Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
318
Azazil
Aksi

Panas menyengat sejak kila mulai. Darah yang mengering mulai menyatu dengan warna tanah, hanya tersisa bau anyir. Di sinilah tempat para iblis berperang melawan semua para entitas kehidupan. Aku duduk terkapar, ditemani oleh pengawal setiaku.

“Baginda Azazil, kita sudah terdesak! Kita harus segera pergi dari area perang!”

“Sialan! Bagaimana bisa dia menusukku hanya dengan cenderasa?”

“Baginda, bukan saatnya membahas itu. Mengobati luka Baginda adalah prioritas!”

“Diam kau! Aku masih bisa melawan para serangga itu! Jika aku mundur sekarang, ini akan mencoreng namaku sebagai Raja!”

“Ampuni hamba, Baginda. Hamba akan kerahkan pasukan tersisa untuk menyerang secara bersama.”

Aku berdiri dari tanah, melangkah maju meninggalkan parit begitu pula dengan prajurit dan pengawal setiaku. Cenderasa itu masih menancap di dadaku. Dengan daya yang tersisa, aku maju menebas kepala lawanku dengan senjata yang kupegang. 

Melihat nyawa mereka berjatuhan, kukira ini adalah makna kemenangan. Kesenangan itu tak berangsur lama, ketika aku menoleh ke belakang. Mataku terbelalak melihat kenyataan.

Emosiku meluap melihat para pasukan dibantai habis oleh Jenderal Langit. Tanpa sadar, aku berteriak keras. Amarah yang sesungguhnya baru meledak ketika pengawal setiaku tersandera oleh Jenderal Langit. 

Ketika aku hendak menolongnya raut wajahnya aneh. Pengawalku tampak terkejut, takut, dan sedih. Pandanganku tiba-tiba berputar. Ini terasa janggal bagiku.

Dingin.

Saat ini yang aku rasakan. 

Gedebug….

Hanya bunyi itu yang aku dengar, seperti karung berisi pasir jatuh ke tanah. Cenderasa yang menancap pada tubuhku masih berdiri di sana. Dari sudut pandang yang sangat rendah, aku melihat dua kaki masih tegak.

Samar-samar kulihat bayangan entitas berada di belakang tubuhku. Kucoba menajamkan pandanganku, ternyata itu manusia menjijikan. Dengan syamsir berlumuran darah berada di tangannya.

Bagaimana mungkin aku bisa menatap tubuhku seluruhnya?

Bagaimana dengan ambisiku untuk menaklukan dunia?

Tanpa ada jawaban, kini aku benar-benar hancur. Ditelan oleh kegelapan sejati.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)