Disukai
0
Dilihat
4
Ikut Pulang
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam tidak pernah benar-benar tidur di kota metropolitan itu. Suara sepeda motor terdengar samar dari luar. Pedagang sate dan nasi goreng keliling bergantian melewati kosanku sambil menyuarakan dagangannya masing-masing.

Aku keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosokkan kepalaku dengan handuk. Rambutku masih setengah basah, menyisakan tetesan air di baju tidurku.

Aku menuju meja rias kecil di samping tempat tidur, bersiap untuk melakukan ritual malamku—perawatan wajah. Setelah seluruh rangkaian perawatan selesai, aku beranjak ke tempat tidur untuk berbaring. Saat ini tubuhku terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain tidur.

Aku meraih ponselku di meja rias. Jam di layar menunjukkan pukul 22:15. Tidak sampai beberapa detik kemudian, satu notifikasi muncul di layar.

You’ve got a match!

Belum selesai aku melihat notifikasi tersebut, beberapa pesan baru muncul lagi di layar.

Hadi: Halo, Lala.

Hadi: Aku Tinky Winky.

Hadi: Salam kenal!

Refleks alisku terangkat sebelah. Dengan malas, aku membalas pesannya.

Lala: Hai, Tinky Winky. Salam kenal.

Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul.

Hadi: Kamu asli Jakarta?

Lala: Bukan. Aku asli Surabaya, tapi kerja di Jakarta. Kamu?

Hening. Tidak ada balasan cukup lama. Aku menutup pesannya.

Aku membuka chat lain dan membalas beberapa pesan yang belum sempat kubalas sejak siang. Saat aku membalas chat dari seseorang yang profilnya lumayan menarik, satu pesan baru muncul dari Hadi.

Hadi: Foto profil kamu itu baru atau lama?

Lala: Foto baru. Kenapa?

Hadi: Temanku bilang, foto kamu gelap.

Aku sedikit mengernyitkan dahi.

Lala: Maksudnya?

Hadi: Temanku indigo. Waktu dia lihat foto kamu barusan, dia bilang ada sosok tinggi besar yang nutupin kamu.

Aku tidak membalas.

Hadi: Katanya itu bukan baru nempel sekarang.

Hadi: Ada yang ngirim. Dari masa lalu.

Aku membaca pesannya dua kali sebelum akhirnya membalas.

Lala: Apaan, sih? Nggak jelas!

Jempolku dengan cepat menekan tombol titik tiga di pojok kanan atas, lalu menekan menu yang muncul di layar.

Block and report this user.

“Aneh banget.” Aku menghela napas panjang.

Aku cepat-cepat mengunci layar ponsel, lalu meletakkannya kembali di meja rias.

***

Pagi itu aku hampir saja terlambat. Untungnya, jarak antara kosan dengan kantor tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sebenarnya. Hanya saja, hari ini aku memilih berangkat dengan ojek online.

Aku berlari kecil menuju mejaku.

“Jangan lari-lari, La! Gedungnya goyang lho.” Bu Siti memperingatkanku dari balik mejanya.

“Hehe. Maaf, Bude.”

Aku duduk di mejaku. Menekan tombol monitor, membuka aplikasi Microsoft Teams, lalu mengetik pesan baru untuk seseorang.

Karmila Putri: Fit, nanti makan siang bareng.

Aku melihat tanda Fitri sedang mengetik.

Fitria Kusuma: Masih pagi lho. Udah ngajak makan siang aja.

Karmila Putri: Ada yang mau aku omongin. Serius.

Fitria Kusuma: Apa tu? Mau kawin, ya?

Aku tertawa kecil.

Karmila Putri: Sayangnya, bukan itu. Nanti aja aku kasih tahu.

Fitria Kusuma: Ya udah. Oke.

Jari-jariku berhenti di atas keyboard beberapa detik.

Biasanya aku tidak pernah ambil pusing, bahkan tidak terlalu percaya hal-hal semacam itu. Namun, sejak menerima pesan aneh semalam, kepalaku mulai dipenuhi pertanyaan yang tidak penting. Aku mulai sibuk mengingat-ingat siapa yang mungkin pernah benar-benar membenciku.

Seingatku, aku tidak pernah benar-benar sengaja melukai siapa pun. Tidak di masa lalu, tidak pula di masa sekarang. Hanya konflik-konflik kecil pada umumnya.

Semasa kuliah dulu, aku pernah berselisih dengan seseorang di organisasi kampus. Ada juga mantan pacar yang hubungannya berakhir tidak terlalu baik. Namun, rasanya semua itu terlalu sepele untuk dijadikan alasan.

“Nggak mungkin dia, kan?” gumamku pelan.

Aku menutup chat Fitri dan memulai kegiatan pagi itu seperti biasa.

***

Jam makan siang, aku dan Fitri memilih makan di warung ayam geprek yang berada tepat di samping gedung kantor kami. Aku sengaja memilih meja di pojok agar tidak terlalu berisik.

“Mau ngomong apa, La?” tanya Fitri. Ia mulai menyisihkan sambal yang menempel di ayamnya.

“Jadi, gini… semalam ada orang yang chat aku di aplikasi We-Meet.” Aku menyeruput es jeruk di depanku. “Orangnya aneh.”

“Anehnya?”

“Masak tiba-tiba dia bilang foto aku gelap.” Aku menunjukkan foto profilku. Fitri memperhatikannya beberapa detik.

“Gelap apanya? Terang gitu kok.” Ia menyuap lalapannya.

“Ya, kan? Terus dia bilang ada yang nutupin fotoku. Sosok tinggi besar.” Aku berhenti sebentar. “Bahkan dia bilang ada yang sengaja naruh makhluk itu ke aku.” Aku melahap ayamku gemas.

Fitri terdiam beberapa detik. “Serius dia ngomong gitu?”

“Serius, Fit! Orangnya langsung aku block.” Aku mendengus pelan. “Sebel banget.”

“Kamu percaya nggak?”

“Awalnya aku nggak percaya sama sekali.” Aku mengaduk es jerukku pelan. “Tapi sekarang malah jadi kepikiran sendiri.”

“Jujur… aku agak merinding sih.” Fitri menyeruput es tehnya, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Mungkin itu cuma orang iseng aja. Dating apps kan banyak yang suka aneh gitu, La.”

Aku menghela napas panjang. “Iya juga, ya. Harusnya nggak usah aku pikirin.”

“Betul. Lupain aja.”

Kami kembali melanjutkan makan sambil mengganti topik pembicaraan ke hal-hal yang lebih ringan. Aku memaksakan diri tertawa menanggapi gosip divisi sebelah yang diceritakan Fitri.

Namun, di sela suapan ayam geprekku, tengkukku tiba-tiba terasa dingin. Bukan dingin karena es jeruk di depanku—lebih seperti ada hawa asing yang singgah terlalu dekat, lalu diam di sana cukup lama hingga selera makanku perlahan menghilang.

***

Langit Jakarta mulai menunjukkan wajah gelapnya. Matahari sudah terbenam beberapa menit yang lalu.

Sejak kembali dari makan siang, aku hampir tidak beranjak dari kursiku sama sekali. Tanganku sibuk mencoret-coret buku catatan, memilah kertas invoice dari berbagai divisi, lalu menyalin data-data ke komputer.

Sebentar lagi akhir bulan. Itu artinya, seluruh biaya operasional harus segera kulaporkan ke kantor pusat.

Aku melirik jam tangan.

17:35.

“Nggak bisa pulang teng-go deh.” Aku mengembuskan napas pelan sebelum kembali mengetik.

Aku melihat Fitri berjalan melewati mejaku.

“Ke mana, Fit?”

“Salat Magrib.” Fitri berhenti sebentar di depan mejaku.

“Bareng dong.” Aku langsung berdiri.

“Bukannya kamu lagi dapet, La?” Fitri mulai berjalan lagi menuju pintu keluar.

“Iya. Aku mau ke toilet. Kebelet banget.”

Aku berjalan mengikutinya.

Fitri berbelok ke arah musala, sementara aku masuk ke toilet perempuan yang berada tepat di seberangnya.

Begitu pintu toilet tertutup di belakangku, suasananya langsung terasa lebih sunyi. Semua bilik kosong.

Tanpa pikir panjang, aku segera masuk ke salah satunya.

Aku memang sudah menahan buang air kecil sejak beberapa jam lalu. Awalnya kupikir pekerjaanku bisa selesai lebih cepat.

Suara aliran air terdengar pelan di dalam bilik. Lalu, di sela suara itu, samar-samar terdengar helaan napas panjang dari arah sebelah.

Aku membeku beberapa detik.

“Fit?” panggilku ragu.

Tidak ada jawaban.

Hening.

Aku menahan napas.

Beberapa detik kemudian, suara yang sama terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Bulu kudukku perlahan berdiri.

“Jangan iseng, deh.” Aku berusaha untuk tetap tenang, meski suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. “Awas, ya. Aku siram lho.”

Cepat-cepat aku menekan tombol flush lalu membuka pintu bilik.

Kosong.

Hanya bilikku yang terbuka.

Aku langsung berjalan ke wastafel dan mencuci tangan tanpa mengangkat pandangan ke cermin di depanku. Namun, tepat saat aku meraih tisu, suara helaan napas itu terdengar lagi.

Panjang.

Pelan.

Seolah benar-benar ada sosok berdiri sangat dekat di belakangku.

Dadaku langsung sesak. Jantungku berdetak terlalu cepat sampai telingaku ikut berdenging.

Aku melempar tisu yang belum sempat kupakai lalu buru-buru keluar dari toilet. Tanganku bahkan sampai salah beberapa kali saat mendorong gagang pintu.

Begitu berhasil keluar ke lorong kantor yang terang, aku baru benar-benar bisa menarik napas.

***

Langit di hari Sabtu tidak terlalu cerah, tapi juga tidak terlalu gelap. Cukup untuk mengistirahatkan rambut dan kulitku dari hantaman sinar matahari siang itu.

Setelah aku menceritakan kejadian di toilet waktu itu kepada Fitri, kami berencana mengunjungi rumah salah satu kenalan ayahnya, Pak Hasan.

“Teman ayahku ada yang suka ngobatin orang gitu, La. Mending kamu diperiksa aja deh,” katanya suatu sore. “Biar ketahuan kalau kamu beneran ketempelan apa nggak.”

“Termasuk musyrik nggak sih itu, Fit? Aku nggak percaya dukun-dukunan,” jawabku hati-hati.

“Pak Hasan ngobatinnya pakai doa sama ayat Al-Qur’an gitu kok. Saudara jauh aku juga ada yang pernah diobati beliau. Sekarang udah sembuh.”

Aku berpikir sejenak.

Akhirnya, aku setuju dengan Fitri. “Ya udah deh.”

Aku menunggu Fitri di ruang tamu kosan. Ia berjanji untuk menjemputku jam satu siang. Tidak sampai lima menit, aku mendengar suara klakson motor dari depan. Fitri sudah menunggu di depan gerbang.

Aku beranjak keluar. Begitu aku naik di jok belakang, Fitri langsung melajukan motornya menuju rumah Pak Hasan.

Setibanya di rumah Pak Hasan, kami disambut wanita paruh baya dengan senyum merekah di wajahnya.

“Ayo, masuk sini, Nak. Bapak masih bantu yang lain sebentar.”

Matur suwun, Bu,” balas Fitri sopan.

Aku mengikutinya di belakang. Kami masuk lewat pintu samping, mengikuti wanita itu—istri Pak Hasan.

Tidak sampai lima belas menit, seorang pria paruh baya mengenakan baju koko putih lengkap dengan peci dan sarung kotak-kotak datang menghampiri kami di ruang tengah.

“Ayahmu ndak ikut to, Nduk?” sapa Pak Hasan.

“Nggak, Pak. Ayah ada urusan. Fitri disuruh bawa motor sendiri ke sini.” Fitri meletakkan cangkir tehnya.

Ya wis. Ini kawanmu itu?” Pak Hasan menoleh ke arahku.

“Iya, Pak. Namanya Lala.”

Aku tersenyum sedikit canggung. Pak Hasan ikut mengembangkan senyum tipis di wajahnya. Aku bisa melihat kantung matanya yang cukup dalam. Namun, tatapannya teduh.

“Coba, Nak Lala, bisa ceritakan ke Bapak apa yang terjadi?”

Aku diam beberapa detik.

“Jadi gini, Pak…” Aku mulai menceritakan kronologinya kepada Pak Hasan. Mulai dari pesan aneh yang kuterima sampai kejadian di toilet.

Selama aku bercerita, Pak Hasan lebih banyak diam. Sesekali beliau hanya mengangguk pelan sambil menatapku cukup lama, sampai aku mulai merasa tidak nyaman sendiri.

“Laki-laki itu bohong, Nak.”

Akhirnya Pak Hasan bersuara setelah beberapa saat.

“Nggak ada yang kirim apa-apa ke kamu.”

Aku menoleh sekilas ke arah Fitri sebelum kembali menatap beliau.

“Tapi…” Pak Hasan berhenti sebentar. “Memang ada yang ikut sama kamu.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Maksud Bapak?”

Pak Hasan tidak menjawab. Ia hanya membetulkan posisi pecinya pelan.

“Kamu wudu dulu aja, Nak.”

Masih dalam keadaan bingung, aku menurutinya.

Selesai wudu, Pak Hasan memintaku duduk bersila di lantai. Ia berlutut di belakangku, sementara Fitri dan istri beliau duduk tidak jauh di depan.

“Bismillah.”

Suara doa-doa pelan mulai terdengar di belakang punggungku.

Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Pak Hasan. Namun, beberapa kali tengkukku terasa dingin seperti dilewati embusan angin tipis.

Aku berusaha duduk diam, meski jemariku perlahan mulai menegang sendiri.

“Pak…” suaraku terdengar lebih kecil dari yang kubayangkan. “Dia masih ikut saya?”

Beberapa detik berlalu sebelum Pak Hasan menjawab.

“Kadang masih.”

Telapak tanganku langsung terasa lembap.

“Bisa dihilangin nggak, Pak?”

“Yang begitu bukan urusan manusia buat menghilangkan.” Nada suaranya tetap tenang. “Bapak cuma bantu pagerin saja.”

Aku menunduk pelan sambil meremas ujung celana denimku sendiri.

Aku kembali mendengar doa-doa dibacakan perlahan di belakangku. Lalu, sesaat kemudian, ada hawa dingin tipis yang seperti lewat begitu saja di belakang punggungku.

Singkat.

Tapi cukup membuat napasku tertahan.

“Sudah, Nak.” Pak Hasan menepuk pelan bahuku. “Jangan terlalu sering kosong pikirannya.”

Aku mengangguk pelan.

“Terima kasih, Pak Hasan.”

Setelah ngobrol sebentar, kami pun berpamitan pulang.

Jalanan Jakarta sore itu tetap ramai seperti biasa. Motor dan klakson bersahut-sahutan, lampu toko mulai menyala satu per satu, dan orang-orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing.

Namun, di atas motor Fitri, semuanya terasa aneh bagiku.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku benar-benar berharap laki-laki aneh di aplikasi itu hanya sedang mengerjaiku dengan lelucon yang tidak masuk akal.

Kemungkinan bahwa ada sesuatu yang diam-diam mengikutiku pulang terasa jauh lebih sulit untuk kutertawakan.

***

Sebelum pulang ke kosan, aku dan Fitri memutuskan makan dulu di warung mi ayam Bang Jo yang berada di gang samping kosanku.

Hari mulai gelap, tapi suasana jalanan masih ramai oleh suara motor dan orang-orang yang baru pulang dari aktivitas mereka.

“Gimana, La? Udah lega sekarang?” Fitri mengambil botol saus sambal, lalu menuangkannya ke mangkuk.

“Lumayan.” Aku mengambil selembar tisu, membersihkan sendok dan sumpit yang akan kugunakan.

“Brengsek banget itu orang. Padahal aku udah ngira-ngira, siapa yang sakit hati sama aku di masa lalu.” Aku menyeruput es teh manis di depanku. Berharap dinginnya bisa mengusir rasa kesal yang masih nyangkut di kepalaku.

“Yang penting semua udah jelas sekarang.” Fitri menimpali. 

"Aku tuh masih nggak nyangka, Fit. Ternyata pesan orang aneh itu nggak sepenuhnya bohong." Aku teringat ucapan Pak Hasan tadi.

Fitri tidak bersuara. Kepalanya sedikit miring ke samping, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Eh, La… aku baru ingat sesuatu.” Fitri tiba-tiba berhenti mengaduk mi ayamnya. “Waktu kita nonton film The Conjuring di kosan.”

“Iya. Kenapa tu, Fit?” Aku melahap satu bakso kecil.

“Aku kan nginap di kosan kamu tu karena udah kemalaman. Nah… aku yakin banget ada yang narik selimut aku tengah malam, La.”

“Serius, Fit?”

“Serius. Dua kali selimutku ditarik dari bawah. Yang kedua paling terasa sih. Aku sampai kebangun.”

Aku berhenti mengunyah. Mendadak bakso di mulutku terasa hambar.

Aku menatap Fitri lebih lama kali ini. Wajahnya terlalu serius untuk menceritakan hal konyol semacam ini.

“Terus kenapa kamu nggak pernah cerita?”

“Karena aku pikir itu nggak penting. Tapi, setelah apa yang dibilang Pak Hasan tadi, mungkin aja kejadian itu masih ada kaitannya sama yang ngikutin kamu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Seketika aku jadi malas membayangkan suasana kosan malam ini. Padahal biasanya, tempat itu selalu jadi tempat paling nyaman untuk pulang.

***

Hari ini libur tanggal merah.

Aku memutuskan untuk mengunjungi Tante Rina di Purwakarta. Selain untuk bersilaturahmi, aku juga ingin mencari tahu hal gaib yang kualami dari sisi lain.

“Assalamualaikum, Tante.” Aku membuka gerbang.

Tante Rina sudah duduk di kursi depan. Sepertinya sengaja menungguku datang.

“Wa’alaikumussalam. Sini masuk, Neng.”

“Si Kembar mana, Tante?” Aku mencium tangannya.

“Lagi main di taman komplek.” Tante Rina menggiringku masuk ke dalam rumah.

“Lala bawa brownies kesukaan Si Kembar.” Aku meletakkan bingkisan yang kubawa di atas meja makan.

“Wah… hatur nuhun, Neng. Repot-repot segala.”

Aku dan Tante Rina melanjutkan obrolan di ruang makan. Aku menceritakan kejadian-kejadian yang kualami. Di antara semua anggota keluarga besarku, hanya Tante Rina yang memiliki kelebihan semacam itu.

“Jadi, gitu ceritanya, Tante. Menurut Tante, gimana?” Aku mengambil satu potong tahu isi, lalu memakannya.

Tante Rina tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku beberapa saat, seolah sedang memperhatikan sesuatu yang tidak bisa kulihat sendiri.

“Sekarang udah nggak seberat dulu kok,” katanya akhirnya pelan.

Aku berhenti mengunyah.

“Maksud Tante?”

“Ya… cuma masih ada sisa-sisa energinya aja sedikit.”

Aku menatap Tante Rina lebih lama.

“Coba sekarang Tante tanya,” lanjutnya, “berapa banyak laki-laki yang coba deketin Lala akhir-akhir ini?”

Aku mencoba mengingat.

“Hmm… dua-tiga orang deh.”

“Ada yang berhubungan sampai lama?”

Aku tertawa kecil.

“Boro-boro, Tante. Biasanya kalo udah ketemu satu-dua kali, mereka udah nggak ngehubungin Lala lagi.”

“Nah… itu.” Tante Rina tersenyum kecil, tapi matanya tetap serius menatapku.

“Kadang ada sesuatu yang terlalu nyaman sama seseorang sampai nggak suka kalau ada orang lain terlalu dekat.”

Aku mengernyit pelan.

“Maksudnya, Tante?”

Tante Rina tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil gelas tehnya pelan sebelum kembali menatapku.

“Pernah nggak Lala merasa orang-orang yang awalnya dekat sama Lala, mendadak berubah tanpa alasan jelas?”

Pertanyaan itu membuatku diam lebih lama.

Mendadak beberapa wajah muncul begitu saja di kepalaku. Laki-laki yang awalnya terlihat antusias, lalu perlahan menjauh. Obrolan yang tadinya hangat, tiba-tiba berubah canggung tanpa alasan yang benar-benar kupahami.

Selama ini kupikir semuanya memang tidak cocok saja.

“Kadang,” lanjut Tante Rina pelan, “nggak semua orang yang lihat kita benar-benar melihat kita apa adanya.”

Entah kenapa, bulu kudukku perlahan berdiri.

Untuk pertama kalinya, semua hubungan singkat itu terasa aneh di kepalaku. Aku jadi tidak yakin apakah selama ini aku memang dijauhi… atau ada sesuatu yang diam-diam membuat orang lain menjauh.

“Sekarang buat bersihin sisa energinya, Lala coba rukiah mandiri aja, Neng.”

“Caranya, Tante?”

“Sebelum tidur, Lala ambil air minum satu gelas. Terus Lala baca aja surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, masing-masing tiga kali. Baru deh diminum rutin setiap hari.”

“Iya deh, Tante. Nanti Lala coba.”

***

Hari-hari setelah kunjunganku ke rumah Tante Rina berjalan seperti biasa.

Aku kembali disibukkan dengan angka-angka, budgeting, laporan pengeluaran, kertas invoice, dan email permintaan reimbursement dari berbagai divisi.

Sepulang kerja tadi, aku pergi ke toko buku bersama Fitri. Aku sedang mencoba menumbuhkan kembali keinginanku untuk membaca. Bukan untuk mengalihkan pikiranku dari hal-hal gaib yang terjadi, melainkan untuk mengisi kesendirianku dengan cara yang lebih berguna.

Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah yang terbalut handuk, lalu melakukan ritual perawatan kulit sebelum tidur seperti biasanya.

Aku beranjak dari meja rias, mengambil segelas air, lalu membacakan surah-surah Al-Qur’an yang diajarkan Tante Rina.

Sudah dua minggu lebih aku melakukan rukiah mandiri.

Entah ini hanya sugesti atau bukan, aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Pikiranku tidak lagi dipenuhi hal-hal menakutkan yang berlebihan. Kepalaku terasa lebih… enteng.

Tidak lama, ponselku berbunyi. Satu notifikasi baru muncul di layar secara otomatis. Aku meraih ponselku, lalu membacanya.

Your We-Meet Premium subscription will expire soon!

Aku menatap layar ponselku beberapa detik lebih lama.

“Cukup sampai di sini aja, ya,” gumamku.

Dengan cepat jempolku menekan menu pembatalan berlangganan.

Aku meletakkan kembali ponselku di dekat bantal sebelum membuka buku yang tadi kubeli.

Baru satu bab selesai, ponselku berbunyi lagi. Aku meraihnya pelan. Satu pesan baru diterima.

Alvian: Gimana hunting bukunya?

Refleks senyum kecil muncul di bibirku.

Alvian bekerja di gedung yang sama denganku. Kantornya ada di lantai sebelas. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di warung ayam geprek waktu jam makan siang minggu lalu. Aku menyadari pria berkacamata itu sesekali curi-curi pandang ke arahku. Sampai akhirnya kami berkenalan. 

Meskipun kami kenal belum lama, entah kenapa aku merasa cukup nyaman ngobrol dengannya.

Aku membaca ulang pesan dari Alvian sekali lagi sebelum akhirnya membalas.

Entah kenapa, malam itu aku tidak lagi merasa perlu menyalakan televisi hanya untuk menemani tidur.

Kamarku masih sama. Dinding sempit yang sama, lemari kayu yang sama, dan suara kendaraan dari jalan depan yang masih terdengar samar sampai ke dalam.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang ditemani oleh sesuatu yang lain.

*****




P.S: Kalau kamu suka cerita ini, follow RA Senja untuk karya berikutnya. 🙂🙏🏼

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)