Disukai
0
Dilihat
7
Sembilan Bajingan
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sembilan Bajingan

Aku sudah menemukan sembilan dari mereka.

Ini bukan perjalanan yang pernah kurancang. Tidak ada proyek riset, tidak ada grant dari lembaga mana pun, tidak ada editor yang menugaskan. Selama dua belas tahun berkeliling dari satu kota ke kota lain — meliput, mencatat, mengamati — sembilan bajingan itu muncul sendiri. Satu per satu. Seperti mereka memang sudah menunggu seseorang yang mau menuliskan mereka.

Dan aku datang.

Aku catat mereka satu per satu.

Pertama: Si Pedagang.

Namanya Haji Romli. Lapak sembako di Pasar Wage, sudut paling strategis — dekat pintu masuk utama, tepat di bawah kipas angin langit-langit yang paling besar. Timbangan digitalnya bagus, merek impor, layarnya besar dan terang supaya kelihatan transparan. Dia bahkan memasang cermin kecil di sisi kanan meja, supaya pembeli bisa melihat layar dari dua sudut sekaligus.

Tapi ada tombol kecil di bagian belakang timbangan itu — dipasang oleh teknisi yang sama yang memasang timbangan untuk seluruh blok B. Selisih lima puluh gram per kilo. Kedengarannya kecil. Dikalikan ribuan pembeli per hari, dikalikan dua puluh tahun, angkanya tidak lagi kecil.

Aku pernah duduk di warung kopi sebelah lapaknya tiga jam penuh, berpura-pura membaca koran. Haji Romli tersenyum kepada semua orang. Menghafal nama anak-anak pelanggan tetapnya. Memberi sembako gratis kepada janda tua setiap Jumat pagi — ditaruh di tas plastik hitam, diantar sendiri oleh kurir lapaknya, selalu ada yang mendokumentasikan dengan kamera ponsel.

Sore itu seorang ibu muda komplain: "Kok beratnya kurang, Pak Haji?"

Haji Romli mengangguk dengan wajah prihatin. "Coba kita timbang ulang, Bu." Ditimbang ulang. Hasilnya sama. "Sudah pas, Bu. Mungkin di rumah timbangannya yang kurang akurat."

Ibu muda itu mengangguk minta maaf. Tapi Haji Romli kali ini sedang berbaik hati. Ditambahnya dua genggam setara tigapuluh gram ke dalam kantong beras ibu muda. Ibu muda pulang dengan perasaan seperti baru mendapat berkah. Haji Romli senyum mendapat ide baru.

Timbangan itu tidak pernah dia reset.

Kedua: Si Ustaz.

Rekening donasinya terpampang di bio Instagram sejak 2019. Lima ratus ribu pengikut — sekarang sudah mendekati satu juta. Setiap konten: tangisan, tilawah, dan nomor rekening. Gempa di Cianjur? Konten donasi, tiga postingan dalam dua hari. Banjir di Kalimantan? Konten donasi, satu live streaming dua jam. Anaknya sendiri sakit dan dirawat? Konten donasi, lengkap dengan foto infus di tangan bocah kecil yang tidak tahu kameranya sedang menyala.

Aku tahu berapa yang masuk karena mantan bendaharanya bicara kepadaku. Dengan syarat tidak disebut namanya, tidak disebut kota asalnya, tidak disebut tahun kejadiannya. Tiga miliar lebih dalam empat tahun. Yang tersalurkan ke korban bencana yang dikampanyekan: tidak sampai dua ratus juta.

"Sisanya ke mana?" tanyaku.

Mantan bendahara itu diam sebentar. Mengaduk kopinya yang sudah dingin.

"Mobil baru setiap dua tahun. Renovasi rumah dua kali. Umrah rutin. Sekolah anak di pesantren swasta yang SPP-nya dua juta per bulan."

Umrah itu, tentu saja, selalu dijadikan konten. Dengan caption yang indah tentang keikhlasan dan jangan berharap balasan dari manusia.

Di setiap konten umrahnya, dia menangis di depan Ka'bah. Sangat fotogenik.

Ketiga: Si Musisi.

Dia punya tiga album. Dua di antaranya berisi lagu-lagu yang bukan miliknya. Bukan plagiat yang kasar dan mudah dibuktikan — dia pandai. Dia mengubah melodi di bar ketiga dan ketujuh, mengganti satu progresi chord di bagian bridge, lalu mendaftarkan hak cipta atas namanya sendiri ke lembaga yang formulirnya cukup diisi nama dan nomor KTP.

Sumber lagunya: musisi desa yang manggung di acara pernikahan, pengamen terminal yang merekam demo di ponsel dengan headset murah, anak-anak band SMA yang belum punya uang maupun pengetahuan untuk mendaftarkan karya mereka.

Cara dia menemukannya juga sistematis. Dia punya akun media sosial dengan nama samaran yang khusus digunakan untuk menjelajahi konten musisi indie kecil. Menyukai video mereka, sesekali berkomentar. Mengunduh file audio mereka. Lalu menghilang.

Aku pernah mempertemukan dia dengan satu pencipta lagu aslinya di satu acara musik indie. Kebetulan, katanya. Tidak ada yang tahu aku yang mengatur pertemuan itu.

Mereka berjabat tangan. Musisi besar itu bahkan minta foto bersama, tangannya di bahu si pengamen yang lagunya sudah terjual puluhan ribu kopi dalam album kedua.

"Keren banget karya lo, bro. Terus berkarya ya."

Senyumnya sangat genuine.

Keempat: Si Dermawan.

Setiap akhir tahun, dia menyewa fotografer profesional — bukan yang biasa, yang sudah punya portofolio editorial — untuk mendokumentasikan kunjungannya ke panti asuhan. Amplop-amplop putih. Anak-anak kecil yang dipeluk dengan penuh kasih. Foto terbaik dicetak besar dan dipajang di kantor pusat perusahaannya sebagai bagian dari laporan CSR tahunan.

Yang tidak difoto: negosiasi dengan ketua panti dua minggu sebelum kunjungan. Bahwa foto-foto ini akan digunakan sebagai aset kampanye iklan produk suplemen kesehatan miliknya. Bahwa ada kontrak eksklusivitas selama satu tahun yang harus ditandatangani panti — tanpa konsultasi hukum, karena ketua panti tidak tahu bahwa seharusnya ada konsultasi hukum. Bahwa anak-anak panti itu, tanpa sadar, menjadi model iklan tanpa bayaran, tanpa perlindungan, tanpa tahu wajah mereka akan muncul di spanduk-spanduk jalan protokol.

Ketua panti mendapat amplop tebal di hari H. Dia menganggap itu donasi. Dia tidak tahu bahwa amplop itu sebenarnya adalah bukti pembayaran yang akan muncul di laporan pembukuan perusahaan sebagai "biaya produksi konten."

Produk suplemen itu terjual habis tiga hari setelah konten charity-nya viral.

Aku beli satu botol. Rasanya seperti air gula yang dicampur serbuk vitamin C dari apotek.

Kelima: Si Pemimpin Toleran.

Pidatonya tentang kebhinekaan selalu dikutip media. Dia fasih menyebut nama tokoh lintas agama, hafal ayat-ayat perdamaian dari berbagai kitab suci, dan selalu hadir di acara hari besar semua agama dengan busana yang disesuaikan. Topi natal di Desember. Sarung dan peci di Idul Fitri. Baju koko polos di perayaan Waisak.

Aku duduk di dua puluh tiga acara resminya selama tiga tahun. Aku catat semua yang dia katakan.

Tapi di belakang meja rapatnya, tender proyek infrastruktur selalu jatuh kepada kontraktor yang nama-nama direksinya bisa ditelusuri ke kelompok yang sama. Guru honorer yang mengajar puluhan tahun di sekolah dasar di daerahnya — yang kebetulan berbeda keyakinan — tidak pernah masuk daftar prioritas pengangkatan meski semua persyaratan terpenuhi.

Aku menemukan satu dokumen yang tidak sengaja masuk ke cc emailku, dikirim oleh stafnya yang salah memilih alamat. Isinya pemetaan "zona aman" dan "zona waspada" berdasarkan hasil sensus agama per kelurahan, lengkap dengan kode warna dan catatan strategi komunikasi per zona.

Dokumen itu berkop resmi instansinya.

Keenam: Si Akademisi.

Profesor. Guru Besar. Dua ratus lebih publikasi ilmiah atas namanya dalam dua puluh tahun terakhir di jurnal nasional dan internasional. Wajahnya ada di poster seminar di tiga universitas berbeda setiap bulannya.

Aku sudah menemui tiga mahasiswa S3-nya secara terpisah, di tiga kota yang berbeda, dalam rentang setahun. Mereka tidak saling kenal — tapi mereka bicara dengan nada yang persis sama: pelan, berhati-hati, melirik pintu sebelum mulai bercerita, dan selalu mengakhiri dengan kalimat, "Tolong jangan sebut nama saya."

