Aku baru menyadari sesuatu tentang cermin.
Ia tidak pernah berbicara. Tidak pernah membela diri. Tidak pernah menjelaskan apa pun. Ia hanya memantulkan apa yang berdiri di hadapannya. Tapi anehnya, dari cermin yang sama, wajah seseorang bisa tampak berbeda tergantung siapa yang sedang menatapnya.
Mungkin bukan cerminnya yang berubah.
Mungkin cara kita berdirilah yang berbeda.
Aku mulai menyadari itu di sebuah ruangan yang tak pernah benar-benar sunyi. Ruangan yang selalu dipenuhi suara meski tak selalu keras. Ada suara yang mengalun seperti pujian, lembut dan teratur. Ada pula suara yang berbisik pelan, seolah tak ingin didengar, tapi sengaja diucapkan cukup jelas agar sampai ke telinga tertentu.
Di ruangan itu, aku belajar tentang banyak cermin.
Ada seseorang yang selalu berdiri paling dekat dengan orang yang sedang ia hadapi. Wajahnya ramah, kata-katanya tertata rapi. Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan tertawa kecil, kapan mengangguk dengan penuh hormat. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa pas, seolah sudah dipilih dengan hati-hati agar menyenangkan siapa pun yang mendengarnya.
“Dia pintar menjaga sikap. Dia pintar mengambil hati lawan bicara,” kataku dalam hati suatu sore.
Namun, suatu hari, tanpa sengaja, aku melihat sisi lain darinya. Bukan saat ia berhadapan dengan orang itu, melainkan setelah orang yang dipujinya pergi. Wajahnya masih sama, tapi nadanya berubah. Senyumnya menipis. Kata-katanya tak lagi sehalus tadi.
“Aku rasa, ada yang kurang darinya,” katanya pelan, seolah hanya berbicara pada udara.
Seperti bisikan yang sengaja dilepaskan pelan, bukan untuk didengar, tapi juga bukan untuk benar-benar disembunyikan. Ucapannya tipis, namun cukup tajam untuk meninggalkan bekas. Ia tidak pernah menusuk terang-terangan; ia hanya menaruh serpih kata di jalan, lalu membiarkan orang lain yang terluka oleh pijakannya.
Baru saat itu aku paham, sebagian orang memang pandai menenun pujian di depan wajah, dan merajut cela di belakang punggung, benangnya sama, hanya arah tangannya yang berbeda.
Aku terdiam.
Aku terdiam, bukan karena kaget. Hanya karena akhirnya tahu kalau senyumnya bukan cermin ketulusan, melainkan tirai yang terlatih terbuka dan tertutup sesuai penonton.
Cermin itu tidak sedang berbohong. Ia hanya menunjukkan sisi lain yang tak ingin dipertontonkan di hadapan manusia lain.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan lebih banyak pantulan.
Aku melihat bagaimana seseorang bisa tampak sangat rendah hati di satu sudut ruangan, lalu begitu yakin bahwa dirinya lebih pantas daripada orang lain di sudut yang lain. Aku melihat bagaimana pujian bisa menjadi tangga, dan bagaimana bisikan bisa menjadi batu pijakan.
Tangga itu terlihat kokoh. Batu pijakan itu tampak biasa saja. Tapi entah mengapa, setiap kali melihatnya, dadaku terasa sedikit sesak.
“Apakah memang seperti ini cara orang bertumbuh?” tanyaku dalam hati.
Hari-hari berikutnya, aku mulai merasakan sesuatu yang lebih berat. Beberapa pantulan tak lagi hanya tentang orang lain. Ada juga pantulan tentang diriku.
Seseorang pernah menatapku dengan senyum yang terlalu ramah. Ia berbicara panjang tentang hal-hal yang tak pernah kubahas dengannya. Tentang sikapku. Tentang caraku bekerja. Tentang diriku yang katanya “terlalu pendiam.”
Aku tak pernah menceritakan hal-hal itu padanya.
Cermin yang lain memperlihatkan jawabannya.
Aku mendengar namaku disebut dalam percakapan yang tidak kumasuki. Aku mendengar suaraku ditirukan dengan nada yang tidak pernah kugunakan. Aku mendengar diriku dijelaskan seolah aku adalah teka-teki yang harus dipecahkan bersama.
Awalnya, aku marah.
“Apa salahku?” batinku bergetar.
Lalu muncul pertanyaan lain yang lebih jujur
“Apakah aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya?”
Pertanyaan itu membuatku diam lebih lama dari biasanya.
Suatu hari, aku diberi kesempatan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Sebuah peluang untuk berdiri sedikit lebih dekat dengan cahaya. Kesempatan itu datang bersama pilihan yang tidak tertulis.
Jika aku ingin terlihat lebih layak, aku hanya perlu menceritakan sedikit saja tentang kekurangan orang lain. Tidak perlu berbohong. Cukup memilih sudut pandang yang menguntungkan. Cukup menyampaikan fakta yang tidak lengkap.
Cermin itu berdiri tepat di hadapanku.
Aku bisa melihat dua versi diriku.
Di satu sisi, aku tampak percaya diri, berbicara dengan tenang tentang betapa aku memahami situasi. Aku bisa menyelipkan kalimat-kalimat kecil yang membuat orang lain terlihat kurang siap, kurang matang, kurang pantas.
Tidak ada yang akan menyalahkanku. Itu bukan fitnah. Itu hanya “penilaian.”
Di sisi lain, aku berdiri dengan tangan yang mungkin tak sepenuhnya bersih, tapi juga tak memegang batu untuk dilemparkan. Aku memilih untuk berbicara tentang apa yang bisa kulakukan, bukan tentang apa yang tak bisa dilakukan orang lain.
Aku menatap kedua pantulan itu lama sekali.
“Jika aku naik karena seseorang tampak lebih rendah,” pikirku, “apakah aku benar-benar naik?”
Bayangan pertama tersenyum. Bayangan kedua hanya menatapku tanpa ekspresi.
Aku teringat pada sesuatu yang pernah kudengar sejak kecil, ketinggian yang diperoleh dengan berdiri di atas bahu orang lain tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Ia hanya pinjaman.
Dan pinjaman selalu punya waktu jatuh tempo.
Aku menarik napas panjang. Ruangan itu masih sama. Suara-suara masih beredar. Cahaya masih menyinari sudut-sudut tertentu lebih terang daripada yang lain. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa cermin di hadapanku benar-benar menunggu jawabanku.
“Aku tidak ingin berdiri di atas siapa pun,” bisikku dalam hati.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti keputusan yang berat.
Aku memilih untuk berbicara tentang diriku saja. Tentang apa yang kupelajari. Tentang apa yang ingin kuperbaiki. Tentang bagaimana aku ingin bertumbuh. Aku tidak menyebut nama siapa pun. Tidak membandingkan. Tidak menyisipkan cerita yang bisa membuat orang lain terlihat lebih kecil.
Ketika percakapan itu selesai, aku tidak tahu apakah aku akan mendapat apa yang kuharapkan. Aku tidak tahu apakah aku baru saja melewatkan kesempatan.
Yang kutahu hanya satu, aku bisa menatap cermin tanpa merasa ingin memalingkan wajah.
Beberapa hari kemudian, aku kembali melihat orang yang sama berdiri dekat dengan cahaya. Ia masih tersenyum, masih berbicara dengan nada yang manis. Mungkin ia akan terus begitu. Mungkin itu caranya bertahan.
Dan mungkin, aku pun punya caraku sendiri.
Aku tidak lagi merasa sesak setiap melihat tangga yang tampak terlalu cepat dinaiki. Aku tidak lagi ingin menghitung berapa anak tangga yang sudah kulewati dibanding orang lain. Aku mulai menyadari bahwa hidup bukan perlombaan yang garis akhirnya terlihat jelas.
Setiap orang membawa cerminnya masing-masing.
Ada yang menggunakannya untuk memoles wajah. Ada yang menggunakannya untuk melihat noda. Ada pula yang memegangnya untuk memantulkan cahaya agar jatuh tepat ke dirinya sendiri.
Aku memilih untuk menggunakannya sebagai pengingat.
Bahwa suatu hari nanti, mungkin aku juga bisa tergoda. Mungkin aku juga bisa berdiri di titik yang sama di antara pilihan untuk meninggikan diri atau menjaga hati.
Dan ketika hari itu datang, aku ingin mengingat perasaan ini.
Perasaan ketika aku hampir melangkah lebih tinggi dengan membuat orang lain tampak lebih rendah.
Perasaan ketika aku sadar bahwa ketinggian semacam itu hanyalah ilusi.
Cermin tidak pernah benar-benar meninggikan seseorang. Ia hanya memantulkan sudut yang dipilih untuk ditampilkan.
Jika kita ingin terlihat lebih tinggi, kita bisa memiringkan cermin agar orang lain tampak lebih kecil. Tapi kebenaran tetaplah kebenaran, tinggi kita tidak berubah.
Malam itu, di kamar yang sunyi, aku berdiri di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Tidak ada cahaya terang. Tidak ada suara lain. Hanya aku dan pantulanku sendiri.
“Aku ingin bertumbuh,” kataku pelan.
Bukan untuk terlihat lebih hebat.
Bukan untuk menjadi yang paling dipuji.
Bukan untuk berdiri di atas siapa pun.
Aku ingin bertumbuh seperti pohon yang akarnya masuk lebih dalam ke tanahnya sendiri. Bukan pohon yang meninggi karena menekan tanaman lain agar tak mendapat sinar.
Aku ingin naik karena kakiku sendiri yang melangkah.
Bukan karena ada bahu yang kupijak.
Mungkin aku tak akan selalu terlihat paling bersinar. Mungkin aku tak akan selalu dipilih pertama. Tapi jika suatu hari aku berdiri lebih tinggi, aku ingin itu karena aku memang telah belajar berdiri lebih kokoh.
Cermin di depanku tak tersenyum. Ia hanya memantulkan wajahku apa adanya.
Dan untuk pertama kalinya, itu sudah cukup.
Sebab di dunia yang penuh dengan pantulan, yang paling sulit bukanlah terlihat baik di mata orang lain.
Yang paling sulit adalah tetap jujur pada bayangan sendiri.
Dan mungkin, itu saja yang perlu kita jaga.
Karena pada akhirnya, kita semua akan berdiri di hadapan cermin yang tak bisa kita atur sudutnya cermin yang tak bisa kita miringkan agar orang lain tampak lebih kecil.
Di hadapan cermin itu, tidak ada tangga.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada tepuk tangan.
Hanya diri kita, dan cara kita memilih untuk naik.
Semoga ketika saat itu tiba, kita tidak sedang berdiri di atas kepala siapa pun.