Hujan turun tanpa henti sejak sore ketika Arga menerima kunci besar berwarna hitam dari kepala perpustakaan.
"Kalau sudah pukul sembilan malam, jangan naik ke lantai tiga."
Kepala perpustakaan mengatakannya sambil tersenyum tipis, seolah hanya sedang bercanda.
Arga ikut tersenyum.
"Sedang renovasi?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Lantai itu memang ditutup."
Jawaban singkat itu terasa aneh, tetapi Arga tidak bertanya lagi.
Ia baru seminggu bekerja sebagai penjaga malam di Perpustakaan Pusaka Nawasena, sebuah bangunan peninggalan masa kolonial yang terkenal karena koleksi naskah kunonya. Gedung itu megah, tetapi sunyi. Saat malam tiba, lorong-lorongnya dipenuhi bayangan rak-rak tinggi yang menjulang hingga langit-langit.
Malam pertama berjalan tenang.
Malam kedua juga.
Namun semuanya berubah pada malam ketiga.
Tepat pukul sembilan malam, seluruh lampu lorong berkedip selama beberapa detik.
Arga mengira listrik sedang bermasalah.
Saat hendak memeriksa panel listrik, terdengar suara langkah kaki dari atas.
Tok...
Tok...
Tok...
Pelan.
Teratur.
Seolah seseorang sedang berjalan menyusuri lantai kayu.
Arga mendongak.
Suara itu berasal dari lantai tiga.
Padahal lantai tersebut telah dikunci bertahun-tahun.
Ia mencoba berpikir logis.
Mungkin suara kayu memuai.
Mungkin ada kucing.
Atau burung.
Namun suara itu berhenti tepat di atas tempat ia berdiri.
Lalu terdengar satu bunyi lain.
Gesekan kursi.
Keesokan paginya, Arga menceritakan kejadian itu kepada petugas kebersihan bernama Bu Ratih.
Perempuan itu langsung menghentikan sapunya.
"Kamu benar-benar mendengarnya?"
"Iya."
"Jam berapa?"
"Sekitar jam sembilan."
Bu Ratih menarik napas panjang.
"Kalau begitu, jangan pernah naik ke sana."
"Kenapa?"
"Tidak semua penghuni gedung ini tercatat sebagai pegawai."
Kalimat itu membuat Arga merinding.
Rasa penasaran justru semakin besar.
Malam berikutnya ia membawa senter.
Tepat pukul sembilan, suara langkah itu kembali terdengar.
Kali ini lebih jelas.
Tok...
Tok...
Tok...
Diikuti suara lembaran kertas yang dibalik perlahan.
Arga menaiki tangga hingga berhenti di depan pintu besi lantai tiga.
Pintunya masih terkunci.
Namun dari balik celah bawah pintu, tampak cahaya kekuningan.
Seolah ada lampu yang menyala.
Padahal seluruh instalasi listrik di lantai itu telah diputus sejak lama.
Saat ia mendekatkan telinga, terdengar suara seseorang sedang berbisik.
Bukan satu suara.
Banyak.
Pelan.
Seperti orang-orang yang sedang membaca bersama.
Tiba-tiba...
Semua suara berhenti bersamaan.
Sunyi.
Lalu terdengar ketukan tiga kali dari balik pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Arga mundur beberapa langkah.
Jantungnya berdegup keras.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari turun.
Esok harinya ia mencari sejarah perpustakaan itu.
Di ruang arsip ia menemukan koran lama.
Tiga puluh lima tahun sebelumnya pernah terjadi kebakaran kecil di lantai tiga.
Api berhasil dipadamkan sebelum menyebar.
Anehnya, berita itu tidak mencantumkan korban.
Hanya ada satu kalimat.
"Seluruh ruang arsip lantai tiga ditutup tanpa batas waktu atas keputusan pemerintah daerah."
Tidak ada penjelasan lain.
Semakin dicari, semakin banyak halaman yang hilang.
Seolah seseorang sengaja menghapus kisah tentang lantai itu.
Malam berikutnya, hujan turun jauh lebih deras.
Listrik padam.
Genset gagal menyala.
Perpustakaan hanya diterangi cahaya senter.
Lalu...
Langkah kaki kembali terdengar.
Kali ini bukan di atas.
Melainkan di belakang Arga.
Ia segera menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di lantai tampak jejak kaki basah.
Jejak itu mengarah ke tangga.
Perlahan.
Satu demi satu.
Menuju lantai tiga.
Entah mengapa, rasa takutnya kalah oleh rasa ingin tahu.
Ia mengikuti jejak itu.
Sesampainya di depan pintu besi, sesuatu yang mustahil terjadi.
Pintu itu terbuka sendiri.
Pelan.
Dengan suara engsel yang panjang.
Cahaya redup menyembur dari dalam.
Lantai tiga tampak utuh.
Rak-rak buku berdiri rapi.
Meja baca tersusun seperti masih digunakan.
Padahal seharusnya ruangan itu telah kosong selama puluhan tahun.
Di setiap meja duduk seseorang.
Mereka menunduk membaca buku.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Saat Arga melangkah masuk, seluruh kepala mereka terangkat secara bersamaan.
Wajah mereka pucat.
Mata mereka kosong.
Namun tidak tampak marah.
Hanya... menunggu.
Di ujung ruangan berdiri seorang perempuan tua mengenakan pakaian pustakawan.
Ia membawa sebuah buku tebal.
"Akhirnya ada penjaga baru."
Suara perempuan itu tenang.
"Siapa... Ibu?"
"Aku menjaga semua cerita yang tidak boleh hilang."
Arga menelan ludah.
"Ibu... manusia?"
Perempuan itu tersenyum.
"Dulu."
Perempuan itu berjalan perlahan di antara rak-rak.
"Dulu tempat ini menyimpan ribuan naskah kuno."
"Lalu?"
"Suatu malam terjadi kebakaran."
"Semua orang keluar?"
"Bukan."
"Apa maksudnya?"
"Sebagian memilih tetap tinggal demi menyelamatkan naskah yang tidak dapat digantikan."
Arga memandang sosok-sosok yang masih duduk membaca.
"Mereka..."
"Mereka tidak pernah sempat keluar."
Suasana mendadak menjadi sangat dingin.
"Kenapa mereka masih di sini?"
"Karena tidak ada seorang pun yang mengingat pekerjaan terakhir mereka."
Perempuan itu menyerahkan sebuah buku kepada Arga.
"Simpan."
"Buku apa ini?"
"Daftar seluruh naskah yang berhasil diselamatkan."
Arga menerimanya.
Seketika seluruh lampu padam.
Ruangan kembali gelap.
Saat membuka mata, Arga sudah berada di lantai dua.
Pintu besi kembali terkunci rapat.
Di tangannya masih ada buku tua berdebu.
Ia membukanya.
Halaman pertama berisi daftar koleksi.
Halaman terakhir berisi puluhan nama pustakawan yang gugur saat kebakaran.
Namun anehnya...
Tidak satu pun nama mereka tercatat dalam sejarah resmi perpustakaan.
Keesokan paginya Arga menyerahkan buku itu kepada kepala perpustakaan.
Pria tua tersebut terdiam sangat lama.
"Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Dari lantai tiga."
Wajah kepala perpustakaan memucat.
"Mustahil."
Ia membuka buku itu dengan tangan gemetar.
Air matanya jatuh.
"Itu tulisan tangan ibuku."
"Ibu Bapak?"
"Ia salah satu pustakawan yang dinyatakan hilang."
"Tapi..."
"Jenazahnya tidak pernah ditemukan."
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa bulan kemudian, perpustakaan mengadakan upacara penghormatan.
Nama seluruh pustakawan yang selama ini terlupakan akhirnya diukir pada sebuah prasasti di halaman depan gedung.
Malam setelah prasasti itu diresmikan, Arga kembali berjaga.
Pukul sembilan tepat.
Ia menunggu.
Namun tidak ada lagi suara langkah kaki.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada kursi yang bergeser.
Gedung itu terasa damai.
Arga tersenyum kecil.
Ia mengira semuanya telah berakhir.
Namun saat hendak mematikan lampu, ia melihat sebuah buku baru tergeletak di meja penjaga.
Sampulnya hitam pekat.
Tidak ada judul.
Ketika dibuka, seluruh halamannya kosong.
Hanya halaman terakhir yang berisi satu kalimat dengan tinta yang masih tampak basah.
"Terima kasih karena telah mengingat kami. Tetapi perpustakaan ini masih memiliki satu ruangan yang belum pernah dibuka."
Di bawah kalimat itu tergambar denah gedung.
Pada denah tersebut terdapat sebuah lorong sempit menuju ruang bawah tanah.
Lorong yang tidak pernah ada di peta resmi perpustakaan.
Arga perlahan menutup buku itu.
Dari balik lantai...
Terdengar suara ketukan pelan.
Tok.
Tok.
Tok.