Kirim izin baca kepada penulis skrip ini?
Blurb
Setelah dipaksa mundur dari tugas negara, Wisanggeni dan Antasena, dua superhero legendaris Nuswantara, terdampar di Kota Arunika, tempat yang dianggap sebagai kota buangan. Tanpa kekuatan, tanpa status, dan tanpa tujuan, mereka mencoba bertahan hidup sebagai manusia biasa.
Pertemuan mereka dengan Mahadira dan Ki Ismaya membawa mereka pada sebuah kesempatan baru: menghidupkan kembali sebuah kedai teh tua. Di tengah keterbatasan, ancaman masa lalu, dan identitas yang harus disembunyikan, kedai itu justru menjadi ruang kecil yang menyatukan harapan warga.
Pertemuan mereka dengan Mahadira dan Ki Ismaya membawa mereka pada sebuah kesempatan baru: menghidupkan kembali sebuah kedai teh tua. Di tengah keterbatasan, ancaman masa lalu, dan identitas yang harus disembunyikan, kedai itu justru menjadi ruang kecil yang menyatukan harapan warga.
Premis
Dua superhero yang kehilangan kekuatan dan statusnya dipaksa hidup sebagai manusia biasa di kota terpencil. Dalam perjuangan bertahan hidup dan menyembunyikan identitas, mereka menemukan makna baru kepahlawanan melalui kehidupan sederhana dan hubungan dengan masyarakat kecil.
Pengenalan Tokoh
Wisanggeni dan Antasena adalah dua superhero yang populer dengan kekuatan yang saling bertolak belakang. Wisanggeni menguasai api dengan watak keras dan meledak-ledak, sementara Antasena mengendalikan air dengan sikap tenang dan penuh kebijaksanaan. Keduanya adalah sahabat seperjuangan yang diyakini mampu menandingi para dewa. Namun, justru karena kekuatan itulah mereka dilarang ikut dalam Perang Kurukala di Negara Nuswantara yang telah merdeka selama 80 tahun. Pemimpin negara, Supala, khawatir kehadiran mereka dalam perang akan mengubah takdir dunia. Demi menjaga keseimbangan, Wisanggeni dan Antasena dipaksa menjadi pihak netral dan kehilangan kekuatan super mereka.
Tanpa kekuatan, mereka dibuang ke Kota Pelabuhan Tua Arunika, sebuah wilayah terpinggirkan yang dihuni masyarakat kelas bawah yang dilupakan negara. Di kota yang berdiri mandiri itu, mereka bertemu Mahadira, pewaris kedai teh tua yang bangkrut akibat kesulitan ekonomi. Atas saran pemuka adat Ki Ismaya, Wisanggeni dan Antasena menempati kedai teh tersebut dan membukanya kembali. Perlahan, kedai itu menjadi ruang berkumpul warga, tempat berbagi cerita, harapan, dan solidaritas.
Kedamaian Arunika terancam ketika elit Negara Nuswantara merencanakan proyek reklamasi besar-besaran untuk membangun kota pertahanan baru sebagai basis pertahanan dan permukiman pasukan militer dan superhero tingkat khusus. Tanpa persetujuan warga, Arunika diperintahkan untuk dikosongkan, dengan ancaman penggusuran masal bagi yang menolak. Warga Arunika tak memiliki jaminan tempat lain untuk pergi.
Wisanggeni dan Antasena, meski tak lagi berkekuatan penuh, memilih berdiri bersama rakyat. Kekejaman elit negara memuncak ketika mereka meracuni teh di kedai, melumpuhkan warga Arunika. Dalam keputusasaan, mereka saling bekerja sama untuk bertahan hidup. Setelah mendapat penawarnya, warga pulih, dan tanpa disadari, kekuatan Wisanggeni dan Antasena pun kembali, meski belum sepenuhnya.
Ketika para preman dan pasukan negara menyerang, perlawanan tak terhindarkan. Pertempuran terjadi antara rakyat termarjinalkan melawan kekuasaan negara. Dengan keberanian, kebijaksanaan, dan sisa kekuatan yang dimiliki, Wisanggeni dan Antasena memaksa elit negara bernegosiasi. Akhirnya, Arunika diselamatkan. Negara berjanji membangun tanpa menggusur, membuka jalan hidup berdampingan antara para pahlawan yang dielu-elukan dan mereka yang pernah dilupakan.
Tanpa kekuatan, mereka dibuang ke Kota Pelabuhan Tua Arunika, sebuah wilayah terpinggirkan yang dihuni masyarakat kelas bawah yang dilupakan negara. Di kota yang berdiri mandiri itu, mereka bertemu Mahadira, pewaris kedai teh tua yang bangkrut akibat kesulitan ekonomi. Atas saran pemuka adat Ki Ismaya, Wisanggeni dan Antasena menempati kedai teh tersebut dan membukanya kembali. Perlahan, kedai itu menjadi ruang berkumpul warga, tempat berbagi cerita, harapan, dan solidaritas.
Kedamaian Arunika terancam ketika elit Negara Nuswantara merencanakan proyek reklamasi besar-besaran untuk membangun kota pertahanan baru sebagai basis pertahanan dan permukiman pasukan militer dan superhero tingkat khusus. Tanpa persetujuan warga, Arunika diperintahkan untuk dikosongkan, dengan ancaman penggusuran masal bagi yang menolak. Warga Arunika tak memiliki jaminan tempat lain untuk pergi.
Wisanggeni dan Antasena, meski tak lagi berkekuatan penuh, memilih berdiri bersama rakyat. Kekejaman elit negara memuncak ketika mereka meracuni teh di kedai, melumpuhkan warga Arunika. Dalam keputusasaan, mereka saling bekerja sama untuk bertahan hidup. Setelah mendapat penawarnya, warga pulih, dan tanpa disadari, kekuatan Wisanggeni dan Antasena pun kembali, meski belum sepenuhnya.
Ketika para preman dan pasukan negara menyerang, perlawanan tak terhindarkan. Pertempuran terjadi antara rakyat termarjinalkan melawan kekuasaan negara. Dengan keberanian, kebijaksanaan, dan sisa kekuatan yang dimiliki, Wisanggeni dan Antasena memaksa elit negara bernegosiasi. Akhirnya, Arunika diselamatkan. Negara berjanji membangun tanpa menggusur, membuka jalan hidup berdampingan antara para pahlawan yang dielu-elukan dan mereka yang pernah dilupakan.
Sinopsis
Disukai
0
Dibaca
83
Tentang Penulis
Wirda Elsyam
-
Bergabung sejak 2022-09-28
Telah diikuti oleh 98 pengguna
Sudah memublikasikan 3 karya
Menulis lebih dari kata
Rekomendasi dari Aksi
Skrip Film
Kedai Teh Superhero
Wirda Elsyam
Cerpen
Aksi 12%
AndikaP
Cerpen
Menyulam Asa Di Balik Dinding Desa
Marliana
Novel
Remarkable 2: Special Bonus Prize
FS Author
Novel
Collateral Romance
Azerhays
Cerpen
Kronik Perak
Kemal Ahmed
Flash
Desa Naga Logam
Silvarani
Novel
CARIOCA
Ananda Galih Katresna
Flash
Merah Putihku
Andri wananda
Flash
Desa Naga Bumi
Silvarani
Flash
Ragnarok karya Jorge Luis Borges. Penerjemah : ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Novel
Rain(a)
Hosilla_ac
Flash
Azab Itu Sudah Tak Ada
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Cerpen
Jagat
Rosidawati
Flash
JAWATA KINGDOM - 37: "Pertarungan Pemangsa"
Hidayanthi Alifa
Rekomendasi