Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
22
Teh Sore untuk Emily
Misteri
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kabut senja merayap masuk melalui celah-celah gorden renda yang mencokelat dan rapuh di Solarium Utama. Di dinding, sepasang mata cat minyak milik mendiang leluhur Van Der Meer seolah terus mengawasi punggung Emily, memaksanya menegakkan tulang selangka hingga terasa kaku. Ia memaksa seteguk cairan hangat melewati tenggorokan, mengabaikan cecapan tajam mirip karat besi yang tertinggal di pangkal lidah.

"Kau gelisah, Emily," sepotong suara parau memecah keheningan, disusul derit pelan roda kursi beludru dari sudut yang remang. "Gadis terhormat tidak membiarkan jemarinya mengetuk-ngetuk porselen. Ibumu selalu tahu cara duduk yang anggun."

Emily mencengkeram pinggiran cangkir bersepuh emas hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan peti mati ibunya dua bulan lalu kembali melintas, menyisakan desas-desus tentang diagnosis dokter yang samar dan suara selot pintu yang berdentang setiap kali jam dinding berdentang dua belas kali.

"Ibu menyembunyikan sebuah buku bersampul kulit di balik lantai kamar," kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Emily, memecah kesunyian ruangan. "Di sana tertulis lembar demi lembar rencana pelariannya."

Rajutan wol hitam di pangkuan wanita tua itu mendadak diam. Kepala berambut perak itu mendongak lambat, mengarahkan sepasang manik kelabu yang mengeruh namun menyimpan sorot dingin langsung ke sepasang mata Emily.

"Buku harian," bibir keriput itu melengkung samar, menyuarakan nada ayunan yang lambat dan menghanyutkan. "Gadis malang itu tidak pernah melangkah melewati pagar halaman. Dia tidur di tempat terbaik, tempat di mana dia tidak akan bisa mengacaukan nama baik keluarga lagi."

Suara degup di dada Emily mendadak berdentum keras di telinganya sendiri. Rasa logam di lidahnya kian menebal, mengundang rasa pening yang perlahan menarik kelopak matanya ke bawah. Ia menengadah, menatap potret ibunya yang tergantung di dinding tinggi, menyadari gurat ketakutan yang dilukis dengan tergesa-gesa pada sepasang mata di kanvas itu.

Ingatan Emily melayang pada gundukan tanah yang masih basah di balik semak kecubung kemarin sore, tepat di samping rumah kaca yang retak. Sebelah jepit rambut perak berbentuk kupu-kupu mencuat dari sana, separuh bilahnya tertimbun lumpur hitam.

Emily memandang sisa air teh di cangkirnya, lalu beralih pada seringai tipis yang kini terukir di wajah keriput di hadapannya.

"Habiskan cangkirmu, Emily sayang," bisik wanita tua itu, jemarinya kembali bergerak memainkan jarum rajut. "Darah murni keluarga ini tidak boleh tercemar oleh rasa penasaran yang berlebihan."

Jari-jari Emily kehilangan kekuatannya. Porselen mahal itu meluncur, menghantam lantai marmer dengan dentang keras, memercikkan cairan pekat yang mengalir di antara sela ubin, menyatu dengan bias merah matahari yang perlahan padam di luar jendela. Kelopak matanya menutup sepenuhnya, tepat saat ia menyadari arti sebatang jepit rambut yang tertimbun di bawah tanaman beracun.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi