Disukai
0
Dilihat
11
Rumah yang Hampir Retak
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suasana kafe cukup ramai siang itu. Suara mesin kopi berdesis di balik meja kasir, diselingi obrolan beberapa pengunjung dan dentingan sendok beradu cangkir. Bimo duduk sendirian di salah satu meja dekat jendela, kepalanya terkulai, matanya terpejam. Ia tertidur sambil memeluk tas kecil di dadanya, kelelahan setelah rapat yang molor sampai siang.

Di belakang kursinya, Amel berjongkok. Ia sudah menunggu momen ini sejak tadi, sejak melihat Bimo duduk dan lama-lama matanya makin berat. Tangannya menggenggam sebatang tongkat panjang dengan kail kecil di ujungnya, benda yang ia beli diam-diam dari toko pancing dekat rumah dua hari lalu. Matanya terkunci pada sesuatu yang menyembul dari saku belakang celana Bimo.

SEBUAH KUNCI KAMAR HOTEL.

Kalau kunci itu berhasil diambil sebelum Bimo terbangun, pikirnya, Bimo tidak akan punya alasan lagi untuk pergi menemui perempuan itu hari ini.

Amel menjulurkan kail perlahan. Ujung kail hampir menyentuh gantungan kunci. Amel menahan napas dan seketika tangannya menarik tongkat. Kunci bergerak keluar setengah sentimeter. Amel menyeringai puas.

Tiba-tiba, Bimo menggeser posisi duduk. Amel membeku. Bimo masih tertidur. Amel kembali mendekat. Kail berhasil mengait gantungan kunci. Amel menariknya perlahan. Namun, Bimo tiba-tiba menggaruk bagian belakang celananya. Kunci ikut bergeser.

Amel refleks menarik tongkat dan ia gagal lagi meraih kunci kamar hotel itu. Amel menghela napas kesal.

"Aku pasti bisa," katanya sambil menganggukkan kepala.

Namun, Bimo kembali menggaruk bagian belakang celananya. Amel langsung menarik kepala menjauh. Sementara itu, Bimo yang masih terpejam menyeka air liur yang keluar dari sudut bibirnya.

Amel menyipitkan mata. Ia mencoba sekali lagi. Kali ini, kail berhasil mengait kunci. Amel tersenyum lebar.

Saat hendak menarik, tiba-tiba, BRAK! Seorang wanita dengan lipstik merah menepuk meja Bimo dengan keras hingga membuat Bimo terbangun. Amel kaget sampai hampir menjatuhkan tongkat.

"Hah?!" ucap Bimo terkejut.

Di samping meja sudah berdiri wanita bernama Rosa. Rosa menunjuk ke arah belakang Bimo.

"Pak, hati-hati. Kuncinya mau diambil!"

Bimo spontan memegang saku belakang celananya. Ia menghela napas lega karena kunci kamar hotel masih berada dalam saku celananya. Ia langsung menoleh ke belakang. Amel masih jongkok sambil memegang tongkat berkail. Keduanya saling menatap. Hening. Amel perlahan menyembunyikan tongkat di belakang tubuh.

"Amel?" kata Bimo mengangkat salah satu alisnya. Ia bingung kenapa istrinya tiba-tiba berada di hadapannya, apalagi dengan tongkat pancing di tangan.

"Heheh..." jawab Amel yang hanya bisa tertawa canggung.

Bimo berdiri. Amel ikut berdiri sambil memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kamu ngapain?" tanya Bimo.

"Aku?" Mata Amel melirik ke segala arah, seolah mencari alasan yang tepat untuk menjawabnya.

Sementara Amel mencari jawaban, mata Bimo sudah tertuju pada tongkat yang berada di tangan Amel.

"Itu buat apa?"

Amel melihat tongkatnya. Kemudian melihat Bimo.

"Buat... mancing," ucap Amel gagap.

"Mancing di kafe?"

Amel menunjuk ke arah meja.

"Ikannya ada..." jawab Amel sambil memaksakan senyumannya.

Sekali lagi, Bimo menaikkan satu alisnya, semakin bingung. Sementara itu, Amel tiba-tiba menunjuk saku belakang Bimo.

"Kuncinya mana?" tanya Amel yang kini tidak ingin basa-basi lagi.

Tangan Bimo refleks menutup saku belakang.

"Kenapa kamu nanya kunci?"

"Karena aku tahu kamu punya kunci kamar hotel." Amel menatap tajam suaminya.

Mulut Bimo seolah ditutup lakban, sulit berbicara. Ia terdiam beberapa detik. Sementara itu, Amel yang melihat respons Bimo, melipat kedua tangannya dengan kesal.

"Dan aku juga tahu kamu kasih kunci itu ke perempuan lain," tuduhnya lagi.

Rosa saling pandang dengan Bimo. Tingkah laku mencurigakan mereka membuat Amel semakin tak suka.

"T-tapi, Bu, Pak Bim..."

Mata Amel membelalak saat Rosa membuka mulut. Amel menatapnya tajam.

"Kamu jangan ikut-ikut!" ucap Amel dengan nada yang ditinggikan.

Rosa mundur selangkah. Sementara itu, Amel mengambil ponsel miliknya di saku celana dan mengarahkannya ke Bimo. Sebuah potret Bimo memberikan kunci kamar kepada Rosa terlihat jelas di layar, foto yang diambilnya sendiri dua hari lalu.

"Ini apa coba?" Amel menyodorkan layar ponsel ke wajah Bimo.

Bimo terdiam melihat fotonya sendiri. Ia baru sadar, selama ini istrinya sudah tahu.

Ingatan Amel kembali ke dua hari sebelumnya, saat ia sedang kencan bulanan dengan Bimo di kafe yang sama. Saat itu Amel pergi mengambil dua gelas minuman, dan sepulangnya, langkahnya terhenti karena melihat pantulan di kaca besar kafe: Bimo dan seorang perempuan asing berdiri berdekatan di dekat mobil, saling tersenyum.

"Pasti itu karyawan suamiku," gumamnya waktu itu, mencoba tenang. "Lumayan, nambah kenalan," lanjutnya sambil melangkah mendekat.

Namun begitu jaraknya semakin dekat, Amel buru-buru bersembunyi di balik tiang tebal saat melihat Bimo mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan menyerahkannya pada perempuan itu. Mata Amel membelalak. Itu kunci kamar hotel. Ia buru-buru menaruh dua gelas minuman ke meja terdekat, mengambil ponsel, dan memotret keduanya diam-diam.

"Ini kunci kamar hotelnya," kata Bimo waktu itu.

"Oke, Pak."

"Kamu ke sana duluan."

Perempuan itu, yang belakangan Amel tahu bernama Rosa, mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Nanti Bapak nyusul?" tanya Rosa dengan nada suara yang menggelikan bagi Amel yang mendengarnya sambil mengepalkan tangan.

"Iya," jawab Bimo tersenyum tipis.

Amel menutup mulutnya sendiri, menahan napas.

"Hotel?" gumamnya dengan ekspresi curiga.

"Oh iya. Jangan sampai istri saya tahu, ya," ucap Bimo waktu itu, tanpa sadar sedang diawasi. "Kalau dia sampai tahu sekarang, berantakan semua."

"Tenang, Pak. Saya nggak akan bilang apa-apa," kata Rosa dengan yakin.

"Kuncinya nanti balikin ke saya."

"Siap."

Amel menggenggam tangannya erat-erat waktu itu. Air matanya nyaris jatuh. Ia berbalik dan pergi tanpa menyapa siapa pun, sementara Bimo sama sekali tidak menyadari istrinya baru saja berada beberapa langkah darinya.

Sejak hari itu, Amel diam-diam mengawasi gerak-gerik Bimo. Ia menunggu waktu yang tepat, sampai hari ini, saat kunci itu kembali berada di saku Bimo dan Rosa muncul lagi di kafe yang sama. Amel memutuskan tidak akan membiarkan Bimo pergi ke hotel itu lagi, apa pun caranya, sekalipun harus memancing kunci itu keluar dari saku suaminya sendiri.

Kembali ke masa kini, Bimo masih terpaku menatap foto di layar ponsel Amel.

"Amel, ini nggak seperti yang kamu pikir," ucap Bimo, berusaha menjelaskan.

"Nah!" Amel menunjuk Bimo. "Kalimat itu! Orang selingkuh pasti bilang begitu!"

Bimo mengusap wajah.

"Aku nggak selingkuh," katanya membela diri.

"Terus kunci kamar hotel itu buat apa?" tanya Amel.

Bimo membuka mulut. Namun, sebelum menjawab, Amel mengangkat tangannya.

"Nggak usah. Aku sudah tahu jawabannya," jelasnya.

Bimo mengernyit.

"Kamu sama dia mau ke hotel, kan?" tanya Amel dengan nada mengintrogasi.

"Mbak, saya bisa jelasin..." ucap Rosa, tapi belum selesai bicara sudah dipotong Amel.

"Nggak perlu!"

Amel mengambil tas yang berada di kursi belakang meja Bimo.

"Kalau memang kalian mau hotel-hotelan, silakan!"

Amel berbalik pergi. Bimo terlihat panik dan berusaha mengejar Amel.

"Amel!" teriak Bimo sambil menarik tangan Amel.

Digenggam begitu erat oleh Bimo, Amel menoleh dan menatap tajam suaminya.

"Kamu salah paham!"

"Aku berharap aku memang salah, tapi buktinya udah jelas. Lepasin!" Amel menarik tangannya lepas dari genggaman Bimo.

Matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka resleting tasnya. Ia mengambil selembar kertas dari dalamnya, sesuatu yang sudah ia siapkan sejak dua hari lalu, sejak malam ia memandangi foto itu berulang-ulang sampai matanya sembab sendiri dan ia memutuskan pergi ke notaris keesokan paginya, sendirian, tanpa memberi tahu siapa pun. Bimo melihat kertas tersebut. Wajahnya berubah.

"Itu apa?" tanyanya, suaranya mulai bergetar.

Amel menatap Bimo.

"Surat perceraian," kata Amel dengan suara bergetar.

Bimo membeku.

"Mbak..." Rosa kembali bersuara, tapi suaranya diabaikan oleh Amel.

"Aku kasih kamu kesempatan sampai malam ini." Amel memasukkan kembali kertas itu ke dalam tas. "Kalau kamu memang nggak selingkuh, buktikan. Kalau nggak, aku yang akan urus semuanya sendiri."

"Aku bisa jelasin." Bimo menatap Amel dengan penuh harapan.

"Nggak sekarang." Amel berbalik meninggalkan Bimo.

"Amel!"

Bimo hanya bisa melihat punggung istrinya semakin menjauh. Rosa yang melihat kekacauan di mata Bimo mendekat ke arahnya.

"Pak... kejutannya malah jadi begini."

Bimo menghela napas panjang, menatap arah kepergian Amel. Ia tidak boleh membiarkan semuanya berantakan begitu saja.

"Kita harus selesaikan dekorasinya sekarang juga," katanya pada Rosa. "Sebelum semuanya benar-benar terlambat."

---

Sore harinya, meski hatinya masih kacau, Amel tidak bisa diam saja di rumah menunggu jam malam yang sudah ia tentukan sendiri. Ia duduk di sofa ruang tamu, menatap layar ponsel yang gelap, lalu menyalakannya lagi hanya untuk melihat foto pernikahan mereka berdua yang terpasang sebagai wallpaper. Ia ingin tahu, apakah Bimo akan benar-benar berhenti, atau tetap nekat menemui Rosa lagi meski sudah tertangkap basah.

Ia mengambil kunci mobil, mengendarainya diam-diam mengikuti arah yang biasa dilewati Bimo. Langit sore itu jingga kemerahan, membuat bayangan gedung-gedung memanjang di sepanjang jalan. Amel akhirnya berhenti tidak jauh dari sebuah hotel, hotel yang sama dengan yang selama ini ia curigai. Dari kaca mobil, Amel melihat mobil Bimo terparkir di depan lobi. Jantungnya berdebar kencang.

Amel turun perlahan, mengendap-endap mendekat sambil menundukkan badan, lalu bersembunyi di balik pilar dekat pintu masuk hotel begitu melihat Bimo dan Rosa berdiri berdua tidak jauh dari sana, tampak sedang membicarakan sesuatu dengan serius. Amarahnya kembali menyala. Namun kali ini ia menahan diri, memutuskan untuk mendengarkan dulu sebelum bertindak, siapa tahu ada bukti lain yang lebih kuat. Ia menempelkan punggung ke dinding pilar, menajamkan telinga.

"Saya benar-benar nggak nyangka bakal sampai begini," kata Bimo kepada Rosa.

Amel yang mendengar itu mengerutkan keningnya. Ia juga melihat Rosa yang menundukkan kepalanya.

"Maafin saya, Pak."

Bimo menggeleng.

"Bukan salah kamu."

Amel mempertajam pendengarannya dan bergumam, "Masih sempat belain dia..."

"Kalau dari awal saya tahu bakal bikin rumah tangga Bapak berantakan, saya nggak mau ambil pekerjaan ini." Rosa menjelaskan dengan nada bersalah.

"Saya yang minta kamu kerjakan semuanya."

Amel menatap Bimo, tidak mengerti.

"Tapi Bapak juga nggak salah. Bapak cuma mau kasih kejutan."

Amel terdiam mendengarnya.

"Kalau saya nggak pinjam kunci kamar hotel itu dari Bapak tadi, habis dari kafe, saya nggak mungkin bisa masuk dan cek dekorasinya."

Mata Amel membesar mendengarnya. Ia perlahan mendekat ke arah keduanya, lupa kalau seharusnya ia bersembunyi.

"Dekorasi?"

Bimo dan Rosa sama-sama menoleh ke sumber suara. Bimo langsung kaget.

"A-Amel?!"

Amel berdiri di depan mereka. Map berisi surat perceraian masih ada di tangannya.

"Dekorasi apa? Dan kenapa kamu bilang aku nggak boleh tahu?" tanya Amel sekali lagi.

Bimo menelan ludah. Sementara itu, Rosa tersenyum canggung.

"Karena itu mau dijadiin kejutan, Mbak."

Amel mengerjap.

"Kejutan?"

Bimo akhirnya menghela napas. "Buat anniversary kita," jawabnya.

Amel terdiam. Segala kecurigaannya tentang Bimo yang berselingkuh ternyata salah. Bimo mengambil ponselnya, membuka galeri. Di layar terlihat foto kamar hotel yang masih kosong, lalu foto beberapa dekorasi, balon, bunga, lilin, dan tulisan besar,

HAPPY ANNIVERSARY, Amel & Bimo

Amel memandang layar. Wajahnya perlahan berubah, dari curiga menjadi malu. Ia melihat map di tangannya, kemudian melihat Bimo.

"Jadi..."

Bimo mengangguk.

Amel menunjuk ke Rosa.

"Dia..."

"Dekorator," jelas Bimo.

Amel menunjuk kunci hotel yang berada di tangan Rosa.

"Kunci itu..." Amel mengejanya dengan pelan.

"Buat masuk kamar dan dekorasi," jawab Rosa tanpa ragu.

Amel menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Ya Allah..."

Bimo menahan senyum. "Sekarang kamu masih mau cerai?" tanya Bimo.

Amel perlahan menurunkan tangan. Ia melihat surat perceraian, kemudian melihat Bimo. Amel meremas map tersebut.

Sesaat, ia teringat malam-malam ia menahan tangis sendirian sambil menatap foto di ponselnya berulang-ulang, dan pagi ia berjalan ke notaris tanpa bilang siapa-siapa. Kalau saja ia bertindak satu hari lebih cepat, semua ini mungkin sudah selesai dengan cara yang jauh lebih menyakitkan, dengan cara yang tidak bisa diperbaiki lagi. Amel menarik napas panjang, menahan campuran rasa lega dan malu yang tiba-tiba menyerbu dadanya.

"Aku..." Amel menghela napas. "Kayaknya..." Amel merobek surat perceraian itu, pelan-pelan, seolah masih setengah tidak percaya tangannya sendiri melakukan itu.

"Nggak jadi."

Bimo tersenyum lega, tapi matanya masih menyimpan tanya.

"Serius?"

Amel mengangguk, lebih pelan kali ini, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri, bukan cuma menjawab Bimo.

"Aku masih sayang kamu."

Bimo membuka tangan. Amel langsung berlari dan memeluknya. Bimo membalas pelukan. Sementara Rosa yang berdiri di samping mereka melihatnya dengan wajah lega.

Amel tiba-tiba melepaskan pelukan. Ia berbalik kepada Rosa.

"Tapi..."

Entah kenapa, Rosa kembali tegang.

"Aku juga harus minta maaf sama kamu."

Rosa menghela napas lega karena bukan sesuatu yang parah.

"Nggak apa-apa, Mbak."

"Aku tadi manggil kamu pelakor."

"Saya sudah biasa dimarahi klien," kata Rosa sambil tersenyum.

Amel semakin malu.

"Terus aku juga nyoba nyolong kunci hotel dari saku suamiku pakai kail."

Rosa menahan tawa. Bimo menatap Amel dengan gemas.

"Pantesan kemarin pantat aku gatal." Bimo tertawa, semakin mencairkan suasana.

Amel langsung memukul lengan Bimo.

"Ih!"

Bimo tertawa. Begitu pun Rosa, dan Amel akhirnya ikut tertawa. Bimo merangkul Amel.

"Tapi ada satu masalah," ucap Bimo, membuat Amel menatapnya.

"Apa?"

Bimo menunjuk kertas perceraian yang sudah berserakan di jalan.

"Kejutan anniversary-nya belum jadi."

Amel tersenyum.

"Kalau begitu..." Amel mengambil salah satu potongan kertas. "Kita lanjut dekorasinya bareng."

Bimo mengangguk.

"Deal!"

Amel menggandeng tangan Bimo. Mereka melangkah bersama menuju pintu masuk hotel. Rosa mengikuti dari belakang.

"Pak, kalau begitu saya tetap dibayar, kan?"

Bimo berhenti. Ia menoleh ke arah Rosa.

"Tetap."

Rosa tersenyum lega.

"Syukurlah. Saya kira gara-gara surat cerai, saya yang kena potong."

Amel dan Bimo saling pandang, lalu tertawa. Mereka melangkah masuk ke hotel bersama-sama, meninggalkan sisa-sisa surat perceraian yang tercecer di trotoar.

Pintu lift terbuka. Amel menyandarkan kepala ke bahu Bimo sepanjang perjalanan naik, sementara Rosa berdiri di sudut sambil sibuk mengecek daftar dekorasi di ponselnya. Ketika pintu kamar akhirnya dibuka, balon-balon dan bunga yang tadinya disiapkan sebagai kejutan sudah agak layu ditinggal semalaman, tapi tulisan besar di dinding, HAPPY ANNIVERSARY, Amel & Bimo, masih berdiri tegak seperti semula.

Amel berdiri diam sejenak di ambang pintu, memandangi ruangan itu. Satu kejutan anniversary yang hampir gagal, tapi akhirnya tetap jadi kenangan yang tidak akan mereka lupakan, bukan karena dekorasinya sempurna, melainkan karena hampir saja semuanya benar-benar retak.

~ TAMAT ~

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi