Disukai
0
Dilihat
10
Tujuh Anak Bapakku
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tujuh Anak Bapakku

Sebelas November, pukul dua puluh tiga lewat sebelas menit. Pada menit itulah aku mati.

Tempatnya di perempatan jalan, lima ratus meter dari Rumah Sakit Umum Daerah. Sial betul. Orang-orang itu membakarku. Aku sempat berusaha menjelaskan, tapi siapa yang bisa menawar jadwal malaikat maut? Lagipula, di kampung kami, tidak ada yang bisa memilih bagaimana ia akan dilahirkan — maka tak ada pula yang bisa memilih bagaimana ia akan mati.

Ibuku wanita tua yang ringkih, tubuhnya melengkung ditimpa waktu, dan hampir tak pernah menyisakan sepetik menit pun untuk dirinya sendiri. Dari rahimnya yang malang lahir tujuh orang anak. Dan dari tujuh anak itu, tak seorang pun tumbuh menjadi apa yang diimpikan seorang ibu.

Pecundang. Begitulah orang-orang kampung menyebut kami.

Kakak sulungku lahir tujuh belas tahun mendahuluiku. Kelahiran pertama yang hampir menewaskan ibu. Sejak di dalam kandungan, dia sudah bertingkah bagai penyiksa. Tengah malam, janin itu memaksa ibu mengidam buah durian — padahal seluruh pasar tahu saat itu sedang kemarau panjang dan tak ada pohon durian yang berbuah. Ketika waktunya keluar, dia enggan melepaskan kehangatan rahim, memaksa ibu mengerang kesakitan semalaman penuh.

Di umur tujuh tahun, tak terhitung berapa kepala anak tetangga yang pecah atau berdarah dihantam tangannya. Para ibu di kampung selalu menarik anak-anak mereka masuk ke dalam rumah setiap kali melihat bayangan kakak sulungku melintas. Setamat SD, tempat berlabuhnya adalah pasar — menjadi preman kecil. Di usia dua belas, tubuhnya sudah menjadi peta bekas luka sabetan pisau, dan dia sudah berulang kali tidur di balik jeruji besi kantor polisi.

Terakhir kali aku mendengarnya, dia meloloskan diri tujuh kali dari tuduhan pembunuhan, sebelum akhirnya mendekam lama di lembaga pemasyarakatan.

Kakak kedua juga laki-laki. Berbeda dari si Sulung, dia anak yang pendiam dan manis. Tak pernah ia membuat ibu menangis. Rapor sekolahnya selalu bersih, nilainya tak pernah keluar dari sepuluh besar. Dia rajin membantu ibu menimba air dan menyapu halaman.

Tapi mungkin nasib kelam keluarga kami memang sudah diperam di dalam tanah rumah kami.

Saat kelas enam SD, tanpa alasan yang pernah dipahami siapapun, dia memukul kepala salah seorang temannya menggunakan sebilah kayu tebal. Sekali. Dua kali. Sampai anak itu berhenti bernapas.

Seketika itu juga, kakak kedua berteriak histeris. "Aku bukan penjahat! Aku bukan penjahat!" serunya memecah udara sore, sambil menghantamkan kayu berlapis darah itu ke kepalanya sendiri berulang-ulang hingga pingsan.

Sejak hari itu, dia tidak pernah sama lagi. Sebutan 'gila' menempel pada dahinya, menggantikan sebutan 'penjahat'. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam pasungan di pojok dapur kami yang sempit. Dua pergelangan kakinya borok, membusuk diapit papan kayu jati tua yang tak pernah dibuka.

Kakak ketiga seorang perempuan. Dia tidak tamat SD. Ketika usianya baru belasan, dia memilih ikut temannya ke Jakarta untuk menjadi pembantu rumah tangga. Ibu tak punya kuasa untuk melarang. Kami butuh uang untuk sekadar membeli beras. Dan jika jalan menuju bertahan hidup hanyalah lorong tikus yang becek, gelap, dan berbau busuk, maka lorong itulah yang harus kami jalani.

Kakak ketiga rajin mengirimkan uang. Tak banyak, tapi cukup untuk membiayai sekolah kami yang kecil-kecil.

Tiga tahun pertama, dia selalu pulang saat Lebaran bawa boks-boks kardus berisi hasil kerja kerasnya. Tahun pertama, dia membeli satu set kursi kayu buatan lokal dan gorden baru untuk rumah kami yang reot. Tahun kedua, dia membeli lemari cermin. Tahun ketiga, dia membawa pulang televisi 14 inci.

Tahun keempat, dia pulang tanpa membawa kardus maupun barang elektronik. Dia pulang menggendong seorang bayi merah, tanpa suami, tanpa pekerjaan lagi. Dan keesokan harinya, dia tak lagi pergi ke pasar kabupaten.

Kakak keempat juga perempuan. Mungkin dia satu-satunya anak bapak yang punya nasib sedikit lebih beruntung. Wajahnya manis, kulitnya hitam langsat ala perempuan pesisir. Dia dinikahi seorang guru muda dari sekolah sebelah — tentu saja setelah perutnya kelihatan membuncit duluan.

Mereka pindah ke desa pedalaman di Sumatra. Kadang dia pulang menjenguk ibu, menginap semalam, dan mereka berdua akan menangis diam-diam di dapur sepanjang malam sampai matanya sembap. Besok sorenya, suaminya datang menjemput.

Darah bengal kakak sulung rupanya menetes ke kakak kelima. Lidahnya emas, bicaranya manis, dan sekolahnya sempat tamat SMA. Dia necis dibanding kami yang lusuh. Profesinya makelar — mulai dari hasil panen, sepeda motor bodong, sampai akta tanah orang.

Tapi kepandaiannya menipu tak pernah membuatnya kaya. Miskin di keluarga kami seperti penyakit keturunan yang menurun lewat darah. Dia membawa kabur sertifikat tanah tetangga, diburu dua pihak sekaligus: polisi dan orang-orang berotot. Dia kabur meninggalkan istrinya yang kaya, dan diceraikan tanpa pernah dia tahu bagaimana proses hukumnya terjadi.

Dan kakak keenam... kakak perempuan yang paling kukasihi.

Di usianya yang ketujuh belas, dia mengakhiri hidupnya dengan meneguk semangkuk racun serangga. Tubuhnya ditemukan kaku di atas dipan kayu. Di samping jasadnya yang berbau menyengat, tertinggal selembar surat dengan tulisan tangan yang gemetar.

Surat itu mengungkap rahasia yang disimpan rapat di rumah kami selama lima tahun: Bapak telah memperkosanya berulang kali. Setiap kali rumah sepi, saat ibu sedang mencuci baju di rumah orang, saat kami adik-adiknya ketiduran — kecuali kakak kedua yang terpasung di pojok dapur — Bapak mendatangi tempat tidurnya, membekap mulutnya, dan memaksa tubuhnya.

Di baris terakhir surat itu, kakakku menulis:  

"Saya tak tahan lagi. Bukan hanya karena perbuatan Bapak, tapi karena pada akhirnya tubuh saya mulai menikmati siksaan itu. Biarlah janin haram ini tidak perlu melihat dunia. Saya bawa dia kembali kepada Penciptanya."

Setelah hari itu, rumah kami menjadi bangkai di mata warga kampung. Kami menjadi bahan gunjingan paling amis di warung-warung kopi.

Tapi Ibu... wanita itu luar biasa tabah. Tubuhnya yang kurus ringkih menanggung tumpukan penderitaan yang jika diurai benang-benangnya, cukup untuk menenun kain duka seukuran pemakaman kampung. Tukang becak yang menikahinya tiga puluh tahun lalu — lelaki yang telah merusak anaknya sendiri — tetap tinggal di rumah itu. Ibu pernah berniat bercerai, tapi orang-orang tua di kampung selalu berkata: "Bercerai itu dibenci Tuhan. Bersabarlah, kelak ada pahala besar untukmu."

Maka Ibu pun pulang, menelan kembali ludah kepahitannya, dan terus melayani Bapak.

Lalu ada aku. Anak ketujuh. Si bungsu berbadan bongsor yang di usianya yang ketiga belas sudah setinggi anak SMA.

Malam sebelas November itu, Ibu menyuruhku menyusul Bapak di pangkalan becak depan RSUD. Cucunya — anak dari kakak ketiga — sedang panas tinggi dan Ibu butuh Bapak untuk mengantarkan anak itu ke rumah mantri di kampung sebelah.

Aku berjalan melintasi perempatan jalan. Di sana, seorang perempuan berdiri di bawah remang lampu merkuri. Bajunya tak berlengan, roknya ketat membalut paha. Perempuan malam.

Saat aku melintasinya, perempuan itu berjalan searah denganku. Bahunya yang terbuka berkilat tertimpa cahaya jalan.

Dan mendadak... sekelebat ingatan subuh tiga tahun lalu menghantam kepalaku.

Waktu itu aku masih kelas empat SD. Terbangun subuh karena ingin kencing, aku melihat dua bayangan bergerak ritmis di balik gorden ruang tamu yang tak rapat. Sinar bulan menembus celah jendela, menimpa bahu kakak keenamku yang berkeringat. Bapak sedang menungganginya. Bibir kakakku tertutup rapat menahan jerit.

Saat itu aku tak paham apa yang terjadi. Rasa ingin kencingku mendadak hilang, berganti jantung yang berdebar kencang. Aku berjingkat kembali ke kamar, berbaring di atas dipan kayu yang berderit pelan saat Bapak akhirnya selesai dan kembali ke kamar Ibu.

Beberapa saat kemudian, kakak keenamku masuk ke kamar. Dia berbaring di sebelahku. Tubuhnya bergetar pelan, napasnya memburu. Sebagian rambutnya yang basah oleh keringat jatuh menutupi separuh wajahku — berbau harum sampo murah bercampur peluh dingin. Dan di bawah kain sarung, benda yang tadi ingin kugunakan untuk membuang air seni mendadak mengeras dan basah oleh cairan yang tidak berbau pesing.

Bayangan subuh itu... bau rambut basah kakakku... gerakan bahu dan paha perempuan malam yang berjalan di depanku malam ini... semuanya mendadak bercampur menjadi satu angin puting beliung di dalam kepalaku. Tanganku bergerak sendiri. Meraih pundaknya. Tanganku menjangkau dadanya.

Perempuan itu berteriak. Nanar. Kaget. "Ngapain kamu?!"

Aku terdiam, tapi jemariku tak bisa kukendalikan. Perempuan itu mundur, menjerit lebih keras: "Tolong! Ada pemerkosa!"

Dalam hitungan detik, orang-orang dari warung kopi di belakangku berlarian. Kerumunan massa datang bak sarang lebah yang diamuk.

Pukulan pertama mendarat telak di rahangku hingga bunyi gemertak gigi beradu dengan lidah. Pukulan kedua memecahkan hidungku, mengirimkan rasa asin darah hangat ke tenggorokan. Ujung-ujung sepatu bot dan sandal kulit menghantam tulang rusuk, dada, dan perutku yang meringkuk tak berdaya di atas aspal basah. Aku mencoba merintih bahwa aku baru tiga belas tahun, bahwa aku hanya anak-anak — tapi di mata massa yang kesetanan, aku hanyalah seekor monster laki-laki yang harus dibantai.

Lama-kelamaan, caci maki dan teriakan orang-orang itu tak lagi terdengar sebagai kata-kata. Semuanya melebur menjadi satu dengungan pekak yang bising dan ganas — seperti kawanan lebah raksasa yang menyerbu kepala. Dalam pandanganku yang buram oleh darah dan bengkak, aku sempat menangkap sosok Bapak di tepi jalan. Dia hanya berdiri mematung di samping becaknya, memegang setang besi dingin itu tanpa mengulurkan tangan sedikit pun.

Dengan sisa napas yang tersumbat darah, aku berbisik pelan ke arah bayangan itu: "Bapak... tolong..."

Bapak bergeming.

Lalu seseorang menyiramkan cairan berbau sengatan bensin ke sekujur tubuhku.

Dingin.

Seseorang pemuda melemparkan korek api yang menyala.

Fwoosh.

Api membungkus kulitku. Rasa sakitnya melampaui segala bahasa yang pernah diciptakan manusia. Tapi anehnya, hanya dalam beberapa hitungan detik, rasa sakit itu mendadak hilang. Suara jeritanku sendiri tak lagi terdengar.

Lalu aku menyadari satu hal: aku sudah tidak berada di dalam tubuh bongsor itu lagi.

Aku mengambang ringan, dua meter di atas jalan. Dari atas, aku melihat kerumunan massa mendadak bubar kocar-kacir ketika sirine mobil polisi meraung dari kejauhan. Perempuan itu sudah lari entah kemana.

Hanya tersisa bangkai hitam yang masih mengepulkan asap tipis di tengah perempatan jalan, dua orang polisi yang baru keluar dari mobil patroli, dan Bapak yang berdiri gemetar di samping becaknya — menatap jelaga tubuh anak bungsunya yang telah jadi abu.

Lalu matanya seperti mencari-cari sesuatu ke langit. Mencariku? Aku masih sempat menangkap air mata dari kepalanya yang tengadah tepat ke arahku. Sebelum akhirnya aku melayang dari sosok bapak yang makin mengecil.

Jojga, 2007

Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen".

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi