Disukai
0
Dilihat
5
Hujan yang Memilih Jendela Kita
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan selalu datang pada waktu yang tidak bisa diprediksi.

Begitu pula pertemuan antara Nara dan Alden.

Bukan di sebuah kafe yang romantis.

Bukan pula di perpustakaan yang tenang.

Mereka bertemu karena berebut tempat duduk di dalam kereta komuter yang hampir penuh pada suatu Senin pagi.

"Maaf, saya duluan."

"Perasaan saya yang lebih dulu lihat."

Keduanya sama-sama berhenti.

Lalu saling menatap.

Beberapa detik kemudian, mereka justru tertawa.

"Sudahlah," kata Nara.

"Kita bergantian saja."

Alden menggeleng.

"Silakan."

"Saya masih bisa berdiri."

"Yakin?"

"Kalau tidak yakin, saya tidak akan bilang begitu."

Nara akhirnya duduk.

Sebelum kereta berangkat, ia sempat berkata pelan,

"Terima kasih."

Alden hanya mengangguk sambil memegang tiang di samping pintu.

Tak ada yang menyangka bahwa percakapan singkat itu akan menjadi awal dari sebuah kisah yang mengubah hidup mereka.

---

Nara bekerja sebagai editor di sebuah penerbit buku.

Pekerjaannya membuatnya akrab dengan naskah, tenggat waktu, dan tumpukan kopi yang tak pernah benar-benar habis.

Ia menyukai kesunyian.

Baginya, membaca adalah cara paling sederhana untuk memahami dunia.

Sebaliknya, Alden bekerja sebagai arsitek muda.

Hari-harinya dipenuhi rapat, gambar bangunan, dan kunjungan ke lokasi proyek.

Ia menyukai keramaian.

Baginya, setiap bangunan memiliki cerita tentang orang-orang yang akan menghuninya.

Dua dunia yang sangat berbeda.

Namun setiap pagi mereka naik kereta pada jam yang sama.

---

Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu.

"Kebetulan lagi?" tanya Nara.

"Mungkin."

"Atau memang jadwal kita sama."

Nara tersenyum kecil.

Hari itu mereka mulai berbicara lebih banyak.

Tentang pekerjaan.

Tentang makanan favorit.

Tentang bagaimana kereta selalu terlambat ketika seseorang sedang terburu-buru.

Percakapan mereka terasa ringan.

Tidak ada usaha untuk saling mengesankan.

Tidak ada pertanyaan yang terlalu pribadi.

Hanya dua orang asing yang menikmati perjalanan sekitar tiga puluh menit setiap pagi.

---

Seminggu kemudian, hujan turun sangat deras.

Kereta mengalami gangguan.

Para penumpang memenuhi peron sambil menunggu informasi.

Nara berdiri di dekat jendela stasiun.

Ia membawa payung, tetapi angin membuat ujung bajunya tetap basah.

"Aku boleh berdiri di sini?" tanya Alden.

"Silakan."

Mereka memandangi hujan dalam diam.

"Aku suka hujan," kata Nara.

"Kenapa?"

"Karena hujan membuat semua orang berjalan lebih pelan."

Alden tersenyum.

"Aku justru sering dimarahi karena hujan."

"Lho?"

"Kalau proyek terlambat, yang disalahkan biasanya cuaca."

Nara tertawa.

"Ternyata hujan punya dua wajah."

"Iya."

"Bagi sebagian orang membawa ketenangan."

"Bagi sebagian lain membawa masalah."

---

Kereta baru datang hampir satu jam kemudian.

Mereka naik bersama.

Hari itu tempat duduk kembali penuh.

Tanpa berkata apa-apa, Alden berdiri seperti pertama kali mereka bertemu.

Nara menatapnya.

"Kamu memang tidak suka duduk?"

"Bukan."

"Hanya saja..."

"Aku lebih nyaman kalau tahu orang lain bisa beristirahat."

Nara menggeleng pelan.

"Kamu aneh."

Alden tertawa.

"Itu pujian atau kritik?"

"Mungkin dua-duanya."

---

Hari-hari berikutnya, mereka mulai saling menunggu.

Jika salah satu terlambat beberapa menit, yang lain akan berdiri di dekat pintu masuk stasiun.

Tanpa pernah membuat janji.

Tanpa pernah mengaku sedang menunggu.

Semuanya mengalir begitu saja.

Suatu pagi, Nara datang dengan wajah lelah.

"Apa semalam lembur?" tanya Alden.

"Iya."

"Naskahnya harus selesai."

Alden mengeluarkan sekotak kecil susu hangat dari tasnya.

"Minum."

Nara mengernyit.

"Kamu bawa ini?"

"Tadi beli."

"Terima kasih."

"Itu bukan solusi."

"Tapi semoga bisa membuat pagimu sedikit lebih baik."

Kalimat sederhana itu tinggal di kepala Nara sepanjang hari.

---

Beberapa minggu berlalu.

Suatu Sabtu pagi, Nara sedang memilih buku di sebuah toko buku bekas.

Saat berbalik, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.

"Alden?"

Alden tampak sama terkejutnya.

"Kamu juga suka ke sini?"

"Iya."

"Hampir setiap bulan."

Mereka akhirnya menghabiskan waktu bersama.

Membahas buku-buku lama.

Mencari edisi yang sudah sulit ditemukan.

Sesekali saling merekomendasikan bacaan.

Di salah satu rak, Nara menemukan sebuah novel dengan halaman yang mulai menguning.

"Aku suka buku bekas," katanya.

"Karena setiap lipatan halamannya menyimpan cerita dari pembaca sebelumnya."

Alden mengangguk.

"Mirip bangunan tua."

"Ada sejarah yang tidak terlihat."

Percakapan mereka terasa semakin akrab.

Seolah mereka telah berteman jauh lebih lama daripada kenyataannya.

---

Menjelang sore, hujan kembali turun.

Mereka berteduh di depan toko buku.

"Aneh ya," kata Nara.

"Kenapa?"

"Setiap kali kita bertemu di luar kereta..."

"...selalu hujan."

Alden memandang rintik air yang jatuh di jalanan.

Lalu tersenyum.

"Mungkin hujan memang memilih jendela yang sama."

Nara menoleh.

"Maksudnya?"

"Entahlah."

"Aku cuma merasa..."

"...setiap hujan turun, aku selalu bertemu seseorang yang membuat perjalanan terasa lebih singkat."

Untuk pertama kalinya, Nara tidak tahu harus menjawab apa.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, ponselnya ber

dering.

Panggilan dari kantor.

Ia harus segera kembali.

Mereka pun berpisah di depan toko buku dengan janji sederhana.

"Sampai ketemu Senin."

Namun mereka tidak menyadari bahwa Senin yang akan datang membawa kabar yang mulai menguji perasaan yang diam-diam tumbuh di antara mereka.

Senin pagi datang bersama langit yang cerah.

Anehnya, Nara justru merasa gelisah.

Biasanya, ia tidak terlalu memikirkan perjalanan menuju kantor. Namun pagi itu, tanpa sadar ia beberapa kali melihat jam di ponselnya agar tidak terlambat ke stasiun.

Saat tiba di peron, Alden belum terlihat.

Kereta datang lima menit kemudian.

Pintu terbuka.

Penumpang mulai masuk.

Nara masih berdiri di tempat.

Matanya terus mencari sosok yang kini mulai menjadi bagian dari rutinitas paginya.

Sesaat sebelum pintu tertutup, seseorang berlari sambil melambaikan tangan.

"Nara!"

Alden berhasil masuk tepat waktu.

Keduanya sama-sama tertawa karena napas Alden masih terengah-engah.

"Hampir saja."

"Aku kira kamu tidak datang."

"Aku juga takut begitu."

Tanpa mereka sadari, kalimat itu memiliki makna yang lebih dalam daripada yang terdengar.

---

Hari itu, perjalanan terasa lebih ramai dari biasanya.

Mereka berdiri berdekatan karena kereta penuh.

Sesekali tangan mereka hampir bersentuhan ketika kereta berguncang.

Setiap kali itu terjadi, mereka sama-sama berpura-pura tidak menyadarinya.

Alden kemudian mengeluarkan dua bungkus roti dari tasnya.

"Kamu belum sarapan, kan?"

Nara mengangkat alis.

"Kok tahu?"

"Wajahmu selalu kelihatan lebih serius kalau belum makan."

Nara tertawa kecil.

"Segampang itu dibaca?"

"Iya."

"Kamu juga."

"Kalau datang sambil memegang buku berarti semalam lembur membaca."

Nara tersenyum.

"Ternyata kita sama-sama memperhatikan."

Percakapan itu membuat suasana menjadi canggung sesaat.

Namun bukan canggung yang tidak nyaman.

Melainkan canggung yang diam-diam menyenangkan.

---

Di kantor, Nara menerima kabar yang tidak ia duga.

Pemimpin redaksinya memanggilnya ke ruang kerja.

"Ada proyek baru."

"Kami ingin mengirimmu ke Yogyakarta selama tiga bulan."

Nara terdiam.

"Mulai kapan?"

"Awal bulan depan."

"Di sana kamu akan mendampingi proses penerbitan beberapa penulis."

"Itu kesempatan bagus untuk kariermu."

Nara mengangguk pelan.

Seharusnya ia merasa senang.

Namun entah mengapa, pikirannya justru melayang pada perjalanan kereta setiap pagi.

---

Sore harinya, mereka pulang bersama.

Hujan kembali turun tipis.

Nara tampak lebih pendiam.

Alden memperhatikannya.

"Hari ini capek?"

"Ada kabar dari kantor."

"Kabar baik?"

"Harusnya begitu."

"Lalu?"

"Aku mungkin pindah sementara ke Yogyakarta."

Alden terdiam.

"Oh."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Padahal di dalam hatinya, banyak sekali kalimat yang ingin ia ucapkan.

Namun ia merasa belum memiliki hak untuk menahan seseorang mengejar impiannya.

---

Hari-hari setelah kabar itu terasa berbeda.

Mereka tetap bertemu setiap pagi.

Tetap bercanda.

Tetap berbagi cerita.

Namun kini ada kesadaran bahwa kebiasaan itu akan segera berakhir.

Suatu malam, Alden mengirim pesan untuk pertama kalinya.

"Besok jangan lupa bawa payung. Kata prakiraan cuaca bakal hujan."

Nara tersenyum membaca pesan itu.

Ia membalas singkat.

"Makasih. Kamu juga."

Sejak malam itu, mereka mulai saling bertukar pesan.

Tidak sepanjang hari.

Hanya hal-hal sederhana.

Menanyakan apakah sudah makan.

Mengirim foto langit senja.

Merekomendasikan buku atau lagu.

Hubungan mereka tumbuh perlahan.

Tidak terburu-buru.

Seperti hujan yang turun setetes demi setetes sebelum akhirnya membasahi seluruh jalan.

---

Seminggu sebelum keberangkatan Nara, Alden mengajaknya ke sebuah taman kota.

Di sana terdapat sebuah rumah kaca kecil yang dipenuhi bunga.

"Aku sering ke sini kalau sedang penat," kata Alden.

"Indah."

"Iya."

"Di sini semua tanaman tumbuh dengan waktu yang berbeda."

"Ada yang cepat berbunga."

"Ada yang harus menunggu berbulan-bulan."

Nara menatap bunga-bunga di hadapannya.

"Kamu sedang membicarakan tanaman?"

Alden tersenyum.

"Mungkin."

"Atau mungkin hal lain."

Mereka berjalan pelan di antara deretan bunga.

Tak ada yang berbicara cukup lama.

Namun diam kali ini terasa penuh.

---

Saat hendak pulang, hujan turun lagi.

Mereka berteduh di bawah atap kaca.

Rintik air membentuk pola-pola kecil di permukaan kaca bening.

Alden memandang ke arah hujan, lalu berkata pelan,

"Nara."

"Iya?"

"Kalau nanti kamu pergi..."

"...aku akan tetap naik kereta yang sama."

Nara menoleh.

"Aku tahu."

"Aku cuma berharap..."

"...suatu hari nanti kita masih bertemu di perjalanan yang sama."

Jantung Nara berdetak semakin cepat.

Ia memahami maksud kalimat itu.

Namun sebelum ia sempat menjawab, ponselnya kembali berdering.

Atasan dari kantornya memberi tahu bahwa keberangkatannya dimajukan.

Bukan minggu depan.

Melainkan lusa pagi.

Artinya...

Besok adalah perjalanan terakhir mereka bersama di kereta.

Nara menggenggam ponselnya erat.

Sementara hujan di luar turun semakin deras.

Dan untuk pertama kalinya, ia berharap perjalanan menuju stasiun keesokan hari tidak berakhir terlalu cepat.

Malam itu, Nara hampir tidak bisa tidur.

Koper berukuran sedang sudah terisi pakaian dan beberapa buku favoritnya. Di atas meja kerja, tiket kereta menuju Yogyakarta tergeletak rapi.

Ia berulang kali melihat jam.

Pikirannya bukan tentang pekerjaan baru.

Melainkan tentang perjalanan terakhir bersama Alden esok pagi.

---

Fajar datang lebih cepat dari yang ia harapkan.

Nara tiba di stasiun lebih awal.

Peron masih lengang.

Udara pagi terasa sejuk setelah hujan semalam.

Beberapa menit kemudian, Alden datang sambil membawa dua gelas kopi hangat.

"Aku ingat kamu selalu minum kopi tanpa gula."

Nara tersenyum.

"Kamu masih ingat?"

"Aku ingat banyak hal."

Mereka berdiri berdampingan tanpa banyak bicara.

Sesekali hanya memandangi rel kereta yang memanjang di depan mereka.

Kereta akhirnya datang.

Seperti biasa, mereka memilih berdiri di dekat jendela.

Pemandangan kota yang perlahan bergerak melewati kaca terasa berbeda pagi itu.

Mungkin karena mereka tahu, untuk sementara waktu, itu akan menjadi perjalanan terakhir.

---

"Aku boleh bertanya sesuatu?" kata Alden.

"Boleh."

"Selama kita sering bertemu..."

"...apa kamu pernah menganggap semua ini hanya kebetulan?"

Nara tersenyum kecil.

"Awalnya iya."

"Sekarang?"

"Sekarang aku percaya..."

"...ada pertemuan yang memang datang pada waktu yang tepat."

Alden mengangguk pelan.

Ia mengeluarkan sebuah pembatas buku dari saku jaketnya.

Terbuat dari kayu tipis dengan ukiran sederhana berbentuk tetes hujan.

"Ini untukmu."

Nara menerimanya dengan hati-hati.

"Bagus sekali."

"Aku membuatnya sendiri."

"Supaya setiap kali kamu membaca buku..."

"...kamu ingat pernah punya teman perjalanan."

Nara menatap pembatas buku itu cukup lama.

"Teman perjalanan?"

"Hanya teman?"

Alden terdiam.

Ia menarik napas panjang.

"Aku ingin lebih dari itu."

Kalimat itu akhirnya terucap.

Sederhana.

Tanpa kata-kata indah yang berlebihan.

Namun cukup membuat dunia Nara terasa berhenti sejenak.

---

Kereta tiba di stasiun tujuan.

Mereka turun bersama.

Di depan pintu keluar, langkah mereka melambat.

"Aku tidak pandai mengungkapkan perasaan," kata Alden.

"Tapi aku tahu satu hal."

"Apa?"

"Setiap pagi, aku selalu berharap perjalanan dimulai karena tahu akan bertemu denganmu."

Mata Nara mulai berkaca-kaca.

Ia tersenyum.

"Aku juga."

"Tapi sekarang aku harus pergi."

"Aku tahu."

"Aku tidak akan memintamu membatalkan semuanya."

"Karena aku ingin kamu mengejar mimpimu."

Nara mengangguk pelan.

"Itulah yang membuatku semakin sulit pergi."

---

Keesokan paginya, Alden mengantar Nara ke stasiun kereta antarkota.

Mereka duduk berdampingan di ruang tunggu.

Suasana ramai oleh penumpang yang datang dan pergi.

Namun bagi mereka, dunia terasa sunyi.

Pengumuman keberangkatan mulai terdengar.

Kereta tujuan Yogyakarta siap diberangkatkan.

Nara berdiri sambil menggenggam koper.

"Aku akan kembali."

"Aku akan menunggu."

"Bisa lama."

"Tidak apa-apa."

"Lalu kalau nanti kamu bertemu orang lain?"

Alden tersenyum.

"Aku tidak sedang menunggu waktu."

"Aku sedang menunggu seseorang."

Air mata Nara akhirnya jatuh.

Bukan karena sedih harus pergi.

Melainkan karena merasa dipahami.

Sebelum naik ke kereta, ia mengambil sebuah buku dari tasnya.

Buku itu adalah novel bekas yang mereka beli bersama di toko buku beberapa minggu lalu.

"Aku pinjamkan ini."

"Supaya kamu punya alasan mengembalikannya."

Alden tertawa pelan.

"Baik."

Kereta mulai bergerak.

Nara berdiri di dekat jendela.

Alden melambaikan tangan.

Hingga sosoknya perlahan mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.

---

Hari-hari di Yogyakarta berjalan sibuk.

Nara menikmati pekerjaannya.

Ia bertemu banyak penulis.

Belajar banyak hal baru.

Namun setiap pagi, saat mendengar suara kereta melintas, pikirannya selalu kembali pada perjalanan-perjalanan sederhana yang dulu ia lalui bersama Alden.

Sementara itu, Alden tetap naik kereta yang sama.

Ia masih berdiri di dekat jendela tempat mereka biasa berbincang.

Kadang tanpa sadar ia menoleh ke kursi yang dulu sering ditempati Nara.

Kosong.

Tetapi tidak pernah terasa benar-benar kosong.

Karena di sana masih tinggal kenangan.

Mereka tetap saling berkirim pesan.

Tidak setiap jam.

Tidak pula setiap hari.

Namun cukup untuk saling mengetahui bahwa masing-masing masih berjalan menuju masa depan dengan membawa harapan yang sama.

Tanpa mereka sadari, tiga bulan berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan.

Dan sebuah kejutan telah menunggu ketika Nara akhirnya kembali ke kota asalnya.

Tiga bulan berlalu seperti halaman-halaman buku yang dibaca tanpa terasa.

Pekerjaan Nara di Yogyakarta akhirnya selesai lebih cepat dari jadwal. Banyak pengalaman baru yang ia bawa pulang, mulai dari bertemu para penulis hingga belajar melihat cerita dari sudut pandang yang berbeda.

Namun ada satu hal yang tidak berubah.

Setiap kali hujan turun, ia selalu teringat pada seseorang yang pertama kali dikenalnya di dalam kereta.

Seseorang yang membuat perjalanan biasa terasa istimewa.

---

Hari kepulangannya tiba.

Kereta yang membawanya memasuki kota menjelang sore.

Langit kembali dipenuhi awan kelabu.

Saat turun di stasiun, Nara tidak memberi tahu Alden bahwa ia pulang hari itu.

Ia ingin memberinya kejutan.

Dengan koper di tangan, ia berjalan perlahan menuju peron komuter yang dulu hampir setiap pagi mereka lewati bersama.

Kereta tujuan pusat kota akan tiba lima menit lagi.

Nara berdiri di dekat jendela kaca yang sama.

Tempat mereka pernah menunggu saat hujan turun berbulan-bulan lalu.

Tak lama kemudian, kereta datang.

Pintu terbuka.

Puluhan penumpang keluar.

Di antara keramaian itu, seorang pria dengan ransel hitam melangkah pelan sambil membaca pesan di ponselnya.

Nara langsung mengenalinya.

"Alden."

Pria itu menoleh.

Untuk sesaat ia hanya berdiri diam.

Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Nara?"

"Iya."

"Kamu..."

"Bukannya pulang minggu depan?"

Nara tersenyum.

"Aku sengaja tidak memberi tahu."

Alden tertawa kecil.

"Kamu berhasil membuatku kaget."

---

Mereka berjalan keluar dari stasiun tanpa terburu-buru.

Banyak hal yang ingin diceritakan.

Tentang pekerjaan.

Tentang kota baru.

Tentang orang-orang yang mereka temui.

Namun anehnya, mereka justru lebih banyak saling mendengarkan daripada berbicara.

Sesampainya di taman kota yang dulu pernah mereka kunjungi, hujan turun perlahan.

"Aku rasa hujan memang sengaja mengikuti kita," kata Nara sambil tertawa.

Alden mengangguk.

"Atau mungkin..."

"...kita yang selalu menemukan jalan menuju hujan."

---

Rumah kaca kecil di tengah taman masih berdiri.

Bunga-bunganya kini bermekaran lebih banyak dibandingkan tiga bulan lalu.

Mereka kembali berjalan di lorong yang sama.

Di tempat yang sama, Alden berhenti.

"Aku masih menyimpan buku yang kamu pinjamkan."

"Sudah selesai dibaca?"

"Sudah."

"Tapi aku belum ingin mengembalikannya."

"Kenapa?"

"Karena aku masih ingin punya alasan untuk terus bertemu denganmu."

Nara tertawa pelan.

"Kamu ternyata masih sama."

"Maksudnya?"

"Masih suka mencari alasan sederhana."

Alden mengangguk.

"Karena perasaan yang besar sering kali tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil."

---

Beberapa minggu setelah kepulangan Nara, hubungan mereka berjalan dengan lebih jelas.

Tidak ada lagi keraguan yang dulu mereka simpan sendiri.

Mereka mulai saling mengenal keluarga masing-masing.

Nara bertemu ibu Alden yang ramah dan gemar berkebun.

Sementara Alden diterima hangat oleh ayah Nara yang menyukai musik klasik.

Hubungan itu tumbuh tanpa tergesa-gesa.

Mereka sepakat untuk tidak saling mengubah.

Sebaliknya, mereka belajar saling menerima kekurangan satu sama lain.

Karena mereka percaya, cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.

Melainkan tentang tetap memilih seseorang, bahkan setelah mengenal sisi-sisi yang tidak sempurna.

---

Setahun kemudian, pada suatu sore yang kembali dihiasi hujan, Alden mengajak Nara naik kereta seperti saat mereka pertama kali bertemu.

"Kenapa harus kereta?" tanya Nara.

"Karena semuanya dimulai dari sini."

Mereka berdiri di dekat pintu.

Persis seperti hari pertama.

Ketika kereta mulai melaju, Alden mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.

"Boleh aku meminta satu perjalanan yang jauh lebih panjang?"

Nara menatapnya bingung.

Alden membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin sederhana berwarna perak.

"Bukan perjalanan menuju kantor."

"Bukan perjalanan pulang."

"Tapi perjalanan hidup."

"Nara..."

"...maukah kamu berjalan bersamaku?"

Mata Nara dipenuhi air mata.

Ia teringat pagi-pagi yang mereka lalui.

Secangkir kopi hangat.

Payung yang dipakai bergantian.

Percakapan singkat di tengah kereta yang penuh sesak.

Dan hujan yang selalu seolah mempertemukan mereka.

Dengan senyum yang tidak mampu lagi disembunyikan, ia mengangguk.

"Aku mau."

---

Beberapa bulan kemudian, mereka resmi menikah dalam sebuah acara sederhana yang dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.

Tak ada pesta yang mewah.

Tak ada dekorasi yang berlebihan.

Namun ada satu hal yang sengaja mereka hadirkan.

Di sudut ruangan, mereka meletakkan sebuah bingkai berisi pembatas buku kayu berbentuk tetes hujan yang pernah diberikan Alden kepada Nara.

Di bawahnya tertulis:

"Semua perjalanan besar berawal dari keberanian menyapa seseorang di perjalanan yang sederhana."

---

Tahun-tahun berlalu.

Kesibukan hidup datang silih berganti.

Ada hari-hari yang melelahkan.

Ada hari-hari yang penuh tawa.

Namun mereka tetap mempertahankan satu kebiasaan.

Setidaknya sebulan sekali, mereka sengaja naik kereta yang dulu mempertemukan mereka.

Bukan karena tidak memiliki kendaraan.

Melainkan agar tidak lupa dari mana kisah mereka dimulai.

Suatu sore, ketika hujan kembali turun di luar jendela kereta, Nara menyandarkan kepala di bahu Alden.

"Kalau dulu kita tidak berebut tempat duduk..."

"...menurutmu kita tetap akan bertemu?"

Alden tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.

"Mungkin."

"Mungkin juga tidak."

"Tapi aku percaya..."

"...takdir sering datang dengan cara yang sangat biasa."

"Dan tugas kita hanyalah cukup berani untuk menyapa."

Kereta terus melaju membelah kota.

Di balik jendela, hujan jatuh dengan lembut, seperti hari pertama mereka bertemu.

Seolah langit sedang mengingatkan bahwa cinta tidak selalu hadir dengan cara yang megah.

Kadang ia datang sebagai percakapan singkat.

Sebuah tempat duduk yang dipersilakan.

Atau hujan yang diam-diam memilih jendela yang sama.

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi