Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
4
Bangku Nomor Tujuh
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Damar selalu membenci hujan.

Bukan karena jalanan menjadi macet atau pakaian cepat basah, melainkan karena hujan mengingatkannya pada hari ketika ibunya pergi. Saat itu usianya sembilan tahun. Ia berdiri di depan rumah sederhana mereka sambil memegang mobil-mobilan plastik yang rodanya sudah hilang satu. Ibunya memeluknya sebentar, mengecup keningnya, lalu berjalan menyusuri jalan desa yang diguyur hujan tanpa pernah menoleh lagi.

Sejak hari itu, Damar percaya bahwa ibunya memilih meninggalkan dirinya.

Ayahnya tak pernah menjelaskan apa pun. Setiap kali Damar bertanya, lelaki itu hanya menjawab, "Ibumu sudah punya jalan hidupnya sendiri."

Kalimat itu menjadi tembok yang semakin tinggi setiap tahun.

Kini Damar berusia dua puluh delapan tahun. Ia bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah terminal bus antarkota. Pekerjaannya sederhana: mencatat jadwal keberangkatan, memeriksa tiket, dan membantu penumpang yang kebingungan.

Ada satu bangku yang selalu menarik perhatiannya.

Bangku nomor tujuh.

Setiap sore, seorang perempuan tua datang membawa tas kain lusuh. Ia duduk di bangku itu selama sekitar satu jam, memandangi bus-bus yang datang dan pergi, lalu pulang tanpa pernah menaiki satu pun.

Awalnya Damar menganggap perempuan itu hanya kesepian.

Namun kebiasaan itu berlangsung hampir enam bulan.

Suatu sore, hujan turun deras. Damar menghampiri perempuan itu sambil membawa segelas teh hangat.

"Ibu menunggu siapa?"

Perempuan itu tersenyum tipis.

"Anak saya."

"Dia belum datang?"

"Sudah bertahun-tahun belum."

Damar mengangguk pelan. Ada sesuatu dalam jawaban itu yang terasa asing sekaligus akrab.

"Kenapa Ibu tetap menunggu?"

Perempuan itu memandang hujan.

"Karena seorang ibu selalu percaya anaknya akan pulang, meski seluruh dunia mengatakan sebaliknya."

Jawaban itu terus terngiang di kepala Damar sepanjang malam.

Dua minggu kemudian ayah Damar meninggal dunia karena serangan jantung.

Rumah yang selama ini terasa penuh mendadak menjadi sunyi.

Saat membereskan lemari tua milik ayahnya, Damar menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Kuncinya tergantung di balik bingkai foto keluarga yang sudah kusam.

Di dalam kotak itu terdapat puluhan amplop yang belum pernah dibuka.

Semuanya ditujukan kepada Damar.

Tulisan pengirimnya membuat napasnya tercekat.

Ibu.

Tangannya gemetar saat membuka surat pertama.

"Damar kecilku. Hari ini ulang tahunmu yang kesepuluh. Maaf Ibu tidak bisa meniup lilin bersamamu. Semoga Ayah mengizinkan surat ini sampai kepadamu."

Damar membuka surat kedua.

"Ibu bekerja di kota agar bisa mengirim uang untuk pengobatan Ayah. Ibu ingin pulang, tetapi Ayah memintaku jangan datang dulu sebelum keadaan membaik."

Surat ketiga.

"Kalau suatu hari kau membenciku, Ibu akan menerimanya. Yang penting kau tumbuh menjadi anak baik."

Surat keempat.

"Setiap bulan Ibu datang ke terminal berharap bisa melihatmu dari jauh."

Air mata Damar jatuh tanpa bisa dihentikan.

Semua surat itu belum pernah sampai kepadanya.

Semuanya disimpan oleh ayahnya.

Ada lebih dari seratus surat.

Tak satu pun pernah dibacanya.

Di dasar kotak kayu terdapat sebuah buku harian.

Halaman terakhir ditulis oleh ayahnya.

"Maafkan Ayah. Saat ibumu memutuskan bekerja di luar kota, Ayah terlalu gengsi menerima bantuannya. Ayah mengatakan pada semua orang bahwa dia meninggalkan kita. Semakin lama, Ayah semakin takut mengakui kebohongan itu. Setiap surat yang datang Ayah sembunyikan. Ayah berharap suatu hari bisa meminta maaf. Kalau kau membaca ini, berarti Ayah sudah terlambat."

Damar terduduk di lantai.

Seluruh hidupnya dibangun di atas kesalahpahaman.

Ia membenci orang yang ternyata tak pernah berhenti mencintainya.

Keesokan harinya Damar datang ke terminal lebih awal.

Bangku nomor tujuh masih kosong.

Sore menjelang.

Perempuan tua itu datang lagi.

Tas kain yang sama.

Langkah yang semakin pelan.

Damar memperhatikannya lebih lama daripada biasanya.

Wajah itu...

Ada sesuatu yang terasa mirip dengan foto lama ibunya.

Ia mendekat.

"Ibu..."

Perempuan itu menoleh.

Mata mereka saling bertemu.

"Damar?"

Suara itu begitu pelan, tetapi cukup untuk menghancurkan seluruh tembok yang selama ini dibangun Damar di dalam hatinya.

"Ibu..."

Perempuan itu berdiri dengan tubuh gemetar.

"Aku tidak berani memastikan. Kau sudah sangat dewasa."

Damar tak mampu berkata-kata.

Ia hanya mengeluarkan surat-surat dari dalam tas.

Perempuan itu menatap amplop-amplop yang mulai menguning.

"Kau... sudah membacanya?"

Damar mengangguk.

"Maaf..."

Perempuan itu buru-buru menggeleng.

"Jangan meminta maaf. Anak tidak perlu meminta maaf karena mempercayai ayahnya."

Damar menangis.

Untuk pertama kalinya sejak usia sembilan tahun, ia memeluk ibunya.

Tak ada kemarahan.

Tak ada penjelasan panjang.

Hanya dua orang yang kehilangan waktu selama hampir dua puluh tahun.

Hari-hari berikutnya mereka mulai saling mengenal kembali.

Damar mengetahui ibunya tinggal di rumah kontrakan kecil dan bekerja menjahit pakaian hingga penglihatannya mulai kabur.

Ibunya mengetahui anak kecil yang dulu takut petir kini selalu membawa payung untuk membantu penumpang terminal.

Mereka belajar memulai hubungan yang seharusnya tak pernah terputus.

Namun waktu ternyata tidak bisa diulang.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, dokter mendiagnosis ibunya mengidap gagal jantung.

"Ibu tidak takut," katanya suatu malam.

"Apa yang Ibu takutkan?"

"Takut kita baru bertemu ketika usia kita sudah hampir habis."

Damar menggenggam tangan yang mulai keriput itu.

"Tidak ada yang terlambat selama kita masih sempat saling memaafkan."

Ibunya tersenyum.

"Itu kalimat paling indah yang pernah Ibu dengar darimu."

Musim hujan datang lagi.

Hujan yang dulu selalu dibenci Damar kini terdengar berbeda.

Ia duduk bersama ibunya di bangku nomor tujuh.

Mereka memandangi bus-bus yang datang dan pergi.

"Ibu sebenarnya menunggu siapa setiap hari di sini?" tanya Damar.

Perempuan itu tersenyum.

"Menunggu keajaiban."

"Dan keajaiban itu datang?"

Ibunya mengangguk sambil menggenggam tangan Damar.

"Iya. Duduk di sebelah Ibu sekarang."

Tak lama kemudian, kepala perempuan itu perlahan bersandar di bahu Damar.

Napasnya tenang.

Senyumnya tetap ada.

Untuk terakhir kalinya.

Damar tidak berteriak.

Ia hanya menggenggam tangan ibunya lebih erat, seolah ingin mengembalikan semua pelukan yang hilang selama dua puluh tahun.

Hujan terus turun di luar terminal.

Bus-bus tetap datang dan pergi.

Orang-orang terus menjalani hidup mereka.

Tetapi bagi Damar, bangku nomor tujuh tidak lagi menjadi tempat seseorang menunggu.

Bangku itu menjadi saksi bahwa cinta seorang ibu tidak selalu hilang ketika ia tak terlihat. Kadang cinta hanya tersesat di antara kebohongan, kesunyian, dan waktu yang terlalu lama.

Sejak hari itu, setiap menemukan seorang penumpang yang menunggu seseorang, Damar selalu menawarkan segelas teh hangat.

Sebab ia tahu, ada penantian yang tidak bisa diukur dengan jam.

Hanya dengan kasih yang memilih bertahan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi