Lampu-lampu kecil di tepi kolam renang berkelip seperti kunang-kunang yang kelelahan. Air kolam tenang, memantulkan bayangan gedung apartemen yang menjulang diam, seolah ikut menonton, bersama wajah-wajah asing yang duduk sambil memegang minuman.
Di belakangku, warung makan tempatku bekerja sebagai pelayan masih buka. Bau minyak panas dan bawang goreng menyelinap sampai ke sini. Setiap malam Minggu, apartemen ini mengadakan acoustic night. Biasanya aku hanya mondar-mandir membawa pesanan, mendengar orang lain bernyanyi, berpura-pura tidak peduli.
Aku berdiri di sudut panggung kecil—lebih mirip alas karpet dengan satu mikrofon—menunggu namaku dipanggil, dengan jari-jariku gemetar meski udara malam hangat.
Namaku Putri.
Sudah lama aku tidak bernyanyi di hadapan orang-orang yang benar-benar mendengarkan. Terlalu lama sampai aku lupa rasanya didengar tanpa diminta berhenti.Terlalu lama sampai aku lupa bagaimana caranya bernapas tanpa rasa takut.
Tanganku berkeringat. Punggungku dingin.
Mungkin ini yang terakhir, kataku dalam hati.
Mungkin setelah...