Hujan baru saja reda ketika aku sampai di rumah Tami, malam Jumat yang sebenarnya tidak ada rencana khusus selain sekadar mengobrol sambil menghindari kamar kos yang terasa terlalu sepi kalau ditempati sendirian. Tami membuka pintu dengan piyama kotak-kotak dan rambut yang masih setengah basah bekas keramas, langsung menyuruhku masuk tanpa banyak tanya.
"Kebetulan banget aku lagi pengen ngobrol sama orang," katanya sambil menutup pintu. "Duduk dulu, aku bikinin kopi."
Aku menjatuhkan diri ke sofa ruang tamunya yang empuk, sofa yang sama tempat aku dan Tami biasa bercerita apa saja sejak kuliah dulu, mulai dari drama pekerjaan sampai keluhan soal cucian yang menumpuk. Suara air dituang dan sendok beradu dengan gelas terdengar dari dapur, diselingi Tami yang masih sempat berteriak menanyakan kabar pekerjaanku minggu ini.
Aku baru saja hendak menjawab ketika ponsel di tanganku bergetar sekali.
"Neng, sehat?"
Satu pesan itu muncul di layar, waktu aku masih duduk di sofa rumah Tami menunggu dia selesai membawa dua gelas kopi dari dapur. Nama pengirimnya hanya tersimpan satu kata, "Ayah", tanpa foto profil, tanpa update status apa pun, seolah nomor itu sengaja dibiarkan sepi dari jejak apa pun tentang hidupnya.
Aku menatap layar itu cukup lama. Jempolku berhenti di atas papan ketik, tidak tahu harus mengetik apa, padahal hanya perlu membalas empat kata. Bukan karena tersentuh, tapi karena pesan itu muncul di bulan Agustus, jauh dari Lebaran, satu-satunya momen yang biasanya membuat dia datang ke rumah setahun terakhir ini.
"Kok diem, ngeliat HP doang dari tadi?" Tami muncul dari dapur, dua gelas kopi di tangannya, satu diletakkan di depanku, satu lagi dia bawa duduk di sisi sofa yang lain. "Ada apa?"
Aku menyodorkan ponselku ke arahnya tanpa banyak bicara. Tami membaca pesan itu, lalu mengangkat wajah, menatapku dengan alis yang sedikit terangkat.
"Ayah kamu?"
"Iya."
Tami hanya perlu satu kata itu untuk langsung paham konteksnya, karena dia hafal seluruh cerita ini di luar kepala, sejak kami masih sama-sama tinggal di kos dekat kampus dan aku bercerita panjang lebar setiap kali rindu rumah tapi tidak rindu Ayah. Dia tahu soal perceraian waktu aku kelas empat SD, tahu soal acara ayah-anak di sekolah yang aku tunggu dari pagi tapi Ayah tidak pernah muncul, tahu juga soal rutinitas Lebaran belakangan ini yang aneh dan tidak pernah kami bahas alasannya sampai tuntas.
"Udah berapa lama nggak kontak?"
Aku menghitung dalam hati, meski sebenarnya aku sudah tahu jawabannya dari dulu, hanya jarang mau mengucapkannya keras-keras. "Kalau ketemu langsung, tiap Lebaran dia emang dateng ke rumah, itu rutin beberapa tahun terakhir. Tapi kalau chat pribadi kayak gini, langsung ke aku doang, udah lama banget. Terakhir malah bukan ke aku, ke adikku, sekitar sepuluh bulan lalu."
"Ngapain?"
Aku menghela napas pelan, menyandarkan punggung ke sofa. "Minjem uang. Adikku udah kerja tetap, gajinya lumayan buat ukuran anak baru lulus. Ayah chat dia, ngobrol basa-basi bentar, terus ujung-ujungnya pinjem uang buat bayar sesuatu, aku juga nggak tau jelas buat apa. Adikku kasih, katanya kasian juga, lagian nominalnya nggak terlalu besar buat dia."
~
Tami diam sebentar, seperti sedang mencerna kalimat itu, sebelum akhirnya menaruh gelas kopinya di meja dan duduk lebih menghadap ke arahku.
"Terus ini apa lagi maksudnya? Minjem uang lagi?" tanyanya.
"Nggak tau juga, makanya bingung," jawabku. "Biasanya kalau dia mau sesuatu, ya kirim pesan kayak gini. Tapi ini bulan Agustus, Tam. Jauh dari Lebaran, jauh juga dari kapan terakhir dia butuh apa-apa dari kami."
"Terus habis minjem itu?"
"Hilang lagi. Sampai tadi ini muncul lagi, nanya kabar aku, bukan adikku."
"Masih misteri yang sama kayak biasa," kata Tami, setengah bergumam. Ini juga bukan hal baru bagi kami berdua, alasan kenapa Ayah tiba-tiba rajin muncul tiap Lebaran itu sudah jadi bahan obrolan berulang setiap kali aku pulang ke Bandung, tanpa pernah menemukan jawaban yang pas. Kadang aku berpikir mungkin dia hanya mau dipandang baik oleh keluarga besar. Kadang berpikir mungkin dia benar-benar rindu tapi tidak tahu caranya menunjukkan selain lewat kumpul ramai-ramai yang tidak butuh obrolan personal.
Aku menyesap kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Bukan hanya kali itu polanya berulang. Waktu aku masih kuliah dulu, sama persis, Ayah sempat muncul, mengajak mengobrol baik-baik seperti bapak-anak biasa, sampai aku sempat senang dan berpikir mungkin dia berubah. Di ujung obrolan itu baru ketahuan dia minta dipinjami uang untuk modal usaha katanya, dan aku yang waktu itu masih mahasiswa, mendapat uang dari kerja freelance menulis artikel, memberi separuh tabunganku. Cerita itu juga sudah pernah aku keluhkan ke Tami dulu, waktu masih segar dan aku masih suka menangis tengah malam memikirkan itu.
"Balik lagi jadi ilang," kataku, menutup ceritanya sendiri, karena Tami pun sudah tahu ujungnya. "Nggak pernah balikin, nggak pernah nanya kabar lagi sampai ada perlu lain."
~
Aku menatap gelas kopi yang mulai dingin di tanganku, mencoba menata kalimat berikutnya biar tidak terdengar seperti sedang menyalahkan siapa-siapa, meski jujur saja, dulu memang ada masa aku menyalahkan.
"Yang bikin aku bingung itu bukan soal duitnya, Tam. Aku sama adikku sekarang emang udah bisa cari uang sendiri, jadi kalaupun dikasih, ya nggak masalah banget buat kami. Yang bikin aku mikir itu, pesan kayak gini cuma muncul pas kami udah 'ada'. Pas kami masih kecil, masih butuh diperhatiin, dia nggak pernah kayak gini. Sekarang giliran kami udah bisa berdiri sendiri, baru dia inget kalau punya anak."
Tami menghela napas panjang, ikut menyandarkan punggungnya ke sofa. "Miris ya."
"Iya. Miris," ulangku pelan. "Tapi anehnya, aku nggak marah, Tam. Dulu iya, pas masih remaja, aku benci banget sama dia. Tapi sekarang, pas baca pesan itu, yang aku rasain cuma... kosong. Bukan benci, bukan juga kangen. Cuma nggak ada rasa apa-apa."
~
Tami menatapku lama, seperti sedang mencari kata yang pas biar tidak terdengar menggurui. "Kamu ngerasa bersalah nggak, karena ngerasa kosong gitu ke orang tua sendiri?"
Pertanyaan itu menusuk tepat ke bagian yang selama ini aku hindari untuk aku pikirkan sendiri. Aku diam sebentar sebelum menjawab jujur.
"Kadang iya. Karena kan katanya, sejahat-jahatnya orang tua, tetap harus dihormati, tetap harus disayang. Aku sempet mikir, jangan-jangan aku ini anak durhaka karena udah nggak punya rasa apa-apa ke ayah sendiri."
"Menurut aku," kata Tami pelan, "ada bedanya antara benci sama nggak punya ikatan lagi. Kamu nggak lagi nyumpahin dia, kan? Nggak juga nunggu dia celaka atau apa?"
"Nggak," jawabku cepat. "Aku malah kadang mikir, semoga dia sehat, semoga hidupnya baik-baik aja di mana pun dia sekarang. Cuma ya itu, sebatas itu aja. Kayak aku mikirin kabar orang yang aku kenal, bukan kabar orang yang deket sama aku."
"Nah, itu bedanya," kata Tami. "Kamu nggak benci. Kamu cuma udah berhenti berharap ada hubungan kayak ayah-anak yang biasanya orang bayangin. Itu bukan durhaka, itu kamu lagi jujur sama apa yang beneran kamu rasain, bukan sama apa yang 'seharusnya' kamu rasain."
Aku terdiam mendengar itu, membiarkan kalimatnya meresap sebentar. Tami meraih selimut tipis yang tersampir di sandaran sofa, menyelimutkan ujungnya ke kakiku tanpa banyak bicara, seperti sudah hafal aku gampang kedinginan kalau kelamaan diam.
"Menghormati orang tua itu," lanjutnya, "bukan berarti kamu harus punya rasa sayang yang sama kayak orang-orang yang tumbuh sama ayah yang ada buat mereka. Kamu tetap bisa menghargai dia sebagai manusia, sebagai orang yang pernah ngasih kamu hidup, tanpa harus maksa diri sendiri punya ikatan emosional yang sebenarnya emang nggak pernah dibangun dari dulu."
~
Aku menatap Tami. Ada sesuatu yang selama ini aku cari-cari sendiri tapi tidak pernah menemukan kalimatnya, baru saja diucapkan orang lain, semudah itu.
"Aku nggak pernah mikir gitu sebelumnya," kataku pelan. "Aku selalu mikir, aku harus milih, benci atau sayang. Nggak kepikiran kalau ada opsi ketiga, cuma netral aja, menghargai secukupnya."
"Ikatan itu kan dibangun, bukan otomatis ada cuma karena hubungan darah," kata Tami. "Kalau dari kecil nggak pernah dibangun, terus tiba-tiba di umur segini dipaksa harus ada, ya wajar aja kalau yang kerasa itu bingung, bukan haru. Perasaan itu nggak bisa dipanggil paksa cuma karena ada judul 'ayah' di depan nama kontaknya."
"Terus gimana kalau nanti dia minta hal yang sama lagi, minjem uang misalnya?" tanyaku, karena pertanyaan itu juga sudah lama mengganjal, bukan cuma soal balas pesan malam itu.
Tami menghela napas, memikirkan jawabannya sebentar sebelum bicara. "Itu hak kamu sepenuhnya, bukan kewajiban. Kalau kamu mau bantu karena kamu punya lebih dan ikhlas, ya silakan. Tapi kalau kamu ngerasa dipaksa, atau ngerasa bersalah kalau nolak, itu tandanya kamu lagi kasih karena rasa takut, bukan karena sayang. Dua hal itu beda, dan yang kedua itu nggak sehat buat kamu jalanin terus-terusan."
"Adikku kemarin kasih karena kasian," kataku. "Aku juga nggak nyalahin dia, kok. Cuma aku jadi mikir, batas mana yang bikin kami 'anak baik' dan batas mana yang bikin kami cuma dimanfaatin terus."
"Batasnya itu perasaan kamu sendiri," jawab Tami. "Kalau ngasih bikin kamu lega, itu batas yang sehat. Kalau ngasih bikin kamu dongkol tapi tetep kamu paksa karena takut dibilang durhaka, itu udah lewat batas. Nolong keluarga itu bagus, tapi bukan berarti kamu harus terus-terusan jadi solusi buat masalah yang bukan kamu yang bikin."
Dia bangun sebentar buat menghangatkan lagi kopi kami berdua yang sudah dingin, meninggalkan aku dengan pertanyaan itu masih berputar di kepala. Begitu dia duduk lagi, aku menunduk, menatap layar ponsel yang sempat aku matikan tadi. "Terus aku harus bales apa, Tam? Dicuekin juga rasanya jahat. Dibales biasa aja kayak nggak ada apa-apa, kayaknya juga aneh."
"Bales aja apa adanya," kata Tami. "Nggak usah dipaksa hangat kalau emang kamu nggak lagi ngerasa hangat. Nggak usah juga dipaksa dingin buat nunjukin kamu masih 'marah', karena kamu bilang sendiri, kamu udah nggak di fase itu lagi. Bales sewajarnya aja, atau nggak dibales pun nggak apa-apa, selama itu emang jujur dari apa yang kamu rasain, bukan dari rasa takut dibilang anak durhaka."
~
Malam itu aku pulang dengan kepala yang terasa lebih ringan dari biasanya. Di kamar, aku duduk di tepi ranjang, membuka lagi pesan itu, jariku sempat mengetik dua tiga kata, dihapus lagi, diketik ulang, dihapus lagi. Sampai akhirnya aku menutup aplikasinya tanpa mengirim apa-apa, meletakkan ponsel di nakas, dan tidur.
Tiga hari kemudian, layar ponselku menyala menampilkan panggilan masuk dari nomor yang sama. Aku menatapnya sampai getarannya berhenti sendiri, tidak aku angkat.
Malam itu juga, adikku mengirim pesan ke obrolan berdua kami, "Ayah td chat aku, nanyain kabar kamu. Katanya nelepon kamu tapi nggak diangkat-angkat." Aku cuma membalas dengan emoji tertawa. Tidak ada penjelasan apa-apa lagi dari aku malam itu. Adikku juga tidak bertanya lebih jauh, mungkin sudah cukup mengerti sendiri tanpa perlu aku jabarkan lagi.
Aku sendiri sebenarnya tidak yakin ini keputusan yang benar. Kadang terpikir, mungkin aku memang keterlaluan dingin, atau terlalu cepat menyerah berharap. Tapi bertahun-tahun aku sudah memaksa diri sendiri menunggu versi Ayah yang sebenarnya cuma ada di kepalaku sendiri, versi yang datang bukan karena butuh sesuatu dariku. Menunggu itu yang justru membuatku lelah sendirian, dan pada akhirnya tidak sampai ke mana-mana juga. Diam kali ini bukan aku sedang menghukum dia. Cuma itu jawaban paling jujur yang aku punya sekarang, kebetulan saja bentuknya diam, bukan kata-kata. Berhenti berharap juga tidak lantas membuatku anak durhaka, setidaknya menurutku sendiri. Aku cuma berhenti menyakiti diri demi ikatan yang dari awal memang tidak pernah dibangun berdua.
Omongan Tami soal ikatan yang dibangun, bukan otomatis ada karena hubungan darah, terus terngiang sampai aku pulang. Entah kenapa pikiranku malah kembali ke masa SD, ke pagi aku menunggu di depan rumah sambil membawa sepatu olahraga. Mungkin memang sesederhana itu, seorang anak jadi dekat dengan orang tua yang benar-benar hadir, dan pelan-pelan menjauh dari yang lebih sering tidak ada. Bukan durhaka, hanya akibat dari ruang kosong yang keburu bertahun-tahun tidak pernah diisi siapa pun. Pesan yang terlambat ini memang tidak akan pernah bisa menggantikan apa yang seharusnya ada waktu aku masih kecil dan sedang butuh-butuhnya, itu sudah pasti. Tapi malam itu aku jadi memikirkan sesuatu soal diriku sendiri. Menghargai seseorang sebagai manusia dan mencintainya sebagai keluarga, ternyata dua hal yang berbeda. Aku sepertinya hanya sanggup satu dari itu sekarang. Tidak tahu sampai kapan begini, tapi untuk sekarang, aku mencoba menerimanya dulu.
Kalau ada yang pernah berada di posisi yang sama sepertiku, menunggu pesan yang tidak kunjung datang, atau malah bingung ketika pesan itu akhirnya benar-benar datang, aku ingin bilang satu hal saja, itu bukan berarti ada yang salah dengan caramu mencintai. Barangkali kamu memang sudah cukup jujur pada diri sendiri untuk berhenti memaksakan sesuatu yang tidak pernah tumbuh dari dua arah.
Rasa kosong ini sendiri bisa saja berubah jadi benci kalau dibiarkan sendirian terlalu lama, dipendam tanpa pernah dikeluarkan lewat obrolan seperti malam itu. Untungnya aku punya Tami, dan beberapa sahabat lain yang caranya kurang lebih sama, mau mendengarkan setiap kali cerita ini muncul lagi meski sudah berulang kali diceritakan, terus mengingatkan supaya aku tidak menyimpannya sampai jadi penyakit hati. Bukan mereka yang menyembuhkan luka itu, tapi kehadiran mereka yang membuat luka itu tidak sempat membusuk jadi kebencian.
Aku menaruh ponsel di atas nakas, mematikan lampu kamar, lalu berbaring menghadap langit-langit yang gelap. Tidak ada air mata malam itu, tidak juga rasa lega yang meledak-ledak seperti di film-film. Yang ada hanya ketenangan kecil, jenis ketenangan yang datang bukan karena masalahnya selesai, tapi karena aku akhirnya berhenti memaksa diri sendiri mencari jawaban yang memang tidak pernah ada.
Besok pagi, hidupku akan tetap berjalan seperti biasa. Aku akan tetap bangun, berangkat kerja, menelepon Ibu di sela istirahat siang, dan membiarkan pesan itu tetap seperti apa adanya, tidak dibalas, tapi juga tidak aku hapus. Bukan karena aku sudah menyembuhkan semuanya, tapi karena aku sudah berhenti menuntut diriku sendiri untuk merasa sesuatu yang memang tidak pernah ada alasan untuk tumbuh.
Dan kurasa, itu sudah cukup.