Disukai
18
Dilihat
1,272
Ohrwurm
Drama

Jakarta Barat, 2014.

“Kenapa lagu ini mulu, sih?”

Gadis itu tergemap, lantas memicingkan matanya.“Kenapa nggak?”

Angkutan umum yang kembali mengangkut kami pagi ini berjalan lamban, melewati beberapa pedestrian dan para pedagang asongan yang sibuk menagih recehan untuk berbatang rokok yang mereka edarkan. Satu kilometer lagi, gadis ini akan lekas turun, tepat depan kampus Trisakti.

“Nggak kekencengan suaranya?”

 Si gadis kembali mengangkat alis, sambil membuka satu earbud-nya. “Apa?”

“Suaranya kedengeran sampai sini. Apa nggak bahaya buat telinga lo?”

Sambil mengangkat bahu, ia tak menjawab, mulutnya sedikit memberengut.

“Tahu dari mana band ini?” Aku masih ingin bercakap-cakap dengannya.

“Tahu aja.”

Ada kedut di ujung mulut gadis berparas manis, bermantel coklat itu. Matanya menerawang , menyusuri jalanan sambil menepuk-nepuk hardcase guitar yang dibawanya ke mana-mana. Dengan jemarinya yang selalu mengenakan sarung tangan, ia bersenandung. Bibir bentuk hati itu mengatup, tak mengeluarkan bunyi, tapi embusan napasnya seolah berlagu.

“If you think you've had too much. Of this life, well hang on....” Aku membisikkan lirik yang kucuri dengar dari earphone-nya, lantas tersenyum sendiri sambil menatap ujung sepatu.

***

Jakarta Selatan, 2023.

Kereta Rel Listrik adalah sebuah pergulatan hidup, begitu kata Leyanna –atau panggil saja ia Lea, adik perempuanku. Berdiri berdempetan, menghirup aroma ketek bercampur minyak wangi, adalah sebuah upaya bergumul dengan wangi kehidupan, begitu katanya. Adikku tak sudi berangkat tanpa menggunakan masker dan headphone di kepalanya, apalagi tahu aku akan berbuat apapun demi menjaga langkahnya agar selamat sampai tujuan. Jadi ia bersikap santai, seperti orang normal kebanyakan.

Pagi ini agak lain. Wangi parfum melati beraroma mistis menguar tajam, dari seorang perempuan di hadapan kami. Membuat cengkeraman Lea di lenganku kian erat, sambil bersungut-sungut, ia mulai batuk.

“Tahan,” bisikku.

“Bau, tauk!” umpatnya pedas.

Aku cuma bisa senyum, dan mengernyitkan pangkal hidung. Aku tahu, Le. Mungkin si Mbak di depan ini, sedang menjalankan misi pentingnya memikat atasan.

Si Mbak yang dimaksud mendelik tajam, menatap kami bergantian. Bibir merah darahnya mengerut seperti hendak menyemburkan sumpah, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika menatap bola mata Lea, dan memastikan apa yang dilihatnya hingga nyaris tak berkedip.

Aku membersihkan tenggorokan, meremas bahu adikku dan membuang rasa sesak di dada karena sikap meremehkan si Mbak ‘bau menyan’ itu.

Setelah sampai di Stasion Kebayoran, Lea kembali mencengkeram lenganku. “Nggak lama-lama, Kak,” sungutnya. “Janji!”

Aku tahu, Lea tak bisa merespon ini, saat aku cuma tersenyum sambil mengangguk. Menyibak kerumunan orang yang berlalu-lalang, agar Lea bisa berjalan dengan mudah, mungkin membuatku tampak seperti jagoan. Namun tak ada yang tahu, kalau aku cuma German Sheperd [1] bagi Lea-ku yang cemerlang.

Menyisir lantai dasar, membaui aneka kuliner yang dijajakan, lantas mengarah menuju pintu masuk lorong sempit itu adalah sebuah usaha besar, bagi kami berdua yang berjalan seperti semut di kerumunan. Tangan mungil Lea menggamit lenganku kian erat, sesekali ia bersenandung melawan rasa was-was. Setelah sampai ujung lorong, kami pun berbelok ke kiri melewati tangga, mendekati spanduk besar bertuliskan "Basement" yang terlihat membentang, itu tandanya eskalator menuju lantai bawah sudah di depan mata.

Sampailah kami di kios yang dimaksud, tempatku setiap bulannya menghabiskan waktu. Berdampingan dengan penjual buku bekas dan penjahit, kios ini memang terkenal paling berantakan.

Bang Togar sudah menampakkan gigi kuningnya, dengan rokok terselip di jemari, ia menyeringai sambil melambaikan tangan. “Woy, Handri! Udah jadi saudagar, lu?”

Aku terkekeh, sambil membetulkan letak kacamataku. “Apaan sih, Bang? Lo kali, dapet proyek abis pilkada kemaren.”

“Kampret! Cuma kebagian capeknya doang gua!” Lelaki berdarah Batak, ber-leksikon Betawi ini mengumpat.

Aku tergelak, sambil menyisiri rak yang sudah kuhapal betul seluk beluknya. “Ada barang baru, Bang?”

“Kalo yang elu tanyain stok si botak... kagak ada yang baru, Dri.” Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, seperti hendak mengunyahnya. “Lagian, zaman sudah digital begini, ngapain masih nyari yang fisik-fisik, sih? Kagak cukup apa sama koleksi lu yang bejibun itu?”

Aku tergelak. Ada desir hangat yang menjalar, merayapi tengkuk hingga telingaku, yang kuyakin kini mulai memerah. Kembali, rangkaian melodi itu seolah menyihir membran timpaniku. Membawa banyak hal yang seperti baru saja kemarin aku alami.

Tautan jemari di lengan kananku mengencang, mulut Lea menghampiri telingaku. “Kak, aku kepengen pipis.”

“Sekarang?”

“Masa iya besok,” rutuknya. Ia mulai mencubiti kain sweaterku yang tebal, dan mendesis. “Ayo!”

“Gue tinggal dulu ya, Bang.” Aku berpamitan pada Bang Togar yang memperhatikan interaksiku dengan Lea.

“Kenapa kamu masih bersikeras datang ke sini, sih, Kak?”

Aku tak menggubrisnya. “Masih kepengen pipis, nggak nih?”

Adik kecilku meleletkan lidahnya. “Tunggu di dalam, ya. Bilang aja, kamu nganter aku. Orang juga pasti maklum.”

“Mereka maklum setelah teriak duluan, Le,” dengkusku.

Lea hanya terkekeh.

Sebetulnya, di usia kami yang sudah segini ini, aku tak perlu menjaganya sedemikian rupa. Namun, Lea adalah azimat yang Bunda titipkan padaku, sejak ia mengembuskan napas terakhirnya. Kamu adalah sepasang mata untuknya, Dri. Dan ia adalah jantung yang berdegup untukmu. Kalimat itu selalu Bunda rapalkan untukku sedari kecil, sejak Retinopati Diabetika mencuri sepasang penglihatan Lea.

***

Sepulang dari kios kaset tempat Bang Togar jualan, aku belum bisa memikirkan apapun selain serangkaian nada yang mengalun bandel di kepala plontosku. Tentang kesakitan, tentang mimpi yang porak poranda, dan tentang kehilangan orang yang dikasihi.

Sembilan tahun berlalu. Gadis bersarung tangan yang mengulang-ulang satu lagu di kasetnya itu masih menghantuiku. Ia yang seperti metronom itu seolah tahu, di detik ke berapa ia akan mematikan walkman-nya, memutuskan untuk turun dan menghilang di balik gedung tinggi.

Setiap minggu di tahun yang sama, gadis itu bersamaku di Pasar Santa. Aku yang selalu mengamati gerak-geriknya. Saat ia berjongkok menikmati setiap interaksinya dengan para pedagang, tertawa dan bercanda tentang seleranya yang luar biasa. Memindai setiap kaset yang aku yakin sudah sering didengarnya. Ia yang tak pernah terpuaskan, dengan apa yang dimilikinya di kepala.

Gadis dengan sarung gitar besar tersampir di punggung itu, memperlakukan wadah alat musiknya sebagai sebuah perisai.

“Kak Handri.”

“Yes?” Lamunanku seketika buyar oleh suara Lea.

“Mmm... kenapa masih terobsesi dengan kaset bekas, sih?”

Meski ia tak bisa melihat dengan matanya, Lea sanggup membaca kegelisahanku. Adikku duduk di ujung kasur, sambil memainkan tongkatnya.

“Kamu, kok belum tidur?”

Ia menggeleng. “Nggak bisa.”

“Ingat sesuatu, Le?”

“Ingat sama Bunda.” Ia menghela napas. Lalu menyilangkan kedua kakinya di atas kasurku. “Kamu bisa bayangkan, Kak. Seperti apa Bunda menghabiskan waktunya untuk terapiku. Berharap segala sesuatunya tetap seimbang di tubuhku. Tapi coba lihat... tetap saja Bunda yang dipanggil duluan.”

“Hus! Nggak boleh ngomong gitu.” Aku tersenyum kecut. Jika ada orang yang sanggup diberi medali karena mendampingi adikku melawan penyakitnya, dia adalah Bunda, yang tak ada lelahnya memperjuangkan kesehatan Lea agar lekas pulih.

“Kak Handri....”

“Ya, Le?”

“Kenapa masih suka dengerin musik itu, sih Kak? Apa Kakak nggak sedih dengernya?”

Aku meremas ujung sweater yang belum sempat kuganti. “Nggak akan bosan, Le.”

“Ingat sama dia, ya Kak?”

Aku tergelak, lalu mengacak rambutnya. “Tidur sana, Lea. Udah malem, kamu harus istirahat. Kurang tidur, bisa meningkatkan kadar gula darah.”

Lea lantas terkekeh. “Alasan aja, sih. DNA kita itu mirip, Kak. Sama-sama membawa setengah gen orang tua kita. Apa yang membahayakan untukku, bisa jadi ancaman juga buatmu.”  

Aku tak bisa berdebat dengannya. Leyanna selalu selangkah lebih cemerlang dariku. “Ya, udah. Kita istirahat aja kalo gitu.”

Lea tersenyum dengan kedua bola mata redupnya. Ia menepuk pinggir lenganku, mencari bahuku untuk diremasnya. “Berhenti mendengarkan lagu itu, Kak.”

“I’ll try my best.”

Malam membawa silir-semilir wangi dari vas bunga kesayangan Bunda di ruang tamu, bunga lily yang sengaja kurangkai pagi tadi. Alunan simfoni menyayat hati, terbetik dari sudut-sudut kepalaku, tanpa perlu dihantarkan rambat bunyi. Otakku berlagu dengan sendirinya.

Sometimes everything is wrong. Now it's time to sing along.

***

RSCM, 2014.

Aku bisa mengenali ikatan rambutnya yang bergoyang setiap kali ia berjalan, sarung gitar yang tak pernah lepas dari punggungnya itu menambah keyakinanku, kalau di depan sana adalah gadis yang sama. Dari jauh, aku sudah melemparkan senyum terbaikku.

Namun, entah kenapa ia bersikap tak acuh.

“Hei, lo ngapain di sini?” sapaku ketika ia duduk di ruang tunggu. Seperti biasa, earphone yang menyumbat telinganya, mengalunkan lagu yang sama. “Lagi-lagi... musik lo kekencengan.”

Ia memutar bola mata cokelatnya.

“Suka banget ya, lagu itu?”

Matanya hanya mengerjap, lantas menatapku heran. “Ngapain ikutan ke sini?”

Aku tak bisa menahan diri. Tawaku terlepas, menanggapi sikap ketusnya. “Jemput nyokap sama adek gue aja, sih. Lo ngapain?”

Ia mengangkat bahunya, tak menjawab. Lalu memasang kembali satu earbud-nya. “Mau dengerin?” Lantas menyodorkan satunya lagi untukku sambil duduk di sebelahku. “Baru dibersihin kok, nggak usah jijik.”

Kini aku yang dibuat terkejut oleh sikapnya. Namun, tanganku tergerak sendiri mengambil kabel menjuntai di telapak kurusnya.

“Semoga nggak bosan,” ucapnya pelan.

Aku tersenyum. “Michael Stipe itu vokalis idola gue.”

Ia mengangguk-angguk, tapi tak menanggapi pernyataanku.

Aku terbelalak ketika menyadari, yang diputarnya adalah sebuah mix-tape dengan kumpulan lagu yang sama, diputar berulang-ulang.

“Heran?” tanyanya.

Sebelum aku bisa menjawab, seseorang menepuk bahuku kencang-kencang. “Kok, Handri kenal Lily?” Suara Bunda mengagetkanku.

“Eh?” Sontak, earphoneku terlepas. “Lily?”

“Ini Lily, teman terapinya Lea. Sama-sama pasien di sini,” cerocos Bunda. “Hai, Ly. Ibumu yang antar?”

Gadis manis bermata cokelat itu mengangguk. “Lea sedang periksa, Tante?”

Bunda mengangguk. Ia menatapku dan wajah gadis itu bergantian. Ada sorot heran, sekaligus jenaka yang kutangkap di binar mata Bunda. “Lily, ini Handri. Kakaknya Leyanna. Kalian sudah saling kenal, ya?”

Aku menggeleng, dan tak kusangka Lily malah mengangguk. Mengundang gelak tawa bundaku.

“Nggak kompak amat, sih,” cibirnya. “Ya udah, Bunda tinggal dulu. Lea mungkin sudah selesai dicek.”

Tepat ketika bundaku melengos pergi. Lily terbahak. “Lo grogi banget sih, depan nyokap sendiri?”

“Lo sakit?”tanyaku.

Ia mengerucutkan bibir berbentuk hatinya, sambil mengangkat bahu.

“Diabetic juga? Tipe?”

“Dua,” tukasnya cepat.

Aku mengangkat alisku. “Dari siapa?”

“Ayah gue.”

Aku mengangguk. Tak berani bertanya lebih lanjut.

“Dia udah nggak ada,” lanjutnya.

“I’m sorry.”

“Nggak usah minta maaf,” ungkapnya sambil tersenyum lebar. Senyum tercantik yang pernah kulihat. “Gue nggak pernah kenal sosok Ayah. Dia cuma serangkaian melodi di otak gue.”

Aku mengernyitkan dahi, yang malah membuatnya terkikik.

“Aneh, ya?” Sorotnya lantas menerawang menatap Lea dan bundaku di kejauhan. “Kadang hidup emang seaneh itu. Kita cuma kenal orang lewat rupa, lewat nama, bahkan hanya lewat nada yang kita ingat di kepala.”

Rasanya baru kali ini, aku mendengar kisah semerana itu. Aku bisa merasakan rindu semacam apa, yang ia anyam dari melodi yang ditangkapnya sejak masa kanak-kanak. Yang ia kumpulkan, hingga bisa membentuk sosok Ayah di kepalanya.

“Ketemu?” tanyaku lugu.

“Si Stipe ini, cara ayahku menitipkan rindunya.”

Aku mengangguk. Ucapannya adalah langgam terindah yang pernah aku dengar.

 

***

RSCM, 2023.

Hari Selasa. Aku dan Lea menghadiri acara yang biasanya diprakarsai Bunda. Dengan sekadar membagikan pamflet dan seruan tentang gaya hidup sehat, atau berbagai upaya mengentaskan penyakit yang menyerang sistem metabolisme bernama Diabetes Mellitus ini. Sebagai salah satu caregiver adikku, upaya pengentasan penyakit ini mendorongku untuk bisa berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada sesama keluarga penderita.

“Sudah sembilan tahun, Kak,” bisik Lea. “Rasanya dia masih seperti ada di sini.”

“Dia dan Bunda, Le.” Aku meneguk air dari dalam botol minumku. “Dua orang survivor hebat. Sama seperti kamu, Le. Diabetes boleh mencuri penglihatanmu, tapi tidak semangatmu.”

Lea tersenyum. “Kak....”

“Ya?”

“Arah jam tiga, ada bau menyan lagi.”

Aku tergelak. “Semangat dan juga penciumanmu, Le.”

Kami sama-sama tertawa, menghabiskan sore itu di Rumah Sakit tempat Lea, Lily dan Bunda berkiprah menyerukan cara melawan penyakit degeneratif yang menyerang sistem dalam tubuh mereka.

***

Pasar Santa, 2014.

“Kenapa lo ngajak gue ke sini, Ly?”

“Di sini gue menemukan dia, Dri. Di antara deretan kaset bekas itu, gue inget apa yang diputarnya setiap pagi di meja kerjanya.”

Aku tersenyum. “Ly... dulu gue pikir lo musisi.”

“Karena sarung gitar yang gue bawa?”

Aku mengangguk, memancing tawanya.

Lantas hardcase gitar yang biasa tersampir di punggungnya itu, dibukanya. Beragam kaset bekas, tersimpan dengan rapi di sana. Ia beri nama, dengan spidol hitam, diatur seperti peta untuk memulai pencariannya terhadap satu sosok yang ia rindukan.

Lily lalu membuka sarung tangannya, memperlihatkan tiga jemari yang masih tersisa, setelah dokter mengamputasi dua jemarinya yang lain.

“Gue mungkin nggak bisa main gitar, Dri. Tapi gue ini musisi sejak dalam pikiran.” Ia tergelak. “Gue bermain musik di otak gue.” 

Aku tersenyum menyerap semua kata-katanya. Berusaha paham dengan yang ia maksud. Selalu ada nada, melodi dan simfoni yang mengalun tanpa kita dengar secara langsung lewat rambat bunyi. Melodi itu sudah ada di dalam kepala kita,tanpa kita sadari. Kadang mengganggu, kadang membuat kita sedih, tak jarang juga membuat kita teringat pada orang yang kita kasihi.

***

International Diabetes Federation (IDF) dan WHO menetapkan 14 November sebagai Hari Diabetes Internasional. Sampai saat ini, diperkirakan lebih dari 346 juta penderita diabetes di seluruh dunia, dan akan terus meningkat setiap tahunnya, tanpa upaya serta edukasi dari berbagai pihak untuk menanggulangi bahayanya. Diabetes Mellitus, didefinisikan sebagai gangguan metabolisme kronis (multi etiologi) yang ditandai tingginya kadar gula dalam darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein akibat insufisiensi fungsi insulin. 

Cerpen ini adalah sebuah dedikasi untuk orang-orang terdekat, yang dikalahkan oleh ganasnya penyakit Diabetes Mellitus. Semoga mereka telah tenang di sana.

Ohrwurm (secara harfiah berarti cacing telinga), kadang dikenal dengan nama terngiang-ngiang, cacing otak, musik lekat, earworm, atau sindrom lagu dan pembicaraan tersangkut,atau sebuah kejadian dimana musik atau pembicaraan yang terus terulang-ulang dalam pikiran seseorang meski lagu atau pembicaraan tersebut sudah tidak didengar.

[1] Jenis anjing penunjuk jalan

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Aamiin teh foggy, hayuuu diantos 🤩🤩
@carsun18106 : Doákan saya bisa nyusul ke sana yaa, Teh :D
@nimasrassa : Al-fatihah... pelukkk
Pas pisan teh foggy, lg dingin2 bersalju, baca ditemenin coklat panas 😄
Duuuh, jadi ingat seorang teman yang juga telah pergi karena penyakit yang sama seperti Lily dan Lea. 😢
@carsun18106 : Hehehe kebayang indahnya sih di sana, sambil baca seruput coklat panas ya
Eh handri kepala plontos ngikutin michael stipe apa gmn ni hehehe
Anak2 lg latihan paduan suara buat karnaval, jadi we...
@carsun18106 : Hwaa dikomen sama warga Jerman langsung. Kenapa lagu anak-anak, Teh? Ohrwurm-mu in a good way, kan? Michael Stipe is a genius songwriter, evah! 🙌
Meine Ohrwurm momentan ist Kinderlieder, tolong 😭😭😭
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi