Aku memeriksanya untuk yang terakhir kali.
Tas kecil untuk dokumen dan barang penting.
Tas ransel untuk hal-hal yang mungkin tiba-tiba dibutuhkan.
Dan koperku.
Semuanya penuh.
Tapi entah kenapa… ringan rasanya.
Seolah yang benar-benar kubawa bukan barang-barang itu—
tapi sesuatu yang sudah lama kutunggu untuk akhirnya dimulai.
Aku menarik napas pelan.
Aku merindukannya.
Empat bulan lalu, dia berangkat lebih dulu ke Jakarta.
Kota yang sejak masa kuliah selalu kami sebut-sebut seolah itu tujuan yang pasti—bukan kemungkinan.
"Mas, taksimu sudah datang itu."
Suara Ibu dari ruang depan.
Aku menoleh sebentar.
Ada jeda kecil sebelum aku benar-benar melangkah keluar.
Sedih, tentu saja.
Tapi Ibu benar—mimpi tidak pernah datang sendiri.
Aku yang harus menyusulnya.
Tibalah aku di sini.
Jakarta.
Panasnya langsung terasa, bahkan sebelum aku benar-benar keluar dari stasiun. Bau rel, suara orang-orang, koper yang diseret ke mana-mana—semuanya seperti bergerak terlalu cepat untuk orang yang baru datang.
Aku berdiri sebentar.
Menyesuaikan diri.
"Mas Dewan!"
Aku langsung menoleh.
Suara itu… aku kenal.
Aku mencarinya di antara orang-orang yang lalu lalang. Dan begitu menemukannya, aku langsung tahu—ak...