Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
29
Pintu Ketiga Belas
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Arga tidak pernah percaya pada cerita hantu.

Menurutnya, semua kisah menyeramkan hanya lahir dari rasa takut yang tumbuh terlalu subur. Karena itulah ia menerima pekerjaan sebagai penjaga malam sebuah rumah peninggalan kolonial yang sudah puluhan tahun kosong.

Rumah itu berdiri di ujung sebuah desa, dikelilingi pohon-pohon beringin tua yang akarnya menjulur seperti ular. Bangunannya besar, catnya mengelupas, dan sebagian atapnya sudah runtuh. Seminggu lagi rumah itu akan dibongkar untuk dijadikan kawasan wisata sejarah.

Tugas Arga sederhana.

Menjaga agar tidak ada pencuri atau pemburu barang antik masuk ke dalam rumah.

"Kalau dengar suara aneh, abaikan saja," kata Pak Hadi, mandor proyek.

Arga tertawa.

"Suara tikus?"

Pak Hadi tidak membalas. Wajahnya justru berubah pucat.

"Pokoknya jangan pernah membuka pintu ketiga belas."

Arga mengernyit.

"Saya lihat denah rumahnya. Bukannya cuma ada dua belas pintu?"

Pak Hadi memandang rumah itu cukup lama sebelum pergi.

"Itulah sebabnya jangan mencarinya."

Malam pertama berjalan biasa.

Arga berkeliling membawa senter sambil mencatat kondisi setiap ruangan.

Benar saja.

Ia menghitung dua belas pintu.

Tidak kurang.

Tidak lebih.

Namun tepat pukul dua belas malam, terdengar suara kayu berderit dari lantai atas.

Kriiieeet...

Arga menaiki tangga.

Di ujung lorong yang sebelumnya kosong, kini berdiri sebuah pintu hitam.

Catnya masih tampak baru.

Tidak berdebu.

Di tengah pintu terdapat angka kecil dari kuningan.

Arga mengusap matanya.

"Aneh..."

Ia yakin sore tadi lorong itu hanya berakhir pada dinding.

Kini pintu itu benar-benar ada.

Sebelum sempat menyentuh gagangnya, terdengar suara perempuan berbisik dari balik pintu.

"Tolong... buka..."

Suara itu lirih.

Seperti orang yang kehabisan napas.

Arga mundur selangkah.

Lalu mengingat pesan Pak Hadi.

Ia memilih turun dan mengabaikannya.

Saat matahari terbit, pintu itu telah menghilang.

Lorong kembali berakhir pada dinding tua.

Hari kedua.

Pak Hadi datang membawa sarapan.

"Ada sesuatu semalam?"

"Ada pintu."

Pak Hadi langsung meletakkan gelas kopinya.

"Kamu tidak membukanya, kan?"

"Tidak."

Pria tua itu menghela napas lega.

"Lima belas tahun lalu ada penjaga lain."

"Terus?"

"Ia membuka pintunya."

"Apa yang terjadi?"

"Dia pulang."

"Itu saja?"

Pak Hadi menatap Arga tanpa berkedip.

"Tapi istrinya bersumpah pria itu bukan suaminya."

Arga tertawa kecil.

"Mustahil."

Pak Hadi tidak ikut tertawa.

Malam kedua.

Tepat tengah malam.

Pintu itu muncul lagi.

Namun kali ini suara di baliknya berbeda.

"Arga..."

Tubuhnya membeku.

Suara itu milik ibunya.

Padahal ibunya telah meninggal tiga tahun lalu.

"Arga... Ibu kedinginan..."

Tangannya mulai gemetar.

Logikanya berkata mustahil.

Tetapi hatinya ingin percaya.

"Ibu?"

"Tolong buka... Ibu sendirian..."

Air mata Arga menetes.

Ia hampir menyentuh gagang pintu.

Namun tepat sebelum membukanya, telepon genggamnya berbunyi.

Alarm pukul dua belas lewat lima.

Suara dari balik pintu langsung berubah.

Tangisan lembut berubah menjadi tawa parau.

Tawa seorang perempuan tua.

Arga melompat mundur.

Pintu itu perlahan menghilang bersama suara tawanya.

Esok paginya Arga memutuskan mencari sejarah rumah itu.

Di perpustakaan daerah ia menemukan arsip tua.

Rumah tersebut dibangun pada akhir abad ke-19 oleh seorang saudagar kaya bernama Willem Hartono.

Konon ia terobsesi memperpanjang umur.

Ia mengurung belasan orang di ruang rahasia untuk melakukan ritual yang tak pernah dijelaskan.

Saat rumah itu terbakar sebagian, semua ruang ditemukan.

Kecuali satu.

Ruang ketiga belas.

Catatan penyelidikan berhenti begitu saja.

Tidak pernah ada laporan resmi mengenai ruangan itu.

Seolah ruangan tersebut memang tidak pernah ada.

Malam ketiga.

Hujan turun deras.

Listrik padam.

Rumah hanya diterangi cahaya senter.

Pukul dua belas tepat.

Pintu itu muncul.

Kali ini terbuka sedikit.

Dari celahnya keluar bau tanah basah bercampur anyir darah.

Suara langkah kaki terdengar dari dalam.

Tok.

Tok.

Tok.

Seseorang sedang berjalan mendekat.

Kemudian terdengar suara anak kecil.

"Om... aku takut gelap..."

Arga memejamkan mata.

Ia tahu semua itu hanya tipuan.

Tetapi suara itu terdengar sangat nyata.

Perlahan pintu terbuka lebih lebar.

Ruangan di baliknya gelap tanpa ujung.

Tidak ada lantai.

Tidak ada dinding.

Hanya kegelapan yang terasa hidup.

Dua tangan pucat perlahan muncul dari balik pintu.

Jari-jarinya terlalu panjang.

Kukunya hitam.

Mereka meraih udara seolah mencari seseorang.

Arga berlari turun tanpa menoleh.

Di belakangnya terdengar suara langkah kaki mengikuti.

Cepat.

Semakin cepat.

Saat berhasil keluar rumah, suara itu berhenti.

Ia menoleh.

Rumah itu kembali sunyi.

Tidak ada pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

Keesokan harinya alat berat datang.

Pembongkaran dimulai.

Tembok demi tembok runtuh.

Lantai dipecahkan.

Namun para pekerja menemukan sesuatu.

Di bawah ruang atas terdapat rongga besar yang tidak ada dalam gambar bangunan.

Saat dibuka, mereka menemukan tiga belas kerangka manusia.

Dua belas berada di sepanjang dinding.

Satu lagi berdiri tepat menghadap sebuah kusen pintu tanpa daun pintu.

Seolah orang itu sedang menunggu sesuatu terbuka.

Pak Hadi menangis pelan.

"Akhirnya ketemu..."

Arga memandang kusen kosong itu.

Entah mengapa ia merasa tempat itu masih belum benar-benar kosong.

Malamnya, setelah semua pekerja pulang, Arga kembali hanya untuk mengambil tas yang tertinggal.

Rumah itu kini tinggal puing.

Tak ada lagi lantai atas.

Tak ada lagi lorong.

Tak ada lagi pintu.

Ia menghela napas lega.

Semuanya sudah selesai.

Saat hendak pergi, terdengar suara kayu berderit.

Kriiieeet...

Di tengah puing-puing, berdiri sebuah pintu hitam.

Masih utuh.

Masih bersih.

Masih bernomor 13.

Perlahan pintu itu terbuka sendiri.

Tak ada suara.

Tak ada bisikan.

Hanya kegelapan.

Lalu sesuatu melangkah keluar.

Bukan manusia.

Tubuhnya tinggi, kurus, dan seluruh wajahnya tertutup bayangan. Namun di tangannya tergenggam sebuah gantungan berisi dua belas kunci tua.

Makhluk itu berhenti tepat di depan Arga.

Kemudian mengangkat satu kunci baru.

Kunci itu masih berlumuran tanah.

Di ujung gantungan kini tergantung angka kecil dari kuningan.

Makhluk itu mengulurkan kunci tersebut kepada Arga.

Tanpa sadar, tangan Arga bergerak menyambutnya.

Saat jemarinya menyentuh logam dingin itu, seluruh suara di dunia lenyap.

Keesokan paginya para pekerja hanya menemukan tas Arga tergeletak di antara puing-puing.

Tak ada jejak kaki.

Tak ada bekas perlawanan.

Tak ada tubuh.

Polisi menganggap Arga menghilang begitu saja.

Namun sejak kawasan itu dibuka untuk umum sebagai objek wisata sejarah, para petugas sering menerima laporan.

Setiap malam Jumat.

Di lokasi bekas rumah tua itu muncul sebuah pintu hitam yang tidak pernah terekam kamera pengawas.

Di depannya berdiri seorang penjaga malam mengenakan seragam lusuh.

Seolah sedang mencari seseorang...

...untuk menggantikannya menjaga pintu ketiga belas.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi