Disukai
0
Dilihat
22
Rumah yang Tak Lagi Menunggu
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Karet rambut itu terputus begitu Dewa menarik ujungnya.

Ia mengembuskan napas pelan.

Dewa mengambil karet rambut lain dari kotak kecil di meja rias. Jemarinya menyibak rambut Jasmin, membaginya menjadi tiga sebelum menarik karetnya pelan. Kali ini karet itu berhasil terpasang, meski ikatannya sedikit miring ke kiri.

Jasmin menatap dirinya di cermin tinggi yang menempel di pintu lemari. 

“Bagus nggak?” tanya Dewa.

Jasmin memiringkan kepala ke kanan, lalu ke kiri. Kucirnya ikut bergoyang.

“Kayak antena.”

Dewa mendecakkan lidah. “Ya sudah, sini. Ayah ulangi lagi.”

Jasmin segera menutup kepalanya dengan kedua tangan. Ia menggelengkan kepala.

“Katanya kayak antena.”

“Nggak apa-apa, Yah. Lucu.” Jasmin tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigi kecilnya.

Dewa merapikan poni Jasmin dengan ujung jari, lalu berdiri.

Di atas kasur, Desi meringkuk dalam posisi kaku. Napasnya naik turun tidak beraturan. Ia masih mengenakan pakaian kemarin dengan sisa riasan yang menempel di wajahnya. Tas selempangnya tergeletak di lantai di samping kasur.

“Yang, bangun.” Dewa menepuk pelan lengan istrinya.

“Hmm.” Desi mengernyit. Ia mengusap wajah dengan punggung tangannya. Perlahan matanya terbuka. 

“Jam berapa, Mas?”

Dewa melirik jam tangannya. “Jam tujuh kurang lima.” 

Kedua mata Desi membesar. 

“Kok nggak bangunin dari tadi sih, Mas?” Dengan cepat ia beranjak dari kasur menuju meja rias. “Aku ada meeting pagi.”

Dewa mengambil tas kerjanya di samping meja rias.

“Ya sudah, maaf.” Ia mengecek isi tas sekilas. “Mas kerja dulu sekalian antar Jasmin sekolah.”

“Jasmin, pamit dulu sama Mama.”

Jasmin menghampiri mereka lalu memeluk Desi.

“Wah… anak Mama cantik banget sih.” Desi tersenyum. Ia membalas pelukan Jasmin. Ia mengusap rambutnya pelan lalu mencium pipinya.

“Mama, Jasmin sekolah ya.” Ia tersenyum lebar.

“Iya, Sayang.” Ia mencubit pelan pipi putrinya.

“Pulang malam lagi hari ini?” Dewa memperbaiki posisi jam tangannya.

“Belum tahu, Mas. Kenapa?”

Dewa tidak langsung menjawab.

Desi membersihkan wajahnya dengan terburu-buru. Kapas putih di tangannya berubah keabu-abuan karena sisa maskara. Ia membuangnya, lalu mengambil yang baru.

“Enggak, nanya aja. Nanti sarapan dulu sebelum berangkat. Roti bakarnya sudah dingin.”

“Oke. Makasih, Mas.”

Dewa membungkuk. Ia mencium kepala Desi. “Mas berangkat dulu.” 

“Hati-hati.”

Dewa menggandeng tangan Jasmin lalu berjalan keluar kamar. Sebelum menutup pintu, ia menoleh ke arah Desi.

“Kalau bisa hari ini makan malam di rumah.”

“Aku usahakan, Mas.” Desi bergegas masuk kamar mandi. Pintunya menutup terlalu kencang.

Dewa menarik napas.

Ia menggeser tali tas di bahunya, melirik jam, lalu menutup pintu kamar.

***

Jam di pojok layar komputer baru menunjukkan pukul tiga lewat lima ketika Dewa menutup laptopnya. Rapat terakhir sore itu dipindah ke minggu depan. Sisanya bisa ia kerjakan dari rumah.

Dewa memarkir mobil di depan toko kue yang terletak tidak jauh dari kantor. Ia berjalan menuju toko itu lalu mendorong pintunya. Aroma mentega dan keju memenuhi ruangan.

Dewa menyusuri deretan kue di balik etalase. Pandangannya berhenti pada blueberry cheesecake di rak ketiga.

“Yang ini, Mbak.”

Penjaga toko itu melihat ke arah telunjuk Dewa. “Blueberry cheesecake. Mau berapa, Pak?”

“Satu, Mbak. Yang masih utuh.”

“Baik.” Penjaga toko mengeluarkan satu loyang utuh blueberry cheesecake dari rak. Ia meletakkannya di atas etalase. “Mau dikasih ucapan sekalian?”

Dewa tidak langsung menjawab. Ia memasukkan tangannya ke saku celana.

“Boleh, Mbak.” 

“Ucapannya apa, Pak?”

Dewa menatap contoh tulisan di atas etalase.

Happy anniversary aja.”

“Mau pakai nama juga nggak, Pak?”

Dewa menggeleng sekilas. Namun, ia berubah pikiran. 

“Dewa dan Desi.”

Pegawai itu tersenyum. “Baik. Ditunggu sebentar ya, Pak.” Ia membawa kue ke meja belakang dan mulai menulis di atas lempeng cokelat.

Dewa masih berdiri di depan etalase ketika ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu menekan menu panggilan. Nada tunggu terdengar dua kali.

“Halo, Mas.”

Suara Desi nyaris tenggelam di balik bunyi keyboard dan percakapan orang-orang di belakangnya.

Dewa melangkah mendekati ujung etalase yang lebih sepi.

“Pulang jam berapa, Yang?”

“Aku keluar kantor jam enam.”

“Oke. Mas sudah keluar kantor.”

“Kok cepet? Baru juga jam tiga.”

“Ada meeting yang diundur. Jadi bisa keluar duluan.”

“Oh…”

Dari seberang, seseorang memanggil nama Desi.

“Iya. File yang itu di-print aja semuanya.” Suaranya menjauh.

Beberapa detik berlalu.

“Halo? Mas?”

“Iya.”

Di balik jendela toko, langit mulai menggelap.

“Nanti langsung pulang aja. Takut hujan.”

“Iya, Mas.”

“Ya sudah. Hati-hati pulangnya.”

“Mas juga.”

Panggilan terputus.

Dewa menyimpan ponselnya kembali ke saku celana. Ia menumpukan kedua tangannya di atas etalase.

Beberapa menit kemudian, pegawai itu kembali dengan kue yang sudah disimpan ke dalam kotak.

“Untuk pembayarannya boleh pindah ke sini ya, Pak.”

Dewa berjalan ke meja kasir. Tangannya merogoh dompet dari saku belakang celana.

“Sekalian, Pak. Gratis.” Pegawai itu menyelipkan sekotak lilin kecil ke dalam kantong.

Dewa mengangguk. Ia langsung teringat suara Jasmin yang selalu menghitung terlalu cepat setiap kali meniup lilin.

“Selamat anniversary, Pak.”

Pegawai itu mendorong kotak kue ke arahnya.

Dewa menerima kotak itu dengan kedua tangan.

“Terima kasih.”

***

Pisau di tangan Dewa beradu pelan dengan talenan kayu.

Dewa mengaduk sup ayam kampung di dalam panci. Aroma kaldunya mulai memenuhi dapur. Di samping kompor, kantong belanja berisi sayuran masih tergeletak. Beberapa kuntum peoni masih terbungkus kertas cokelat. Dewa melepas talinya pelan sebelum merendam batangnya ke dalam air.

Jasmin duduk di salah satu kursi di meja makan tidak jauh dari dapur. Tangannya sibuk mewarnai buku gambarnya yang hampir penuh. Di seberangnya, laptop Dewa dibiarkan terbuka. Layarnya menyala setiap kali notifikasi masuk. Ia hanya melirik sekilas sebelum kembali memotong-motong sayuran.

“Ayah masak apa?”

“Sup kesukaan Mama.”

“Wangi ya, Yah.” Jasmin memejamkan mata saat menghirup aroma sup. Tangannya terhenti. “Min juga suka.”

“Sudah lapar?” Dewa menaburkan sedikit bubuk penyedap ke dalam sup, mengaduk pelan, lalu mencicipinya sedikit.

Jasmin mengangguk.

“Tadi nggak minta makan sama Mbak Titin?”

“Makan.” Jasmin mengangguk lagi.

Dewa tertawa kecil, nyaris tanpa bersuara.

“Sabar ya. Nanti kita makan sama Mama.”

Jasmin menelungkupkan kepalanya di atas meja.

“Nanti mau tiup lilin lagi nggak?”

“Mau!” Jasmin menjawab penuh semangat. Kakinya menggelantung di kursi.

Dewa membuka pintu kulkas. Pandangannya lebih dulu jatuh pada kotak cheesecake di rak kedua. Ia mengambil dua bungkus biskuit dan satu botol susu kemasan rasa stroberi dari pintu kulkas, lalu meletakkannya di depan Jasmin.

“Jajan ini dulu aja ya, Sayang.”

“Makasih, Ayah.” Jasmin membuka satu biskuit.

Dewa melirik jam di dinding. Jarum panjang hampir menyentuh angka tujuh.

“Kita tunggu Mama pulang.”

Jasmin mengangguk.

Dewa mengecup kepala putrinya lalu kembali ke dapur.

Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar. Dewa meraih ponselnya. Bukan dari Desi. Hanya satu notifikasi dari grup chat kantor.

***

Hidangan makan malam sudah tertata rapi di meja. Blueberry cheesecake diletakkan di depan kursi kosong di sebelah kanan Dewa. Vas berisi peoni berdiri di tengah meja.

“Kapan tiup lilin, Yah?”

“Tunggu Mama dulu.” 

“Mama lama.”

“Mungkin macet.”

Dewa melirik jam dinding. Sudah lewat pukul tujuh. Ia membuka layar ponselnya lagi. Tidak ada notifikasi apa pun. Ia membuka aplikasi chat. Dua centang abu-abu masih diam di bawah pesan terakhirnya. Ia menekan menu panggilan, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya suara Desi terdengar dari seberang.

“Di mana, Yang?”

“Di kantor, Mas. Masih meeting.” 

“Sampai jam berapa?” 

“Belum tahu.”

“Jasmin belum mau makan.” Dewa menatap Jasmin yang merengut di kursi.

Hening sebentar.

“Maaf ya, Mas. Bosku mendadak ngajak meeting.”

“Ya sudah.”

Dewa mengakhiri panggilan. Ia menghela napas pelan. Ia menatap blueberry cheesecake yang masih utuh.

“Jasmin makan duluan ya.” Ia menyendokkan nasi dan sup ke piring Jasmin.

“Ayah?”

“Ayah tunggu Mama pulang.” 

Jasmin mengangguk pelan.

Jasmin baru menyantap nasi dua sendok ketika ia tiba-tiba meringis. “Ayah… sakit.” Tangan kecilnya menekan perut.

“Kenapa, Sayang?” Dewa berjongkok di samping kursinya. Jasmin hanya mengernyit, tidak menjawab. 

Dewa hendak mengambil air minum ketika Jasmin akhirnya muntah di kursinya.

Jasmin mulai menangis.

Dewa langsung menggendong tubuh mungil putrinya itu. Ia mengambil jaket dan dompet dari kamar lalu melesat ke rumah sakit terdekat.

Setibanya di rumah sakit, Jasmin langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Perawat menarik tirai menutup bilik mereka.

“Tenang ya, Sayang.”

Dewa berdiri di samping ranjang. Satu tangannya menggenggam erat tangan kecil putrinya itu. Tangan satunya membuka layar ponsel, lalu masuk ke menu panggilan terakhir.

Desi.

Ia menekan tombol panggil sekali lagi.

“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.”

***

Dewa membaringkan tubuh Jasmin di tempat tidur. Ia mengganti baju Jasmin yang kotor terkena muntah. Dokter mengizinkan mereka pulang malam itu. Jasmin akhirnya tertidur setelah meminum obat yang diberikan dokter.

Dewa menatap wajah Jasmin yang masih sedikit pucat. Napasnya naik turun pelan. Ia mengelus kepala putrinya sebentar, mencium keningnya, lalu berjalan keluar menuju dapur. Langkahnya terhenti di meja makan. Meja itu masih sama seperti ketika ia meninggalkannya. Sup sudah dingin, blueberry cheesecake sedikit mencair, dan kuntum bunga peoni masih tegak di dalam vas.

Dewa melirik jam di dinding. Sudah lewat tengah malam. Namun, Desi belum pulang. Ia menghela napas panjang. Ia mulai menyimpan semua makanan ke dalam kulkas, merapikan meja makan, lalu membersihkan bekas muntah Jasmin yang tumpah di lantai.

Begitu selesai, Dewa duduk di meja makan. Kedua tangannya bertumpu di atas meja. Napasnya naik turun sedikit lebih cepat. Ia memutar-mutar cincin di jari manisnya. Sesaat kemudian ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata.

Setengah jam berlalu, Desi akhirnya pulang. Riasannya nyaris utuh.

“Belum tidur, Mas?” Ia menghampiri Dewa.

Dewa tidak menjawab. Matanya masih terpejam.

Desi melangkah ke dapur untuk mengambil air minum. Ia membuka pintu kulkas. Matanya berhenti di kotak blueberry cheesecake. Ia membuka kotak itu.

Happy Anniversary

Dewa & Desi 

Spontan ia menoleh ke arah Dewa.

“Mas…”

Desi berjalan kembali ke meja makan. Ia merangkul Dewa dari belakang lalu mencium keningnya.

Happy anniversary.

Desi duduk di kursi di samping Dewa. “Maaf aku telat, Mas.”

Dewa membuka kedua matanya. Ia menatap Desi cukup lama.

“Kamu nggak bisa dihubungi.”

Handphone-ku mati, Mas. Aku lupa bawa charger.”

“Kayaknya keluarga ini bukan prioritas kamu lagi.”

“Kok ngomongnya gitu sih, Mas?”

“Mas bisa maklumi kalau Mas bukan prioritas kamu.” Dewa memalingkan wajahnya. “Tapi tolong jangan begitu sama Jasmin.”

“Mas marah, ya?” Desi memegang lengan Dewa. “Tadi aku sudah mau pulang jam enam. Bosku yang mendadak ngajak meeting.”

Dewa menghela napas panjang.

“Ini bukan pertama kalinya kamu lebih mementingkan Bosmu daripada Jasmin.”

Desi terdiam.

“Kalau memang dari dulu Mas nggak mau aku kerja…”

Dewa memotong pelan. Ia menoleh kembali ke arah Desi.

“Bukan itu masalahnya.”

Dewa tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia memalingkan wajahnya lalu beranjak dari kursi menuju kamar.

Desi masih duduk di kursi. Ia mengembuskan napas panjang sambil melepaskan jepit rambutnya.

Beberapa menit kemudian Dewa keluar kamar membawa tas kerjanya dan satu tas jinjing.

“Mas… Mas mau ke mana?” Desi berdiri di hadapannya. Kepalanya sedikit mendongak, menatap lurus ke wajah Dewa.

“Ke rumah Ibu.”

“Nggak gitu, Mas. Kita bicarakan baik-baik.”

Dewa tidak menjawab. Ia melangkah melewati Desi.

“Mas… maaf.” Desi menahan Dewa dari belakang. 

Dewa berhenti melangkah.

Hening sesaat. 

“Mas capek.” Dewa kembali bersuara.

“Tadi Jasmin sakit.”

Dewa berhenti bicara sebentar.

“Di rumah sakit dia nangis manggilin kamu.” Matanya memanas. “Tapi kamu nggak ada.”

Desi melepas tangannya. Ia menggeser tubuhnya berdiri berhadapan dengan Dewa.

“Jasmin sakit apa, Mas?” 

Dewa tidak menggubris pertanyaan Desi. Ia kembali melangkah melewatinya.

Desi kembali menahannya, memeluk Dewa dari belakang.

“Jangan pergi.” 

Dewa kembali berhenti. Ia menghela napas panjang.

“Aku rindu istriku.” Suaranya sedikit bergetar. Ia menyentuh lengan Desi yang melingkari pinggangnya.

“Jangan tinggalin aku.” Desi menenggelamkan wajahnya di punggung Dewa. “Mas masih sayang aku, kan?” Ia semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Dewa. 

Dewa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara lagi. 

“Mas masih sayang kamu, Yang.” Ia melepaskan tangan Desi pelan. “Makanya Mas harus pergi.” 

Dewa melangkah menuju pintu. Membukanya pelan. Sebelum menutup pintu, ia menoleh kembali ke arah Desi. 

“Mas akan jemput Jasmin besok.” 

Klik.

Pintu tertutup.

Di luar, lampu teras masih menyala. Setiap malam, Dewa yang selalu mematikan lampu teras sebelum tidur. Tangannya terangkat ke arah sakelar. Ia berhenti beberapa detik, lalu menarik kembali tangannya.

Dewa melangkah pergi.

*****

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi