“Lima puluh ribu sehari.”
Lembaran uang biru di tanganku membuat kepalaku berdenyut. Aku harus mengatur lima ratus ribu rupiah untuk sepuluh hari di zaman sekarang. Katanya, uang itu hanya untuk belanja makanan. Namun, detergen, sabun cuci piring, dan kebutuhan mandi juga harus kuambil dari sana.
Memang, kontrakan, listrik, air, gas, keamanan, dan iuran sampah dibayar Mas Ubay. Namun, uang itu tetap saja terasa tidak cukup, apalagi jika minyak goreng dan bumbu-bumbu dapur ikut habis. Aku harus memutar otak untuk membeli bahan makanan yang lebih murah. Terkadang, muncul keinginan untuk memasak menu kesukaanku sendiri, tetapi buru-buru kukubur begitu mengingat kondisi keuangan.
Setiap hari, aku hanya memasak satu menu untuk Kia. Tanpa sayur, tanpa sambal seperti yang biasa tersedia di rumah ibuku. Aku sendiri ikut makan lauk yang sama, apa pun menunya. Rasanya, hidupku sekarang justru lebih miskin daripada ketika tinggal bersama orang tuaku yang juga hidup serba kekurangan.
Kadang-kadang, aku merasa seperti tidak benar-benar diberi makan. Seolah-olah, hanya Kia yang perlu diperhatikan, sedangkan aku cukup bertahan hidup dengan apa pun yang tersedia.
Mas Ubay mulai memberiku jatah belanja seperti itu sejak ia menganggapku boros. Menurutnya, uang belanja selalu habis sebelum waktunya. Anggapannya semakin kuat setelah mendengar cerita ibu bosnya di kantor. Katanya, dulu keluarga mereka hidup miskin dan jatah belanja sang ibu hanya lima puluh ribu rupiah sehari. Namun, sekarang mereka sudah kaya.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Lima puluh ribu rupiah pada zaman dahulu jelas berbeda nilainya dengan sekarang. Apalagi ibu bosnya itu bahkan lebih tua dari ibuku.
Aku menggelengkan kepala, lalu tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa getir karena tak tahu harus berbuat apa lagi. Seolah-olah, harga kebutuhan pokok tidak pernah berubah hanya karena seseorang ingin mengulang cerita masa lalunya.
"Kenapa?" tanya Mas Ubay melihat gelagatku. "Kurang?" lanjutnya.
"Iyalah," sahutku.
"Bersyukur, Ma. Banyak orang yang lebih susah di luar sana." Dia menghela napas sebelum melanjutkan, "Di jalan, saya lihat banyak perempuan muda jadi pengemudi ojol, tukang sapu jalan. Kamu, cuma di rumah doang, dapat uang tiap minggunya."
Entah mengapa, rasanya aku ingin menendang kepalanya. Seolah-olah uang itu diberikan kepadaku untuk bersenang-senang, bukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Aku mengembuskan napas kasar, lalu beranjak memasukkan uang itu ke dalam dompet. Aku tak mau memperpanjang perdebatan. Akan selalu ada logika yang digunakannya untuk membuatku terdiam.
Lima tahun pernikahan, tetapi kehidupanku terasa begitu sempit. Aku hanya berjibaku dengan urusan rumah dan anak, tanpa pernah benar-benar menikmati waktu bersama keluarga di luar rumah. Paling-paling, Mas Ubay hanya mengajakku dan Kia berkeliling di sekitar tempat tinggal kami saat libur. Itu pun terkadang dilakukannya dengan malas-malasan.
Dari tahun ke tahun, tak ada perubahan. Hanya karena aku tak pernah mengeluh, apa dia menganggapku bahagia? Tak pernah terlintas inisiatif dalam pikirannya untuk mengajak kami ke kebun binatang, misalnya, agar Kia bisa merasakan pengalaman seperti anak-anak lain. Bahkan, mall yang hanya berjarak lima belas menit dari rumah pun tak pernah kami menginjakkan kaki di sana.
Padahal, kulihat orang-orang yang gajinya di bawah Mas Ubay bisa mengajak anak dan istrinya bersenang-senang.
"Duit mepet." Dua kata yang sangat kuhafal setiap kali mengajaknya pergi atau menginginkan sesuatu yang bukan sekadar kebutuhan perut.
Dulu, aku bekerja. Aku bisa pergi ke mana saja ketika kepalaku terasa penuh dan membeli apa yang kuinginkan tanpa harus menunggu, meminta, apalagi sampai berkali-kali.
Mengapa setelah menikah hidupku justru terasa seperti berada di dalam penjara? Mas Ubay melarangku bekerja karena hanya ingin aku mengurus anak dan rumah. Namun, di sisi lain, kebutuhanku sendiri tak dipenuhi.
Kadang, aku merasa tak lebih dari seorang pengasuh, pembantu dan entahlah. Perasaanku campur aduk, bahkan aku sendiri kesulitan menjelaskannya. Sesekali, terlintas pikiran bahwa semua ini terjadi karena kebodohanku sendiri.
Setelah Mas Ubay berangkat kerja. Aku menutup pintu lalu mulai membereskan rumah seperti biasa. Setelah semuanya selesai, aku merebahkan diri di atas kasur, belum ada niat untuk mandi. Kia ikut naik ke kasur sambil membawa botol susu. Ia menyiapkan bantal dan posisinya seperti biasa. Ia sudah tahu kebiasaan ibunya, yang dikit-dikit tidur.
Aku tak bersemangat melakukan apa pun, bahkan untuk melipat pakaian yang sudah menumpuk di dalam keranjang. Sekadar berselancar di media sosial pun rasanya malas. Melihat unggahan teman-temanku yang sedang zumba, gym, jalan-jalan, atau sekadar nongkrong justru membuat hidupku terasa semakin miris.
Mereka bisa menikmati dunia luar, sementara aku hanya bisa menyaksikannya dari layar ponsel. Rasanya, lebih baik aku tidur saja daripada terus-menerus merasa iri melihat kehidupan orang lain.
Syukur-syukur kalau aku bisa bermimpi indah. Kalaupun tidak, setidaknya aku tak perlu silau melihat dunia luar. Biarlah kupadamkan perasaan ini bersama gelapnya mata saat terlelap.
Entah sudah berapa lama aku terlelap. Aku terbangun ketika suara ponsel berdering keras. Ah, rasanya baru sebentar memejamkan mata. Kulirik jam di layar ponsel, ternyata baru sekitar lima belas menit berlalu.
Aku segera mengangkat panggilan video dari Mas Ubay.
Di layar, tampak Mas Ubay sudah berada di tempat kerjanya. Tanpa sengaja, kulihat pula pantulan wajahku sendiri di layar. Rambut acak-acakan dan wajah khas orang yang baru bangun tidur.
"Ada apa, Mas?" tanyaku, lalu menguap sambil menutupi mulut dengan tangan. Sisa kantuk masih terasa.
"Kamu itu, Sita, suka banget tidur." Mas Ubay menggeleng-gelengkan kepala. "Malam sudah tidur, pagi-pagi begini tidur lagi. Nanti siang tidur lagi," sambungnya, seolah sudah sangat hafal dengan polaku.
"Terus mau ngapain?" sahutku seadanya.
"Ya, jangan tidur terus. Masih pagi begini, kok." Dia kemudian bertanya, "Mana Kia?"
Kuarahkan kamera ke arah Kia yang sedang berbaring sambil minum susu. Berbeda denganku, anak itu tidak ikut tertidur. Ia tersenyum ke kamera, lalu berseru, "Ayah!"
"Kia sudah mandi?" tanya Mas Ubay.
"Sudah," jawab Kia singkat.
"Bilangin Bunda kamu, jangan tidur terus. Ajak main sana," katanya.
Aku memutar bola mata malas. Rasanya tak ada tenaga, apalagi untuk bermain. Entahlah! Sebanyak apa pun aku tidur, tetap saja rasa lelah ini tak kunjung hilang.
Mas Ubay pikir aku suka tidur, padahal aku melakukannya karena tak punya pilihan. Mau jalan-jalan, jajan, nongkrong, atau menonton? Tak ada uangnya. Tak mungkin aku betah tidur berhari-hari. Sesekali, aku juga ingin keluar rumah. Meski pendiam, bukan berarti aku tak suka jalan-jalan.
Namun, Mas Ubay terlalu terlena dengan kenyamanan yang dilihatnya. Dipikirnya aku sudah seperti ratu di rumah ini, tak perlu bersusah payah bekerja. Mungkin ia merasa sebagai lelaki yang berhasil mendidik istri, lelaki beruntung karena memiliki istri yang tak banyak menuntut. Padahal, ia hanya berhasil mematahkan sayapku, lalu mengurungku dalam sangkar.
Tak banyak yang bisa kuharapkan dari uang lima puluh ribu sehari, selain sekadar mengisi perut dan berusaha mencukup-cukupkannya.
Aku menghela napas. Nanti sore, sekitar pukul tiga atau empat, Mas Ubay akan menelepon lagi hanya untuk memastikan apakah aku sudah bangun atau belum. Kebiasaan itu berlangsung setiap hari.
Apa Mas Ubay merasa dengan melakukan hal seperti itu, ia sudah menjadi suami yang perhatian? Entahlah. Aku justru tak merasa demikian. Bagiku, itu lebih mirip pengawasan daripada perhatian.
Aneh, kebanyakan istri mungkin akan senang jika suaminya rutin menelepon. Sementara aku? Aku sendiri tak tahu. Tak senang, tak sedih, hanya merasa hampa. Terkadang, aku bahkan malas mengangkat teleponnya karena tahu percakapan kami hanya akan berisi pertanyaan yang sama.
Sekitar pukul enam sore, Mas Ubay pulang. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah undangan pernikahan berwarna merah. "Undangan si Salsa," katanya.
Aku menyambut undangan itu dan membacanya sekilas. "Salsa, resepsionis baru itu?" tanyaku. Mas Ubay hanya mengangguk.
"Ih, sayang banget. Masih muda begitu," kataku spontan.
Aku menyayangkan mengapa Salsa harus menikah di usia semuda itu. Aku takut dia akan berakhir sepertiku, meski aku tahu tidak semua pasangan memiliki kehidupan yang sama.
"Muda apanya? Umurnya sudah dua puluh satu tahun, kok. Memang sudah pantas menikah," jawab Mas Ubay dengan nada sewot.
"Ya, sayang aja. Masih muda begitu. Nikmati dulu hidup, jelajahi tempat-tempat indah, dan banyak lagi," kataku.
"Biarinlah, itu urusan mereka!" sahutnya dengan nada tak enak didengar. "Kamu aja nikah muda biar ada yang nafkahin,” tambahnya. Ia berdiri dari kursi lalu masuk ke dalam.
Aku mematung. Hatiku berdenyut, seolah ada pisau yang menikam dada. Harga diriku terlukai.
Apa dia pikir aku senang tinggal di rumah ini? Berkutat dengan rutinitas yang terasa seperti penjara. Aku tersenyum getir. Bukan itu alasanku menikah. Lagi pula, memberikan nafkah memang sudah menjadi kewajibannya.
Ini salahku sendiri. Aku terlalu bodoh karena merasa harus segera menikah saat usiaku menginjak dua puluh empat tahun. Aku tertawa dalam hati, menertawakan kebodohanku sendiri. Sudut mataku terasa panas.
Ada penyesalan dalam diriku karena dahulu pernah memasukkan nama Mas Ubay dalam doaku dan meminta Tuhan menjadikannya pendamping hidupku. Padahal, Tuhan pernah memberiku petunjuk bahwa lelaki itu sepertinya bukan orang yang tepat untukku. Namun, aku mengabaikannya karena saat itu terlalu tergila-gila padanya.
Banyak pertanda yang membuat hubungan kami tidak berjalan mulus. Namun, aku justru menganggapnya sebagai ujian.
Aku tersenyum tipis, dadaku terasa sesak. Seharusnya dulu aku tak perlu menyebut namanya dalam doa. Cukup meminta yang terbaik kepada Tuhan. Jika nantinya aku harus terus sendiri, mungkin memang itulah yang terbaik untukku.
Namun, saat itu aku terlalu naif hingga akal sehatku tertutupi. Aku memilih menutup mata, pada cinta yang sebenarnya tidaklah buta.
Mungkin ini dosaku karena mengabaikan petunjuk Tuhan. Mungkin pula ini hukuman atas ketidakpatuhanku. Aku sendiri tak tahu.
Dulu, aku terlalu terlena dengan kebaikan dan keroyalannya. Aku bahkan sempat berpikir, jika putus dengannya, apakah aku masih bisa mendapatkan lelaki seperti dia? Sebuah pemikiran bodoh yang pernah menguasai perasaanku.
Aku tak ubahnya ikan yang terkena pancing karena tergiur umpan lezat. Namun, sialnya, waktu tak bisa diputar kembali.
Aku mengembuskan napas berat. Semuanya sudah terjadi dan mau tak mau aku harus menjalani kehidupan ini. Entah sampai kapan, aku pun tak tahu.
Hari ini Mas Ubay libur. Ia bangun pagi dan mengajak Kia bermain sepeda di depan rumah, sementara aku menyiram tanaman di teras.
Tawa dan celotehan Kia terdengar begitu renyah. Siapa pun yang melihat kami pasti akan mengira ia anak yang bahagia. Kami bahkan tampak seperti keluarga yang harmonis.
Aku tersenyum hangat menatap Kia. Ada kasih sayang yang tak pernah berkurang untuk anak itu. Namun, entah mengapa, perasaan yang sama tak lagi kurasakan ketika pandanganku beralih kepada Mas Ubay. Aku sendiri tak tahu mengapa. Mungkin aku lelah hati. Rasanya, aku seperti orang yang sudah mati rasa.
Mas Ubay duduk di kursi teras setelah lelah mendorong sepeda Kia. Ia membiarkan anak itu mengayuh sendiri, berputar-putar di halaman depan, sementara dirinya tetap mengawasi.
“Bunda, lihat! Kia bisa sendiri!” seru anak itu.
“Wah, hebat anak Bunda! Hati-hati, ya. Jangan sampai jatuh,” sahutku sambil menatap ke arahnya.
“Hebat anak Ayah!” kata Mas Ubay. Kia tertawa lebar menanggapinya.
Hening selama beberapa saat. Baik aku maupun Mas Ubay sama-sama tak bersuara. Ia pun tampak asyik memperhatikan Kia.
“Kalau punya banyak uang, enak, ya. Bisa melihat musim sakura di Jepang, musim salju di London, musim semi di Swiss, dan musim gugur di Amerika,” kataku sambil tertawa kecil.
Karena tak ada bahan obrolan, aku mencoba membuka percakapan dengan sesuatu yang mungkin terdengar konyol bagi Mas Ubay.
“Memangnya kamu bisa tanpa aku?” tanyanya.
Aku terdiam. Tawaku mendadak hilang. Rasanya, apa pun yang keluar dari mulut Mas Ubay selalu saja menyakitkan.
Aku dan Mas Ubay bertemu di tempat kerja. Aku sedang bekerja, bukan ditemukan olehnya di tempat sampah lalu diselamatkan. Atas dasar apa ia berbicara seperti itu? Sebelum bersamanya, hidupku baik-baik saja.
Aku bisa bernapas dan menghirup udara di mana saja. Memang, bekerja itu melelahkan, tetapi setidaknya aku merasa lebih leluasa karena memiliki uang sendiri. Tidak seperti sekarang, ketika aku hanya diberi uang untuk diatur. Bahkan, lebih tepatnya, aku hanya dititipi uang.
Aku tak mengerti mengapa Mas Ubay tak berpikir bahwa kami bisa pergi bersama, berkeliling dunia. Bukankah itu lebih menyenangkan? Namun, pikirannya justru melenceng ke arah lain. Apakah memang ia hanya ingin aku seperti tahanan?
Aku merasa tak punya harapan. Atau mungkin, harapanku memang terlalu tinggi untuk kondisi ekonomi kami saat ini?
Tak ada salahnya bermimpi. Mungkin karena terlalu lelah dan bosan terkungkug, pikiranku sampai melayang pada sesuatu yang terdengar mustahil. Namun, aku senang membayangkannya. Ada kebahagiaan tersendiri, meski hanya dalam angan-angan.
“Nggak mungkin bisa kalau hanya mengandalkan uang lima puluh ribu sehari darimu,” batinku.
Aku mengakhiri kegiatanku, lalu masuk ke dalam rumah. Berbicara dengan Mas Ubay hanya menguras energiku. Ia selalu saja mematahkan semangatku. Daripada lelah berdebat dengannya, lebih baik aku menghabiskan tenaga untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya, hasil masakanku bisa kunikmati. Kalau berbicara dengan Mas Ubay, yang kudapat hanya sakit hati.
Waktu berjalan begitu cepat. Malam berlalu tanpa banyak percakapan, kecuali celoteh Kia yang sesekali disambut oleh Mas Ubay. Aku membiarkan mereka menikmati kebersamaan itu. Lagipula, hari ini hari libur. Sudah seharusnya Mas Ubay meluangkan waktu untuk menemani Kia.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kia telah tertidur, sementara aku terbangun karena tenggorokanku terasa kering. Di ruang depan, Mas Ubay sedang menonton siaran pertandingan sepak bola di televisi.
Ia terkejut melihat kemunculanku yang tiba-tiba dengan rambut acak-acakan dan daster longgar yang melekat di badan.
“Astaga!” Matanya membelalak sambil memegangi dada saat aku muncul dari sampingnya.
Aku tersenyum tipis. Apa dia mengiraku hantu? Aku berjalan ke dapur, menuangkan air ke dalam gelas, lalu meneguknya hingga habis. Tak lupa, aku mengisi teko dan membawanya ke kamar.
“Mas, aku tidur dulu. Ngantuk,” kataku sekadar berbasa-basi sambil berdiri di dekatnya.
“Iya,” sahutnya sambil melirik ke arahku. “Kamu mah ngantuk terus.” Setelah itu, ia kembali memandang televisi.
“Pagi tidur, siang tidur, barusan juga tidur. Masih aja ngantuk,” gerutunya. Aku tak menjawab. Terserah Mas Ubay mau berpikir apa. Sekarang, aku hanya ingin tidur.
Aku merebahkan diri di atas kasur, menarik selimut, lalu memejamkan mata. Siapa tahu malam ini aku bermimpi indah. Mimpi tentang perjalanan ke tempat-tempat menakjubkan yang selama ini hanya bisa kubayangkan. Meski hanya dalam mimpi, setidaknya itu cukup untuk mengobati kejenuhanku. Kenyataan terlalu hampa. Biarlah aku bahagia, meski hanya di dalam mimpi.
SELESAI