Polanya identik pada ketiga orang itu. Penelitian lapangan mereka dikerjakan selama satu hingga dua tahun — wawancara, pengumpulan data, analisis, draft awal. Kemudian sang Profesor "memperbaiki" draf itu, mengubah struktur, mengganti beberapa kata kunci teoritis, lalu menerbitkan atas namanya sendiri dengan ucapan terima kasih kepada si mahasiswa di halaman acknowledgement — terselip di antara nama istri, nama anak-anaknya, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dua dari tiga mahasiswa itu tidak menyelesaikan studi mereka. Satu mundur dengan alasan kesehatan. Satu mengajukan cuti panjang yang tidak pernah berakhir.

Satunya menyelesaikan. Gelar Doktor. Sekarang dia punya mahasiswa bimbingan sendiri. Aku tidak mewawancarainya, tapi aku sudah dengar ceritanya dari kolega yang satu kampus.

Ketujuh: Si Budayawan.

Dari semua yang kutemui, dia yang paling berbahaya. Bukan karena kejahatannya paling besar, tapi karena bajingannya paling halus — dibalut dengan diksi yang begitu indah sehingga bahkan korbannya sendiri terkadang tidak sadar bahwa mereka sedang dirampok.

Dia berbicara tentang pelestarian batik, gamelan, wayang — dengan sangat fasih, sangat indah, sangat meyakinkan. Diundang ke forum kebudayaan internasional. Namanya terpampang di papan seminar bersama delegasi UNESCO. Bukunya tentang kearifan lokal Nusantara dicetak dalam tiga bahasa.

Yang dikerjakan di balik semua itu: selama sepuluh tahun, tim yayasannya berkeliling ke sentra-sentra pengrajin batik di pedesaan. Mendokumentasikan motif-motif yang selama ratusan tahun menjadi milik komunal — diwariskan dari nenek moyang, dibuat bersama, tidak pernah ada yang merasa perlu mendaftarkannya karena tidak ada yang terpikir bahwa kekayaan komunal harus dilindungi dari sesama manusia.

Lalu motif-motif itu didaftarkan sebagai hak paten atas nama yayasannya. Satu per satu. Dengan biaya administrasi yang tidak murah, tapi masih lebih murah dibanding nilai ekonomis yang bisa digali dari lisensinya.

Para pengrajin itu, sekarang, harus membayar royalti untuk menggunakan motif nenek moyang mereka sendiri. Beberapa sudah tidak bisa membayar. Beberapa sudah berhenti berproduksi.

Dia menyebutnya "perlindungan hak kekayaan intelektual budaya lokal dari eksploitasi asing."

Kedelapan: Si Pak RT.

Yang ini yang paling sulit kutulis. Bukan karena faktanya tidak jelas — faktanya sangat jelas. Tapi karena dari semua yang kutemui, Pak Sardi adalah satu-satunya yang alasannya paling masuk akal.

Mantan buruh pabrik tekstil. Di-PHK tiga tahun lalu ketika pabriknya tutup karena tidak kuat bersaing dengan produk impor. Usianya lima puluh dua tahun, tidak punya ijazah SMA, tidak punya keahlian yang bisa dijual di pasar kerja yang menginginkan sertifikasi dan portofolio digital. Cicilan rumah subsidi masih dua belas tahun. Dua anak: satu SMP, satu SD.

Dia tidak meminta-minta. Tidak mau berhutang ke rentenir. Tidak mau menjual aset yang tidak punya aset.

Jadi dia membiarkan salah satu kamar kontrakannya — yang dulu disewakan kepada buruh pabrik yang sudah pergi — digunakan sebagai warnet. Warnet yang di menu utamanya ada menu biasa: browsing, print, scan. Tapi di bawah menu utama itu, ada menu khusus yang hanya bisa diakses dengan kode yang dibagikan dari mulut ke mulut di kalangan tertentu. Situs judi online. Lima terminal khusus di pojok ruangan, dipisah dengan sekat triplek.

Pak Sardi tidak mengelola. Tidak merekrut pemain. Tidak pernah masuk ke ruangan itu saat ada tamu. Dia hanya menyediakan tempat, membayar tagihan listrik, dan berpura-pura tidak tahu apa-apa ketika ada yang bertanya.

Setiap awal bulan ada amplop coklat tipis yang diselipkan di bawah pintu kamarnya. Cukup untuk mencicil rumah. Cukup untuk biaya sekolah.

Anak pertamanya masuk SMP tahun ini. Rangking tiga dari empat puluh siswa.

Kesembilan: Si Politikus.

Yang terakhir ini paling mudah ditemukan karena dia tidak bersembunyi.

Setiap musim kampanye, panggungnya berdiri di alun-alun kota dan lapangan desa bergantian. Tenda putih besar, sound system lima ribu watt, kursi plastik ratusan baris. Dan selalu ada: sorban putih yang dikenakan hanya pada momen tertentu — diambil dari tas oleh ajudan, dipasang di kepala tiga menit sebelum naik panggung, dilepas kembali segera setelah turun.

Ceramahnya tentang keadilan, tentang amanah, tentang pemimpin yang takut Tuhan dan mengabdi tanpa pamrih.

Aku pernah duduk di baris ketiga dari depan, di satu kampanye di kabupaten yang namanya tidak perlu kusebut. Mendengarkan satu jam penuh. Mencatat. Dia orator yang baik — ritme kalimatnya terukur, intonasinya terkontrol, jeda-jedanya ditempatkan di momen yang tepat supaya tepuk tangan terasa organik.

Pidatonya bagus. Benar-benar bagus.

Tapi aku sudah melihat dokumen anggaran program kerjanya dari sumber yang tidak ingin kusebutkan. Angka di laporan pertanggungjawaban resmi dan angka di bon-bon pengeluaran aslinya adalah dua angka yang berbeda. Selisihnya tidak sedikit — cukup untuk membiayai dua putaran kampanye berikutnya dengan nyaman.

Di akhir ceramah panjangnya itu, dia mengutip hadis tentang larangan korupsi dan ancaman siksa bagi pemimpin yang mengkhianati amanah rakyat. Lantang. Hafal. Tanpa membaca.

Sembilan. Sudah kuhitung, sudah kukonfirmasi, sudah kutuliskan.

Rencana awalku sederhana: buku investigasi. Cover hitam, judul merah, blurb yang tajam di sampul belakang. Dua belas tahun riset, sembilan subjek, ratusan halaman catatan. Aku sudah bicara dengan dua penerbit. Keduanya antusias. Keduanya bilang ini akan laku keras.

Satu dari mereka bahkan menyebut angka untuk uang muka.

Itu angka yang bagus.

Yang belum kuceritakan kepada siapapun, termasuk kepada kedua penerbit itu: aku tidak pernah meminta izin kepada siapapun yang kuceritakan di dalam buku ini.

Bukan karena tidak perlu secara etika. Bukan karena ada celah hukum yang membenarkan. Semata-mata karena jika kuminta izin, mereka akan menolak. Dan jika mereka menolak, aku tidak punya buku.

Kisah Pak Sardi — nama aslinya bukan Sardi, tapi jika kamu tinggal di kota yang sama kamu akan tahu siapa — aku tulis dengan detail yang cukup untuk dikenali oleh siapapun yang pernah melintas di depan warnet itu. Aku mempertimbangkan untuk mengubah lebih banyak detail. Lalu memutuskan tidak, karena detail-detail itu yang membuat ceritanya terasa nyata, dan buku yang terasa nyata yang laku.

Anak-anak mahasiswa yang dieksploitasi oleh Profesor itu — yang memilih berbicara kepadaku karena percaya aku bisa membantu mereka, atau setidaknya bisa membuat orang lain tahu apa yang terjadi kepada mereka — aku tidak menghubungi mereka lagi setelah sesi wawancara selesai. Tidak ada kabar. Tidak ada update. Tidak ada pemberitahuan bahwa cerita mereka akan terbit.

Aku menggunakan cerita mereka. Penderitaan mereka. Keberanian kecil mereka yang mau berbicara dalam ketakutan, di ruang-ruang kafe yang mereka pilih dengan hati-hati karena tidak mau bertemu kenalan.

Untuk bukuku.

Yang akan kujual.

Dengan nama besarku di sampul depan.

Haji Romli mencuri lima puluh gram per kilo. Si Ustaz mencuri kepercayaan orang yang berduka. Si Musisi mencuri melodi. Si Dermawan mencuri wajah anak-anak yang tidak mengerti kontrak. Si Pemimpin mencuri kesempatan. Si Akademisi mencuri penelitian. Si Budayawan mencuri warisan. Pak Sardi mencuri ketenangan tidurnya sendiri. Si Politikus mencuri mandat.

Aku mencuri semua cerita mereka.

Dan aku tidak akan memberikan apa-apa kembali kepada mereka. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena tidak terpikir untuk melakukannya sampai kalimat ini.

Sembilan bajingan sudah kutemukan.

Yang kesepuluh tidak perlu dicari.

Dia yang sedang memegang pena ini.

Belitung, 2026

Catatan: Wali Songo adalah sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa, dikenal karena kearifan, dedikasi, dan pengorbanan tanpa pamrih kepada masyarakat yang mereka layani. Cerpen ini bukan tentang mereka. Cerpen ini tentang apa yang terjadi ketika kita membalik cermin itu — dan menemukan bahwa yang paling berbahaya di antara para bajingan adalah yang tidak pernah mengaku bajingan.

Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen"

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi