Sang Pengantin

Mawar duduk termenung sambil menatap bayangan dirinya didepan cermin kamarnya. Dia tampak cantik dengan riasan dan busana lengkap pengantin jawa. Tidak ada senyuman kebahagiaan diwajahnya, seperti yang biasa tergambar dari setiap perempuan yang akan menuju gebyok kursi pelaminan.

Pintu kamarnya terbuka dan bu Dermi masuk lalu duduk disamping putrinya, dengan sabar dan hati-hati, dia usap lembut air mata yang mulai menetes dipipi putri satu-satunya itu. Sekuat tenaga, bu Dermi mencoba untuk kuat dihadapan Putrinya, namun usahanya sia-sia karena air matanyapun mulai membasahi pipinya, lalu dia memeluk erat bahu Mawar.

"Maafkan ibu ya nduk."

Mawar masih menatap bayangannya dicermin dan tidak menghiraukan ibunya yang menangis dibahunya.

"Ini semua salah mas Sapto."

Bu Dermi tanpak terkejut dengan ucapan Mawar. Dia menghapus airmatanya dan menatap Mawar.

"Istigfar nduk, doakan agar almarhum tenang disana. Ibu yakin kepergiannnya tiga hari yang lalu untuk melindungimu dari.."

Bu Dermi terdiam tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menenangkan Mawar yang tertunduk sambil terisak.

"Seandainya mas Sapto tidak mengkhianatiku enam bulan lalu, mungkin dia yang akan bersama denganku dipelamainan hari ini, bukan dengan dia."

"Tapi kamu menerima cinta dan lamaranku." Ucap bu Dermi dengan nada tinggi sambil menatap tajam kearah Mawar dari balik cermin.

Mawar terkejut, dia berhenti terisak dan perlahan menatap kearah ibunya dari balik cermin. Suasan mistis tiba-tiba datang dan aroma harum bunga-bunga setaman meyerbak diseluruh ruangan. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara gamelan.

"Aku hanya menagih janjimu pagi itu dan aku selalu menepati janjiku, seperti yang aku ucapkan pagi itu padamu."

Mawar sadar ucapan itu bukan berasal dari ibunya, ada sosok yang masuk kedalam tubuh ibunya.

Tidak ada rasa takut dalam diri Mawar karena selama tujuh hari berturut-turut, dia dan keluarganya telah mengalami kejadian mistis diluar nalar yang menguras energinya dan keluarganya, hingga puncaknya merengut nyawa Sapto, mantan tunangannya.

"Kenapa aku?". Tanya Mawar sambil menatap langsung kearah ibunya.

Bu Dermi tersenyum lalu memegang lembut tangan Mawar, "Karena aku mencintaimu dan kamu mencintaiku."

Mawar menepis tangan bu Dermi lalu bangkit berdiri membelakanginya.

"Mungkin karena aku patah hati jadi aku begitu sembrono bermain-main dengan perasaanku atau kamu memberiku guna-guna atau... atau..." Mawar terisak.

"Aku mohon, lepaskan aku..." Pinta Mawar.

Bu Dermi bangkit berdiri dan menatap Mawar yang masih membelakanginya.

"Semakin kamu menyangkal perasaanmu, semakin sulit kamu menerima kenyataan bahwa kamu sekarang adalah pengantinnku."

"Aku bisa melepasmu tapi keluargamu dan seluruh penduduk desa akan menjadi penggantinya."

Mawar hanya diam berdiri sambil terisak mendengar setiap kalimat bu Dermi.

"Keluarlah pengantinku, aku sudah menunggumu diluar, pingit an sudah hampir selesai, sudah hampir tengah malam."

"Aku mohon lepaskan aku..." Mawar berbalik dan menatap bu Dermi yang tampak bingung lalu duduk karena merasa lemah seluruh badanya.

"Ibu..." Mawar menghampiri bu Dermi.

"Apa yang terjadi nduk?" Bu Dermi masih tampak kebingungan.

Mawar menatap ibunya selama beberapa menit lalu mengusap lembut wajah ibunya. Dia terisak lalu berdiri.

"Sudah saatnya bu, dia sudah datang, pengantinku sudah datang menungguku dengan kereta kudanya."

"Tapi dia siluman, dia mahkluk halus, dia penunggu..." Bu Dermi terisak.

Mawar berjalan menuju pintu lalu berpaling menatap ibunya sambil tersenyum lalu membuka pintu.

8 disukai 4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction