Kematian akan mengetuk pintu kita, bisa jadi tanpa permisi. Tanpa memberi aba-aba, alih-alih memberi tanda, ia datang merenggut semua hingga tak bersisa.
Dulu, aku pikir kehilangan si Manis adalah hal paling tragis yang bisa aku alami. Berbulan-bulan dihantui perasaan sakit, jiwa rontok karena kawan setia satu-satunya yang menemani sedihnya perceraian papa dan mama, ikut pergi meninggalkanku sendirian di dunia yang membenciku ini. Malam-malam tanpa kawan, berlanjut hingga kesedihan nyaris tumbuh seperti tulang di tubuhku yang kurus kering.
Hingga sampailah aku pada sebuah kenyataan, kematian mengetuk pintuku kembali. Membawa Risa turut serta, dalam balutan jaket salem kesayangannya.
“Ini seratus hari kematian Risa, kamu malah mau tiba-tiba pulang ke Jogja?”
Aku tak mengangkat wajahku, masih sibuk mengepak pakaian ke dalam koper kelabu—bekas Papa.
“Tris, kamu dengar omongan Mama?”
Akhirnya aku menyerah. Aku menatap Mama dengan bibir mengatup rapat, tak tahu harus bicara apa.
“Anakmu itu yang pergi, bukan kucing,” ucap Mama dengan geletar di ujung suaranya.
“Aku tahu, Ma,” anggukku, lalu kembali bisu.
Pekerjaanku di Jogja, memang tak menuntutku untuk hadir saat ini. Paling cuma membereskan buku, menandai koleksi supaya mudah ditemukan oleh pemustaka. Pekerjaan-pekerjaan membosankan, yang menyelamatkan kewarasanku belakangan. Namun kembali ke sini—dengan direnggutnya Risa dari hidupku, entahlah, tak tahu lagi apakah pekerjaan itu akan sama menyenangkannya.
Sudah dari pagi, Ibu Mertua menelpon—menanyakan keadaanku, dan anaknya. Namanya juga kami baru kehilangan anak, tentu saja kami sedang berduka. Atau setidaknya, bagi suamiku, ia tentu berduka sangat mendalam. Menjiwai perannya sebagai seorang bapak.
“Ibu Winarni menelpon Mama tadi pagi, sudah kamu angkat telponnya?” teriak Mama dari dapur. “Tris… Trisa, dengar Mama nggak, Tris?”
Aku menghela napas. Napas berat, seperti habis lari berkilo-kilo. “Ya, Ma. Nanti aku telpon Ibu.”
Tak banyak sebetulnya yang bisa kami bicarakan di rumahku di Jakarta ini, selain acara pengajian Risa. Mau beli nasi ayam di mana, mau manggil rombongan pengajian dari masjid mana, siapa yang pimpin doa. Hanya seputar itu. Mamaku dan sekelumit kehidupannya. Semuanya tak pernah tentang aku, sejak dulu.
Selembar kertas terjatuh dari tumpukan kemeja yang aku pindahkan ke lemari.
BOARDING PASS - ECONOMY CLASS
Name: HADIAN / ROBERTINUS
Flight: GA 408
Date: 14FEB26
From: JAKARTA (CGK) To: DENPASAR BALI (DPS)
Gate: 15
Boarding Time: 08:35
Seat: 14F Seq: 042
Boarding pass suamiku, saat itu. Persis di hari kematian Risa.
“Tris… Tris, lihat ini, menurut kamu kuenya cukup segini?” Mama kembali mengekspansi penglihatanku, sambil menunjukkan satu dus kue.
Aku mengangguk. “Cukup, Ma. Cukup banget.”
Ia terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Tapi Risa suka bika ambon, apa Mama pesan lagi aja ke Toko Kemuning, ya? Tiga puluh potong cukup, ya?”
Aku membuang napas, pelan sekali. Seolah kalau keras-keras, telingaku sendiri akan terganggu.
Berita di televisi menyiarkan perdebatan panjang soal anggaran negara yang bocor entah ke mana, diselingi iklan asuransi yang pemerannya tertawa terlalu lebar, menawarkan kompensasi untuk sebuah momen duka cita. Suaranya berdengung, berbaur dengan obrolan Mama entah dengan siapa di dapur, dan dering ponsel yang sedari tadi merengek dari atas meja makan.
Duka cita rupanya punya birokrasinya sendiri. Dan di rumah ini, akulah satu-satunya orang yang tak bisa mengikuti ritmenya.
“Tris! Angkat itu HP-mu, dari tadi bunyi terus. Nanti Ibu mertuamu mikir Mama yang bikin kamu sibuk kerja di dapur!” seruan Mama terdengar bersamaan dengan suara desis minyak panas.
Aku menatap layar ponsel. Ibu Winarni Calling.
Dengan gerak yang terlampau lambat, aku menggeser tombol hijau.
“Halo, Ibu—”
“Trisa. Ditelepon susah sekali,” cecar suara di seberang sana. “Robert sudah makan belum siang ini? Ibu lihat story WA-nya, matanya sembap sekali. Dia itu kalau sedang stres, asam lambungnya gampang naik. Kamu perhatikan makanannya, kan? Jangan sampai anak sudah nggak ada, suami juga dibiarkan sakit-sakitan.”
Aku menatap kosong pada boarding pass atas nama suamiku di tanganku. Tanggal 14 Februari. Denpasar, Bali.
Di hari Risa meregang nyawa menelan air kaporit kolam renang villa sewaan di Lembang—di tengah acara piknik keluarga besar yang katanya 'bonding time'—suamiku, bapak yang matanya sembap di story WA itu, sedang boarding ke Bali.
“Trisa? Kamu dengar Ibu, kan?”
“Dengar, Bu. Mas Robert belum pulang dari percetakan. Katanya mau ngecek cetakan buku Yasin.”
Ibu Winarni mendesah panjang, seolah memikul beban dunia. “Kasihan anakku. Sibuk urus ini-itu di tengah duka. Oh ya, Ibu mau pesan, nanti waktu acara pengajian, tolong tamu-tamu dari pihak keluarga Ibu ditempatkan di ruang tengah, ya. Biar dekat sama ustaznya. Koleganya almarhum Bapak juga banyak yang mau datang. Jangan sampai mereka duduk di garasi, malu kita. Masa tamu penting ditaruh di luar. Ya, Tris?”
“Iya, Bu.”
“Satu lagi, agak senyum ya Tris. Namanya takdir, ya sudah diikhlaskan. Jangan bikin tamu nggak enak hati lihat kamu nangis terus. Risa sudah tenang. Kalau kamu nangis, jalannya Risa malah berat. Udah ya, Ibu mau lanjut telepon katering.”
Sambungan terputus. Bunyi tut-tut-tut itu terdengar mendengung. Risa seolah baru saja pergi dengan paru-paru penuh air, kini, kedua neneknya mengkhawatirkan letak duduk kolega dan bika ambon.
Aku meletakkan ponsel dan kembali memasukkan sisa bajuku ke dalam koper. Beberapa potong blus kerja, celana kain, dan seragam cokelat kebanggaanku. Perpustakaan, di antara aroma kertas dan debu rak buku, duniaku melesak masuk ke dalam keheningan. Mengurutkan buku berdasarkan sistem klasifikasi Dewey Decimal terasa menenangkan, dibanding mengurus tiga puluh potong bika ambon untuk tahlilan anakku sendiri.
Pintu kamar terbuka. Robert masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi. Rambutnya disisir klimis dengan gel. Ia tampak seperti bintang iklan asuransi jiwa tadi, bersedih dengan elegan.
“Kamu ngapain packing?” keningnya berkerut melihat koper kelabu di atas ranjang.
“Besok sore aku ada jadwal masuk kerja. Mbak Nuning sudah gantikan aku terlalu lama.” Aku menjawab tanpa menatapnya. Aku melipat syal kuning, lalu menyelipkannya di sudut koper.
Robert menghela napas, melempar kunci mobil ke atas nakas. “Kamu ini. Besok lusa itu pengajian Risa, Tris! Kamu ibunya! Orang-orang bakal ngomong apa kalau ibunya malah kabur ke Jogja?”
“Kabur?” Aku mendongak. Menatap mata suamiku yang katanya sembap karena menangis, padahal aku tahu betul itu mata lelah karena kurang tidur mengurus perkara pengajian Risa ini. “Aku kerja, Mas. Cuti berdukaku sudah habis seminggu yang lalu.”
“Ya kamu extend kek, alasan apa kek! Ini acara penting. Bosku dari pusat mau datang, Tris! Pak Direktur mau mampir. Kamu mau aku pasang muka gimana kalau ditanya mana istriku? ‘Oh, istri saya lagi nyusun buku di perpustakaan, Pak.’ Gitu?”
Aku terdiam. Jadi ini tentang Pak Direktur. Tentang denah tempat duduknya Ibu Winarni. Tentang bika ambon pesanan Mama. Semuanya sibuk merayakan kematian Risa, seperti sebuah event organizer. Semua orang ingin tampil paling berduka, paling peduli, dan paling repot.
Sementara aku? Sang ibu? Sebongkah pualam yang harus duduk di pojokan dengan mata kering, mengangguk pada tamu, menerima ucapan belasungkawa. Jangan dulu menangis katanya, biar terlihat ikhlas dan legawa.
Aku mengangkat selembar kertas yang sejak tadi kupegang, menyodorkannya ke arah Robert.
“Tanggal 14 Februari. Garuda GA 408. Tujuan Denpasar.” Suaraku keluar begitu datar. “Kamu bilang dinas, makanya nggak bisa ikut kami ke Lembang. Tapi kamu boarding jam delapan pagi dari Soekarno-Hatta.”
Wajah Robert pucat. Rahangnya mengeras, matanya berkedip cepat ke arah langit-langit kamar.
“Itu… itu perjalanan bisnis mendadak. Klien dari—”
“Risa tenggelam jam sepuluh pagi, Mas,” potongku. “Waktu itu aku lagi motong semangka, karena Risa bilang dia mau semangka dingin. Mama lagi sibuk bikin konten TikTok sama tante-tante. Ibu mertua lagi ngobrol sama penjaga villa soal tanaman hias. Risa… Risa katanya dijaga sama Tante Andini, tapi Tante sibuk karaokean di ruang tengah.”
Aku menarik napas panjang. Paru-paruku rasanya ikut terisi air.
“Tidak ada yang dengar dia jatuh. Kematian Risa tenang sekali, Mas. Waktu aku bawa piring semangka keluar, dia sudah mengambang. Mengambang tengkurap dengan jaket salem yang kupakaikan pagi harinya, karena kata ibumu angin Lembang lagi nggak bagus. Dan di jam yang sama saat aku menjerit sampai pita suaraku robek… kamu lagi di atas awan. Menuju Bali. Sama siapa, Mas? Ah, aku bahkan sudah tidak peduli.”
“Trisa, kamu jangan mengalihkan pembicaraan! Kita lagi bahas pengajian kematian anak kita!” Robert meninggikan suaranya. “Jangan bawa-bawa hal yang nggak relevan! Kamu mau menyalahkan semua orang? Menyalahkan aku? Kamu sendiri ibunya, kenapa kamu biarkan dia ke kolam renang?!”
Bagus. Skrip standar sebuah tragedi keluarga.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk dan didorong dari luar. Mama muncul membawa buku kecil bersampul beludru ungu dengan tinta emas. Di belakangnya, ada Tante Ira, tetangga sebelah yang entah sejak kapan ikut-ikutan jadi panitia pengajian ini.
“Robert, Tris, lihat ini!” Mama menyodorkan buku itu. “Buku Yasinnya,” mamaku menahan tangisnya. “Aduh, cantik banget seperti Risa. Tante Ira yang saranin pakai sampul beludru ungu. Biar elegan. Kertas dalamnya juga glossy, wangi melati. Nggak malu-maluin, kalo nanti dibagiin ke tamu. Gimana, Robert?”
Robert mengubah ekspresi wajahnya, menjadi menantu yang kooperatif. “Bagus, Ma. Mewah kelihatannya. Nanti tolong pisahkan 50 ya, Ma. Untuk bos-bos saya.”
“Goodie bag-nya sudah Mama pesankan, bukan kresek. Di dalamnya ada handuk kecil bordir nama Risa juga. Biar pada inget terus sama cucu Mama,” tambah Mama sambil matanya berkaca-kaca.
Tante Ira menimpali, “Iya Trisa, yang sabar ya. Ibu-ibu pengajian komplek juga udah pada Tante kabarin. Tante suruh mereka pakai baju putih-putih, biar kalau difoto terlihat syahdu.”
Aku menatap ketiga manusia di depanku bergantian. Mereka sibuk sekali. Dunia terus berputar, semua sibuk di atas gundukan tanah kuburan anakku.
Aku menutup resleting koperku.
“Trisa, kamu kok malah nge-beresin koper?” Mama membelalakkan mata.
“Aku berangkat ke stasiun sekarang, Ma. Keretaku ke Jogja jam lima sore.” Aku mengangkat koper itu turun dari ranjang.
“Hah?!” Mama kebingungan. “Kan nanti pengajian! Kamu mau ditaruh di mana muka Mama? Tetangga pada datang, keluarga suami kamu pada datang, ibunya malah minggat?!”
“Kasih aja buku Yasin beludru ungu wangi melati,” jawabku pelan, sambil berjalan ke arah pintu.
“Trisa!” serak suara Robert, ia mencengkeram lenganku.
Aku menatap tangan Robert di lenganku, lalu beralih menatap matanya.
“Aku mau kembali ke perpustakaan, Mas,” ucapku sambil melepaskan tangannya dengan perlahan. “Tolong bilang sama Ibu Winarni, asam lambungmu dijaga. Bilang sama Pak Direktur, maaf istrimu absen. Dan tolong, kalau kalian makan bika ambon nanti… telan perlahan. Nanti susah bernapas.”
Aku melangkah keluar kamar, melewati ruang tamu yang sudah dipasangi karpet-karpet tebal dan tenda putih di halaman depan. Kursi-kursi lipat dibungkus kain putih berselimut pita hitam, berjejer rapi.
Udara Jakarta di luar terasa panas dan pengap, tapi saat aku masuk ke dalam taksi yang kupesan, aku bisa merasakan paru-paruku kembali mengembang.
Di perpustakaan Jogja besok pagi, aku akan merapikan buku-buku di Rak 155.93—seksi Psikologi tentang Kematian dan Kesedihan. Aku akan duduk di sana, dalam hening, merengkuh kehilangan Risa sendirian. Tanpa bika ambon, tanpa buku Yasin beludru ungu. Hanya aku, dan lubang raksasa di dadaku yang entah kapan akan tertutup. Mengurutkan buku rupanya memang satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kewarasanku sekarang. Karena manusia, ternyata terlalu sulit untuk diklasifikasikan.