Disukai
0
Dilihat
137
Marriage is NOT Scary
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Saya terima, nikah dan kawinnya Sekar Laras Prawesti Binti Sulistyo

Dengan mas kawin tersebut tunai"

Air mata mengalir begitu saja, rasanya semua beban luruh sepenuhnya saat saksi pernikahan kami berucap "sah".

Aku melihatnya, ia menunduk, kemudian mengusap air matanya. "Manusia berhati lembut itu, jadi suamiku sekarang" gumamku dalam hati.

Aku mencium punggung tangannya yang hangat. Aroma sabun bayinya yang khas—sederhana, tidak menyengat, sangat "Arya"—masuk ke indra penciumanku. Di detik ini, dunia luar yang bising mendadak senyap.

Namun, di balik kelopak mataku yang terpejam, wajah-wajah itu mendadak muncul bergantian seperti klise film yang rusak.

Aku melihat Kiara yang meraung karena merasa diabaikan, padahal suaminya duduk tepat di sampingnya. Aku mendengar isak Alya yang tercekik karena harus memilih antara cinta atau kewarasan. Dan yang paling menyesakkan, aku melihat tatapan kosong Ayu saat menyadari hidupnya hanyalah sebuah sangkar emas yang pintunya dikunci dari luar oleh laki-laki yang ia percaya.

"Pernikahan adalah awal dari pengkhianatan yang dilegalkan," kata salah satu dosenku dulu. Kalimat itu sempat menjadi kitab suci yang kupeluk erat selama delapan tahun pacaranku dengan Arya.

Aku menjauhkan wajah, kembali menatap Arya. Dia masih tersenyum, tipe senyum yang tidak menuntut apa-apa. Senyum yang selama ini kuselidiki celahnya, kucari-cari kepalsuannya, namun tidak pernah kutemukan.

Selama bertahun-tahun, aku pulang ke rumah Arya dengan detektor kebohongan yang menyala di kepalaku. Aku menunggu dia melakukan satu kesalahan saja—satu bentakan, satu pesan rahasia di ponsel, atau satu kebohongan kecil tentang uang—supaya aku punya alasan untuk lari. Supaya aku bisa bilang ke diriku sendiri, "Tuh kan, Laras, semua laki-laki memang sama."

Tapi Arya tidak pernah memberiku alasan itu. Dia hanya… ada.

"Kenapa, Ras? Kok bengong?" bisiknya pelan, jempolnya mengusap sisa air mata di pipiku.

"Nggak apa-apa," jawabku, suaraku agak serak. "Cuma lagi mikir… ternyata kamu beneran nggak pergi ya, Ya?"

Arya tertawa kecil, tipe tawa yang membuat dadaku terasa penuh. "Mau pergi ke mana lagi? Kan tujuannya sudah sampai."

Aku tersenyum balik, meski di sudut hatiku yang paling dalam, ketakutan itu masih ada. Ketakutan yang kini bermutasi. Aku tidak lagi takut dia akan menyakitiku seperti Kevin menyakiti Ayu. Aku takut jika suatu saat nanti, dunia yang jahat ini berhasil mengubah laki-laki berhati lembut di depanku ini menjadi salah satu dari mereka.

Suara penghulu yang sedang memberikan nasihat pernikahan mendadak berdengung di telingaku, tergantikan oleh gema isak tangis yang kukumpulkan dari tiap sesi.

Sebelum aku sampai di titik "Sah" ini, aku adalah seorang hakim yang paling kejam bagi hubunganku sendiri. Aku adalah pengamat kehancuran yang hampir saja melepaskan tangan Arya karena ketakutanku pada statistik kegagalan.

Semua keraguan itu… dimulai dari sebuah hari Senin yang mendung, enam bulan lalu. Saat Kiara duduk di depanku dengan tas mahalnya, dan mengatakan kalimat yang mengubah cara pandangku tentang "rumah."

***

Kiara & Raka (The Golden Cage)

Ruangan Laras sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di depannya, Kiara duduk dengan keanggunan yang melelahkan. Gaun sutranya tidak kusut sedikit pun, tapi matanya menunjukkan seseorang yang sudah lama menyerah. Di sampingnya, Raka duduk tegak, tipe laki-laki yang percaya bahwa kesuksesan finansial adalah jawaban dari segala pertanyaan hidup.

“Saya mau pisah, Mbak Laras,” suara Kiara pelan, tapi stabil. Tidak ada ledakan emosi. Dan justru itu yang membuat Laras merinding.

Raka menoleh cepat, wajahnya menunjukkan kebingungan yang murni. “Pisah? Ki, kurang apa lagi? Rumah kita baru direnovasi, anak-anak masuk sekolah terbaik, jadwal liburan kita ke Swiss sudah rapi. Aku nggak pernah selingkuh, aku pulang tepat waktu. Apa yang salah?”

Kiara tersenyum getir, menatap Laras seolah meminta bantuan untuk menerjemahkan bahasanya.

“Mas Raka benar, Mbak. Dia memberikan segalanya,” kata Kiara. “Tapi sejak resepsi megah itu selesai sepuluh tahun lalu, saya merasa seperti piala. Saya dimenangkan dengan susah payah, lalu ditaruh di rak. Dipajang untuk dilihat orang, dibersihkan sesekali, tapi tidak pernah benar-benar diajak bicara. Dia lupa kalau piala ini punya nyawa.”

Laras terdiam, jemarinya berhenti di atas buku catatan. Kalimat itu menghantamnya. Dia menatap Raka yang masih tampak tidak paham.

“Mas Raka,” Laras memajukan duduknya. “Kapan terakhir kali Mas bertanya ke Kiara… ‘Kamu bahagia?’”

Hening.

Detik demi detik berlalu. Bunyi detak jam dinding di ruangan itu mendadak terdengar seperti dentum martil. Raka membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Dia mencari-cari jawaban di langit-langit, di sepatunya, di ingatannya. Tapi nihil.

“Bukan… bukan karena saya nggak peduli, Mbak Laras,” suara Raka merendah, kali ini ada getar kerapuhan di sana. “Saya Cuma pikir… kalau tidak ada komplain, kalau semua kebutuhan terpenuhi, berarti semuanya baik-baik saja. Saya pikir diamnya Kiara adalah tanda dia puas.”

“Diamnya saya adalah tanda saya sudah capek minta dikejar, Mas,” potong Kiara lirih. “Kamu berhenti berjuang tepat di hari aku bilang ‘I do’.”

Laras menatap jam dinding yang berdetak nyaring. 50 menit sudah berlalu, dan untuk pertama kalinya dalam ruangan ini, kebenaran telanjang bulat di atas meja.

“Mas Raka,” Laras memecah keheningan yang perih itu. “Saya ingin Mas pulang dan memikirkan satu hal: Apakah Mas bersikeras mempertahankan pernikahan ini karena Mas mencintai Kiara, atau karena Mas tidak sanggup melihat narasi ‘Keluarga Sempurna’ yang Mas bangun selama sepuluh tahun ini runtuh?”

Raka terdiam. Rahangnya mengeras. Dia tidak terbiasa dipertanyakan, apalagi soal otoritasnya sebagai kepala keluarga.

“Saya mencintainya, Mbak Laras. Saya rasa itu cukup,” jawab Raka kaku, sambil berdiri dan merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun.

“Cinta tanpa pengenalan itu Cuma obsesi, Mas,” sela Kiara lirih. Dia berdiri, menyampirkan tas mahalnya di bahu. Gerakannya anggun, tapi matanya menunjukkan seseorang yang sudah mengemas seluruh jiwanya dan siap pergi. “Kamu mencintai ide tentang aku sebagai istrimu. Bukan aku sebagai manusia.”

Kiara menatap Laras—sebuah tatapan yang penuh rasa terima kasih sekaligus kepasrahan. “Terima kasih, Mbak Laras. Setidaknya hari ini saya tahu… kalau suara saya memang tidak pernah sampai ke dia.”

Mereka keluar dari ruangan itu. Raka berjalan di depan, langkahnya lebar dan dominan. Kiara mengekor dua meter di belakangnya. Berjalan di lorong yang sama, menuju mobil yang sama, tapi ke dua dunia yang berbeda.

Setelah sesi itu berakhir, Laras tidak langsung pulang. Dia berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala.

Pikiran Laras melayang ke belasan tahun lalu. Ke hari di mana dia pulang sekolah dan menemukan lemari pakaian ibunya kosong. Tidak ada pertengkaran hebat sebelumnya. Tidak ada piring pecah. Hanya sepucuk surat pendek: “Ibu harus pergi untuk mencari diri Ibu lagi.”

Dulu, Laras mengutuk ibunya. Kenapa pergi tanpa penjelasan? Tapi hari ini, melihat Kiara, Laras mulai meragukan kemarahannya sendiri. Apakah ibunya dulu juga seorang “piala di atas rak”? Apakah ayahnya juga tipe laki-laki yang merasa sudah memberikan segalanya hanya karena uang sekolah Laras selalu lunas?

Ketakutan itu merayap ke hubungannya dengan Arya.

Malamnya, saat Arya menjemputnya, Laras terus memperhatikan laki-laki itu dari kursi penumpang. Arya sedang bercerita tentang kucing liar di depan kantornya yang baru saja melahirkan.

“Ya,” potong Laras tiba-tiba.

“Ya, Sayang?”

“Kamu… bahagia sama aku?”

Arya menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dia menoleh, menatap Laras dengan tatapan yang tidak berubah sejak tahun pertama mereka kenal. Dia tidak bingung seperti Raka. Dia justru tersenyum tipis, meraih tangan Laras, dan mengecup punggung tangannya.

“Pertanyaan sulit ya,” canda Arya pelan. “Bahagia itu kan naik turun, Ras. Tapi kalau ditanya apa aku ‘betah’ sama kamu? Jawabannya: Banget. Kenapa? Ada klien yang bikin kamu takut kita bakal berakhir kayak mereka lagi?”

Laras menarik napas panjang. Arya selalu tahu. Dia tidak perlu bertanya “kamu bahagia?” setiap hari, karena dia selalu memastikan Laras “ada” di setiap percakapan mereka. Arya tidak menaruhnya di rak; Arya membawanya berjalan bersama, meski di jalanan yang becek sekalipun.

***

Alya & Nael (The Heavy Silence)

Di depan Laras, ada dua anak muda yang seharusnya masih punya binar di matanya. Tapi Alya tampak seperti prajurit yang baru pulang perang—lelah, tapi tegak. Di sampingnya, Nael menunduk, tangannya meremas lututnya sendiri.

“Ibu Mas Nael menelepon lagi pagi ini, Mbak Laras,” Alya membuka suara, nadanya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang dunianya sedang runtuh. “Beliau bilang, kalau saya tidak bisa berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah, lebih baik Nael mencari istri yang ‘tahu diri’. Dan Nael… dia ada di sana. Mendengar semuanya.”

Laras mengalihkan pandangan ke Nael. “Mas Nael, apa yang Mas lakukan saat itu?”

Nael terdiam cukup lama. “Saya… saya nggak mau ribut sama Ibu, Mbak. Saya sayang Alya, tapi saya nggak mau jadi anak durhaka. Saya pikir kalau saya diam, badainya bakal lewat sendiri.”

“Diammu itu bukan payung, Nael. Diammu itu membiarkan aku kehujanan sendirian,” potong Alya, kali ini suaranya bergetar. Dia menoleh ke Laras. “Mbak Laras, saya sudah memutuskan. Saya akan pergi. Saya sudah sewa kontrakan kecil dekat kantor.”

Nael mendongak, matanya membelalak. “Al, demi anak kita… kamu nggak kasihan sama dia kalau kita pisah?”

Alya menatap Nael dengan tatapan paling jernih yang pernah Laras lihat.

Nael mencoba meraih jemari Alya di atas meja kerja Laras, tapi Alya menarik tangannya dengan halus. Penolakan yang sopan, namun tegas.

“Al, aku sudah bilang ke Ibu kalau kamu itu capek. Aku sudah bela kamu,” suara Nael mencicit, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Alya menoleh, matanya yang lelah menatap Nael tajam. “Kamu bilang apa, Nael? Kamu bilang, ‘Bu, kasihan Alya, dia lagi sensitif karena kurang tidur’? Itu bukan membela, Nael. Itu sedang mencari pembenaran buat ibumu supaya dia bisa terus menyalahkanku. Kamu nggak pernah bilang, ‘Bu, berhenti campuri urusan rumah tanggaku. Alya istriku, dan keputusannya adalah keputusanku.’ Kamu nggak pernah punya nyali buat jadi tamengku.”

Nael terdiam, wajahnya memerah. “Tapi dia Ibuku, Al. Masa aku harus bentak-bentak?”

“Nggak perlu bentak, Nael. Cukup ada di sampingku. Tapi setiap kali Ibumu datang dan mulai menghakimiku, kamu mendadak punya urusan di kantor, atau mendadak ketiduran, atau mendadak… bisu. Kamu membiarkan aku dikuliti hidup-hidup di ruang tamu kita sendiri.”

Alya menghela napas panjang, menatap Laras.

“Mbak Laras, saya sadar satu hal. Anak saya, dia sedang merekam semuanya. Dia melihat ayahnya yang menghilang saat ibunya menangis. Dia melihat ibunya yang pelan-pelan jadi monster penuh amarah karena tidak punya perlindungan. Saya nggak mau anak saya belajar kalau ‘rumah’ adalah tempat di mana kita harus mematikan diri sendiri supaya orang lain senang.”

Alya berdiri, kali ini dia benar-benar sudah selesai.

“Aku pergi bukan karena aku nggak cinta kamu lagi, Nael. Aku pergi karena kalau aku tetap di sini, aku akan membencimu selamanya. Dan aku nggak mau anakku punya ibu yang penuh kebencian.”

Laras masih terpaku di kursinya bahkan setelah pintu tertutup. Dia terngiang kata-kata Alya: Demi anakku.

Selama ini, Laras selalu membayangkan ibunya pergi dengan tawa kemenangan karena bebas dari beban keluarga. Dia membayangkan ibunya pergi karena egois. Tapi hari ini, Alya memberinya perspektif baru yang menakutkan sekaligus melegakan: Bagaimana kalau ibunya dulu pergi justru untuk menyelamatkan sisa-sisa cinta yang masih dia punya untuk Laras?

Agar Laras tidak perlu melihat ibunya hancur berkeping-keping. Agar Laras tidak perlu tumbuh besar dalam rumah yang penuh dengan “diam” yang mematikan seperti Nael.

Malam itu, Laras pulang dan menemukan Arya sedang duduk di karpet, sibuk merakit rak buku baru untuk koleksi buku-buku psikologi Laras yang semakin banyak.

“Ya,” panggil Laras pelan.

“Yup?” Arya menjawab tanpa menoleh, konsentrasi pada sekrup di tangannya.

“Kalau suatu saat aku harus ‘pergi’ demi kebaikanku sendiri… apa kamu bakal benci aku?”

Arya berhenti bergerak. Dia meletakkan obengnya, berbalik, dan menatap Laras dalam-dalam. Tidak ada keraguan di matanya.

“Aku bakal sedih, Ras. Pasti. Tapi kalau ‘pergi’ adalah satu-satunya cara supaya kamu tetap jadi Laras yang utuh, aku nggak punya hak buat nahan kamu jadi hancur di sampingku. Tapi…” Arya tersenyum tipis, “Selama aku masih bisa jadi tameng kamu, aku nggak bakal kasih alasan buat kamu perlu pergi. Sini, bantuin pegangin raknya.”

Laras mendekat, duduk di samping Arya, dan merasakan dadanya yang tadi sesak perlahan mulai lapang. Dia sadar, Arya bukan Nael. Dan dia… mungkin dia bukan lagi Laras yang membenci ibunya.

***

Ayu & Kevin (The Invisible Trap)

Di ruangannya, Laras merasa seperti sedang melihat versi dirinya yang lain di dunia paralel. Ayu mengenakan kemeja yang senada dengan warna favorit Laras. Mereka sebaya, dengan garis lelah yang sama di bawah mata.

Di samping Ayu, Kevin duduk dengan wajah “malaikat yang terzalimi”.

“Saya khilaf, Mbak Laras. Tapi tolong pahami posisi saya,” Kevin membuka suara, nadanya lembut namun berbisa. “Semenjak Ayu punya anak, dia berubah. Dia nggak pernah dandan lagi, nggak pernah nyambut saya dengan senyum. Saya ini laki-laki biasa yang butuh merasa… diinginkan. Perempuan itu hadir di saat saya sedang haus perhatian di rumah saya sendiri.”

Ayu tidak menangis. Dia hanya menatap kosong ke arah tangannya yang tidak lagi memakai cincin—bukan karena dilepas, tapi karena jarinya membengkak akibat stres.

“Kevin hamilin dia, Mbak,” suara Ayu pecah, hampir tak terdengar. “Dan keluarga Kevin… ibunya, kakaknya… mereka bilang itu salah saya. Katanya saya kurang melayani suami sampai suami ‘jajan’ di luar. Mereka bilang, kalau saya cerai, saya mau makan apa? Saya nggak punya tabungan, saya nggak punya kerjaan.”

“Tuh, kan, Mbak. Dia selalu bahas itu,” Kevin memotong cepat, playing victim. “Padahal saya sudah bilang bakal tanggung jawab. Saya nggak akan tinggalin Ayu. Saya Cuma minta Ayu berbesar hati menerima keadaan ini demi anak kita. Ayu jangan egois dong, kasihan anak kalau kita pisah.”

Laras merasakan mual yang hebat di ulu hatinya. Kevin bukan Cuma pengkhianat; dia adalah arsitek dari penjara yang dia bangun untuk istrinya. Dia mematikan rasa percaya diri Ayu, memutus akses ekonominya, lalu menyalahkannya atas pengkhianatannya sendiri.

“Mas Kevin,” suara Laras dingin, profesionalitasnya nyaris retak. “Anda tidak sedang meminta Ayu berbesar hati. Anda sedang meminta dia mengubur dirinya hidup-hidup supaya Anda bisa tetap punya rumah dan punya mainan baru di luar sana. Itu bukan cinta. Itu perbudakan emosional.”

Kevin terdiam, matanya berkilat marah sesaat sebelum kembali ke mode “sedih”. Sesi berakhir tanpa solusi. Ayu pulang dengan pundak yang semakin bungkuk, kembali ke rumah yang dikepung oleh keluarga yang menyalahkannya.

Trigger Laras: Cermin di Universe Berbeda

Malam itu, Laras tidak sanggup merapikan buku catatannya. Dia terus terbayang wajah Ayu. Bedanya aku sama dia Cuma satu… aku punya pekerjaan. Aku punya Arya.

Laras menyadari sebuah kebenaran yang pahit: Seberapa pun pintarnya dia, seberapa pun hebatnya dia menganalisis jiwa orang lain, dia tetap bisa menjadi Ayu jika keadaan berkehendak. Tidak ada yang benar-benar aman. Pernikahan, di mata Laras saat itu, terasa seperti sebuah pertaruhan nyawa.

Laras pulang dengan langkah gontai. Saat membuka pintu, aroma tumis bawang putih memenuhi apartemen. Arya sedang di dapur, masih memakai kaos oblong, sibuk dengan penggorengan.

“Laras? Tepat waktu banget, ini nasinya baru mat—”

Kalimat Arya terhenti saat dia berbalik dan melihat Laras berdiri di ambang pintu dapur. Laras tidak melepaskan tasnya, tidak melepas sepatunya. Dia hanya berdiri di sana dengan air mata yang mengalir deras, tanpa suara, tanpa aba-aba.

Arya langsung mematikan kompor. Dia tidak bertanya “Ada apa?” atau “Siapa yang nakal di kantor?”. Dia hanya menghampiri Laras, menariknya ke dalam pelukan, dan membiarkan istrinya (yang saat itu masih calon istri) menumpahkan ketakutannya di pundaknya.

“Aku takut, Ya… aku takut banget,” isak Laras di dada Arya.

“Iya, aku tahu,” bisik Arya, meskipun dia tidak tahu detailnya. Dia mengusap punggung Laras dengan ritme yang konstan, seolah sedang meyakinkan bumi agar tetap berputar. “Nggak apa-apa takut, Ras. Tapi aku di sini. Aku bukan dia, dan kamu bukan mereka. Kita punya cerita kita sendiri.”

Laras menangis sampai sesak. Dia bersyukur punya karir yang membuatnya tidak terjebak seperti Ayu, tapi dia lebih bersyukur karena memiliki Arya—laki-laki yang tidak pernah membuatnya merasa harus “berakting” sempurna untuk dicintai.

***

Tiga Bulan Sebelum Akad

Malam itu, hujan turun tanpa ampun, sama seperti badai di kepala Laras.

Dia baru saja menutup sesi terakhir dengan Ayu, yang datang dengan mata sembab dan memar tersembunyi di balik syal mahalnya.

“Jangan percaya pada kebaikan yang terlalu tenang, Ras,” bisik Ayu sebelum pulang. “Kevin dulu juga lembut. Sampai akhirnya dia merasa aku sudah ‘miliknya’, lalu dia berhenti berpura-pura.”

Kata-kata itu meracuni Laras seperti tinta yang jatuh ke dalam air bening — menyebar ke mana-mana, mengotori segalanya. Dia berdiri di lobi kantornya, menatap Arya yang berjalan mendekat dengan payung besar dan senyum hangat yang sama selama delapan tahun.

Senyum yang sama.

Terlalu sama.

Dada Laras mendadak sesak. Dia menepis tangan Arya yang hendak memayunginya.

“Kita nggak usah nikah, Ya,” cetus Laras di dalam mobil. Kalimatnya keluar begitu saja, seperti luka yang terlalu lama ditahan sampai akhirnya meledak di tempat yang salah.

Arya tidak langsung menjawab.

Laras menunggu. Menunggu Arya membanting setir, membentak, atau paling tidak bertanya “Kenapa?” dengan nada yang menuntut — supaya Laras punya bukti bahwa instingnya benar, bahwa semua laki-laki akhirnya sama saja.

Tapi Arya hanya menepi. Mematikan mesin. Dan diam.

Lama sekali.

“Semua orang gagal, Ya. Kiara yang sesempurna itu saja hancur. Alya yang sekuat itu saja menyerah. Dan Ayu… dia habis, Ya. Habis karena dia percaya laki-laki sepertimu nggak akan berubah,” suara Laras bergetar. “Aku lebih baik kehilangan kamu sekarang sebagai pacar, daripada membencimu nanti sebagai suami.”

Arya masih menatap rintik hujan di kaca depan. Jemarinya meremas setir, lalu melepasnya. Meremas lagi.

“Ras…” suaranya keluar rendah, tapi kali ini ada sesuatu di sana yang belum pernah Laras dengar sebelumnya. Bukan kemarahan. Bukan kesabaran yang dibuat-buat. Tapi sesuatu yang lebih jujur dari keduanya — kelelahan. “Aku nggak tahu harus bilang apa lagi.”

Laras menoleh.

Arya tidak menatapnya. Dia masih menatap hujan, tapi rahangnya mengeras, dan Laras bisa melihat ada sesuatu yang sedang dia tahan dengan susah payah di balik ketenangan itu.

“Delapan tahun, Ras. Aku di sini delapan tahun.” Bukan keluhan. Bukan tuntutan. Hanya fakta yang diucapkan dengan suara seseorang yang mulai lelah membuktikan dirinya. “Dan aku nggak tahu lagi… apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya bahwa aku bukan Kevin. Bukan Nael. Bukan siapapun dari klienmu itu.”

Laras terdiam. Ini bukan Arya yang biasanya — yang selalu punya kata yang tepat, yang selalu bisa menenangkan badai di kepala Laras dengan satu kalimat. Ini Arya yang sesungguhnya. Yang juga manusia. Yang juga bisa terluka.

“Aku nggak minta kamu nggak takut, Ras. Aku nggak sebodoh itu.” Arya akhirnya menoleh, matanya lelah tapi tidak kosong. “Tapi aku minta kamu… jangan jadikan aku terdakwa atas kesalahan orang lain. Itu nggak adil. Buat aku, dan buat kamu sendiri.”

Sesuatu di dada Laras retak.

Bukan karena Arya marah. Justru karena dia tidak marah — dan Laras tahu, menahan itu jauh lebih menyakitkan.

Laras membuka pintu mobil.

“Ras—” Arya refleks meraih tangannya.

“Aku perlu… aku perlu pergi dulu, Ya.” Suara Laras pecah. “Bukan dari kamu. Aku Cuma perlu pergi.”

Arya menatapnya sebentar. Lama. Lalu, perlahan, melepaskan tangannya.

“Hati-hati.”

Hanya itu. Dua kata. Tidak ada “Jangan pergi” atau “Kita selesaikan ini dulu.” Hanya membiarkan Laras pergi — dan Laras tahu, justru itu yang paling sulit dilakukan Arya malam itu.

Laras berdiri di trotoar yang basah, hujan mengguyur rambutnya. Dia membuka aplikasi ojol di ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mengetikkan sebuah alamat yang sudah bertahun-tahun tidak dia kunjungi di malam hari.

Rumah Bapak.

Ojol itu berhenti di depan pagar besi yang catnya sudah mengelupas di beberapa sudut. Laras berdiri di sana sebentar, membiarkan hujan terus mengguyurnya — seolah kalau dia diam cukup lama, air dari langit itu bisa membilas semua yang menumpuk di dadanya.

Tidak bisa.

Dia melangkah masuk.

Lampu teras menyala kuning. Dari balik pintu kayu yang sudah tua itu, Laras melihat bayangan bergerak — kecil, perlahan. Lalu berhenti.

Bapak mengintip dari lubang pintu.

Laras menahan napas. Dia mencoba menegakkan bahunya, menyamarkan air mata yang sudah bercampur dengan air hujan di pipinya. Pura-pura ini kunjungan biasa. Pura-pura tidak ada yang salah.

Tapi Bapak sudah tahu. Bapak selalu tahu.

Pintu terbuka. Dan sebelum Laras sempat bilang apa-apa, dua tangan yang sudah tidak sekuat dulu itu merangkulnya. Tidak ada “kenapa basah kuyup?” Tidak ada “ada apa, Nduk?” Hanya pelukan — hangat, diam, dan terasa seperti rumah yang sesungguhnya.

Laras menggigit bibir bawahnya keras-keras supaya tidak menangis di sana.

Tidak berhasil.

Bapak mempersilakannya duduk di kursi rotan yang sudah menemani ruang tamu rumah ini sejak Laras masih kecil. Dari dapur, terdengar suara air mendidih. Suara lemari dibuka. Lalu bunyi yang paling Laras kenal sedunia — cangkir beradu dengan sendok, pelan dan berirama, seperti lagu pengantar tidur yang tidak pernah berubah.

Bapak kembali membawa dua cangkir the. Satu untuk Laras, satu untuk dirinya sendiri. Duduk di kursi seberang, meniup tehnya pelan, tidak terburu-buru.

Hening.

Jam dinding berdetak. Hujan masih turun di luar. Laras memeluk cangkirnya dengan kedua tangan, membiarkan hangatnya meresap ke telapak tangannya yang dingin.

Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Atau apakah dia harus mulai sama sekali.

Bapak tidak memaksanya.

Mereka duduk dalam diam yang panjang — bukan diam yang canggung, tapi diam yang sudah terlatih selama bertahun-tahun. Diam antara dua orang yang sama-sama tidak pandai bicara, tapi selalu menemukan cara untuk tetap hadir satu sama lain.

Lalu Bapak meletakkan cangkirnya. Menatap Laras dengan mata yang sudah lebih banyak menyimpan daripada mengungkapkan.

“Rumah tangga itu, harus dijalanin berdua.” Suara Bapak pelan, berat, seperti batu yang diletakkan hati-hati di atas meja. “Nggak bisa sendiri, nggak boleh sendiri. Harus berdua.”

Laras tidak bergerak.

“Bapak nggak pernah maksa kamu untuk bangun rumah tangga.” Bapak memperhatikan anak gadisnya — rambutnya yang masih basah, matanya yang merah, bahunya yang naik turun menahan isak. “Bapak mau kamu bahagia. Kalau kamu bahagia sama Arya, bertahun-tahun… kenapa nggak dibikin selamanya?”

Laras menutup wajahnya.

Tangisnya pecah.

Bukan tangis yang halus. Tapi tangis yang sudah terlalu lama ditahan — bertahun-tahun, dari ruang praktik ke ruang praktik, dari sesi ke sesi, selalu jadi pendengar, selalu jadi yang kuat, selalu jadi tempat orang lain menaruh luka mereka. Dan malam ini, di depan Bapak, di kursi rotan yang sama tempat dia dulu mengerjakan PR sekolah, semuanya runtuh sekaligus.

***

Malam itu, Bapak tidak meminta Laras untuk berhenti menangis. Tidak memintanya bicara. Tidak memintanya baik-baik saja.

Bapak hanya duduk di dekatnya — di kursi rotan yang sama, dengan the yang sudah lama dingin — dan membiarkan anak gadisnya kembali menjadi anak kecil. Menangis tanpa alasan yang perlu dijelaskan. Menangis sampai dadanya kosong, sampai matanya berat, sampai tubuhnya menyerah lebih dulu dari pikirannya.

Laras tertidur di sofa ruang tamu, diselimuti kain batik yang baunya masih sama seperti dua puluh tahun lalu.

Bapak mematikan lampu ruang tamu. Menyisakan lampu teras yang tetap menyala — seperti selalu, seperti pertanda bahwa pintu rumah ini tidak pernah benar-benar tertutup untuk siapapun yang mau pulang.

Pagi datang dengan bau yang paling jujur di dunia.

Laras membuka matanya perlahan. Matanya masih bengkak, kepalanya masih berat. Tapi dari arah dapur, aroma itu sudah menghampirinya duluan — kukusan yang mengepul, manis dan hangat, bercampur dengan bau kayu dan tanah setelah hujan semalam.

Dia bangkit. Melangkah ke dapur.

Di atas meja makan yang taplaknya sudah pudar, Bapak sudah menata semuanya. Ubi kukus yang masih mengepul. Dan di piring kecil di sebelahnya — jagung rebus. Kesukaan Laras sejak kecil, yang entah kenapa selalu Bapak ingat meski Laras sendiri sudah lama tidak menyebutnya.

Bapak sedang berdiri di depan tungku, tangan kanannya mengaron nasi dengan gerakan yang lambat dan teratur. Punggungnya tampak lebih membungkuk dari terakhir kali Laras benar-benar memperhatikannya.

Laras duduk di kursi makan. Memandangi punggung Bapak itu lama.

Lalu, tanpa benar-benar berencana, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hanya berdengung di kepalanya — selama bertahun-tahun, selama sesi demi sesi bersama kliennya, selama malam-malam panjang bersama Arya — keluar begitu saja. Satu per satu. Seperti bendungan yang akhirnya tidak sanggup lagi menahan.

“Bapak nggak kangen Ibu?”

Tangan Bapak terhenti.

“Bapak pernah cari Ibu?”

Sendok kayu itu berhenti bergerak.

“Bapak tau kenapa Ibu pergi?”

Hening. Hanya suara api kompor yang kecil dan kukusan yang masih mengepul.

Bapak tidak langsung berbalik. Dia berdiri di sana sebentar — punggungnya tetap menghadap Laras, bahunya naik turun satu kali, perlahan — seperti seseorang yang sedang mengumpulkan sesuatu yang sudah lama dia simpan di tempat yang susah dijangkau.

Laras menatap punggung itu. Punggung yang dulu terasa seperti tembok — kokoh, tidak bisa ditembus, tidak perlu dijaga karena dia yang menjaga segalanya. Tapi pagi ini, dari sudut pandang seorang psikolog yang sudah terlalu banyak melihat luka orang lain, Laras melihat sesuatu yang berbeda.

Punggung itu menyimpan sesuatu yang berat.

Dan selama ini, tidak ada yang pernah nanya.

Anaknya — yang seharusnya paling berhak tahu — justru anaknya adalah korban sesungguhnya dari semua yang tidak pernah terucap di rumah ini.

Bapak berbalik.

Matanya merah.

Laras tidak pernah melihat ini sebelumnya — bukan sekali pun dalam seluruh hidupnya. Bukan di hari ibunya pergi, bukan di hari kelulusan Laras yang seharusnya dirayakan berdua, bukan di malam-malam panjang yang mereka lalui berdua dalam rumah yang tiba-tiba terasa terlalu besar untuk dua orang.

Bapak selalu kuat. Bapak selalu diam. Bapak selalu ada — tapi seperti dinding, bukan seperti manusia.

Tapi pagi ini, di dapur yang masih mengepul, Bapak berjalan mendekat dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Menarik kursi kosong di seberang Laras. Duduk.

Dan menatap anaknya.

“Ras.”

Hanya itu dulu. Nama itu saja, diucapkan dengan suara yang tidak sepenuhnya stabil.

Lalu, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama tersangkut di tenggorokan dan akhirnya tidak bisa lagi ditahan —

“Maafkan Bapak.”

Laras terdiam.

Kata-kata itu menggantung di udara dapur yang hangat. Kata-kata yang tidak pernah Laras dengar. Yang menuntutnya pun Laras tidak pernah berani — karena sejak kecil dia sudah belajar bahwa Bapak adalah orang yang tidak perlu minta maaf, karena Bapak adalah orang yang tidak pernah salah, karena Bapak adalah satu-satunya yang tersisa dan Laras tidak sanggup kehilangan dia juga.

Tapi hari ini Bapak mengatakannya sendiri.

Setetes air mata mengalir di pipi Bapak yang sudah mulai keriput. Pelan. Tanpa suara. Seperti orang yang sudah lama menahan dan baru sekarang mengizinkan dirinya untuk tidak kuat.

Laras meraih tangan Bapak di atas meja.

Menggenggamnya.

Bukan sebagai anak yang menuntut jawaban. Tapi sebagai seseorang yang melihat manusia lain sedang runtuh, dan memilih untuk tidak membiarkannya runtuh sendirian — persis seperti yang selalu Laras lakukan untuk orang lain di ruang praktiknya, tapi belum pernah untuk orang ini.

“Bapak yang salah.” Suara Bapak pelan, tertunduk, seperti seseorang yang sedang ditelanjangi dan memilih untuk tidak menutup diri. “Ibu nggak pernah salah, Ras. Kalau ada satu orang yang boleh kamu benci… itu Bapak. Bukan Ibu.”

Laras menahan napas.

“Ibu udah cukup menderita.”

Kalimat itu jatuh ke lantai dapur seperti sesuatu yang berat sekali — dan di saat yang sama, seperti sesuatu yang akhirnya bisa diletakkan setelah terlalu lama dibawa berdiri.

Laras menatap tangan Bapak yang menggenggam balik tangannya. Tangan yang dulu terasa seperti rumah, lalu terasa seperti penjara, lalu terasa seperti teka-teki yang tidak pernah bisa dia pecahkan. Dan sekarang — sekarang terasa seperti tangan manusia biasa. Yang pernah salah. Yang menyesal. Yang tidak tahu caranya minta maaf sampai hari ini.

Air mata Laras mengalir tanpa suara.

Bukan karena marah. Bukan karena lega sepenuhnya. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak perlu menjadi hakim atau psikolog atau anak yang kuat.

Dia hanya perlu duduk di sini. Menggenggam tangan Bapak. Dan membiarkan dua orang yang sama-sama terluka itu akhirnya saling melihat — benar-benar melihat — tanpa ada yang berpura-pura baik-baik saja.

Di luar, matahari pagi mulai menerobos celah jendela dapur yang kacanya sedikit berkabut. Nasi di tungku sudah matang. Jagung di piring sudah dingin.

Tapi tidak ada yang bergerak untuk memakannya.

Belum.

Setelah semua yang tumpah di meja makan itu, tidak ada yang perlu ditambahkan.

Bapak tidak menjelaskan lebih jauh tentang Ibu. Laras tidak menuntutnya. Ada hal-hal yang cukup diletakkan — tidak perlu dibedah, tidak perlu diselesaikan sampai ke akar-akarnya. Cukup diakui. Cukup didengar. Dan itu, ternyata, sudah lebih dari cukup untuk membuat udara di rumah ini terasa berbeda.

Lebih ringan.

Mereka makan ubi kukus yang sudah dingin dan jagung yang sudah tidak mengepul lagi — dan entah kenapa, itu adalah sarapan paling enak yang pernah Laras rasakan dalam waktu yang sangat lama.

***

Hari itu mereka habiskan bersama, tanpa agenda, tanpa tujuan.

Laras bercerita — tentang klien-kliennya, tentang Kiara yang anggun tapi kesepian, tentang Alya yang pergi dengan bermartabat, tentang Ayu yang harus kabur dengan satu ransel dan anak di gendongan. Tentang betapa lelahnya menjadi tempat orang lain menaruh luka, sementara lukanya sendiri tidak punya tempat pulang.

Bapak mendengarkan. Sungguh-sungguh mendengarkan — bukan sambil melihat ke mana-mana, bukan sambil memikirkan jawaban. Hanya duduk, menatap Laras, dan mendengarkan.

Dan Laras sadar — ini yang dulu tidak pernah ada. Bukan karena Bapak tidak peduli. Tapi karena mereka tidak pernah tahu caranya.

Sampai hari ini.

Laras juga mendengarkan Bapak bercerita — tentang tetangga yang baru pindah, tentang kucing kampung yang sekarang tidur di teras setiap malam, tentang jadwal pengajian yang minggu lalu hujan jadi sepi. Hal-hal kecil yang tidak pernah Laras tanyakan karena selalu merasa tidak punya waktu.

Di sela-sela cerita itu, Bapak tertawa.

Tawa yang lepas, tidak ditahan, tidak dijaga — tawa yang membuat matanya menyipit dan bahunya terguncang pelan. Laras tidak ingat kapan terakhir kali melihat ini. Mungkin waktu dia masih cukup kecil untuk duduk di pangkuan Bapak.

Laras tersenyum memandanginya. Dadanya penuh dengan sesuatu yang tidak punya nama yang tepat — bukan bahagia saja, bukan sedih saja, tapi campuran keduanya yang entah kenapa justru terasa seperti utuh.

Ketukan pintu menghentikan tawa Bapak.

Bapak berdiri, mengintip sebentar dari lubang pintu seperti semalam — kebiasaan lama yang tidak pernah berubah. Lalu dia berbalik, menatap Laras dengan ekspresi yang sulit dibaca. Antara geli dan serius.

“Kamu berhutang banyak sama Arya.” Bapak mengambil sarung dan pecinya dari gantungan di dekat pintu, mengenakannya dengan gerakan yang sudah sangat hafal. “Bapak mau ke Masjid.”

Dan Bapak membuka pintu lebar-lebar, lalu melangkah keluar — berpapasan sebentar dengan seseorang yang berdiri di teras, mengangguk singkat dengan tatapan yang menyimpan banyak hal yang tidak perlu diucapkan — sebelum langkahnya menjauh ke arah gang.

Laras berdiri.

Di ambang pintu, dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan mata yang masih sedikit bengkak, berdiri Arya. Dia memegang kantong plastik kecil di satu tangan — sarapan cadangan, mungkin, karena Arya selalu memikirkan hal-hal seperti itu. Wajahnya tidak marah. Tidak menghakimi. Hanya ada lelah yang jujur di sana, dan lega yang belum sepenuhnya dia izinkan untuk muncul.

“Semalam aku muter-muter komplek sini dua jam,” kata Arya pelan. “Nggak bisa pulang, tapi nggak mau ganggu kamu juga.”

Laras menatapnya. Laki-laki yang delapan tahun menunggunya selesai takut. Yang semalam, untuk pertama kalinya, mengaku lelah — tapi tetap mengantar Laras pergi dan menunggu tanpa diminta.

“Maaf, Ya,” suara Laras pelan.

Arya menggeleng pelan. “Nggak usah minta maaf.” Dia melangkah masuk, menaruh kantong plastiknya di meja, lalu berdiri di depan Laras. Jempolnya mengusap sisa sembab di bawah mata Laras dengan hati-hati. “Sudah mendingan?”

Laras mengangguk.

“Bapakmu bilang apa?”

Laras tersenyum tipis — senyum yang pertama kali terasa ringan dalam berbulan-bulan.

“Katanya aku berhutang banyak sama kamu.”

Arya tertawa kecil, tipe tawa yang membuat dadanya terasa penuh. “Bapak benar.”

Laras memukul bahunya pelan. Arya meraih tangannya, menggenggamnya — sederhana, tidak dramatis, persis seperti caranya selama delapan tahun ini.

Dan di ruang tamu rumah Bapak yang hangat, dengan suara azan yang mulai terdengar sayup dari kejauhan, Laras akhirnya tahu jawabannya.

Bukan karena tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Tapi karena ada tangan yang tidak pernah melepasnya — bahkan di malam ketika dia yang memilih untuk pergi.

Dan itu, lebih dari apapun yang pernah dia pelajari dari buku-buku psikologinya, adalah alasan yang cukup.

***

Seminggu Sebelum Akad

Laras menutup pintu ruangannya pelan setelah Kiara dan Raka keluar.

Berbeda dari sesi pertama — kali ini mereka tidak keluar dengan jarak dua meter di antara keduanya. Raka berjalan lebih pelan, sesekali menoleh ke Kiara. Ada sesuatu yang berbeda di bahunya — tidak setegak biasanya, tidak se-dominan biasanya. Seperti seseorang yang baru saja belajar bahwa membungkuk bukan berarti kalah.

Dan Kiara — Kiara yang di sesi pertama sudah mengemas seluruh jiwanya dan siap pergi — hari ini berdiri di ambang pintu lebih lama dari yang diperlukan. Tangannya menggenggam tali tasnya erat. Matanya tidak lagi kosong, tapi justru itu yang lebih menyiksa untuk dilihat.

Mata orang yang sedang memilih.

"Mbak Laras," kata Kiara sebelum benar-benar pergi, suaranya pelan. "Kalau Mbak di posisi saya... Mbak akan kasih kesempatan?"

Laras tidak menjawab. Bukan karena tidak tahu — tapi karena jawaban itu bukan miliknya untuk diberikan.

"Itu pertanyaan yang hanya Mbak Kiara yang bisa jawab," kata Laras akhirnya. "Tapi satu hal yang saya tahu — lelah itu valid. Dan harapan itu juga valid. Keduanya boleh ada di waktu yang bersamaan."

Kiara mengangguk pelan. Lalu pergi.

Laras duduk di kursinya yang sekarang terasa terlalu sunyi.

Seminggu lagi.

Seminggu lagi dan dia akan berdiri di tempat yang sama sekali berbeda dari kursi ini — bukan sebagai pendengar, tapi sebagai seseorang yang juga sedang memilih. Yang juga sedang berdiri di antara lelah dan harapan, antara takut dan percaya.

Bedanya, Laras sudah tahu jawabannya.

Dia meraih ponselnya. Ada pesan dari Arya, dikirim dua jam lalu saat Laras masih di tengah sesi:

"Katering konfirmasi menu. Aku bilang ok semua. Nanti malam kamu mau makan apa? Aku masak."

Laras tersenyum tanpa sadar. Hal-hal kecil. Selalu hal-hal kecil.

Dia mengetik balas — tapi sebelum sempat mengirim, pintu ruangannya diketuk.

Bukan ketukan yang sopan dan teratur seperti biasanya. Tapi ketukan yang tidak sabar, terlalu keras untuk jam kantor yang sudah hampir sepi.

Laras bangkit. Membuka pintu.

Dan jantungnya mencelos.

Ayu berdiri di sana. Rambutnya berantakan, napasnya tersengal-sengal. Di gendongannya, anaknya yang masih berusia dua tahun tertidur pulas dengan wajah yang masih basah sisa tangisan. Ayu tidak membawa tas mewah lagi—hanya satu ransel kain yang tampak dijejal terburu-buru.

"Mbak Laras… tolong saya," bisik Ayu. Suaranya pecah. "Saya nggak bisa balik ke rumah itu lagi. Kevin… dia bilang kalau saya pergi, dia bakal ambil anak ini karena saya nggak punya apa-apa. Keluarganya… mereka ngurung saya di kamar tadi siang."

Laras terpaku. Ini bukan lagi sesi terapi. Ini adalah keadaan darurat.

"Ayu, tenang dulu. Masuk," Laras menarik Ayu ke dalam, mengunci pintu.

"Saya nggak punya siapa-siapa, Mbak. Orang tua saya sudah nggak ada. Teman-teman saya menjauh sejak saya nikah sama Kevin. Cuma Mbak Laras yang tahu semuanya," Ayu terisak, memeluk erat anaknya. "Saya mau kabur, Mbak. Saya mau bawa anak ini pergi jauh. Tapi saya takut… saya nggak punya uang, saya nggak punya tempat tujuan."

Laras menatap Ayu. Dia melihat ibunya. Yang dulu mungkin berdiri di persimpangan yang sama, tapi tidak punya tangan yang bisa diraih.

Laras tidak berpikir dua kali. Dia meraih dompetnya, mengambil semua uang tunai yang dia simpan untuk persiapan pernikahan. Dia juga mengambil selembar kartu nama dari laci—kontak sebuah yayasan perlindungan perempuan yang sering bekerja sama dengannya.

"Ayu, dengar saya," Laras memegang bahu Ayu, menatap matanya dalam-dalam. "Kamu nggak sendirian. Ini ada sedikit uang untuk kamu sampai di tempat aman. Pergi ke alamat di kartu ini, bilang saya yang kirim. Mereka punya rumah aman. Kamu dan anakmu nggak akan ditemukan Kevin di sana."

Ayu gemetar saat menerima uang dan kartu itu. "Mbak… Mbak Laras besok nikah, kan? Maaf saya malah ganggu…"

"Nggak, Yu. Kamu justru ngasih saya alasan buat makin yakin," Laras tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Kamu hebat, Yu. Pergi demi anakmu itu bukan kekalahan. Itu kemenangan pertama kamu."

Setelah memastikan Ayu masuk ke taksi online yang dia pesan, Laras berdiri di trotoar depan kantornya. Badannya gemetar.

Laras pulang ke apartemennya dengan langkah yang berat.

Arya sedang di meja, memeriksa daftar tamu untuk terakhir kalinya — bolpoin di tangan, beberapa nama dilingkari, beberapa dicoret. Hal-hal kecil yang terasa sangat jauh dari dunia yang baru saja Laras tinggalkan di trotoar tadi.

Melihat wajah Laras yang pucat, Arya langsung berdiri.

"Ras? Kamu kenapa?"

Laras tidak menjawab. Dia meletakkan tasnya di lantai — tidak sampai gantungan, tidak sampai kursi — dan langsung menghambur ke pelukan Arya. Menangis. Bukan tangis yang pelan dan tertahan seperti biasanya, tapi tangis yang datang dari tempat yang sangat dalam dan sudah terlalu lama menunggu untuk keluar.

Arya merangkulnya erat, satu tangan di punggungnya, satu tangan lagi menggenggam kepalanya. Dia tidak bertanya apa-apa dulu. Membiarkan Laras habis dulu.

Lama sekali.

Lalu, di antara isak yang mulai mereda, Laras menceritakan semuanya. Ayu. Ransel kain yang dijejal terburu-buru. Anak dua tahun yang tertidur di gendongan dengan wajah basah. Kartu nama yayasan. Taksi online yang melaju pergi ke tempat yang Laras sendiri tidak tahu persis di mana.

"Ya… dunia ini seram banget," isak Laras di dada Arya. "Ayu harus kabur, dan aku malah mau mulai. Gimana kalau kita gagal? Gimana kalau suatu saat aku jadi kayak dia — nggak punya tempat pergi, nggak punya pilihan?"

Arya tidak langsung menjawab.

Dia menarik napas panjang — satu kali, pelan — seperti seseorang yang sedang memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. Bukan karena tidak tahu harus bilang apa. Tapi karena dia tahu, malam ini bukan waktunya untuk kata-kata yang terburu-buru.

Lalu dia memegang kedua pipi Laras. Mengangkat wajahnya sampai mata mereka bertemu.

"Aku nggak bisa janji dunia bakal aman, Ras." Suaranya rendah, tidak sempurna, tapi jujur. "Tapi aku janji — di rumah kita nanti, nggak akan ada pintu yang dikunci dari luar. Nggak akan ada suara yang dibungkam." Jempolnya mengusap air mata di pipi Laras pelan. "Kalau kamu butuh pergi untuk cari dirimu sendiri, aku yang bukain pintunya. Dan aku yang nunggu."

Laras menatapnya. Mencari keraguan di mata itu — kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang.

Tidak ada.

"Kita nikah bukan karena kita yakin nggak akan pernah gagal, Ras," lanjut Arya. "Tapi karena kita setuju buat saling jagain supaya kalau salah satu jatuh, yang satunya nggak pergi." Dia mengecup kening Laras, lama. "Kamu bukan Ayu. Dan aku... aku bukan Kevin."

Laras menutup matanya.

Di luar, kota masih bising. Di suatu tempat, Ayu sedang dalam perjalanan menuju tempat yang aman. Dan di apartemen kecil ini, Laras berdiri dalam pelukan laki-laki yang tidak pernah membuat rumah terasa seperti penjara.

Arya melepaskan pelukannya perlahan. Menatap Laras sekali lagi — memastikan — lalu berjalan ke dapur tanpa banyak kata.

Bunyi kompor dinyalakan. Aroma masakan yang tadi sempat dingin mulai mengepul lagi.

"Makan yuk," kata Arya dari dapur. "Aku udah masak."

Laras tersenyum. Tanpa sadar, tanpa dipaksakan.

Dia menyeka sisa air matanya, lalu melangkah ke dapur.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Laras tidur tanpa mimpi buruk.

Aku tersadar dari lamunan saat sebuah tangan menjabat tanganku hangat.

Kiara & Raka berdiri di depanku. Mereka datang terpisah, meski statusnya masih suami istri. Kiara tersenyum tipis, tapi matanya kosong—tipe tatapan orang yang sudah berhenti berharap.

"Selamat ya, Laras," bisik Kiara. "Semoga duniamu nggak pernah sehening duniaku."

Aku melihat Raka di belakangnya, sibuk dengan ponselnya, bahkan di pernikahan orang lain. Mereka adalah peringatanku: Jangan pernah berhenti bicara.

Lalu muncul Alya. Dia datang sendiri, tanpa Nael. Wajahnya jauh lebih segar, meski guratan lelah itu permanen.

"Aku titip doa buat kalian," kata Alya tulus. "Kalau nanti terasa berat, jangan lupa kalau kamu punya kaki buat berdiri sendiri, tapi punya tangan buat saling genggam."

Dia adalah pengingatku: Bahwa pergi terkadang adalah bentuk cinta pada diri sendiri, tapi bertahan adalah keberanian yang berbeda.

Di tengah hiruk-pikuk salaman sama tamu, aku ngerasain HP di tas kecilku getar. Aku minggir sebentar, buka pesan singkat dari nomor asing:

"Mbak Laras, saya sudah di tempat aman. Anak saya sudah makan dan tidur nyenyak. Terima kasih sudah kasih saya 'pintu' untuk keluar. Selamat menempuh hidup baru, Mbak. Semoga Mbak nggak pernah butuh pintu yang sama kayak saya."

Aku naruh HP-ku lagi, mataku berkaca-kaca. Aku balik ke pelaminan, Arya langsung ngerangkul pinggangku pelan, bisik di telingaku: "Kabar baik?"

Aku cuma ngangguk, nyandarin kepala ke bahunya sebentar. "Iya. Kabar baik banget."

Aku meremas tangan Arya yang melingkar di pinggangku.

"Capek?" bisiknya, mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Takut," jawabku jujur, tanpa topeng profesional.

Arya tidak tertawa. Dia tidak bilang "Jangan takut." Dia hanya mengeratkan genggamannya, menyandarkan kepalanya sejenak ke bahuku di depan ratusan tamu.

"Aku juga takut, Ras," akunya pelan. "Tapi setidaknya kita takut bareng-bareng, kan?"

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)