Disukai
15
Dilihat
2,588
Babi Ngepet
Drama

Lima Tahun Lalu.

Di lorong gedung perpustakaan lama yang kumuh, tempat bangku-bangku kuliah yang sudah rusak diperlakukan layaknya sampah, mereka biasa mengobrol melingkar, membentuk setengah lingkaran dengan buku-buku bekas menumpuk di tengah. Udara berdebu yang dibawa tiupan angin¸ menerbangkan serpihan serdak menyesakkan, yang memenuhi cuping hidung masing-masing. Suara yang memelan, lamat-lamat lantas meninggi, terdengar berapi-api, bicara tentang ekonomi kerakyatan, dan jaringan subversif menentang pemerintah. Juga mengobrol tentang bagaimana pembangunan berkelanjutan dapat menyelamatkan bumi.

 Ranti dan Hambali ada di sana. Berpasangan sebagai martirnya mahasiswa, penggerak suara minoritas yang menggaung di antara baris mereka-mereka yang pragmatis –datang ke kampus untuk mengantungi nilai, tok! Bersama beberapa orang revolusioner dan progresif lainnya, terbentuklah sebuah jaringan lintas kota yang membawahi berbagai isu sosial. Para aktivis yang terpanggil untuk mendedikasikan daya juang dan rasa cintanya, terhadap keadilan dan kemanusiaan.

Demonstrasi dan diskusi-diskusi malam di berbagai forum aktivisme itu, membawa kisah keduanya ke sebuah jalinan percintaan, yang berusaha tak terkungkung oleh standar nilai dan asumsi. Mereka menyatu karena rasa cinta pada sesama.

“Sikap pemerintah pusat yang seperti ini lama-lama akan membuat ekonomi kita terpuruk!” Binar dari bola matanya, seakan menghipnotis rekan-rekan yang nyaris mengantuk. Hambali bicara.

“Yang aku takutkan, ketika depresi ekonomi terjadi, rakyat kita kebingungan mencari solusi. Banyak hal yang akan terjadi di luar nalar.” Kini, Ranti yang memantik isu.

“Itu juga yang aku takutkan,” sambung Hambali.

Ranti dan Hambali, seperti api dan pemantiknya, saling melempar isu bagai bensin menyulut api, yang akan berakhir pada demonstrasi dan pergerakkan massa di luar kampus. Semua aktivis di berbagai front sangat mengenal karakter keduanya, yang sarat akan logika dan pertimbangan. Karena terbiasa dikejar-kejar aparat.

 

Masa Kini.

Malam meluncur dengan cepat, menenggelamkan mentari senja, menyisakan hening dan gelisah makhluk-makhluk astral yang ingin menggoda manusia.  Duloh kembali meyakinkan dirinya, kalau pintu sudah terkunci rapat. Kandang-kandang ayam sudah aman, sebelum dirinya berangkat ke pembaringan. Suara kelontang tiang listrik di kejauhan, menandakan waktunya tengah malam. Kelontang yang makin mengencang seolah menjadi pesan tukang ronda ke telinganya, ada sesuatu yang sedang terjadi.

Suara ilalang bertelingkah, menyamarkan gemerisik bunyi asing lainnya yang dibawa angin sampai ke telinga. Duloh sontak terjaga, punggungnya meregang tegak, bulu kuduknya ikut meremang. Ada sesuatu, batinnya. Napas yang tersengal, naik turun di atas perutnya yang tambun.  Begitu kepak ayam belingsatan, Duloh tahu, kalau kandang ayamnya dimasuki seseorang, disusul gedebuk kayu berjatuhan.

“Siapa itu?” sengalnya, nyaris seperti derit engsel pintu. “Jangan macam-macam! Saya bawa senjata,” kibulnya, masih dalam suasana kepanikan.

Ia berusaha tak gentar, tetapi air kencing di celananya yang menetes-netes berkata lain, ia ketakutan. Lebih baik ketemu kuntilanak, daripada harus kehilangan nyawa, pikirnya.

Duloh mencengkam sebilah kayu yang siap untuk diayunkan, berbekal rapal dzikir ia meneguhkan diri, kalau pribadinya seorang pemberani. Perut tambunnya nyaris tak tertutupi, ketia ia sembunyi di balik tiang, bau pesing menguar dari celananya yang mulai basah, ia menahan diri untuk tak berlari tunggang langgang.

Bergeser ke arah yang lebih terang, Duloh terkesiap, matanya menangkap kehadiran sosok asing yang tergolek di sisi kandang ayam. Ia tahu ketika menghampirinya, tubuh tergolek lemah itu penuh luka-luka. Tanpa ragu, ia menghampiri dan menggoyangkan raga yang tak berbentuk itu. Duloh tak merasa kalau bahaya tengah mengintainya.

Arrgh... Seseorang menggeram, menahan kesakitan. Kerongkongannya menderam menahan bunyi seperti binatang, ia seperti sedang merapalkan sesuatu.

“Hei, siapa kamu?? Mau nyolong, hah?”

Kembali tubuh itu menggeram, dadanya naik turun.

Duloh seketika tersadar, darah mengucur dari tubuh manusia tak jelas rupanya itu, menetes membasahi bahu dan punggungnya yang menggelung. Ternyata manusia itu tak sedang merapal, ia sedang memohon dan terisak.

“Jangan bunuh saya! Istri saya menunggu di rumah.” Sosok itu mengaduh.

Duloh yang masih berdiri, menyentuhkan telapak kakinya ke punggung manusia tak jelas bentuknya itu. Hampir saja sosok itu ia tendang.

Lelaki terluka itu kembali memohon. “Jangan bunuh saya.”

Duloh tak paham, kenapa sosok itu begitu ketakutan. “Hei... kamu pencuri?”

Ia makin menggelung, menutupi perutnya yang juga mengeluarkan darah segar, menderas hingga lantai kandangnya dipenuhi darah berceceran.

“Kamu bisa bangun? Saya bantu papah sampai teras rumah.” Duloh akhirnya menyerah. Nuraninya terketuk, meski bau pesing di selangkangannya menyadarkannya, kalau ia masih ketakutan. Bagaimana kalau orang ini balik melawan?

Lelaki berpakaian serba hitam itu mengangguk, dengan pasrah ia mengikuti arahan Duloh melangkah. Kakinya tersaruk, menderit seperti memiliki kuku-kuku yang panjang. Ada gemuruh aneh yang terdengar di dadanya, sama seperti tadi, suara mirip geraman.

 

Lima Tahun Lalu.

Isu kenaikan bahan dasar rumah tangga memicu beberapa gerakan di lapisan masyarakat, yang diagitasi oleh beberapa aliansi mahasiswa. Mereka menuntut pemerintah agar menurunkan harga kebutuhan pokok, demi mengatasi ketimpangan ekonomi. Mahasiswa menuntut pemerintah agar, menindak tegas oknum aparat yang melakukan tindakan represif terhadap masyarakat sipil, dan mahasiswa yang berdemo.

Ranti dan Hambali ada di antara mereka. Keduanya berjalan di barisan paling depan, dengan ikat kepala merah menyala menuju gedung perwakilan rakyat, menyuarakan aspirasi buruh, petani, nelayan, dan kaum miskin kota.

Apa kabar mahasiswa, buruh, petani, nelayan, dan kaum miskin kota? Kita datang ke sini bukan untuk membuat kekacauan, bukan untuk mengusik ketenangan para pemimpin di gedung sana, tetapi kami datang untuk menuntut kesejahteraan!” Suara toa membahana, berdentum di gendang telinga massa yang terbakar semangatnya, dan berapi-api untuk menyuruk masuk menembus barikade brimob dan prajurit TNI yang diperbantukan.

Tuntutan turunnya harga bahan dasar pokok untuk rakyat kecil, adalah hal mendasar yang mereka suarakan, di antara banyak tuntutan lainnya.

“Ini adalah bentuk perlawanan kami, menuntut hak seluruh rakyat di negeri ini. Jutaan rakyat direnggut kesejahteraannya oleh para pemimpin yang korup, banyak masyarakat sipil yang disakiti oleh tindakan represif oknum-oknum aparat. Kami minta setiap kasus kekerasan terhadap mahasiswa dan wartawan dituntut dan diadili!”

Sorak sorai, mengakhiri teriakan-teriakan Hambali, yang dengan semangat berapi-api, menggentur dan menyulut massa untuk merengsek maju.

Ranti dengan ikat kepala menyala, ikut mengepalkan tangannya ke udara. Bola matanya dilapisi air mata, menyaksikan kekasihnya berjuang di kejauhan. Ia membantu mengadvokasi para pendemo, yang berdiri tegak di luar pagar pembatas gedung.

Hambali menghampiri, melepaskan syal merahnya lantas mengusap peluh di kening kekasihnya. “Kita akan terus berjuang, sampai tuntutan kita dikabulkan, ”

Ranti mengangguk. “Sampai kapanpun kita akan tetap berjuang untuk rakyat, Ham.”

 

Masa Kini.

Duloh membawa lelaki asing itu ke dalam rumahnya, membaringkannya di lantai, dialasi lap handuk seadanya. Hingga, suara massa berkumpul di luar pagar rumah, membuatnya bergetar dan kembali ketakutan. Kali ini berkebalikan dari muasalnya, naluri berkata lain, ia ingin melindungi sosok yang di matanya seolah tengah berlari dari amukan massa.

“Hei, Duloh!”

Duloh menggeser langkahnya, meraih daun pintu, lantas melongokkan kepalanya yang hanya separuh. “Ya? Ada apa ini?”

 “Kamu lihat ada babi ngepet lari kemari? Dia belum sempat berubah, tapi sudah kami pukuli sampai babak belur.” Seorang pemuda yang tak ia kenal, bicara dengan lantang, dengan pemukul kayu di genggamannya, ia seperti sudah siap menghabisi sosok yang dimaksud.

Duloh tertegun. Ia tak pandai berbohong, namun nuraninya menimbang dengan matang, jika ia menyerahkan lelaki tak berdaya di rumahnya itu, ia takkan selamat dari amukan warga. Duloh memilih untuk berbohong, ia lantas menggeleng. Dengan suara tanpa gentar, mulutnya mulai melontarkan rangkaian cerita bohong.

“Tadi, saya lihat ada sosok ke luar dari batas kampung ini, menuju arah pematang sawah. Saya yakin, yang kalian maksud lari ke arah sana.”

Duloh yang polos, yang terbiasa hanya jadi pesuruh untuk menjaga ayam-ayam majikannya, tentu dipercaya oleh warga. Tubuh tambunnya yang kesulitan bergerak, tak ikut bersama warga mengejar babi ngepet yang dimaksud.

“Hati-hati, Loh! Jangan sampai, ayam-ayam majikanmu dia curi!”

“Terimakasih. Nanti, kalau ketemu babi ngepetnya, saya bakar sampai mampus!” Duloh mulai gemetar, ada sesuatu dalam dirinya yang menggerakkannya untuk mundur. Ia mulai merasa takut akan kemampuannya berbohong.

Duloh masuk ke dalam rumah, untuk menemui sosok itu lagi, yang masih terbujur kaku berlumuran darah.

“Kenapa kamu sampai begini? Apa tidak ada cara lain?” Duloh tak sampai hati menyebutkan nama binatang yang warganya amat benci.

Lelaki itu semakin menggelung, ia terbatuk, mengeluarkan segumpal darah dari kerongkongannya, lantas membuka tudung kepala. “Istri saya sedang hamil, saya tak tega membiarkannya kelaparan.”

“Kamu tak punya tetangga?”

“Krisis ekonomi membuat manusia hanya memikirkan dirinya sendiri-sendiri. Itu yang saya pelajari selama lima tahun ini, sampai putus asa dan tak bisa lagi berpikir jernih.”

Duloh tertegun mendengar ucapan lelaki yang kini terlihat bentuk rupanya. Dari apa yang dibicarakannya, ia tampak terpelajar dan banyak tahu.

Duloh mengambilkannya segelas air. “Kamu berniat mencuri ayam saya?”

Lelaki itu menggeleng. Ia menunduk dan tampak menyesal, tanpa disangka bahunya bergetar dan terisak. “Saya, memang tak berhak merenggut harta orang lain.”

Duloh hanya bergumam, ia tak tahu harus berkomentar apa.

“Ya, saya tahu. Hidup memang tak adil. Mereka yang punya harta berlebih, tapi kadang sama sekali tak peduli.” Suara lelaki itu terdengar diliputi kemarahan.

“Mengambil milik orang lain, tak lantas membuatnya menjadi adil,” ucap Duloh. “Saya bukan orang sekolahan. Cuma penjaga kandang ayam, nggak paham yang kamu bicarakan. Saya cuma diajarkan benar dan salah.”

Keduanya lantas terdiam, terpekur, dengan suara geraman yang masih terdengar dari dada si lelaki asing. Menunggu fajar datang dalam hening, menanti orang-orang berlalu dari jalanan.

 

Lima Tahun Lalu.

“Aku tahu, suatu saat nanti depresi eknomi akan membuat rakyat berbuat sesuatu yang tidak logis, mereka akan cenderung melanggar konstitusi.” Hambali bicara, di tengah gempuran aparat yang menembaki kawan-kawan mereka di kolong jembatan.

Ranti memegang erat lengan kekasihnya yang terluka. Kepalanya yang dibebat oleh syal merah kekasihnya, tak luput dari rasa pedih dan pening.

“Tapi Ham, aku nggak melihat kebutuhan negara kita untuk melakukan revolusi saat ini.”

“Revolusi paling sederhana dan fundamental itu, datangnya dari sini lalu ke sini.” Hambali menunjuk pelipisnya, lalu dadanya. “Kita bicara masalah kemanusiaan.”

“Ham… aku percaya, jawabannya adalah dengan cinta dan welas asih. Aku selalu yakin, sesuatu yang dihadapi dengan kekerasan akan melahirkan kekerasan, dalam bentuk lain.” Ranti berbisik.

“Hmm… aku nggak akan membiarkan kamu hidup tanpa cinta dan welas asih, Ti. Aku yakin, orang-orang seperti kita sanggup bertahan menghadapi kerasnya tantangan. Tapi kamu juga harus ingat, terhadap segala bentuk ketidakadilan, kita harus lawan!”

Ranti meringis. Ia tahu, kekasihnya sedang mengawang-awang.

Masa Kini.

Suaminya terhuyung dan mengaduh, hingga membuatnya terbangun. Ranti dengan perut besarnya terperanjat, menemukan Hambali dalam kondisi babak bundas dan darah mengucur dari perutnya.

“Ham!” Ia tergopoh-gopoh meraih bahu Hambali. “Apa yang terjadi?”

Hambali berusaha melengkungkan bibirnya, sambil meringis pedih. “Aku bawakan beras dan ayam potong.” Ia tak menjawab pertanyaan istrinya.

“Ham! Kamu mencuri?” Ranti terisak. Ia memegangi perut buncitnya.

Hambali terdiam. Ia memandangi Ranti lantas mengusap puncak perutnya perlahan. “Tadinya begitu… sampai seseorang membantuku.”

Ranti terperangah. Ia duduk memegangi perutnya yang menegang. “Semiskin-miskinnya kita, aku tak ingin kamu sampai mencuri!”

Hambali mengangguk. “Aku bahkan membiarkan mereka menganggapku babi, untuk mengalihkan perhatian, tapi sialnya aku tertangkap dan digebuki.”

Ranti menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia terkesiap. “Aku nggak mau melahirkan anak ini tanpa seorang bapak. Kamu manusia paling logis yang kukenal, Ham. Babi ngepet??” Ia nyaris berbisik.

Hambali terduduk di hadapan Ranti memeluk pinggang dan perutnya sambil terisak. “Maafkan aku yang khilaf. Harusnya aku bisa lebih berani menghadapi nasib kita, tak menyerah begitu saja.” Ia berbisik. “Aku dulu pernah bilang, terpuruknya ekonomi akan membuat orang kehilangan akal mereka. Maafkan aku, Ti. Malah aku, yang termakan omonganku sendiri.” Bahu Hambali bergetar, ia tak kuasa menahan kepiluan yang memelesak di dadanya.

 “Aku nggak mau kamu menyerah pada nasib begitu saja. Kita pernah jadi tonggak perjuangan orang-orang kecil, yang ingin hidup dan bangkit dari kemiskinan. Kita nggak selemah itu, Ham!”

Hambali mengangguk. “Mulai besok, aku ikut bantu membersihkan kandang dan mengurus pakan ayam untuk sesorang yang malam ini meyelamatkan nyawaku.” Hambali terpekur, menatap perut besar istrinya. “Hidup masih cukup baik, memberikanku kesempatan untuk lolos dari maut.”

Ranti terisak.

“Apa yang kamu bilang dulu itu benar, Sayang. Harusnya, aku lebih percaya pada kekuatan welas asih sesama manusia. Karena orang baik itu ternyata masih ada. Kamu juga benar, karena melawan dengan kekerasan, hanya akan melahirkan kekerasan yang baru.”

Keduanya saling memeluk. Menunggu matahari bergulir, menyembuhkan luka raga yang tersembul di balik kulit dan daging Hambali yang tercarut. Namun, luka pada bangsa yang menyakiti nasib mereka, dan orang-orang kecil yang putus asa, masih menganga lebar, menunggu nasib waktu untuk menyembuhkan.

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@carsun18106 : Iya... life is bigger... (Kembali ke Stipe)
Yah itulah ketika idealisme terbentur realita, miris
@donnymr : Iya, nya? Berkembang jadi novela atuh pami kitu mah 😁 Iya, Don. Rejekina premis anu itu. Padahal cerpen ieu tersimpan sekian lama di Rakata 😄
@nimasrassa : 🤍💙🤍💙
@mikhaangelo : Wah, makasih. Nggak bermaksud memancing kesedihan, sih. But, thank you 🙏
Nice. Terasa menyimpan gejolak. 😁 tema yg terlalu besar buat cerpen. ---- mun premis ieu nu diangge kanggo novela 98 kamari, jigana bakal sae. 😁
Gak apa sih.
Lubang plot? Iya ada, tapi gak begitu jelas, tertutupi oleh diksi yang asyik.
Sami-sami, Dek. Teteh penikmat karya-karyamu, terlepas dari lubang-lubang kecil kekeliruan. Pokoknya tulisanmu asyik dibaca.
Sedih 😭😭😭
@nimasrassa : Gap-nya terlalu besar, ya? Hehe... Ada lubang plot juga kayaknya 😁 Nuhun, Teh. Udah mampir 🤍
Nice. Meski awalnya sempat tersentak karena perpondahan alurnya yang sangat tajam. Seolah menjadikan cerpen ini terbagi dalam bab-bab.
Tapi setelah memasuko babak akhir, cerita baru nyambung, ketajaman alur yang menukik itu melahirkan ending yang penuh hikmah.
Begitulah sikap orang-orang idealis, yang lebih baik miskin dari pada menjilat ludah sendiri.
Bagus, Dek.
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi