Disukai
23
Dilihat
952
Namaku Luka
Drama

Luka

Namaku Luka, aku tinggal di lantai 2, sebuah rusunawa kawasan Sawah Dalam, Jakarta. Ini ceritaku tentangnya, si penghuni lantai 1 Blok C, yang hilang entah ke mana.

***

Ibu tak setuju aku tinggal di sebuah rusunawa dengan angka kriminalitas tinggi, seperti kawasanku ini. Menurutnya, bekerja sebagai kacung korporat, jangan sampai membuatku harus mengemis-ngemis di lubang lumpur. 

Sebagai anak dari keluarga kelas menengah, aku dibesarkan dengan berbagai cara, agar uang sekolah yang dikeluarkan ibu tak terbuang percuma. Banyak-banyak bersyukur, katanya. Karena menjadi karyawan sebuah industri besar kelas kakap seperti sekarang ini, dianggap cukup membanggakan oleh keluarga besar kami —yang menganggap citra adalah segalanya. Meski mereka tak tahu, betapa terasingnya hidupku yang bergerak seperti robot industri, berotasi dari pagi ketemu pagi. 

Siklus kehidupanku yang membosankan, suatu hari terputus ketika aku mengenalnya. Seorang lelaki kurus yang mengapit buku tebal di ketiaknya. Ketika itu, ia sedang menunggu antrian di WC umum, karena saluran air di rusun kami kerap mati.

Lelaki dengan alis seperti semut berbaris itu, seringkali bertanya pada pak tua lantai bawah. Sudah baca koran hari ini? Mereka lalu tergelak, sampai waktunya si lelaki kurus mendapat giliran masuk ke ruang kusam bau amis itu, membongkar sampah dari dalam perutnya.

Suatu hari, tanpa sengaja lelaki itu salah mengambil nasi bungkus di warung Yuk Parjiyem depan rusun, sampai ia terpaksa mengetuk pintu kamarku malam-malam. 

“Maaf, nasi bungkus-ku tertukar dengan nasimu,” ucapnya, mengintip dibalik celah pintu. “Aku tidak membeli telur asin.”

Aku menautkan alis, sambil membuka bungkusan punyaku sendiri. “Aku juga tak memesan gulai ayam.”

Lelaki itu menyeringai. “Mau tukar?”

“Hah?”

“Kamu makan punyaku, dan aku makan nasi bungkus milikmu.” Ia menggaruk keningnya –yang digenapi sepasang alis tebal.

“Lalu, ngapain kamu kemari kalau memang sudah berniat makan nasi punyaku?”

“Aku mungkin melarat, tapi aku tak pernah miskin izin,” ucapnya sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. “Aku izin menukar makanan dengan punyamu, ya? Telur asin sepertinya pilihan yang tepat malam ini.”

“Nasi berkuah dengan gorengan yang sudah lembek, adalah kombinasi yang aneh.” Tapi aku malas berdebat. “Ah, tapi sudahlah, sedikit pengalaman baru tentu tak akan membunuh kita.” 

Ia tersenyum. Kami makan bersama, di teras rusun yang kerap dipakai para tetangga, bermain kartu remi sampai pagi buta. Kami mengobrol tentang banyak hal, khususnya isi buku tebal yang ia kepit setiap pagi.

Sejak saat itu kami cukup dekat. Namanya Nirman Arsuka, dan aku memanggilnya “Suka”. Seorang wartawan yang bekerja di sebuah media cetak kontroversial ibu kota. 

***

“Kenapa kamu tinggal di rusun begini, Mas? Kupikir, media tempatmu bekerja, menjamin tempat tinggal yang layak untuk wartawannya.” 

Ia diam sambil menghisap rokoknya pelan-pelan. Tampak menikmati asap yang berkelun memenuhi wajah licinnya itu. “Kenapa kamu tinggal di sini, Luka?”

Aku memicingkan mata. “Mas, sama seperti ibuku. Caranya menghindar dari pertanyaan itu dengan balik bertanya. Ciri khas orang pintar berkelit.”

Ia tergelak. “Kamu terlalu cerdas untuk dikibuli.” Lalu menghela napas, berat sekali. “Aku tengah menghindari orang-orang jahat, Luka. Makanya aku sembunyi di rusun ini.” 

“Siapa?” 

Lelaki ini tak seperti orang yang gemar cari masalah. Bahkan, beberapa kali aku melihat, ia dengan sukarela membagikan makanan ringan miliknya untuk anak-anak di bawah. 

“Liputanku menyinggung beberapa orang.” Ia tampak menimbang. “Sepertinya, aku membongkar praktik kejahatan. Mereka yang menimbun keuntungan, bersembunyi di balik izin usaha sebuah perusahaan besar.”

“Kasus apa?”

Illegal logging di Kalimantan Barat,” jawabnya hati-hati, sambil celingukan ke arah jendela. Seolah ada yang mendengarkan obrolan kami di sana.

“Mereka mengancam?”

Ia mengangguk. “Itulah kenapa aku tinggal di sini, demi menghindari mereka. Kawasan ini cukup jauh dari media tempatku bekerja.” Senyum kembali terbit di bibirnya. “Kamu sendiri? Sedang menghindari apa?”

Aku memilin taplak meja yang menutupi meja usang di kamar kontrakanku. Alih-alih membawa barang dari rumahku di Beji, aku membeli perabotan bekas untuk dipakai sehari-hari. Supaya, ibuku tak banyak bertanya. Ya, ibu… satu dari sekian alasanku pindah ke rusunawa bangsat ini. “Sama sepertimu, untuk menghindari orang.” Aku diam sesaat. “Orang tua lebih tepatnya.” 

“Kalau sama ibu sendiri, bukan konflik namanya. Tapi kedewasaan menerima pendapat dan nasihat orang tua.” Ia menyambar rempeyek milikku.

Aku mencerna kata-kata yang diucapkannya –di sela bunyi rangup rempeyek– aku jadi ingat Ibu. 

Kami lantas kembali menikmati makan malam, ia dengan telur asin, sementara aku yang kini keranjingan ayam gulai dengan gorengan benyek berkuah, dilengkapi rempeyek teri yang dibagi rata. 

Aku dan Suka, sudah seperti sepasang —awalnya tetangga yang berasumsi begitu— karena hampir setiap malam, aku dan dia menghabiskan waktu bersama. Membicarakan buku bacaanku yang kekiri-kirian, isi reportasenya yang luar biasa garang, atau berbagai kebijakan yang mengakas mimpi banyak kepala keluarga di rusunawa ini. Kami berbicara sampai pagi, tapi tak pernah ketemu solusi. Hingga aku kembali lagi terasing sebagai robot industri.

***

Bulan Juni tanpa hujan, Suka hilang cukup lama. Pak tua di lantai bawah bilang, ia dijemput beberapa lelaki besar berambut cepak, menggunakan mobil Avanza hitam dengan kaca legam. Pak tua bilang, Suka tak banyak bicara, hanya menitipkan satu buku tebal yang biasa ia kepit di ketiaknya, untukku katanya. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, milik Pram.  

Dari situ aku tahu, bahwa Suka dibawa dalam kondisi dipaksa, dan ia menyimpan pesan-pesannya lewat tuturan Pram. Kini aku kembali menikmati nasi bungkus sendirian lagi.

*** 

Masih ingat dengan angka kejahatan yang tinggi di sekitar area rusunku?

Hari ini aku lembur, hingga malam hampir berganti pagi. Di jalanan sunyi menuju rusunku, beberapa orang lelaki mengekori langkahku. Aku berlari, mereka mengejar, aku bersembunyi, mereka pun mencari. Sejak aku berjalan meninggalkan jalanan besar menuju area perkampungan, bayangan itu berkelebatan. Setiap kali langkah dipercepat, suara kejaran pun terdengar semakin dekat. Hingga satu lengan besar melingkar di pinggang, menarikku sampai terjerembab. Kemudian beberapa di antara bayangan-bayangan itu menginjak dadaku dengan sepatu bergerigi, membuatku kerongkonganku tersedak oleh liur. Atau darah?

Kepalaku yang limbung ikut mereka injak, begitupun leherku yang megap-megap kesulitan berteriak. Dada ini seperti tak bisa mengembang menarik udara ataupun mengeluarkan bunyi. Aku terpuruk, tubuhku menggulung dalam kegelapan, bersama tendangan orang-orang asing yang tak kukenal. Apa yang mereka cari? Apakah mau mengambil uang tak seberapa punyaku? 

Hingga kegelapan hampir menyudahi kesadaran, aku teringat informasi apa saja yang sudah kuungkapkan pada Suka, tentang laporan-laporan ganjil perusahaan tempatku bekerja. Teringat raut wajahnya yang berubah merekah, saat tahu aku punya manfaat besar untuk pemberitaannya. Senyum dan bernas pikirannya itu, membuatku larut berdiskusi hingga pagi, memuntahkan rahasia-rahasia perusahaan yang berhasil aku curi. Suka sudah pergi, mungkin kini aku tengah menyusulnya menuju dunia sunyi yang entah di mana.

Suka

Aku kembali. Ya, aku kembali ke rusunawa tempatku bersembunyi. Aku Nirman Arsuka, wartawan sebuah media yang baru saja terbebas dari sebuah tragedi penculikan, setelah sepuluh hari dikurung di sebuah tempat pengasingan. Ini kisahku, bersama temuan dan fakta-fakta kasus pembalakan liar yang sedang aku usut. 

Kembalinya aku ke masyarakat, adalah berkat pertolongan seorang perempuan yang melaporkan kepergianku dan beberapa tafsirannya ke kantor tempatku bekerja. Perempuan rusun Blok B itu memanggilku “Suka”.

Terbongkarnya kasus pembalakan liar di kawasan Kalimantan Barat, menuai sorotan dan memantik banyak gejolak, berkat bantuan LSM Lingkungan Hidup Green Spectrum dan pendampingan beberapa LBH, aku mengurai banyak tanda tanya. Penyelidikan sampai saat ini masih berlanjut, beberapa pihak di balik kasus eksploitasi hutan ini satu persatu mulai tersingkap.

Sejak kepulangan, aku tak pernah menemukannya lagi. Sampai beberapa tetangga mengabariku, perempuan bernama Luka yang menjadi sumber informasiku di perusahaan itu, terbunuh dalam sebuah tindak kejahatan perampokan. Atau sengaja dihilangkan?

Terakhir aku mendengar kabar dia, ketika sang ibu membereskan kamarnya. Perempuan uzur dengan sorot hancur di matanya itu mengembalikan buku milikku.

“Anak saya telah pergi selamanya,” ucapan itu bergetar. “Saya tak pernah setuju ia tinggal di sini.”

Aku tak bisa berkata-kata. Hanya mengangguk meraih buku Pram di tangannya.

“Anda korban penculikan itu?” Ia menelusuri wajahku.

Aku kembali mengangguk, dan masih bisu.

“Sriluka cerita tentangmu. Ia pernah meminta saya membantunya mencarimu, tapi saya hanya tenaga pengajar biasa.” Ia mendengkus. “Institusi tempat saya bekerja tak punya cukup nyali, untuk mencari tahu keberadaan seorang wartawan yang diculik.”

“Sa-saya dan Luka cukup dekat. Saya turut berduka.” Geletar itu menular ke bibirku. “Saya… sering berdiskusi dengannya.”

Ibu itu memandangku tak berkedip. Ia lantas melirik sampul Pram dalam genggamanku. “Seperti sunyi, seorang bisu tidak akan pernah bisa bernyanyi. Meski waktu berlalu sekian lama, manusia berevolusi sekian rupa, ia akan tetap bisu selagi penguasa punya banyak mata di mana-mana,” ucapnya putus asa.  

Ia kemudian berlalu, melangkah dalam jejaknya yang limbung, meninggalkanku yang kembali menikmati nasi bungkus sendirian.

Kejahatan, terorganisir atau tidak, terstruktur ataupun membabi-buta tetap menuai banyak sekali luka. Seperti yang menimpa perempuan muda dengan manik mata menyala-nyala itu. Aku yang menggunakan segala informasi darinya, dan berhasil kembali pulang ke lubang sembunyi ini, hanya bisa berterima kasih lewat angin lalu.

Luka 

Namaku Luka, aku tinggal di lantai 2, sebuah rusunawa kawasan Sawah Dalam, Jakarta. Ini ceritaku tentangnya, si penghuni lantai 1 Blok C, yang hilang entah ke mana. Di duniaku kini, semua serba gelap dan kedap. Aku tak pernah menemukannya lagi mengantri di WC umum rusunawa kita yang carut, ruanganku hanya sunyi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Setuju, keren
❤️
@galanggelart : Terima kasih 🙏
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi