahan di lantai tiga. Ruangan kerja ini terasa sangat dingin, hanya diterangi sebatang lilin yang hampir habis. Aku menatap wajah-wajah lesu di hadapanku, lalu melontarkan satu ide gila yang kutahu pasti akan sangat sulit disetujui oleh sumpah medis mana pun di dunia.

Aku membuka laci mejaku yang paling dalam. Di sana, tergeletak beberapa botol kecil berisi cairan bening bersandi kimia. Ampul anestesi dosis mematikan yang sengaja ku selundupkan dan kusembunyikan sejak misi penjarahan pertama di rumah sakit tahun-tahun lalu—sebuah rahasia gelap yang tidak pernah aku bagikan pada siapa pun, bahkan pada tim medis sekalipun.

Aku meletakkan botol-botol itu di atas meja.

​“Kita akhiri penderitaan mereka yang berada di aula,” kataku pelan. “Kita suntik mati mereka.”

​Kalian tahu? Cara ini biasa digunakan manusia di masa lalu untuk menyudahi napas hewan-hewan peliharaan yang sakit parah tanpa harapan sembuh. Dan malam itu, di bawah langit buatan yang mendung selamanya, kami terpaksa memperlakukan warga kami sendiri dengan cara yang sama.

​Aku sudah bersiap menerima makian, penolakan, atau bahkan amukan. Namun, anehnya, ruangan itu tetap sunyi. Mereka saling memandang dalam waktu yang cukup lama, sebelum satu per satu dari mereka justru mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata.

Mungkin mereka semua sudah terlanjur lelah. Ketika hidup telah berubah menjadi siksaan tanpa akhir, mereka sadar bahwa kematian adalah pembebasan.

​Jika jarum-jarum suntik ini adalah satu-satunya jalan terbaik untuk membawa mereka keluar dari neraka, tim medis siap melakukannya. Bahkan jika itu artinya kami harus menjadi pembunuh.

​Namun, tantangan terberatku malam itu bukan meyakinkan tim medis. Melainkan menghadapi pria paruh baya yang saat itu sedang berdiri di koridor luar, menggenggam senter merahnya, siap menemaniku melakukan penjarahan logistik berikutnya. Ayah dari anak pertama yang akan menjadi sasaran jarum suntik kami.

***

Aku melangkah keluar dan mengajaknya masuk ke ruang rapat lantai tiga, sesaat sebelum kami berangkat untuk penjarahan terakhir kami.

​“Malam ini, fokus kita bukan lagi mencari oksigen,” ucapku, menatap langsung ke matanya yang cekung. “Fokus kita adalah mengambil obat anestesi itu sebanyak mungkin dari gudang rumah sakit. Kita akan melakukan protokol euthanasia massal di aula.”

​Pria tua itu terkejut. Senter merah di tangannya bergetar, dan matanya membelalak menatapku dengan tatapan tidak percaya.

​“Bagaimana maksudnya, Mas Aryo? Apa saya tidak salah dengar?” suaranya bergetar hebat, tertahan di tenggorokan. “Bukannya... bukannya obat itu mematikan?”

​Aku menghela napas panjang. Beban seberat gunung rasanya mendadak runtuh di pundakku. Aku melangkah maju, memegang erat kedua pundaknya yang kurus kering, berusaha menyalurkan sisa ketegasan yang kupunya.

​“Kita sudah melakukan semuanya. Kita sudah berusaha sekeras yang kita mampu, Pak,” bisikku dengan suara parau. “Tapi membiarkan mereka terus-menerus menderita di bawah sana... kami juga sudah tidak sanggup.”

​Seorang tenaga medis yang berdiri di sampingku ikut melangkah maju, mencoba memberikan penjelasan dengan suara yang melunak namun dingin oleh fakta.

​“Dalam kondisi kerusakan otak seperti itu, badannya terus-menerus merasakan sakit, Pak. Bahkan saat otaknya tidak lagi bisa merespons kita, sistem saraf bawah sadarnya tetap menerima siksaan dari organ dalam yang rusak. Anak Bapak... dan semua pasien yang ada di aula, mereka terus-menerus kesakitan setiap detiknya.”

​Keheningan malam langsung menyergap ruangan itu. Kata-kata tim medis tadi layaknya palu godam yang menghantam sisa-sisa harapan terakhir sang ayah.

Pria paruh baya itu tidak mengamuk. Ia tidak memaki kami sebagai monster. Ia hanya tertunduk, bahunya yang kurus berguncang hebat saat tangisan yang sejak tadi ditahannya pecah tanpa suara. Air matanya jatuh menembus debu di lantai semen.

​Kemudian, ia mendongak. Tatapan matanya yang hancur menatapku, lalu ia mengucapkan sesuatu yang membuat kami semua di dalam ruangan tersentak lumpuh.

​“Apa yang harus saya katakan pada istri saya?” bisiknya parau, tersedak oleh tangisnya sendiri. “Saya harus bilang anaknya dibunuh? Saya... saya tidak sanggup.”

​Dalam sisa-sisa tenaga dan harga diri yang ia miliki, pria itu tiba-tiba menjatuhkan lututnya ke lantai. Ia bersujud di hadapanku, menggenggam ujung celanaku dengan tangan yang gemetar hebat.

​“Tolong lakukan prosesi yang sama terhadap saya dan istri saya juga,” ratapnya memohon. “Saya mohon sama Mas Aryo, sama pak dokter juga... satukan kami. Jangan tinggalkan kami sendirian di neraka ini.”

​Kata-katanya seperti racun yang langsung menjalar ke dalam dadaku. Aku menatap tim medis di sekelilingku, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun memimpin dengan kepala dingin, aku merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Pria ini tidak meminta diselamatkan. Dia meminta kami menjadi pembunuhnya, demi sebuah kedamaian yang tidak bisa lagi diberikan oleh dunia.

​Melihat pria yang selama bertahun-tahun setia membantuku bertaruh nyawa di luar perimeter itu kini bersujud di lantai, pertahanan mental yang kubangun runtuh. Aku ikut berlutut di hadapannya. Kutangkup kedua telapak tangannya yang gemetar, mencoba menahan tangis yang mendesak di tenggorokanku sendiri.

​“Bapak jangan terburu-buru,” bisikku, suaranya parau dan bergetar. “Bicarakan saja dulu dengan istri Bapak.”

​Pria itu mendongak, air matanya tak lagi terbendung. Ia menggelengkan kepala dengan perlahan namun pasti.

​“Saya tidak buru-buru, Mas, saya...” Ia terjeda, napasnya tercekat seolah menahan beban yang teramat berat. “Kita semua sudah menderita. Hampir sepuluh tahun kita hidup di neraka ini. Saya rasa... sudah cukup. Tolong lakukan prosesi yang sama pada kami.”

​Ia mencengkeram jemariku, tatapannya memohon dengan sisa-sisa harapannya yang terakhir.

​“Saya hanya butuh satu hari. Kumpulkan saya dengan anak dan istri saya di aula. Sebelum prosesi itu dimulai. Izinkan kami bersama untuk terakhir kali.”

​Aku mematung di lantai semen yang dingin. Perlahan, aku menegakkan tubuh dan menatap semua rekan medis yang berdiri di sekeliling kami. Wajah-wajah di balik masker berlapis itu tampak pias. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Tidak ada satu pun yang sanggup memberikan argumen logis untuk menolak.

​Di titik itu, tidak ada lagi yang bisa kuperbuat selaku pemimpin mereka. Aku tidak bisa menjanjikan hari esok yang lebih baik, karena aku tahu obat kami habis dan matahari di luar sana tetap menjadi pembunuh yang kejam.

​Dengan berat hati yang teramat sangat, aku mengangguk pelan. Mengiyakan permintaan pria tersebut. Sebuah persetujuan yang resmi membuka pintu gerbang bagi pemusnahan massal yang sesungguhnya di gedung sekolah ini.

***

Malam itu juga, kami tetap bergerak menuju rumah sakit. Namun, atmosfer di luar perimeter terasa jauh lebih berat dari biasanya. Karung-karung kain yang kami bawa tidak lagi diisi dengan harapan untuk memperpanjang napas, melainkan dengan botol-botol anestesi cair yang dingin—kunci pembebasan yang diminta oleh salah satu dari kami sendiri.

​Keesokan harinya, aula lantai satu menjadi saksi sebuah upacara perpisahan yang paling sunyi di dunia. Sesuai janjiku, selama dua puluh empat jam penuh, pria itu dikumpulkan bersama anak dan istrinya. Kami memindahkan sang istri dari ruang kelas Level Dua ke aula, mendudukkannya di samping ranjang anak mereka yang telah satu tahun koma.

​Prosesi pertama itu berjalan tanpa suara. Pintu aula kami kunci rapat dari dalam. Tidak ada satu pun warga di kompleks perumahan yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding beton itu. Mereka hanya tahu bahwa keluarga tersebut sedang menjalani isolasi khusus yang intensif. Ketika jarum suntik itu menyelesaikan tugasnya satu per satu, aku tahu bahwa kami telah melewati batas yang tidak akan pernah bisa kami lewati lagi. Kami telah resmi menjadi pembunuh demi belas kasihan.

​Kami mengira rahasia gelap itu akan terkubur rapat di dalam aula bersama tiga gundukan kain putih pertama.

​Namun, keputusasaan memiliki caranya sendiri untuk merembes keluar menembus dinding tebal gedung sekolah.

​Sampai seminggu setelahnya, dinding pertahanan psikologis kompleks yang kujaga mati-matian selama bertahun-tahun runtuh total. Entah karena firasat yang menular atau kelelahan mental yang sudah mencapai titik nadir, aura kematian mendadak merebak seperti kabut. Di meja kerjaku ini, laporan-laporan dari Tim Keamanan mulai menumpuk, membawa kabar yang membuat tanganku gemetar.

​Satu per satu, dari satu pintu rumah ke pintu rumah lain, aku terus menerima laporan tentang banyaknya warga yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri. Mereka tidak lagi menunggu virus menggerogoti organ dalam mereka. Mereka memilih menjemput akhir dengan tangan mereka sendiri.

​Laporan-laporan bunuh diri itu hanyalah awal dari gelombang kematian yang sesungguhnya. Struktur karantina yang kubangun selama satu dekade hancur dalam hitungan bulan.

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah kamp ini, yang datang ke gerbang sekolah bukan lagi orang-orang sakit yang meminta obat, melainkan warga yang sudah mati. Jasad-jasad dingin yang sudah tidak bisa lagi mengeluh atau meratap. Tanpa banyak bicara, kami mengumpulkan mereka di ruang aula lantai satu, menyejajarkan mereka dengan para korban terdahulu.

​Di saat yang sama, di sudut aula yang lain, aku dan tim medis terus bergerak seperti mesin tanpa jiwa, melaksanakan prosesi euthanasia massal kepada pasien-pasien Level Tiga yang tersisa. Setiap tusukan jarum adalah pembunuhan yang kami sebut sebagai belas kasihan.

​Anehnya, pergerakan di lantai atas justru ikut melambat secara mengerikan. Ruang kelas Level Dua semakin hari semakin sedikit penghuninya. Bukan karena mereka sembuh, melainkan karena penyakit mereka terus bertambah parah dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Mereka seakan berlomba, tidak mau ketinggalan untuk segera menyusul mereka yang telah tiada.

​Warga yang masih hidup di perimeter luar pun seolah sudah memutus harapan mereka sendiri. Mereka tidak perlu lagi mampir ke Level Satu untuk sekadar observasi atau dirawat. Saat mereka akhirnya melintasi gerbang sekolah, mereka sudah datang dengan kondisi Level Dua yang kritis. Tatapan mata mereka kosong, napas mereka berat, dan tubuh mereka seakan sudah sepenuhnya siap jika ajal menjemput malam itu juga.

​Tahun kesepuluh ini resmi menjadi tahun yang paling berat di sepanjang hidupku. Aku terus kehilangan wargaku, satu demi satu, hingga aku tak lagi mampu mengingat nama-nama mereka. Namun, pukulan telak yang benar-benar menghancurkan sisa kewarasanku adalah ketika melihat rekan-rekan medis dan relawan—orang-orang tangguh yang selama bertahun-tahun ini berdiri di sampingku, menemaniku bertaruh nyawa—mulai ikut tumbang satu per satu.

***

Kini, aku benar-benar sendirian di koridor yang sunyi ini, memandangi botol anestesi terakhir di atas meja, sembari menyelesaikan baris-baris surat ini.

​Jika kelak kalian menemukan surat ini.

​Selamat! Kalian mampu bertahan sejauh ini.

​Tolong kebumikan kami dengan layak. Pemakaman massal pun tidak masalah.

​Tangan ini sudah terlalu kotor oleh darah orang-orang yang kucintai, dan kurasa, sudah saatnya sang pembunuh ini menyuntik dirinya sendiri, lalu menyusul mereka semua ke dalam keheningan yang abadi.

​Aryo.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)