Jam digital di dinding bunker menunjukkan 02.13 ketika alarm merah akhirnya berbunyi.
Bukan alarm kebakaran.
Bukan pula tanda serangan udara.
Melainkan sebuah sinyal yang selama bertahun-tahun hanya dianggap sebagai latihan.
PROTOKOL TERAKHIR AKTIF.
Suara sirene bergema di seluruh kompleks bawah tanah.
Puluhan personel berlarian menuju pos masing-masing.
Pintu-pintu baja otomatis mulai menutup.
Layar monitor berubah merah.
Di salah satu ruangan paling ujung, Ravian Darta baru saja terbangun dari tidurnya di atas sofa ruang analisis.
Ia bukan komandan pasukan.
Ia bahkan bukan anggota unit tempur.
Ravian adalah analis strategi di Direktorat Sentinel, lembaga rahasia yang bertugas mencegah ancaman terhadap keamanan negara.
Selama tujuh tahun bekerja, tugasnya hanya satu.
Membaca pola.
Menyusun kemungkinan.
Mencari kesalahan yang tidak terlihat oleh orang lain.
Namun malam itu, semua prediksi yang pernah ia buat berubah menjadi kenyataan.
"Pusat komando memanggil seluruh personel!"
teriak seorang operator.
Ravian berlari memasuki ruang kendali.
Puluhan layar menampilkan gambar dari berbagai kota.
Lampu jalan padam secara bersamaan.
Jaringan komunikasi lumpuh.
Bandara menghentikan seluruh penerbangan.
Pelabuhan ditutup.
Bahkan satelit pengawas kehilangan sebagian besar sinyalnya.
"Kita diserang?"
tanya Ravian.
Direktur Sentinel, Laksamana Praba, menggeleng.
"Belum."
"Lalu?"
"Seseorang sedang mempersiapkan sesuatu."
Di layar utama muncul peta digital negara.
Satu demi satu titik biru berubah menjadi hitam.
"Itu apa?"
"Pusat distribusi energi."
"Semuanya mati?"
"Bukan."
"Sengaja dimatikan dari dalam."
Ravian membeku.
Mustahil.
Seluruh sistem itu dibuat dengan lapisan keamanan yang tidak mungkin ditembus dari luar.
Artinya...
"...ada orang kita."
Praba mengangguk pelan.
"Ada pengkhianat."
Beberapa menit kemudian, sebuah video masuk ke layar pusat.
Wajah pengirim sengaja disamarkan.
Suaranya juga diubah.
Namun isi pesannya sangat jelas.
"Dalam dua belas jam, seluruh jaringan kendali nasional akan menjadi milik kami."
"Jangan mencoba menghentikan kami."
"Karena orang yang paling kalian percaya sedang bekerja untuk kami."
Video berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Tak seorang pun berani berbicara.
Ravian menatap ulang rekaman itu.
Ia memperbesar setiap bingkai.
Mengamati gerakan tangan.
Cara orang itu berdiri.
Pantulan cahaya di belakangnya.
Kemudian ia berkata,
"Dia sengaja ingin kita melihat videonya."
"Maksudmu?" tanya Praba.
"Ini bukan ancaman."
"Ini petunjuk."
Semua orang menoleh.
Ravian menunjuk bayangan kecil di sudut layar.
"Siluet jam dinding."
"Apa istimewanya?"
"Jam itu berhenti di pukul 07.42."
"Lalu?"
"Di seluruh fasilitas Sentinel..."
"...hanya ada satu ruangan yang menggunakan model jam itu."
Ruangan kembali hening.
Praba perlahan menoleh kepada wakilnya.
"Gudang Arsip Delta."
Sebuah tim kecil segera dikirim.
Ravian ikut bersama mereka.
Mobil taktis melaju menembus jalanan kota yang gelap.
Lampu lalu lintas tidak lagi berfungsi.
Orang-orang mulai panik.
Namun belum ada yang mengetahui ancaman sebenarnya.
Sesampainya di Gudang Arsip Delta, bangunan itu tampak kosong.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada kendaraan.
Pintu depan bahkan terbuka.
"Ini jebakan."
gumam Ravian.
Tim memasuki gedung dengan hati-hati.
Lorong-lorong dipenuhi rak arsip logam.
Udara terasa dingin.
Terlalu sunyi.
Salah seorang anggota tim menemukan sebuah laptop yang masih menyala.
"Pak."
Ravian mendekat.
Di layar hanya ada satu kalimat.
TERLAMBAT.
Tiba-tiba...
BUM!
Ledakan keras mengguncang lantai bawah.
Lampu padam.
Seluruh gedung bergetar.
Rak-rak besi roboh satu demi satu.
Debu memenuhi udara.
"Keluar!"
teriak komandan tim.
Namun sebelum mereka sempat mencapai pintu keluar, belasan pria bertopeng muncul dari balik lorong.
Mereka mengenakan seragam hitam tanpa identitas.
Tidak ada peringatan.
Tidak ada negosiasi.
Mereka langsung menyerang.
Ravian berlindung di balik rak yang tumbang.
Ia tidak terbiasa bertarung.
Namun latihan bertahun-tahun membuatnya mampu tetap tenang.
Di tengah baku tembak yang berlangsung sengit, matanya menangkap sesuatu yang janggal.
Semua penyerang memakai lambang berbentuk segitiga putih di lengan kanan.
Lambang itu terasa tidak asing.
Sangat tidak asing.
Ia pernah melihat simbol itu.
Bukan di laporan intelijen.
Bukan di dokumen rahasia.
Melainkan...
...di buku catatan milik ayahnya yang menghilang dua puluh tahun lalu.
Seketika tubuh Ravian membeku.
Ayahnya dahulu juga bekerja untuk Sentinel.
Dan dinyatakan gugur dalam sebuah operasi yang seluruh datanya masih dirahasiakan hingga hari ini.
Jika lambang itu muncul kembali sekarang...
berarti kematian ayahnya mungkin bukan kecelakaan.
Dan misi yang sedang mereka hadapi ternyata telah dimulai jauh sebelum Ravian bergabung dengan Sentinel.
Di tengah kepungan musuh, sebuah granat asap dilempar ke arah timnya.
Pandangan berubah putih.
Suara langkah kaki bergema dari segala arah.
Lalu terdengar sebuah suara yang memanggil nama Ravian dengan tenang.
"Kalau ingin tahu siapa yang membunuh ayahmu..."
"...ikutlah denganku."
Asap putih memenuhi seluruh lorong Gudang Arsip Delta.
Pandangan Ravian hanya sejauh beberapa langkah.
Suara tembakan terdengar bersahut-sahutan, memantul di antara rak-rak besi yang mulai roboh.
"Ravian!"
Suara Komandan Tim terdengar samar.
"Ke arah pintu keluar!"
Namun suara lain kembali terdengar.
Lebih tenang.
Lebih dekat.
"Ayahmu tidak mati seperti yang mereka ceritakan."
Ravian mengepalkan tangan.
Kalimat itu menusuk pikirannya.
Selama dua puluh tahun ia menerima laporan resmi bahwa ayahnya gugur saat menjalankan operasi penyelamatan sandera.
Tidak pernah ada penjelasan lebih rinci.
Semua dokumen diberi status rahasia.
Ia hampir melangkah mengikuti sumber suara itu.
Namun latihan bertahun-tahun menahannya.
Seorang analis tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan emosi.
Ia memilih bergerak menuju rekan-rekannya.
Beberapa menit kemudian, tim berhasil keluar dari gedung.
Gudang Arsip Delta terbakar hebat.
Mobil pemadam mulai berdatangan.
Sementara itu, Direktur Praba tiba menggunakan helikopter.
"Korban?"
"Dua orang luka."
"Tidak ada yang gugur."
"Bagaimana data arsip?"
"Hampir semuanya musnah."
Ravian menatap kobaran api.
"Tidak."
Semua orang memandangnya.
"Mereka tidak datang untuk menghancurkan arsip."
"Lalu?"
"Mereka sedang mencari sesuatu."
Di pusat komando, Ravian meminta seluruh rekaman kamera pengawas diputar ulang.
Ia memperhatikan setiap gerakan penyerang.
Hingga akhirnya ia menemukan satu hal yang membuatnya yakin.
"Mereka menghindari lorong sebelah timur."
Praba mendekat.
"Kenapa?"
"Kalau tujuan mereka menghancurkan gedung, seharusnya seluruh area menjadi sasaran."
"Tapi lorong itu sama sekali tidak disentuh."
Tim investigasi segera dikirim kembali.
Di balik dinding lorong timur, mereka menemukan ruang penyimpanan tersembunyi yang selama puluhan tahun tidak tercatat dalam denah bangunan.
Di dalamnya hanya ada sebuah brankas tua.
Brankas itu dibuka menggunakan kode darurat milik Direktur.
Isinya membuat seluruh ruangan terdiam.
Tidak ada uang.
Tidak ada senjata.
Hanya satu map merah bertuliskan:
OPERASI ECLIPSE
Di bawahnya terdapat daftar nama.
Puluhan nama.
Sebagian telah diberi tanda hitam.
Sebagian lagi masih kosong.
Ravian membaca satu per satu.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Di baris ketiga tertulis:
Kolonel Arga Darta
Nama ayahnya.
Namun pada kolom status tidak tertulis "Gugur."
Yang tertulis justru:
MENGHILANG.
"Ini tidak mungkin."
gumam Ravian.
Direktur Praba tampak pucat.
"Aku... tidak pernah melihat dokumen ini."
"Siapa yang menyimpannya?"
"Tidak ada catatan."
Sebelum mereka sempat membaca lebih jauh, listrik bunker kembali berkedip.
Seluruh monitor mati.
Lalu menyala kembali.
Kini hanya menampilkan satu gambar.
Segitiga putih.
Di bawahnya muncul tulisan:
KALIAN TERLAMBAT LAGI.
Sistem komunikasi tiba-tiba aktif sendiri.
Suara yang sama seperti di gudang kembali terdengar.
"Selamat malam, Direktur."
Praba langsung berdiri.
"Siapa kamu?"
"Tidak penting."
"Yang penting..."
"...Operasi Eclipse akhirnya kembali dibuka."
Ravian segera duduk di konsol komputer.
Jarinya bergerak cepat melacak asal sinyal.
"Tiga puluh persen..."
"Lima puluh..."
"Tujuh puluh..."
Hampir berhasil.
Namun tepat sebelum lokasi ditemukan, sinyal menghilang.
Di layar hanya tersisa koordinat terakhir.
Sebuah pulau kecil yang sudah lama tidak berpenghuni.
Tim segera bersiap.
Helikopter tempur disiapkan.
Pasukan khusus dipanggil.
Namun Ravian justru meminta izin berbicara empat mata dengan Direktur.
"Ada yang ingin kutanyakan."
Praba mengangguk.
Mereka masuk ke ruang kerja.
Ravian meletakkan map Operasi Eclipse di atas meja.
"Ayahku tidak gugur."
Praba diam.
"Benar?"
Beberapa detik berlalu sebelum Direktur menjawab.
"Aku bergabung setelah operasi itu selesai."
"Tapi aku memang pernah mendengar desas-desus."
"Desas-desus apa?"
"Bahwa ada tim yang sengaja dikorbankan."
Ravian menatapnya tajam.
"Oleh siapa?"
"Itulah yang selama ini tidak pernah berhasil dibuktikan."
Malam itu, sebelum berangkat ke pulau tujuan, Ravian membuka kembali barang-barang peninggalan ayahnya yang selama ini disimpan di rumah.
Ia mencari buku catatan lama yang dulu berisi gambar segitiga putih.
Di halaman terakhir, ia menemukan sesuatu yang belum pernah diperhatikannya.
Sebuah foto.
Foto seorang pria muda yang berdiri di samping ayahnya.
Wajahnya masih sangat jelas.
Ravian langsung mengenalinya.
Tangannya bergetar.
Karena pria dalam foto itu...
...adalah Direktur Praba saat masih muda.
Namun di balik foto tersebut terdapat tulisan tangan ayahnya:
"Jika suatu hari kau mengetahui kebenaran, jangan langsung percaya kepada siapa pun. Bahkan kepada orang yang berdiri paling dekat denganmu."
Ravian menutup buku itu perlahan.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Apakah ayahnya sedang memperingatkannya tentang seseorang?
Atau justru tentang dunia yang selama ini ia percayai?
Sementara itu, helikopter yang akan membawa mereka ke pulau tujuan telah siap lepas landas.
Tanpa disadari Ravian, seseorang di dalam tim ekspedisi diam-diam mengirim pesan singkat kepada kelompok Segitiga Putih.
Pesannya hanya dua kata.
"Mereka berangkat."
Artinya...
Pengkhianat itu kini berada satu helikopter dengan Ravian.
Bilah-bilah baling-baling helikopter membelah udara malam.
Di bawah mereka hanya terlihat hamparan laut hitam yang sesekali memantulkan cahaya bulan.
Ravian duduk di dekat pintu samping sambil memandangi foto lama ayahnya.
Di hadapannya, delapan anggota Pasukan Khusus Sentinel memeriksa perlengkapan tempur untuk terakhir kalinya.
Tak seorang pun berbicara.
Semua menyadari bahwa misi kali ini berbeda.
Mereka bukan hanya mengejar kelompok bersenjata.
Mereka juga sedang memburu seorang pengkhianat yang mungkin duduk di antara mereka.
Empat puluh menit kemudian, pulau tujuan mulai terlihat.
Dari kejauhan tampak seperti pulau kosong yang ditinggalkan bertahun-tahun.
Pepohonan lebat menutupi sebagian besar daratan.
Di sisi utara berdiri bangunan beton tua yang nyaris runtuh.
Pilot menurunkan helikopter di sebuah pantai sempit.
Begitu mendarat, tim segera bergerak.
Dua orang mengamankan perimeter.
Tiga orang memeriksa jalur masuk.
Sisanya mengikuti Ravian menuju bangunan utama.
Pintu baja bangunan itu sudah berkarat.
Namun anehnya, engselnya masih terawat.
"Tempat ini masih digunakan," bisik Ravian.
Komandan tim mengangguk.
"Masuk."
Begitu pintu didobrak, lorong panjang terbentang di depan mereka.
Lampu darurat redup masih menyala.
Artinya, fasilitas itu memiliki sumber listrik sendiri.
Di dinding tampak lambang segitiga putih yang sama seperti di Gudang Arsip Delta.
Mereka bergerak perlahan.
Setiap ruangan diperiksa.
Sebagian besar kosong.
Hanya ada komputer-komputer tua dan meja kerja yang dipenuhi debu.
Namun di ruang kendali utama, Ravian menemukan sesuatu yang membuat napasnya tertahan.
Puluhan monitor menampilkan rekaman dari berbagai kota.
Jalan raya.
Bandara.
Pelabuhan.
Gedung pemerintahan.
Seluruhnya dipantau secara langsung.
"Ini bukan markas kecil."
gumamnya.
"Mereka sudah mengawasi negara ini sejak lama."
Di tengah ruangan terdapat sebuah komputer yang masih aktif.
Layar menampilkan hitungan mundur.
03:18:42
"Apa itu?"
tanya salah satu anggota tim.
Ravian segera memeriksa sistem.
Wajahnya berubah tegang.
"Itu waktu menuju aktivasi Protokol Terakhir."
"Kalau hitungan ini habis..."
"...seluruh jaringan kendali energi akan diambil alih."
Komandan langsung memerintahkan teknisi memutus sistem.
Namun setiap percobaan justru mempercepat hitungan.
"Jangan sentuh lagi!"
teriak Ravian.
"Ini jebakan."
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari balkon lantai dua.
Semua senjata langsung diarahkan ke atas.
Seorang pria berambut abu-abu keluar dari balik bayangan.
Ia mengenakan seragam hitam tanpa tanda pangkat.
Hanya lambang segitiga putih di dada kirinya.
"Selamat datang."
katanya tenang.
"Aku sudah menunggu kalian."
"Siapa kamu?" bentak Komandan.
Pria itu mengabaikannya.
Tatapannya hanya tertuju pada Ravian.
"Kau sangat mirip ayahmu."
Ravian mengangkat senjatanya.
"Kau mengenalnya?"
"Tentu."
"Kami pernah bertarung berdampingan."
"Dan akhirnya saling memburu."
"Di mana ayahku?" tanya Ravian.
Pria itu tersenyum tipis.
"Itu pertanyaan yang salah."
"Lalu apa pertanyaan yang benar?"
"Kenapa semua orang begitu yakin dia sudah mati?"
Sebelum Ravian sempat bereaksi, pria itu melempar sebuah kartu identitas tua.
Ravian menangkapnya.
Di sana tertera nama:
Kolonel Arga Darta.
Foto dan sidik jari semuanya cocok.
"Itu milik ayahmu."
"Mustahil..."
"Bawa aku kepadanya!"
Pria itu menggeleng.
"Ayahmu membuat pilihannya sendiri."
Belum sempat percakapan berlanjut, terdengar ledakan dari luar bangunan.
Seluruh lantai berguncang.
Salah satu anggota tim berteriak melalui radio.
"Helikopter kita diserang!"
Komandan berbalik.
"Semua keluar!"
Namun sebelum mereka bergerak, seseorang di dalam tim justru menodongkan senjata ke arah rekan-rekannya.
Pengkhianat itu akhirnya menunjukkan dirinya.
Namanya Kapten Damar.
Selama ini ia dikenal sebagai salah satu personel paling berprestasi di Sentinel.
Tak ada yang pernah mencurigainya.
"Kalian tidak akan ke mana-mana."
katanya dingin.
Komandan menatapnya tak percaya.
"Damar...?"
"Kau memilih mereka?"
Damar tersenyum.
"Aku memilih kebenaran."
Situasi berubah menjadi kacau.
Dua anggota tim berusaha melumpuhkan Damar.
Baku tembak tak terhindarkan.
Ravian memanfaatkan kekacauan itu untuk mengejar pria berambut abu-abu yang mulai mundur ke lorong belakang.
Mereka berlari melewati laboratorium tua.
Gudang server.
Ruang komunikasi.
Hingga akhirnya tiba di sebuah pintu baja raksasa.
Pria itu berhenti.
"Lihat sendiri."
Pintu perlahan terbuka.
Di baliknya terdapat ruangan luas yang dipenuhi kapsul penyimpanan data.
Di tengah ruangan berdiri sebuah layar holografik besar.
Saat sistem aktif, muncul ratusan nama agen Sentinel dari berbagai angkatan.
Di bagian paling atas tertulis:
OPERASI ECLIPSE — STATUS: BELUM SELESAI
Lalu satu nama muncul perlahan di layar.
Arga Darta
Di sampingnya hanya ada satu keterangan.
AKTIF.
Ravian membeku.
Dadanya berdegup keras.
Jika data itu benar...
...berarti ayahnya masih hidup.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara tembakan menggema dari belakang.
Pria berambut abu-abu roboh terkena peluru.
Darah mengalir dari bahunya.
Ravian menoleh.
Yang menembak bukan Damar.
Bukan pula pasukan Segitiga Putih.
Melainkan...
Direktur Praba.
Dengan senjata yang masih mengepul, Praba berkata pelan,
"Jangan percaya satu kata pun yang dia ucapkan."
Ruangan kembali sunyi.
Kini Ravian tidak lagi tahu siapa yang sedang mengatakan kebenaran.
Dan hitungan mundur menuju aktivasi Protokol Terakhir tinggal kurang dari tiga jam.
Ruangan bawah tanah berubah menjadi tegang.
Asap tipis masih mengepul dari ujung laras pistol Direktur Praba.
Pria berambut abu-abu terjatuh sambil menahan luka di bahunya.
Ravian berdiri di antara keduanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu kepada siapa ia harus percaya.
"Menjauh dari dia, Ravian!" seru Praba.
Pria berambut abu-abu tertawa pelan meski wajahnya pucat.
"Masih sama seperti dulu."
"Selalu datang terlambat."
Praba mengangkat senjatanya lagi.
"Cukup."
"Kalau kau menembakku sekarang..."
"...dia tidak akan pernah tahu siapa ayahnya sebenarnya."
"Diam!" bentak Praba.
Namun Ravian melangkah maju.
"Tidak."
"Kali ini tidak ada yang menembak."
"Kalian akan bicara."
Tatapan Praba dan pria itu bertemu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Akhirnya pria berambut abu-abu berkata,
"Namaku Rendra Satya."
"Dua puluh tahun lalu aku, ayahmu, dan Praba berada dalam satu operasi."
"Operasi Eclipse."
Rendra menarik napas panjang.
"Misi kami sederhana."
"Menghentikan sekelompok pejabat dan pengusaha yang diam-diam membangun jaringan kendali untuk melumpuhkan negara dari dalam."
"Kami berhasil menemukan bukti."
"Lalu?" tanya Ravian.
"Ketika hendak membawa bukti itu keluar..."
"...kami disergap."
"Karena informasi misi telah bocor."
Ravian memandang Praba.
"Kau menuduhku?" kata Praba dingin.
Rendra menggeleng.
"Tidak."
"Pengkhianatnya bukan Praba."
"Pengkhianatnya adalah orang yang saat itu memimpin Sentinel."
"Dia sudah lama meninggal."
"Namun jaringan yang ia bangun tetap hidup."
"Kalau begitu ayahku di mana?"
Rendra menatap Ravian.
"Arga memilih menghilang."
"Kenapa?"
"Karena jika dia kembali..."
"...seluruh keluarganya akan diburu."
"Termasuk kamu."
Ravian mengepalkan tangan.
"Jadi selama ini dia..."
"...melindungiku."
Belum sempat percakapan berlanjut, alarm fasilitas berbunyi nyaring.
Di layar utama, hitungan mundur tinggal:
00:21:17
Ravian langsung menuju komputer pusat.
"Sistem ini tidak bisa dimatikan dari sini."
Praba ikut memeriksa.
"Lalu bagaimana?"
Rendra menunjuk ruang di balik dinding kaca.
"Ada inti server."
"Tapi untuk mematikannya..."
"...seseorang harus masuk secara manual."
"Apa risikonya?"
"Begitu sistem dinonaktifkan..."
"...reaktor cadangan akan meledak."
Ruangan kembali hening.
Artinya, siapa pun yang masuk hampir pasti tidak akan sempat keluar.
"Aku yang masuk."
kata Rendra.
Praba langsung menggeleng.
"Lukamu terlalu parah."
"Aku sudah hidup dalam pelarian dua puluh tahun."
"Sudah cukup."
Ravian melangkah maju.
"Tidak."
"Ini tugasku sekarang."
Praba memegang bahunya.
"Kau masih punya masa depan."
"Negara ini membutuhkanmu."
Ravian menatap layar yang terus menghitung mundur.
Lalu ia melihat peta sistem.
Matanya menyipit.
"Tunggu."
Semua menoleh.
"Reaktor ini punya saluran pendingin darurat."
"Tidak menuju luar."
"Lalu?"
"Menuju terowongan servis."
"Kalau waktunya tepat..."
"...orang yang masuk masih bisa keluar."
Praba tersenyum kecil.
"Itu sebabnya kau analis terbaik."
Mereka segera menjalankan rencana.
Praba dan tim yang tersisa menghadang pasukan Segitiga Putih yang terus berdatangan.
Baku tembak memenuhi lorong.
Ledakan mengguncang dinding.
Sementara Ravian berlari menuju ruang inti.
Pintu baja terbuka.
Panas langsung menyambutnya.
Deretan server raksasa berdengung keras.
Di tengah ruangan terdapat panel utama.
Hitungan mundur:
00:03:42
Tangannya bergerak cepat.
Kode demi kode dimasukkan.
Sistem menolak.
Ia mencoba lagi.
Gagal.
Keringat membasahi wajahnya.
Tiba-tiba ia teringat pesan ayahnya di buku catatan lama.
"Kalau semua jalan buntu, jangan cari pintu baru. Cari pola yang diabaikan semua orang."
Ravian memperhatikan susunan angka di panel.
Ia menyadari seluruh kode mengikuti pola tanggal Operasi Eclipse.
Dengan cepat ia mengubah urutannya.
Layar berubah hijau.
AKSES DITERIMA.
"Ravian!"
suara Praba terdengar melalui radio.
"Waktunya habis!"
Ravian menarik tuas utama.
Seluruh fasilitas berguncang hebat.
Lampu padam.
Server berhenti beroperasi.
Di seluruh negeri, jaringan energi kembali ke kendali pemerintah.
Protokol Terakhir berhasil digagalkan.
Namun sirene evakuasi langsung berbunyi.
REAKTOR TIDAK STABIL.
Ravian berlari menuju terowongan servis.
Di belakangnya terdengar suara ledakan pertama.
Langit-langit mulai runtuh.
Ia melompat melewati pipa-pipa yang patah.
Api mengejarnya dari belakang.
Beberapa meter sebelum pintu keluar, ledakan besar mendorong tubuhnya hingga terlempar ke pantai.
Sesaat kemudian, seluruh kompleks bawah tanah runtuh ke dalam tanah.
Matahari mulai terbit ketika tim penyelamat tiba.
Praba duduk di atas batu sambil memegang map Operasi Eclipse yang berhasil diselamatkan.
Rendra dibawa dengan tandu untuk mendapatkan perawatan.
Kapten Damar dan sisa anggota Segitiga Putih berhasil ditangkap.
Namun satu pertanyaan masih belum terjawab.
Di mana Arga Darta?
Beberapa hari kemudian, saat seluruh dokumen Operasi Eclipse dibuka untuk penyelidikan resmi, sebuah pesan terenkripsi ditemukan di server cadangan.
Pesan itu direkam bertahun-tahun sebelumnya.
Di layar muncul wajah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.
Ravian membeku.
Itu ayahnya.
"Kalau kamu melihat rekaman ini..."
"...berarti kamu berhasil menghentikan mereka."
"Aku minta maaf karena tidak bisa pulang."
"Aku harus tetap bersembunyi agar jaringan ini terus mengira aku masih memburu mereka."
"Tugas itu berakhir ketika Protokol Terakhir dihentikan."
"Aku bangga kepadamu."
Rekaman berhenti.
Tak ada petunjuk lokasi.
Tak ada pesan lanjutan.
Hanya senyum tipis yang tertinggal di layar.
Enam bulan kemudian, Direktorat Sentinel mengalami reformasi besar.
Seluruh sistem diperbarui.
Dokumen-dokumen rahasia yang tidak lagi membahayakan keamanan dibuka untuk evaluasi.
Ravian menolak jabatan lapangan yang ditawarkan kepadanya.
Ia memilih tetap menjadi analis strategi.
Menurutnya, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan musuh dengan senjata.
Melainkan mencegah perang terjadi melalui keputusan yang tepat.
Di meja kerjanya kini tersimpan foto lama ayahnya.
Bukan sebagai simbol kehilangan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa kebenaran kadang membutuhkan waktu panjang untuk muncul ke permukaan.
Di luar jendela bunker, matahari bersinar terang.
Ancaman telah berlalu.
Namun Ravian tahu, selama masih ada orang yang rela mempertahankan kebenaran, selalu akan ada harapan untuk menjaga masa depan.
TAMAT